Januari Ketiga

Karya: Anindya
 



“Hai, gimana kuliah mu? Kesan buat semester pertama kuliah, atau semester pertama tinggal di Surabaya, mungkin? Saya nggak nyangka kita bakal ketemu lagi, di kota yang jauh banget dari Ibu Kota, tempat sekolah kita dulu. Maaf saya nggak negur kamu tadi. Jujur saya masih kaget bisa ketemu kamu di acara kampus hari ini. Saya juga nggak mau ngerusak momen kamu yang kelihatannya lagi jadi tourguide buat sahabat setiamu. Kalau boleh, minta waktu kamu sebentar, bisa? Saya nunggu di bangku taman sebelah barat. Seselesainya kamu dan temanmu aja, saya nggak mau ganggu kalian. –salam, Muhammad Aditya.”

“Isinya apaan, Ra?” tanya Riska sambil mencoba mengintip dari balik bahu ku.
Aku tidak memperlihatkan isi suratnya.

“Emang kamu kenal dia, Ra? Katanya alumni SMA kita dulu, angkatan sebelum kita. Tapi aku nggak pernah tau sih, soalnya nggak masuk di daftar K3 ku, alias Kakak Kelas Kece, hehe.” Terang Riska.

“Dasar,” selorohku.

“Kok, dia sampe ngasih surat ke kamu? Pake nitip-nitip segala lagi. Yaa bukannya keberatan apa gimana sih, kepo aja,” potong Riska.

Aku menghela napas, dalam hati memutuskan bahwa sebaiknya aku ceritakan saja kejadian setahun yang lalu. Ya, bulan Januari yang lalu. “Nanti ku ceritain sesuatu, tapi nanti.”

***


“Eh, kenapa kamu? Kok kesandung mulu sih daritadi. Jalan udah pelan banget lagi. Capek?” tanyaku pada Riska yang kalo capek emang keliatan banget.

“Hehe,” Riska nyengir, “kita duduk dulu deh yuk di bangku sebelah sana. Sambil beli minum di deket situ. Pas hausnya udah agak hilang, Riska bilang, “haduh, kita istirahat dulu deh ya disini. Acaranya juga lagi break kan.”

“Oke setuju.” Hening.

Riska terlihat sedang menikmati momen relaksasinya. Sedangkan aku, yang masih kepikiran tentang kak Adit daritadi, mencoba menggunakan kesempatan ini untuk izin untuk menemui kak Adit dan mencari kalimat yang tepat untuk dilontarkan ke Riska.

“Mm.. Ris, disurat tadi.. kak Adit minta ketemu sama aku.. Mm, kan kamu lagi istirahat juga, jadi.. Boleh nggak kalo aku nemuin Kak Adit-nya sekarang aja?” tanyaku dengan cemas.
Riska terperangah. “What?! Kamu kenapa nggak bilang dari tadi? Jadi kamu biarin dia nungguin daritadi?” sergahnya.

Aku hanya menunduk serba salah.

“Yaampun Tiara. Udah sana cepet temuin dia. Aku tunggu disini,” perintahnya.

“Nggapapa nih, kamu aku tinggal sendiri? Kalo aku lama gimana?” Tanyaku merasa tak enak.

“Nggapapa lah. Santai aja kali. Lagian ya ra, lo tuh jangan mikirin orang lain mulu. Bukannya jadi nggak pedulian ya, tapi lo tetep harus mikirin diri lo juga, dan ‘orang lain’ lain. Dah ah, sana sana.” Celoteh Riska ‘mengusir’ku.

 “Thanks ris.” Kupeluk dia, lalu pergi sambil melambaikan tangan.

***

Selama menuju ke taman, aku sibuk mempersiapkan diri. Sibuk menata hati, memikirkan berbagai adegan yang mungkin akan terjadi, mengondisikan diriku sedemikian rupa, dan berpikir positif tentunya, atau lebih baik ku katakan “menyingkirkan pikiran-pikiran negatif”. Di taman sebelah barat – dia tidak ada. Taman yang satu ini memang luas, bangku-bangku taman yang tersedia juga tidak sedikit. Namun, karena penataannya, kita bisa dengan mudah melihat orang-orang yang sedang duduk  disana, yang memudahkan proses pencarian seperti sekarang ini. Makanya aku tidak butuh waktu lama untuk memastikan dia tidak ada disini. Aku memutuskan untuk duduk disalah satu bangku yang kosong di depan kios kebab yang sedang tidak ramai pembeli. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang apa yang terjadi, kenapa Kak Adit nggak ada disini, padahal Cuma ada satu taman di sebelah barat, ya taman ini. Apa dia lelah terlalu lama menunggu kemudian akhirnya pergi, apa dia berubah pikiran dan membatalkan pertemuannya tanpa memberitahuku, apa-

“Neng,” aku menoleh kepada ibu si penjual kebab yang ternyata sudah kedua kalinya memanggilku.

“Saya, Bu?” tanyaku tak yakin.

“Iya, si eneng teh Neng Tiara kan?” katanya lagi.

Aku bingung, “Iya, Bu. Kok Ibu tau nama saya? Ada apa ya?”

“Iya, tadi teh ada laki-laki duduk di tempat eneng duduk. Lama banget dari pagi nggak pergi-pergi. Tapi ibu nggak nanya kenapa nggak pergi-pergi, takutnya dikira ngusir. Nah, sekitar satu jam-an yang lalu tiba-tiba dia teh mimisan gitu, lemees banget, mukanya juga pucet gitu Neng. Terus dia nulis sesuatu di kertas, dan dititipin ke ibu. Katanya dia mau ke rumah sakit dulu. Dia pesen suratnya untuk dikasih ke cewek yang pake biru-biru, dari ujung kepala sampe ujung kaki. Manis, ada lesung pipitnya, katanya teh. Namanya Tiara. Ini Neng, suratnya.”

Aku kaget, panik, bingung, tapi aku menerima surat itu, yang memberitahu ku harus kemana sekarang.

***

Aku tiba di rumah sakit yang di maksud kak Adit di suratnya. Dari pintu lobi, aroma khas yang tidak disukai semua orang mulai menguar. Segera aku masukkan hp ke tas selempang biru ku setelah mengabarkan Riska. Aku langsung menuju UGD, menemukan orang yang sudah lama tidak ku jumpa, dan berjalan perlahan menghampirinya. Dia emang keliatan pucet banget, wajahnya juga lebih tirus dari januari yang lalu.

“Maaf..” ‘sapa’ku.

“Hai juga,” balas kak Adit sambil tersenyum lemah dan mengubah posisi tidurnya jadi setengah duduk untuk berbicara denganku. Kami diam. “Aku leukimia,” katanya, “baru tau pas SMA.” Dia bicara, aku diam. “Waktu itu awal aku masuk semester dua kelas 12, di kantin belakang, pertama kali aku liat kamu. Saat itu kamu dan temenmu, yang tadi ku titipin surat, lagi makan di meja deket tempat aku beli makan siang. Sambil nunggu pesenanku yang lagi dibikin, aku duduk nggak jauh dari dari meja kalian, karena tertarik untuk mendengar obrolan kalian lebih lanjut. Maaf, bukan bemaksud ikut campur, tapi aku mendengar beberapa lantunan kalimat2 mutiara dari mu yang pas banget bisa naikin semangat aku yg lagi drop saat itu. Temen kamu keliatan sedih banget, matanya sembab. Dan kamu disampingnya, menatapnya dengan sorot mata yang kuat. Senyum nggak hilang dari wajahmu. Manis.” Ia berhenti, memberi jeda untuk aku tersipu. “Dia sepertinya lagi ada masalah. Dan dari gestur kamu nenangin dia, kalimat-kalimat kamu yang nyemangatin dia sebegitunya, aku tau kamu spesial. Sorot mata kamu bukan sorot mengiba, tapi sorot yang tulus dan nggak pura-pura.” Lanjutnya lagi sambil matanya menerawang.

Aku ingat kejadian yang dimaksudnya. Saat itu Riska memang sedang terguncang karena kabar kecelakaan keluarga tantenya sepulang dari liburan tahun baru di bali.

Lamunanku terpecah oleh Kak Adit yang kembali bersuara, “Setelah itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan mu. Sekolah kita ternyata seluas itu. Aku pun sering tidak masuk karena penyakitku. Sampai tiba-tiba kita dipertemukan lagi di salah satu rangkaian acara peringatan ulang tahun sekolah, di bulan Januari berikutnya. Aku memberanikan diri menyapamu, mengajakmu berkenalan, dan diluar kendali aku, aku langsung bilang suka ke kamu. Reaksimu buruk, sudah ku kira. Aku memang bodoh, bagaimana bisa kalimat itu meluncur begitu saja. Aku tahu itu pasti terasa aneh bagimu. Setelah itu, aku memang berlalu. Tapi tidak hatiku.” Ia menyelesaikan pernyataannya sambil menatap ke arahku.

Aku menguatkan diri untuk  bersuara, “Maaf, kak. Aku nggak tau, aku nggak bermaksud ngecewain Kakak. Aku saat itu emang kaget, jujur aja. Aku orangnya emang nggak gampang kenalan dengan orang baru. Apalagi saat itu aku bingung kakak bisa suka aku darimana, soalnya kita sama-sama belum pernah kenalan.”

Kak Adit menyimak penuh perhatian, “Aku ngerti,” katanya.


Aku tersenyum, “Maaf juga reaksiku menyatakan penolakan terlalu jelas. Soalnya aku punya pengalaman disakitin sama cowok-cowok yang awal kenalnya ya lewat perkenalan singkat kayak gitu. Jadi aku mulai berprinsip kalo sebaiknya aku cari tau dulu tentang seseorang sebelum temenan lebih lanjut. Tentang kakak, setelah kejadian itu, aku mulai nyoba nyari. Dari informasi yang aku dapet, ternyata kakak tuh orang baik, baik banget. Temen kakak banyak banget, dan nggacuma temenan sama temen-temen disini, tapi juga sama pekerja sekolah kayak satpam, mas yang suka bersih-bersih, sampe ibu penjual di kantin. Aku ngga nemu juga riwayat kakak yang aneh2. Aku.. Jadi ngerasa nggak enak sama kakak. Tentang reaksiku pas kita ketemu waktu itu. Padahal kakak orang baik-baik.” Aku berdeham, lalu melanjutkan, “Setelah itu, gagasan tentang ‘kalo jodoh pasti ketemu lagi’ selalu aku pake untuk ngingetin diri aku sendiri, biar bisa ngurangin penyesalanku dan rasa bersalahku.” Aku menyelesaikan penjelasanku dengan menatap mata kak Adit.

Komentar

share!