Partikel January dalam Ampas Kopi

Karya: eskade



Aku adalah gadis penikmat kopi. Kopi adalah teman, pacar sekaligus suri tauladan bagiku. Bukan kafein yang membuatku mencandu secangkir kopi, bukan juga aroma kuatnya yang khas, melainkan pahitnya yang mengingatkan. Mengingatkan akan realitas bukan ekpektasi. Percaya atau tidak, rasa pahit tercipta agar manusia mensyukuri setiap milidetik kehidupan yang Tuhan berikan. Aku percaya, pahit tidak berarti buruk. Itu pelajaran pertamaku tentang kehidupan. Karena ada pahitlah, manis ada. Bukannya setiap hal diciptakan berpasang-pasangan? Jika kamu bukan manis, berarti kamu pahit. Jangan disesali, jadilah rasa pahit yang bijaksana. Lebih baik ketimbang rasa hambar yang abu-abu.

Keyakinan keduaku adalah adanya partikel ampas kopi dalam kehidupan ini. Setiap hela nafas panjang yang lelah, setiap garis luka yang membebankan, juga setiap cinta yang meragukan ada dalam ampas kopi. Mengendap. Tidak tersentuh. Tidak diinginkan, tapi nyata adanya. Tersisa di dasar cangkir setelah bagian ternikmatnya habis. Yah, manusiawi jika bibir lupa hikmahnya ampas kopi, layaknya seorang anak yang menjadi konglomerat lupa karena siapa dia terlahir ke dunia ini. Tapi lihat ini, adakah orangtua yang berpikir: daripada aku melahirkan konglomerat yang melupakanku, lebih baik aku melahirkan pemulung yang selalu mengingatku. Aku rasa tidak ada, ampas kopi juga tidak. Ia hanya mengendap dan nrimo.

Tentu saja dengan ideologiku sendiri, aku selalu mengaduk sisa kopi terakhirku agar ampasnya tercampur, kemudian meminumnya tanpa sisa. Maaf, tapi aku bukan substansi kopi yang lupa pada ampasnya dan sebagai tambahan, aku bukan seorang konglomerat yang lupa daratan.


“Haruskah aku pulang ke Indonesia?” tanyaku pada cangkir yang kosong.

Pardon, Madam?” Sir Arthur, barista kafe bertanya karena mendengar gumamanku.

Nope. Just, reminding lyric of my memorable Indonesian song, the title is Januari with I not Y.

 “Oh, seriously. I think it’s better to remind Back to December lyric for this early winter.

Gosh, you’re right. Would you?

No. Anything with December hurts me, you know...

Oh, I’m so sorry.. I, I don’t wanna..

It’s okay, Madam. It’s just nightmare.

Sir Arthur terlihat sangat lara tapi mencoba tetap tersenyum. Senyum lara, tapi tulus tidak dibuat-buat dan tidak berprasangka. Seperti ampas kopi, ada sisa kepahitan disana, anehnya ia menerimanya dengan legowo, ia menelan ampas kopi sampai tuntas sama sepertiku. Tragedi yang menimpa anak sulungnya memang bukan sekedar mimpi buruk biasa.

Lain dengan ayahnya yang taat, Gin Arthur , putra sulung Sir Arthur yang baru masuk semester kedua Private University di Lake District lebih mudah terpenggaruh orasi dan propaganda sekte penganut ilmu hitam. Dengan ideologi mereka yang mengatasnamakan perdamaian seluruh lapisan masyarakat, GA terperdaya. Sampai suatu saat ia menghilang dan seminggu kemudian ditemukan tewas dengan keadaan yang mengenaskan. Semua jari tangannya hilang, mulutnya terjahit dan kedua matanya terkunci cairan lilin. Setelah diautopsi, ada hal aneh yang tidak masuk akal, yang lebih dari sekadar dramatis, nyaris ironis. Mistis. Sampai sekarangpun pihak rumah sakit tidak dapat mengidentifikasi jenis penyakit apa yang dialami GA, jantungnya hilang. Sudah itu saja, tanpa sebab, penuh imajinasi dan tidak tersentuh ruang deskripsi. Diketahui dari roomate-nya, dua hari sebelum dinyatakan hilang, GA pergi bersama pria tidak dikenal dengan pakaian serba hitam. “Arthie didn’t say anything when I asked him where he was going to. It’s about midnight and he brought nothing.”

Sejak saat itu Sir Arthur jadi lebih giat Gereja, entah apa maksudnya. Barangkali ia ingin minta pengampunan pada Tuhan agar putra sulungnya diberi kesempatan untuk membela diri di hari penghakiman nanti. Aku selalu ingat apa yang ia katakan, “You know what makes a death scarry, Madam? Not the day, but the way.” Yang menakutkan dari sebuah kematian bukanlah kapan ia datang, tapi bagaimana. Waktu itu, ingin rasanya aku berkata, “Maukah kau berbagi ampas kopimu denganku?” Namun, siapa aku? Bukankah Tuhan akan memberi ujian hanya kepada orang-orang yang mampu menghadapinya? Jika itu aku, mungkin sekarang aku sudah minum racun tikus atau mendekam di rumah sakit jiwa karena depresi berat. Berbagi ampas kopi gundulku!

Brighton di segala musim memberiku banyak pelajaran kehidupan yang tidak aku dapatkan di Indonesia. Tapi kok rasanya aku hanya menimba ilmu disini. Brighton City adalah suatu lembaga pembelajaran buatku, dan Sir Arthur adalah salah satu instrukturnya. Sangat mengagumkan, tapi tidak bisa membuatku tergila-gila seperti Jogja. Kota kecil yang menyihirku dengan udara mistisnya. Mungkin aku harus kembali, mungkin Jogja merindukanku, atau mungkin aku yang rindu? Mungkin, mungkin dan mungkin...argh! Mungkin aku hanya mencari alasan yang tepat untuk kembali tanpa merasa terasing. I have to face the world, no matter what.

Faktanya, aku lari dari Jogja karena ada kepahitan yang kusisakan disana. Hah, sudah waktunya aku menyesap tegukan terakhir kopiku beserta ampasnya. Tiba-tiba seperti terhipnotis, tanganku bergerak dengan sendirinya meraih handphone: Ra, I will go home tomorrow. Jangan kasih tau Romo dan Biyung dulu ya. Begitulah isi pesan singkat yang ditujukan pada Aura, adik tercintaku. Hmm, aku mulai mencium aroma kopi. Wah, aku tersihir oleh rasa rinduku sendiri, akan Jogja dan... sepenggal kenangan di bulan Januari. Ampas kopi.

***

“Tok tok tok!” aku terpaksa mengetuk pintunya lebih keras. Sudah seperempat jam aku bertengger di depan pintu kojoy. Kojoy merupakan kependekan dari kontrakan enjoy. Cemplon adalah sesepuh pemberi nama, Seche si gadis persilangan Dayak-Sunda, Kirana si jebolan pesantren (kilat) dan aku 
yang mengamininya. Kali ini Kirana yang terbangun karenaku.

“Taddaaaa... I am coming.”

Sopo yo? Lali akuuu.”

“Wah! Ora tak bagi yoo oleh-olehe saka England.”

Kemudian kami berpelukan sambil berjingkat-jingkat, ah senangnya kembali pulang. Kirana tidak memberondongiku dengan segudang pertanyaan, dia tahu kenapa aku tidak langsung pulang ke Bantul, ke rumah Romo dan Biyung, dia juga tahu aku butuh banyak energi ekstra untuk besok.

***

“Suatu hari nanti, putri dari putriku akan menikah dengan cucu tersayangmu. Janji ya.” Aneh Mbak Laras mengatakannya tanpa menoleh padaku, ia melihat ke depan seperti disana ada sebuah monitor besar yang berisi film masa depan kami. Ia terlihat sangat bahagia dan bangga. Mau tak mau aku ikut tersenyum, dia wanita yang baik. “Iya Mbak, Insya Allah.”

***

Malam cepat sekali berganti di Jogja, ini pertama kalinya aku bertemu dengan mempelai pria setelah sekian lama. Lelaki yang tak ingin kusebut namanya itu menatapku penuh cinta, cinta yang egois. Aku menang. Dia belum mengucapkan sepatah kata pun sejak kita bersua 30 menit yang lalu, sedangkan aku sudah menghujaninya dengan semilyar kata, di dalam hati.

“Soal janji itu.. aku minta maaf.”

Aku menunggu sekian lama, lama sekali. 8 tahun! Jika dikonversi ke dalam detik ada 252.460.800 detik yang sudah kubuang percuma dan yang kudapat adalah permohonan maaf. Haha! Aku tidak akan lupa saat dia berjanji akan menikahiku setelah jadi sarjana. Duh Gusti, kopiku pahit sekali. Tunggu, jangan mendekat! Aku sedang menangis. Aku butuh waktu untuk menangisi kebahagiaan cinta pertamaku yang akhirnya menikah dengan wanita yang sudah kuanggap Kakak sendiri. Stop! Jangan peluk aku, itu akan membuatku terlihat begitu jahat. Jangan peluk aku. Aku sedang menelan ampas kopiku. “You don’t have to say sorry. I am happy for you, as always.” Aku kalah. Ada sebuah lagu ter-replay di pikiranku, Januari.

***

Aku terlihat menikmati lagu 11 Januari yang dibawakan oleh si vokalis, tapi sebenarnya yang terdengar hanya alunan lagu Januari-nya Om Glenn yang menyayat hati. Analisisku tentang sang vokalis adalah 30% wanita yang melihatnya akan jatuh hati pada suaranya, sisanya pada ketampanannya. “Sorry, buat wanita arah jam 6, boleh maju ke depan?” katanya.
Aku melenggang rapi dengan kebaya kutu baruku. Aku merasa seperti korban atraksi sulap.

“Pertama, ayo kita lupakan segala pahit di bulan ini karena sekarang sudah jam 00.01 yang artinya sudah masuk tanggal 1 Februari. Dan yang kedua besok malam saya akan mentraktir anda kopi, bagaimana?”

“Dalam rangka?”

Dia yang sepertinya aku kenal itu menyipitkan mata, mencari alasan. “Selebrasi. Karena pada menit pertama bulan Februari, saya bertemu dengan cinta pertama saya lagi. January, pake Y.”
Itu namaku.


“Tentu. Saya sangat suka kopi.”                                                                                             End.

Komentar

share!