Pemain atau Penonton

Karya: Pilot BPT-P

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


“Bermimpilah Setinggi Langit Bila Engkau Jatuh Engkau Akan Jatuh Diantara Bintang-Bintang” begitulah perkataan The Founding Father kita sang Proklamator Bung Karno, yang sampai saat ini ucapannya-ucapannya selalu membius membakar semangat para pemuda tanah air. Tak terasa penghujung tahun 2015 telah berlalu pergi tanpa sedikitpun perduli, awal tahun sudah dibuka dengan beragam doa keinginan dan harapan akan dapat apa kira-kira kedepannya, banyak kesempatan dan waktu yang saya sia-siakan di tahun yang lalu, terlena dengan gemerlapnya dunia anak-anak muda kota hedonis, terkadang diri ini lupa kemana hidup ini harus dibawa, hampir setiap hari saya terus menambah dosis motivasi namun hanya hiang hanyut ditelan mimpi. Semuanya lebih berantakan ketika nilai IP turun drastis seakan menjadi tamparan keras menegaskan hasil dari semua yang ditabur selama ini, iri rasanya melihat teman-teman lain bergembira dengan nilai di atas rata-rata, apalah daya nasi sudah menjadi bubur tak mungkin lagi kembali, yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana meramunya menjadi bubur ayam yang lebih lezat dari nasi, memperbaiki semuanya dan bangkit tak menyerah adalah solusi kongkrit yang harus dijalani dan mengubur jauh pengalaman kelam di tahun lalu. Teringat ketika salah seorang kawan yang mengirimkan ucapan selamat tahun baru dengan pesan bertuliskan semoga resolusi di tahun ini bisa tercapai, tak ada kata terlambat untuk belajar satu pintu tertutup seribu pintu akan terbuka pepatah untuk para pencari kebenaran pemaknaan hidup yang sesungguhnya, menjadi seorang mahasiswa ternyata mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah apabila kita tau betul siapa sosok insan akademis yang menyandang status terhormat tersebut. Mempunyai andil dan sumbangsih dimasyarakat adalah salah satu tolak ukurnya, banyak sumber yang menyebutkan bahwa beribu-ribu sarjana belum bisa terserap menjadi tenaga kerja seakan menghantui pikiran, mungkinkah saya termasuk didalamnya apalagi dengan sumber daya intelektual yang tidak mumpuni ini.

Bangkit bangkit dan bangkit ucapa salah seorang senior panutan saya yang selalu memberi motivasi agar sekali-kali jangan berputus asa, jadikan awal bulan Januari ini sebagai garis start yang baru untuk kembali meraih semua mimpi-mimpi yang tertunda. Roda kehidupan teruslah berputar kadang hidup kita diatas kadang juga turun kebawah, tidak mengapa sekali-kali jatuh asalkan jangan terlalu jauh dan terlalu lama, kadang saya kesal kecewa dan bahkan merasa tidak adil kenapa semua ini terjadi, lupa bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Masa lalu cukuplah untuk kita kenang, santai saja kawan semua indah pada waktunya, banyak hal-hal yang berbeda yang saya lakukan di awal-awal pembuka tahun ini seperti menghabiskan momem pergantian tahun dengan hanya duduk di teras rumah seakan tak tertarik lagi untuk melihat keramaian kota di malam pergantian tahun, sejumlah target pun sudah saya catatkan semisal dengan target IP yang tinggi, menambah ikut ormawa, sampai membuat slogan ibadah taat aksi kuat prestasi hebat. Teringat ketika mengikuti seminar beasiswa oleh GMB (Gerakan Mari Berbagi) sebuah yayasan yang salah satunya gerakan untuk mencetak para pemuda menjadi manusia di atas rata-rata dimana seluruh kadernya rata-rata adalah mahasiswa penerima beasiswa, dan yang paling saya kagumi adalah Andri Putra peraih beasiswa LPDP Harvard University seorang pemuda pendiri YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Bangsa) yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran yang saat ini rasanya sudah mulai luntur, salah satu perkataanya yang menggemanya adalah jadilah dirimu sendiri atau be original yourself nilai itu tidak terlalu berpengaruh karna yang paling penting adalah perubahan.



Indonesia mencanangkan dimana tahun 2045 adalah generasi emas yang secara langsung saya juga turut bisa berperan di dalamnya, banyaknya pemuda nusantara yang sudah menunjukkan tajinya sejak dini semakin menggugah diri ini untuk ikut ambil bagian sebagai pembawa perubahan juga, tidak banyak yang saya bisa lakukan tapi yang terpenting adalah kemauan yang besar pastilah ada jalan untuk itu semua. Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang nama universitasnya di ambil dari salah satu pahlawan Indonesia dengan filsafatnya yaitu “Si Tou Timou Tumo Tou” Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Manusia Lain, mengisyaratkan bahwa perjalanan hidup ini bukanlah hanya perkara bagaimana kita bisa hidup tetapi melengkapi kehidupan orang lain agar kehidupan kita bisa benar-benar hidup. Hidup pun terlalu singkat rasanya bila dihabiskan dalam penyesalan seperti yang saya lakukan kemarin-kemarin, hampir setiap hari saya selalu melihat kekurangan-kerungan dalam diri sendiri membandingkannya dengan orang lain makin pula membuat persaan minder semakin besar, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang telah diwariskan oleh para pejuang tanah air, tak hanya pejuang kemerdekaan tetapi mereka yang mampu membuat orang lain menjadi berubah karena telah memberi inspirasi kehidupan, ya Tuhanku berilah petunjuk kepada hambamu yan pemimpi ini.

Komentar

share!