KENANGAN JANI

Karya: Alri



20 Januari 2016
Sebuah pesan masuk:
Hai, Jani. Apa kabar?
Selamat ulang tahun, ya.
Semoga kamu sukses meraih semua impianmu, senantiasa dikelilingi oleh kebaikan, disertai hati yang selalu cantik, tentunya dengan keberkahan hidup di setiap detiknya.
Maaf, aku masih belum bisa menemuimu untuk bilang ini secara langsung. Aku masih di Medan bersama dengan tumpukan berkas-berkas kantor. Semua ini sangat membosankan, serius!
Aku selalu merindukanmu, Jani. Hope we can meet as soon as possible. J
Ah, dia lagi. Ketika aku sudah berusaha untuk melupakannya, dia justru datang seenaknya dengan pesan sederhana yang indah tanpa tahu bahwa dia sudah mengacak-acak hati yang dengan susah payah kutata setelah memutuskan untuk mengeluarkannya dari hatiku. Arrrgh!!!
***


Flashback lima tahun yang lalu
“Anjani Pradipta! Kamu tau sudah telat berapa menit?”
“Maaf kak, eh, bang, saya tidak tahu. Saya tidak pakai jam tangan.”
Pagi ini aku sedang berada di salah satu lapangan kampus yang dijadikan sebagai tempat ospek jurusan oleh panitia. Di hadapanku kini berdiri seorang senior satu tahun di atasku, dari jurusan yang sama. Orang-orang memanggilnya bang Yudha. Aku heran sekali dengan orang ini: wajah manis, tubuh tinggi, suara merdu, pandai pula, tapi galak sekali.
“Hei, kamu menghina saya, ya?” matanya melotot.
“Hah? Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
“Kamu meremehkan saya, ya? Berani-beraninya kamu melamun, tidak mendengarkan perkataan saya dari tadi. Ini penghinaan. Nggak bisa dibiarkan. Kamu harus dihukum!”
 “Maaf, bang. Saya tidak bermaksud untuk tidak mendengarkan. Saya hanya...”
“Stop! Kamu nggak perlu beralasan lagi. Silahkan datangi panitia di sebelah sana. Mereka sudah tau apa yang harus dilakukan kepada peserta ospek seperti kamu.”
Aku berjalan lunglai meninggalkan bang Yudha.
***
Ospek jurusan sudah berakhir beberapa minggu yang lalu. Aku berada di tengah puluhan mahasiswa baru dalam kegiatan Temu Perdana Pengurus Himpunan Profesi (himpro) dari jurusanku saat ini. Baru saja aku mendapati fakta bahwa bang Yudha adalah salah satu kepala bidang yang mana aku menjadi staf di dalamnya. Aku lemas setelah mengetahui hal ini. Tak lama setelahnya aku pulang menuju kamar kosku.
“Hai. Kok sendiri?” sebuah suara menyapaku.
“Iya, temanku masih pada kerja kelompok,” aku menjawab dengan kepala tertunduk.
“Eh, bang Yu-Yudha... Maaf, bang. Aku kira temanku. Maaf.”
“Iya, nggak apa-apa. Ehm... Jani, maaf ya. Pagi itu aku membentakmu. Maaf juga karena sudah membuatmu harus pergi ke tukang pijat.” Aku kaget mendengarnya mengucapkan kata maaf dan tahu segala sesuatu yang terjadi padaku setelah pagi itu.
“Kamu mau memaafkanku?” katanya lagi. Ekspresinya menunjukkan kesungguhan untuk meminta maaf. Aku tidak bisa kerkata-kata, tapi entah mengapa kemudian aku menganggukkan kepala. Dia tersenyum. Senyum pertamanya padaku.
“terima kasih. Mari kita mulai lagi dari awal.”
***
 Satu tahun berlalu. Aku sungguh tak menyangka bahwa bang Yudha sangat baik. Dia melakukan banyak hal untukku seperti membantuku mengerjakan tugas, menjadi teman diskusi, melindungiku dari gangguan para senior, dan menjadi rekan kerja yang sangat baik di himpro. Sering aku terharu atas kebaikannya karena dia banyak membantuku tanpa diminta. Entah sejak kapan, perasaanku pada bang Yudha berubah. Aku tidak lagi melihat bang Yudha sebagai seorang senior di kampus. Aku melihatnya lebih dari itu. Aku mulai berharap lebih padanya.
Pagi ini aku dan pengurus himpro lainnya tiba di kampus setelah melaksanakan salah satu program kerja himpro selama dua minggu. Aku turun dengan membawa dua tas besar, satu di punggung dan satu lagi dijinjing. Begitu turun dari bus, ternyata bang Yudha sudah menungguku.
 “Biar aku yang bawa tasmu. Kamu bawa tasku, ya. Tasku tidak terlalu berat,” jelasnya.
Aku tertegun. Mungkin ini terlihat biasa saja bagi orang lain, namun aku sungguh terharu atas sikapnya. Perasaanku kepadanya semakin tak tentu. Aku semakin berharap lebih padanya. Setelah beristirahat beberapa jam, aku kembali ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temanku hingga malam. Setelah selesai mengerjakan tugas, seharusnya aku dapat langsung pulang, namun ternyata tidak semudah itu. Aku tidak membawa payung sehingga aku tertahan di kampus untuk beberapa saat.
 “Ayo pulang!” Sebuah suara mengagetkanku ketika masih menunggu hujan reda. Rupanya bang Yudha. Dia membawa sesuatu di balik jaketnya.
“Abang? Kok tumben jam segini masih di kampus? Kan biasanya jam segini udah di...”
“Sssst! Sudah, jangan bawel. Ayo pulang. Sudah malam.”
Selama perjalanan pulang, dia diam. Aku merasa aneh dengan sikapnya. Sesekali aku meliriknya yang tampak sedang melamun. Sungguh, aku tidak bisa membaca pikirannya. Aku penasaran dengan hal-hal yang dilamunkannya.
“Bang, sudah sampai.”
“Oh, iya. Ya sudah, kamu tidur sana. Hmmm...”
“Iya bang, kenapa?”
“Jani, aku minta maaf ya. Aku pasti banyak salah banget ke kamu.”
“Ish, abang ini bicara apa sih. Kayak yang mau pergi jauh saja.” Aku tidak terbiasa dengan bang Yudha yang menjadi pendiam dan meminta maaf begini. Ini bukan kebiasaannya. Aku memandang sekilas wajah bang Yudha, dia tersenyum singkat.
“Aku pamit ya. Kamu baik-baik di sini. Jangan jadi preman mulu.” Dia mengacak puncak kepalaku dengan tatapan yang agak berbeda dari biasanya. Bukan tatapan biasa yang menunjukkan kejahilan atau bahkan galak, namun tatapan sendu seolah-olah kami akan berpisah jauh, meskipun dia melakukannya sambil tersenyum. Sebelum aku sempat membalas ucapannya, dia sudah membalikkan badan dan melangkah pergi.
“Hati-hati di jalan, bang,” kataku yang kurasa tidak akan dia dengar karena jaraknya yang sudah agak menjauh.
***
Seminggu setelah malam itu, aku tidak menemukan bang Yudha di manapun. Dia menghilang. Aku bertanya kepada teman-temannya, namun tidak ada yang tau. Aku mencemaskannya. Bahkan dia tidak mengucapkan selamat di hari ulang tahunku. Malam itu adalah saat terakhir aku melihatnya. Setelah berhari-hari menghilang, dia mengirim surat.
Hai Jani.
Apa kabar?
Maaf karena aku baru mengabarimu setelah menghilang beberapa waktu. Kamu ingat malam terakhir saat aku mengantarmu? Aku ingin memberitahumu sesuatu malam itu. Sepanjang jalan aku sibuk memikirkan kata-kata yang bisa aku sampaikan padamu.
Jani, saat aku menulis surat ini aku sudah berada di Medan. Setelah lulus sidang beberapa minggu yang lalu, orangtuaku meminta agar aku segera kembali ke Medan untuk melanjutkan perusahaan keluarga. Aku tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuaku. Kamu pasti mengerti, kan? Masa depanku sudah dirancang sedemikian rupa oleh kedua orang tua. Bahkan aku sudah dijodohkan dengan seorang perempuan pilihan orang tuaku. Tentunya aku tidak akan menikah dalam waktu dekat karena kami sama-sama masih terlalu muda. Mungkin hal itu akan terjadi 3 atau 4 tahun lagi.
Aku ingin menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf padamu. Terima kasih karena menjadi teman, rekan kerja, adik, bahkan kakak, dan menjadi apa pun selama kita menghabiskan waktu bersama. Terima kasih sudah mengenalkanku pada peduli, cinta, kasih sayang, syukur, dan rasa apapun yang menjadikanku manusia yang lebih manusiawi.
Maafkan aku karena pergi tanpa pamit. Tapi sebenarnya malam itu aku sudah pamit, walaupun tidak mengatakannya secara langsung, kan? Maaf karena kejadian di parkiran kala ospek. Sungguh, aku tidak bisa melupakan kejahatanku. Maaf atas segala waktumu yang sudah terbuang percuma demi menemaniku mengerjakan skripsi, atas segala kata-kata yang sempat melukaimu, atas segala janji yang mungkin belum atau bahkan tidak bisa aku wujudkan padamu.
Dan yang terakhir, aku sampaikan selamat ulang tahun untukmu. Semoga selalu dilimpahi kebaikan, selalu tangguh, diberi kelembutan sikap. Sudah waktunya untuk menjadi lebih feminin, Jani! Maaf atas surat dan ucapan selamat yang sungguh sangat terlambat ini. Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Satu hal yang perlu kamu tau adalah bahwa aku selalu merindukan saat kita bersama: diskusi, mengerjakan tugasmu ataupun tugasku, jalan-jalan sore, dan pulang bersama di kala hujan.
Selamat ulang tahun, Jani. J
***
Flashback off
Aku menangis lama setelah membaca surat itu. Aku senang dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Senang karena dia selalu mengingatku, sedih karena aku tidak lebih dari seorang adik baginya. Aku patah hati! Setelah membaca surat itu aku paham bahwa selama ini dia tidak memiliki perasaan yang sama seperti aku. Berhari-hari aku meratapi kebodohan karena tidak menyadari sejak awal bahwa kami hanya adik-kakak.

Aku tersenyum mengingat semua cerita masa lalu kami. Aku putuskan untuk memaafkan diriku sendiri yang pernah terlalu berharap padanya, memaafkannya pula karena memberiku harapan-harapan palsu dan kemudian meninggalkanku sendirian. Entah kapan aku siap untuk bertemu dengannya lagi. Biarkan saja dia menyimpan semua kenangannya, karena kami setiap masa lalu kami adalah milik kami sendiri. Kubiarkan kenangan kami melebur ke dalam bumi bersama tetes hujan di bulan Januari ini.

Komentar

share!