OH RAMA

Karya: Alri



Aku mempunyai seorang sahabat, Rama namanya. Dia adalah teman bermainku sejak kami sama-sama masih balita. Kami lahir di bulan Januari di tahun yang sama. Rama sehari lebih tua dariku. Ketika kelas 3 SD, Rama sekeluarga pindah rumah karena ayahnya dipindahtugaskan. Ibuku bilang Rama pindah ke Malang. Aku sangat sedih pada saat itu. Setiap hari aku bertanya kepada ibu, kapan Rama akan datang dan bermain lagi bersamaku. Ibu selalu menjawab nanti kalau ayah Rama sudah selesai bekerja, mereka semua akan kembali lagi ke Bandung. Kini aku sudah menjadi mahasiswa. Hari ini adalah hari pertamaku menjalani masa perkenalan kampus. Banyak orang yang tidak aku kenal.


“Hai, boleh kenalan?” aku sedang duduk di pinggir koridor, merapihkan catatan dalam formulir ketika sebuah suara menyapaku. Kepalaku terangkat untuk menemukan sang pemilik suara. Ternyata seorang laki-laki tengah duduk tidak jauh di sampingku.
“Kamu dari kelompok Semangka, kan?” tanyanya lagi. Dia tersenyum padaku. Matanya berbinar. Rasanya aku tidak asing dengan senyum dan matanya. Aku hanya bisa menganggukkan kepala, tidak fokus pada pertanyaan lelaki di sampingku ini. Aku masih berusaha mengingat apakah aku pernah kenal dengannya.
“Jadi, nama lengkapmu siapa? Asal daerah? Program studi? Nomor telepon?” aku tergagap mendengar berbagai pertanyaannya. Aku segera menjawab pertanyaannya.
“Kamu nggak mau tau tentang aku? Hehe...” dia tersenyum jahil kepadaku.
“Oh iya, maaf. Siapa namamu? Asal daerah? Program studi? Nomor telepon?” aku menanyakan hal yang sama kepada laki-laki ini.
“Namaku Ramadhan Kusuma. Nama panggilanku Rama.”
Seketika aku teringat teman kecilku dulu. Namanya Rama juga. Aku tidak tahu nama lengkap Rama, namun aku sedikit berharap bahwa dia adalah Rama teman kecilku dulu.
“Aku datang dari Malang,” lanjutnya. Aku semakin penasaran dengan Rama yang berada di sampingku. Dia berhasil mendapatkan perhatianku. Kuletakkan pena yang dari kugunakan, kemudian menghadap lurus ke arahnya. Ternyata dia masih tersenyum sepeti tadi, tidak mengalihkan pandangannya sekalipun dariku.
“Hai, Dini. Remember me?” Dia merentangkan tangannya dan mendekapku.
***
Sejak bertemu kembali dengan Rama, hidupku menjadi lebih bewarna. Aku dan Rama sering bersama di kampus. Di mana ada aku, maka di sana ada Rama. Kalau kalian ingin mencari aku atau Rama, maka cari saja salah satu di antara kami, pasti kalian akan menemukan yang lainnya. Rama seringkali kesulitan dalam mengerjakan tugasnya. Maka dia selalu memintaku untuk menemaninya, padahal itu hanya alasan supaya kemudian aku membantunya mengerjakan tugas. Maka pagi ini ketika ruang kelas masih belum dibuka, aku sudah berada di koridor kelas bersama Rama untuk membantunya mengerjakan paper yang akan diikutkan dalam satu lomba.
“Din, kamu tahu Fiona?”
“Hah, siapa tuh?” tanyaku tanpa menoleh ke arahnya, masih fokus pada lapotopnya.
“Itu loh, mahasiswa FMIPA yang jadi brand ambassador salah satu produk kecantikan. Masa kamu nggak tau sih?”
“Oh iya, aku tahu. Memangnya kenapa?”
“Kemarin dia mengirimiku pesan! Kami bahkan janjian hari ini untuk bertemu. Dia mau membicarakan sesuatu denganku.” Suara Rama nampak sangat antusias.
“Oh. Kamu sama sekali nggak tahu berita yang beredar mengenai Fiona?” Rama menggeleng tanpa dosa.
“Dia itu playgirl. Kamu nggak tahu? Aku nggak mau kamu dekat-dekat dengannya. Kamu bisa saja menjadi korbannya entah yang keberapa atau mungkin nanti dikira merebut dia dari pacarnya. Itu semua nggak baik, Rama!” aku gemas sekali pada Rama saat ini. Jujur saja, selain mengkhawatirkan Rama yang akan menjadi korban Fiona, aku cemburu padanya. Aku sudah berusaha untuk membuat para wanita menjauh dari Rama karena kegalakanku jika sedang bersamanya, namun rupanya masih ada yang bisa lolos dariku.
“Sudahlah. Nanti kamu temani aku saja ya.”
Ketika kami bertemu dengan Fiona, dia nampak terkejut dengan kehadiranku. Tentu dia tidak berpikir kalau Rama akan mengajak orang lain untuk bertemu dengannya. Jelas sekali bahwa Fiona tidak menyukai kehadiranku. Mereka sangat asyik berdiskusi mengenai paper yang tadi pagi Rama kerjakan. Namun aku merasa ada yang aneh dengan perbincangan ini. Aku memutuskan akan mengawasi mereka.
***
“Din! Diniii! Kamu di mana sih?”
“Hei kamu! Kamu jangan teriak di rumah orang. Ini bukan hutan!” aku muncul keluar kamar dengan ekspresi kesal. Sebal sekali waktu istirahatku diganggu olehnya.
“Ada apa? Awas ya kalau kamu cerita yang nggak penting, kamu harus bayar satu juta ke aku!” kataku galak kepada Rama.
“Hehehe... Maaf, Din. Aku lagi seneng banget! Akuuu... Akuuu...”
“Apa, Ram? Jangan bikin penasaran dong.” Aku jadi cemas menanti yang akan Rama katakan.
“Aku pacaran sama Fiona!”
What?! Are you serious?”
More than serious! Belah nih dadaku kalau kamu nggak percaya!”
“Kok bisa?” Aku sangat tidak percaya dengan yang Rama katakan. Aku patah hati tapi tidak mungkin bilang padanya. Kujaga ekspresiku supaya tetap biasa, ternyata sangat sulit.
“Kamu nggak senang aku punya pacar?”
“Ya, kamu tahu kan kalau aku nggak begitu suka sama Fiona. But however it is, congratulation for you. Jangan aneh-aneh ya sama dia.” Aku asal bicara, yang penting Rama segera pergi dari hadapanku.
“Ram, ini sudah malam. Kamu mending pulang sekarang ya. Aku mau tidur.” Aku membalikkan badan Rama menghadap pintu dan mendorong pundaknya pelan. Dia nampak ingin protes dan mengatakan sesuatu, namun aku segera berbicara lagi.
Bye, Rama. See you tomorrow.” Kututup pintu dan bersandar di sana. Rama, kamu nggak sadar ya kalau selama ini aku sangat peduli padamu. Rasanya seperti ada lubang besar di hatiku. Kamu membuatku sedih.
***
Selama seminggu aku menghindari Rama. Kata teman-temanku, Rama selalu mencari dan menanyakanku pada mereka. Aku memang menghindarinya. Entah kenapa hatiku sakit setiap melihat wajah sumringah Rama karena punya pacar baru. Oh, apakah yang aku rasakan ini salah?
Kemudian di hari-hari berikutnya kulihat Rama sering mengerjakan papernya sendirian. Entah kemana pacarnya yang menjadi rekan satu timnya itu. Aku tahu bahwa deadline pengumpulan paper semakin dekat. Rasanya tak tega melihat dia berjuang sendirian. Akhirnya aku menyerah pada diriku sendiri dan menghampiri Rama.
“Perlu bantuan?”
Rama kemudian menoleh. Wajahnya nampak kaget, namun kemudian segera berganti sebuah senyum lebar. Senyumnya menular padaku. Aku juga tersenyum.
“Kamu kemana saja? Aku kangen kamu. Absolutly yes. Aku masih perlu data-data lain nih, Din.”
Aku penasaran sekali dengan pacarnya itu. Kenapa dia tidak ikut mengerjakan paper ini bersama Rama?
“Ram, kok sendirian? Fiona kemana?” tanyaku dengan nada yang biasa saja, tidak ingin menunjukkan bahwa aku begitu penasaran. Rama menghela nafas lelah sebelum menjawab pertanyaanku.
“Dia sibuk banget, Din. Katanya sedang ada pemotretan di Bandung. Jadi dia tidak bisa mengerjakan ini denganku... Seandainya saja pacarku kayak kamu, Din. Ada terus untuk aku...”
Deg! Aku tersentak mendengar kalimat Rama. Seandainya saja kamu tau perasaanku. Kamu pasti akan paham semua ini aku lakukan untuk kamu...
***
Paper Rama masuk juara tiga besar! Kami sangat senang. Meskipun aku tidak menjadi timnya, namun aku bisa ikut merasakan kebahagiaan Rama. Ini merupakan hadiah ulang tahun bagi kami karena pemenang lomba diumumkan di minggu yang sama dengan ulang tahun kami. Namun kebahagiaan Rama tidak berlangsung lama. Pagi ini kulihat Rama duduk sendirian di taman kampus. Aku menghampirinya.
“Kamu benar, Din.”
“Tentang?”
“Dia hanya memanfaatkanku. Dia pergi setelah kami memenangkannya.”
“Maksudnya apa, Ram? Aku masih nggak mengerti.”
“Fiona, Din. Kami putus. Baru saja. Aku mendengar kabar dari seorang teman bahwa Fiona hanya memanfaatkanku yang sangat giat mengikuti lomba paper supaya prestasi akademiknya meningkat. Aku memastikannya, bertanya langsung pada Fiona. Kamu ingat saat aku bilang dia sedang melakukan pemotretan sehingga dia tidak bisa membantuku? Itu semua bohong. Dia tidak datang karena rupanya sedang nongkrong dengan teman-temannya. Dia sama sekali tidak peduli padaku.”
Kubiarkan Rama bersandar di pundakku untuk beberapa saat. Aku sendiri tidak menyangka bahwa Rama akan mengalami hal sepahit ini.
“Sabar ya, Ram. Aku nggak mau kamu sedih begini. Semua pasti ada hikmahnya. Kamu selalu bisa cerita apapun ke aku. Aku nggak kemana-mana kok.”

Aku hanya bisa menghibur Rama, memberitahunya bahwa aku akan selalu ada meskipun semua orang pergi darinya. Aku memang menginginkan Rama tidak bersama lagi dengan Fiona. Namun jika dengan berpisah membuat Rama sedih, lebih baik aku saja yang merasa sedih. Aku sakit jika Rama sakit. Aku senang jika Rama senang. Meskipun hingga saat ini Rama tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya, aku tidak apa. Suatu saat nanti Rama pasti akan mengetahuinya. Aku yakin itu. Januari selalu menjadi misteri awal tahun.

Komentar

share!