Menjadi Champion di Tahun Baru

Karya: Theressa Butar-butar




            Pada perlombaan Bakat Anak Bangsa, Riana sebagai ketua dari tim Blue Sky menatap miris temannya yang semangat. Riana merasa bahwa tim mereka tidak pantas untuk menang. Banyak perlombaan yang mereka ikuti, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kali ini, mereka akan bersaing beberapa tim termasuk, tim Merdeka yang selalu lolos menjadi pemenang. Riana hanya pasrah menatap tim Merdeka yang merendahkan mereka. Namun, tidak bagi teman-temannya, mereka tetap semangat menuju panggung dan menunjukkan bakat mereka. “C’mon, guys, malam tahun baru ini  , mari kita bersama-sama berjuang!” ucap Noel, sahabat Riana.


Setelah seluruh peserta lomba selesai, pembawa acara membacakan peserta lomba yang menang. Lagi-lagi pemenang lomba bakat diraih tim Merdeka dan tim Blue Sky tidak membuahkan hasil. “Kita bisa berjuang lagi teman-teman.” ucap Noel berusaha menyemangati teman-temannya. Lalu Riana dan teman-temannya menuju mobil mereka dengan tangan kosong. Miris sekali tim ini, pikir Riana pasrah.
Tiba-tiba tim Merdeka menghalangi jalan mereka. “Guys, lihat pecundang ini,” ucap salah satu dari mereka.
“Dasar, tidak tahu malu, kalian tak seharusnya mengikuti lomba ini, kalian itu harus sadar kalau kalian itu PECUNDANG!!” Noel yang sudah panas mendengar kata-kata itu hendak memukul ketua dari tim itu. Namun, usahanya gagal saat Riana mencekal lengannya. “Riana, laki-laki itu, menjelekkan nama baik kita”
“Noel, sudah, kita mengalah saja,”
“Riana, selama ini, kita selalu direndahkan mereka, kita tidak seharusnya membiarkan perjuangan kita selama ini, dihina-hina oleh mereka. Lihat teman-teman kita, mereka sudah berjuang untuk sekolah, kenapa kau menghalangi-“
“Karena kita memang PECUNDANG, Noel. Kita enggak bisa menang dan tidak akan pernah menang. Apa yang dikatakan mereka itu benar!” ucapan Riana membuat kelima temannya menatapnya kecewa. Riana memandang lama Noel dengan mata berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan temannya.
“Kau dengar, teman manismu itu? Kalian memang pecundang. Tapi, tenang saja, masih ada lomba selanjutnya. Disana kalian akan, kami permalukan lebih dari ini. Sampai jumpa para pecundang,” ucap ketua tim Merdeka itu sambil menepuk bahu Noel. Noel dengan kasar menepis tangan laki-laki itu dengan kasar. Lalu tim Merdeka itu pergi dengan tawa mengejek.
Dirumah Riana, Noel menatap jendela kamar Riana dan memanggil gadis itu, “Ana, turunlah, ada yang ingin aku bicarakan,” teriakan Noel membuat Riana mengalihkan pandangan dari belajarnya kearah Noel lalu turun menemui sahabatnya itu.
“Apa yang kau lakukan disini Noel? Kalau kau membicarakan tentang hal itu, aku akan kembali kekamarku,”
“Ana, kau mau menaiki mobil truk bersamaku? Seperti dulu, yang sering kita lakukan sejak kecil,” ucap Noel mengabaikan perkataan Riana. Riana yang mendengar itu tersenyum senang dan berlari kecil bersama Noel menuju tempat yang mereka maksud.
“Akhirnya, mobil tua ini tidak disingkirkan,” ucap Riana lega lalu duduk di mulut mobil bersama Noel. “Beberapa menit lagi akan tahun baru, jangan sampai kita lewatkan moment ini” ucap Noel menatap kembang api yang terbang indah dilangit.
“Riana, sebelum tahun ini berakhir ada yang ingin aku katakan padamu,”
“Apa?”
“Tahun baru yang akan datang, aku ingin tim Blue Sky mengubah sejarah kita, kami tidak ingin berakhir dengan seperti ini, Ana. Kau tahu, kami semua bergantung dengan dirimu-“
“Noel, bukankah sudah kukatakan, jangan membicarakan tantang itu!” ucap Riana kesal dan turun dari duduknya. “Riana, dengar, dengar aku, kamu tahu ini malam apa? Ini adalah malam saat segalanya berubah. Kamu tahu kenapa bulan Januari sangat istimewa? Karena, semua orang menanti-nantikannya dan mereka merayakannya tepat pada malam ini. Saat itulah mereka mengubah sejarah karena kita semua tidak boleh terlarut pada masa lalu. Sudah saatnya kita mengubah Blue Sky, Riana! Sudah saatnya kita melepas lebel PECUNDANG kita!!” Riana yang mendengar itu semua tersentak menyadari sesuatu dan berpikir sejenak.
“Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan disitu?” Noel menegur teman satu timnya yang sedang menguping pembicaraan mereka dibalik semak-semak. Lalu mereka menghampiri Noel dan Riana.
“Riana, kita semua sudah berkumpul disini. Kami disini hanya bergantung padamu. Teman-teman kita lainnya, telah mendukung kita dengan semangat. Jangan sampai kita mengecewakan mereka.” Ucap Noel menatap Riana dengan penuh pengharapan.
Riana menatap satu persatu temannya itu, lalu tersenyum. “Sky Biru, kenapa diam aja? Ayo latihan!” teman-teman Riana yang mendengar itu tersenyum merekah.
“Ayo, semuanya, besok kita akan berperang! Mari kita runtuhkan mereka.” Ucap Noel dengan penuh semangat.
“Mari kita latihan sampai malam ini berakhir, teman. Malam ini kita berdiri, bangkit perjuangkan apa yang telah kita kerjakan selama ini dan kita kan berdiri sebagai pemenang malam ini!” ucap Riana. Kelima teman Riana yang mendengar itu terharu dan memeluk Riana bangga.
Keesokan harinya…
Riana memandang seluruh penonton yang menantikan bakat mereka. Riana sekilas menatap Noel yang menganggukkan kepala seolah semuanya akan baik-baik saja. Dimulai dari petikan gitar listrik Noel, lalu pukulan drum, dan instrument musik lainnya hingga bergabung menjadi suatu musik yang indah. Setelah intro berakhir Riana mengeluarkan suaranya.
And it’s a sad picture, the final blow hits you
Somebody else gets what you wanted again
Tonight we’ll stand, get off our knees
Fight for what we’ve worked for all these years
And the battle was long, it’s the fight of our lives
And we’ll stand up champion tonight
Cause we never gave in and we’ll sing Hallelujah, we sang Hallelujah, Hallelujuah…
Setelah instrument selesai, semua penonton berdiri memberi tepuk tangan untuk mereka. Riana dan teman-temannya menunduk hormat dan turun dari panggung sambil tersenyum.
“Riana, kamu keren!!” ucap Tania yang merupakan sahabat Riana, yang sedari tadi menonton mereka. “Aku gak bisa keren, kalau tanpa mereka,” ucap Riana menatap teman satu timnya.
“Kamu, selalu saja merendah,” ucap Tania. Riana menatap temannya yang gelisah menunggu pengumuman sang pemenang. “Guys, gak ada yang perlu dikhawatirkan, menang atau kalah itu biasa, yang penting kita telah menunjukkan yang terbaik,” ucap Riana menyemangati temannya. Ia hanya tersenyum melihat temannya yang masih gelisah.
“Coba, lihat Tim Merdeka. Tarian mereka tidak bervariasi, bahkan gerakan mereka ada yang tidak teratur. Kenapa? Karena mereka menganggap perlombaan ini sepele, dan tidak cocok untuk mereka. Akibat dari kesombongan mereka, mereka akhirnya menjadi seperti ini.” Jelas Riana menatap Tim Merdeka yang sedang tampil. Kelima teman Riana, yang sedari tadi gelisah, sedikit lega mendengar perkataan Riana.
Setelah, seluruh peserta telah selesai menampilakan bakat mereka, pembawa acara segara membacakan hasil penilaian dari sang juri. Tiba-tiba, Riana meringis kesakitan dan memegang perutnya yang sakit. “Ada apa, Riana?” tanya Tania khawatir. “Panggilan alam, aku harus ke wc.” Ucap Riana bangkit dari duduknya dan berjalan ke wc. Tiana yang menatap kepergian  Riana hanya menggelengkan kepala dan kembali fokus kepada pembawa acara.
Setelah keluar dari wc, Riana mendengar suara histeris Tania yang memanggil namanya. Seketika, Riana mengerutkan kening melihat Tania yang mengampirinya. “Ada apa?”
“Riana, tim dari sekolah kita…” Tania menghentikan ucapanya berusaha mengatur napasnya. “Ada apa Tania?” ucap Riana penasaran. “Hosh..kita.. hosh.. hosh kita Juara satu, Riana!”

TAMAT

Komentar

share!