Pengumuman Pemenang Kisah di Bulan Januari 2016


Hai guys! Whoaahahaa.. akhirnya tiba saat yang ditunggu-tunggu sama kalian nih. Pengumuman pemenang lomba Kisah di Bulan Januari 2016 oleh Kafe Kopi yang disponsori buku "This is (not) Love" karya chef terbaik dari kafe kami.

Aku sangat senang bisa menjadi juri untuk lomba besar yang diadakan KafeKopi ini. Awalnya agak kaget karena ditunjuk tiba-tiba sama ownernya buat memilih tiga terbaik dari para peserta lomba. Aku menyetujuinya, dan sebagai gantinya, aku pengen membuat satu postingan spesial buat kalian. 

Sebelum kita ke pengumuman pemenangnya, ga adil dong, kalau jurinya juga ga nulis songfiction. Jadi, aku minta kalian menyempatkan waktu sebentar untuk membaca cerita pendek dariku. Tentang Januari.

Under Your Umbrella (repost)
karya: Wheza99


Aku berdiri di antrian panjang dalam sebuah mall besar di pusat kota. Hari ini adalah hari kedatangan band The Rexa untuk tanda-tangan albumnya. Aku tidak sabar bertemu dengan dia.

"Panjang sekali antriannya, Riz!" kataku pada sahabatku. Rizka hanya mengangguk.

Sudah sejak bangku SMA dia populer di kalangan sekolah. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Maka bukan tidak wajar jika bandnya memiliki fans sebanyak ini. Aku benar-benar merasa beruntung bisa menjadi orang yang paling dekat dengan dia.

Semua berawal, sebelas tahun lalu, sejak aku berada di bangku kelas SMA.  Dia adalah laki-laki yang tampan. Tidak ada perempuan yang tidak tergoda untuk mendekatinya, walau satu sekolah tahu dia adalah seorang ... play-boy.

Aku, sama seperti perempuan lain di sekolah, selalu memperhatikannya. Bermain basket, futsal, band, dan lainnya. Hampir seluruh kegiatannya aku ikuti. Sampai suatu hari, kisah cintaku dengannya pun dimulai.

Sore itu, kami bertemu di taman kota saat hujan. Saat itu aku sedang membawa payung, pulang dari sekolah, dan kulihat dia sedang sendirian di sana. Aku mendekatinya dan memberikan payungku padanya.

"Sedang apa kamu di sini? Hujan-hujanan begini nanti kamu sakit, lho!"

Dia hanya diam menatap pancuran di depannya. "Kamu pulanglah"

"Aku tidak akan pulang sampai kamu juga pulang. Kamu tidak bawa payung, kan?"

"Pulanglah duluan. Aku tidak apa-apa."

Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku menurut padanya.

Esok, ketika aku pulang saat hujan, aku kembali melihat dia di sana, berdiri di tempat yang sama, sendirian. Aku berjalan ke arahnya.

"Kamu yang kemarin. Sedang apa di sini?"

Aku hanya tersenyum, membuka tasku dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah payung yang lain. Aku menatap matanya lamat-lamat. Lalu ku serahkan payung itu padanya.

"Kau tidak sendirian di dunia ini. Janganlah berlarut dalam kesedihan." Aku tersenyum.

Sunyi sejenak sebelum kemudian dia menerima payungku dan membalas senyumku. Berterimakasih. Lantas bertanya siapa namaku.

"Kamu bisa memanggilku ... Rika."

***

"Apakah kita pernah bertemu, sebelumnya?" Empat kata itu sempurna merusak semua kenangan indah saat bersamanya. "Banyak sekali yang mengaku menjadi pacarku, hari ini."

"Kamu jahat sekali, Galih!" Rizka di sampingku ikut membentak. Marah.

Aku meredam amarah Rizka. Menarik tangannya, mengajak dia untuk pergi.

"Kau membiarkannya? Setelah sebelas tahun menunggu kedatangannya dan dia sudah melupakanmu? Apakah kau hanya diam saja?!"

Menunduk. Sedih. Tersenyum menahan tangis sambil berkata, "ngga apa-apa, kok."

Aku sering dimarahi oleh Rizka. Aku ingat saat dia marah padaku karena memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Galih. Mengumpat dalam hati, bodoh sekali diriku yang menolak nasihat baik Rizka waktu itu.

"Galih itu playboy, Rika. Jangan pernah berpikir bahwa dia akan serius denganmu."

"Tapi dia mencintaiku. Dia bilang aku berbeda dengan yang lain. Aku ... istimewa."

"Halah, itu hanya gombal. Lihat saja, nanti!"

"Lihat saja nanti, akan kubuktikan padamu!"

"Semoga Tuhan menguatkan hatimu, jika suatu hari kau diputuskan oleh Galih."

Aku benar soal dia (pada awalnya). Dia adalah sosok orang yang baik dan romantis. Aku selalu diperlakukan seperti tuan putri. Semua berlangsung manis. Manis sekali sampai aku tidak pernah menyangka bahwa kabar buruk itu akan datang menimpaku.

Saat itu, dia tidak ikut latihan basket, tidak seperti biasanya. Aku yang khawatir, langsung pergi mencarinya. Membawa payung hitam—karena di luar sedang hujan—dan mencari ke pelosok sekolah, namun tidak menemukannya.

Saat itulah terbersit akan taman kota, tempatku pertama bertemu dengannya. Dan benar saja, dia ada di sana.

Aku memberikan payungku padanya.

Ketika aku mengajak dia untuk kembali ke sekolah, saat itulah dia mengatakan itu.

"Besok, bandku akan ikut seleksi di Jakarta. Aku ingin kita putus, aku ingin fokus untuk audisiku nanti. Entah berapa lama itu. Aku akan mulai merintis karir sebagai musisi."

Hari itu bulan Januari. Hujan turun dengan derasnya menyamarkan air mata yang tak mampu kubendung lagi. Aku yang sedih mendengarnya, memberikan payungku dan berlari meninggalkan dia yang berteriak di tengah rintik hujan, di belakangku.

"Aku berjanji, aku akan kembali untukmu." 

***

"Kamu tidak ikut aku saja? Hujannya deras banget lho, nanti sakit gimana?" Tanya Rizka yang telah duduk di kursi depan mobilnya.

Aku tersenyum dan menggeleng.

"Baiklah. Kalau begitu aku pulang duluan, ya. Kalau ada apa-apa, telephone saja!"

Begitu mobil sedan yang dikendarai Rizka menghilang di kelokan jalan, aku mulai mencari taksi dan menaikinya.

Aku masih mencintai dia. Seburuk apapun perlakuannya padaku, hatiku masih tertuju padanya. Bahkan sebelas tahun terakhir, aku selalu mengunjungi taman kota itu, berharap dia akan ada di sana, berdiri mematung menatap pancuran air, seperti dahulu kala.

Aku keluar dari taksi dan berjalan di tengah hujan. Tanpa payung. Tempat ini masih sama seperti sebelas tahun terakhir. Tidak berubah.

Aku berdiri menghadap pancuran air di tengah taman kota. Tanganku mengeluarkan DVD yang kubeli. Menyakitkan jika aku harus berada di sini terus-menerus. Menyakitkan jika aku harus menunggu seseorang yang nyatanya tidak pernah mengingatku lagi.

Aku menangis kencang. Berteriak. Sakit rasanya, hati ini. Sakit sekali.

Setengah jam menangis, hujan terasa berhenti. Aku masih bisa mendengar suara rintikannya, namun tetesannya terasa sudah tidak mebasahi tubuhku.

Aku menengok ke atas. Payung hitam itu berada di kepalaku, menjadi penghalang antara aku dan hujan, malam ini.

"Sedang apa kamu di sini? Hujan-hujanan begini nanti kamu sakit, lho!" suara yang kukenali itu menyapa. Aku menoleh.

"Kamu?! Sedang apa kamu di sini?" aku balik bertanya. Menghapus air mata di pipi.

"Aku kesini untuk menepati janjiku."

"Tapi mengapa?" tanyaku.

"Malam itu aku sedang menangis di sini. Aku ditinggalkan oleh seseorang yang kuanggap sangat berharga bagiku. Dan saat itulah kau datang untuk menghiburku."

"Aku sadar bahwa aku seringkali memutuskan hubungan dengan perempuan lain. Dan aku merasakan yang mereka rasakan."

"Malam itu, di bulan januari, bukankah aku sudah bersumpah di bawah payungmu, bahwa aku tidak akan meninggalkanmu, bahwa aku akan kembali lagi untukmu? Aku menepati janjiku. Jadi, katakanlah, apakah kau masih mencintaiku?"

Aku menatapnya lamat. Apakah aku masih harus menjawabnya?

*End*


Aku bahkan sampai menulis lirik dari instrumental yang dibuat oleh Sayogand yang menginspirasi cerita pendek ini. Oh ya, lagu "Under Your Umbrella" ini ditulis oleh owner kafe kopi loh, Sayoga. Lagu-lagunya bisa di denger lewat soundclodnya dia.

Oh! Pengumuman. Tadi kalian kan sudah baca sedikit cerita pendekku jadi, gimana? Aku harap kalian suka. Aku republish karena cerita ini masuk ke salah satu cerita yang viewers-nya paling banyak di antara cerita lain yang pernah di publish di Kafe Kopi. 

Lomba ini disponsori oleh:
This is (not) Love karya chef terbaik Kafe Kopi

Sebelum kita ke tiga pemenang pertama, aku pengen mengingat kembali empat kriteria yang menjadi penilaianku:
  1. Keaslian cerita
    Jangan kira kami ngga tau mana yang asli, mana yang repost dari internet, ya! Ada satu chef kafekopi yang jago IT lohh.. jangan main-main -> mas Ilham
  2. Keunikan alur
    Nah ini penting, unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah cerita; alur-plot-konflik-dsb
  3. Jumlah viewers
    Ada beberapa naskah yang tidak jadi aku diskualifikasi karena mempertimbangkan viewers dan komentar dari pembaca, jadi ini juga penting..
  4. Kesesuaian dengan Tema
    Jangan sampai cerita kamu udah bagus, alurnya keren, viewersnya banyak, eh ga taunya ga sesuai dengan tema. Itu bahaya. wkwk Perhatikan lagi temanya, yaa..
Setelah membaca lebih dari lima puluh naskah dengan potensi menang yang ga jauh beda, aku bisa menarik sepuluh pemenang yang akan dijadikan e-book oleh tim Kafe Kopi. Baca do'a dulu, semoga nama kamu ada di salah satu daftar pemenang di bawah ini. Ini diaa:
Gimana? Apakah ada nama kalian di sana? Hehe. Aku harap ini menjadi kabar gembira mengawali bulan kedua di tahun 2016 penuh berkah ini.

Buat yang belum menang, jangan kecewa. Namanya kompetisi, ga akan ada pemenang kalau ga ada yang kalah. Aku senang kalian mau berpartisipasi dalam lomba besar oleh KafeKopi ini. Siapa tahu kalian bisa menjadi pemenang di lain kesempatan. Tetap semangat!

Sekarang, untuk yang paling ditunggu-tunggu adalah tiga pemenang utama untuk lomba menulis songfiction Kisah di Bulan Januari 2016 yang disponsori oleh buku "This is (not) Love" karya chef terbaik dari Kafe Kopi. Kasih alasan ga nih? Kasih aja yaa~

Oh ya, sebelumnya, aku mau cerita sedikit. Pemenang ini dilakukan penyaringan sebanyak tiga kali. Pertama dari 60 naskah ke 30 naskah. Kemudian dari 30 itu, dipilih 10 terbaik. Terakhir, baru deh aku bisa menentukan tiga orang pemenangnya. Jadi, bisa dibilang, ini the best di antara yang best.

Juara ketiga

Satu kata buat cerpen ini adalah keren. Dua konflik dalam satu cerita yang dikemas dengan gaya bahasa sederhana tapi memukau. Ini cerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, dimana si perempuan suka sama cowoknya, tapi cowoknya engga.

Belum lagi si cewek harus pergi ke Australia, meninggalkan sejuta pengharapan kepada cowok yang ditinggalkannya di Indonesia. Eh, udah dikasih harapan, ternyata si cowok itu ngasih sebuah fakta yang sangat menyakitkan yang diucapkan lewat sebuah kalimat:

“If you want to leave, take your heart with you. Don’l leave it here,because I won’t keep it."

Juara kedua

Sebenarnya cerita yang satu ini punya kemiripan konflik dengan cerita karya Ryie Ahn, JANUARY: THE ENDING AND THE BEGINNING. Seseorang yang ditinggal kekasihnya, namun memutuskan untuk tetap setia, hingga akhirnya mereka pun kembali bersatu di dalam ikatan pernikahan.

Namun ada yang membedakan kedua cerita tersebut. Perbedaan yang mengantarkan cerita Menanti Sembilan Januari ini ke peringkat kedua untuk lomba kali ini; Kalimat terakhir cerita ini mendeskripsikan judul cerita. Pemilihan judulnya pas.

Aku suka ketika Kee dan Dira berteriak satu-sama-lain tentang pernikahan mereka. Juga ketika Ayu keluar dan bertanya kepada mereka, sedang ribut apa. Ah.. keren banget deh! Kalian harus baca cerita ini. Recommend banget.

Cerita ini seperti menggabungkan kedua lagu yang pernah aku tulis; Menanti Sepanjang Hari & Kado Terindah. Menanti Sepanjang Hari tentang seseorang yang menemukan cinta sejati, sedangkan Kado Terindah tentang seseorang yang nembak kekasihnya di hari ulangtahunnya. 


Juara pertama
TEMU

Tadinya, aku pengen menempatkan Menanti Sembilan Januari ke peringkat pertama, tapi aku menemukan satu cerita yang lebih bagus dari itu. Cerita berlatar kota Dili, Timor Leste karya Zeefa yang berjudul Temu.

Alasannya banyak banget. Cerita ini memiliki gaya bahasa hampir sempurna (memenuhi kriteria penulisan). Paragraf yang rapih dengan dialognya terstruktur membuat tampilan cerita ini sangat indah. Belum lagi satu alur yang tidak bertele-tele, mengalir tenang. Membacanya seolah membayangkan aku yang berada di dalam cerita itu.

Cerita ini juga tentang seseorang yang meninggalkan kekasihnya di kota Dili. Tapi si dia itu tidak mendapat kabar dari kekasihnya setelah sekian lama. Hanya sebuah surat yang muncul tiba-tiba di meja belajarnya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke kota Dili untuk menemui kekasihnya.

Ngga bakalan diceritain sampai akhir deh. Soalnya cerita ini sangat keren. Ada pertanyaan yang dilukiskan oleh Zeefa sepanjang cerita dan jawabannya baru bisa ketemu pas kalian sudah sampai di akhir cerita, ketika pemeran utamanya pulang kembali ke Indonesia dari Timor Leste.

Hadiah


Ngga lengkap kalau pemenangnya ga dapet reward, ya. Seperti yang dijanjikan oleh tim Kafe Kopi sebelum event ini dimulai. Kami pun juga menyiapkan reward untuk para pemenang. Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada para pemenang.

Juara 1: uang tunai + buku “This Is (not) Love” karya tim Kafe Kopi + e-sertifikat
diberikan untuk cerpen TEMU - Zeefa

Juara 2: buku “This is (not) Love” karya tim Kafe Kopi + e-sertifikat
diberikan untuk cerpen MENANTI SEMBILAN JANUARI - Ratih Kemala

Juara 3: e-sertifikat
diberikan untuk cerpen JANUARIKU - Wika G Wulandari

Juga untuk para peserta yang berpartisipasi dalam lomba ini, tim kafekopi menyiapkan e-sertifikat sebagai bukti keikut-sertaan kalian terhadap event yang diadakan. Sekali lagi, kegiatan ini disponsori oleh buku "This is (not) Love" hasil racikan chef-chef ternama kami.

Pemenang Istimewa
JANUARI SAKSI MIMPI

Nah kalau ini aku ga tau alasannya apa, yaa. Mungkin karena dia satu-satunya peserta lomba yang kepo sama jurinya sehingga mencari kontak si juri dan ngobrol sampai sekarang. Walau begitu, aku minta maaf karena ga menjadikan kamu pemenang, karena aku ngga melihat cerita dari siapa penulisnya. Baca yaa tinggal baca. Hehe

Sebagai reward atas ke-kepo-an kamu, aku kasih hadiah khusus deh. Wkwkwk.. Hadiahnya adalah "mendapat pelatihan penulisan sampai berhasil menulis satu novel solo".


SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG!! ^^ 

Aku ucapkan selamat kepada para pemenang lomba menulis songfiction; Kisah di Bulan Januari 2016 yang disponsori oleh buku "This is (not) Love". Buat yang belum menang, jangan bersedih. Kita masih punya sejuta lomba lainnya yang akan diselenggarakan seiring waktu berjalan.

Dan oh ya, aku juga punya pesan dari owner. Kafe Kopi akan bertahan hanya jika donasi terus berjalan. Jadi, kami juga memohon kerjasamanya bagi kalian yang ingin mengirimkan donasi, dengan tujuan membantu mengembangkan komunitas yang aktif berkarya dan berbagi di bidan sastra. Untuk informasi seputar donasi, silakan klik di sini.

Sekali lagi terimakasih untuk para peserta yang ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Aku sangat kenyang dengan tulisan karya kalian. Puas dengan menu spesial yang kalian sajikan sepanjang bulan Januari kemarin. Tidak sabar dengan menu spesial lain yang akan kalian sajikan dalam lomba selanjutnya.

Sampai jumpa di event Kafe Kopi selanjutanyaa. Tetap bersama kami, ya. Stay tuned di Kafe Kopi. Satu-satunya kafe kopi di Indonesia yang tidak menyediakan kopi. :))

Singapura, February 2016 -di sini Hujan

Komentar

share!