Hurt

Karya: Dita

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Suara klakson yang turut meramaikan kemacetan di siang hari ini membuat Dhya jengah. Oh ayolah tidak bisakah orang – orang bersabar sedikit. Bulan Januari sudah memasuki musim hujan tetapi tetap saja cuaca pada siang hari ini tidak memberikan rasa dingin sedikit pun.

Drrt… Drrtt…

Getaran ponsel Dhya membuatnya tersadar dari lamunannya, namun ia enggan untuk membuka ponselnya. ‘Ah mungkin juga pesan dari operator’ pikir Dhya, memangnya siapa lagi yang akan mengiriminya pesan pada saat orang – orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing – masing terlebih ia tidak mempunyai kekasih.




Dhya pun dengan enggan mengambil ponselnya saat mendengar nada dering yang berasal dari ponselnya.

“Halo, assalamualaikum kenapa Let?” ucapnya lesu setelah mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari teman SMA-nya, Leta.

“Waalaikumsalam, lemes amat suara lo. Lo lagi dimana deh Dhy?”

Bagaimana tidak lemas kalau daritadi ia masih terjebak macet. “Lagi di jalan mau ke kampus, kenapa sih Let?” tanyanya karena daritadi Leta tidak menjawab pertanyaan ‘kenapa’ nya Dhya.

“Oh pasti lagi kejebak macet ya? haha sabar ya bu” Leta tertawa. “Oh iya Dhy, lo nanti mau dateng pensi SMA gak? Sekalian ketemu sama temen – temen”

“Kapan?”

“Lo pasti gak buka grup line SMA ya? kebiasaan deh lo” ya Leta memang mengetahui sifat temannya, Dhya yang malas memegang ponsel kalau tidak ada hal penting. “Hari Sabtu nanti Dhy, ayo dong ikut”

Dhya berpikir “Hmm, gimana ya Let. Liat nanti ya takutnya nanti gue ada jadwal kuliah atau apa gitu” jawab Dhya dengan tertawa yang dipaksakan.

“Jangan nyari alesan deh Dhy, lo pikir gue gak tau kalo setiap hari Sabtu lo libur?”

“Ya kan takutnya Let” Dhya membela diri. “Hhmmm, iya deh gue dateng”

“Nah gitu dong, nanti gue berangkat bareng lo deh ya?” pinta Leta yang hanya Dhya balas dengan gumaman. “Yaudah deh selamat bermacet – macet ria. Bye”

Dhya menaruh ponselnya asal dan beruntung ia telah keluar dari kemacetan, tetapi sial sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 13.20 dan siang ini ia ada kuliah pukul 13.00.

***

Dhya memilih untuk menggunakan kemeja putih yang ia pasangkan dengan bawahan jeans hitamnya untuk datang ke pensi hari ini.

Setelah penampilannya dirasa cukup. Dhya pun menghubungi Leta memberitahukan bahwa dirinya akan berangkat sambil memanaskan sebentar mesin mobilnya dan bergegas untuk menuju rumah Leta.

Dhya: Let cepet keluar gue udah sampe

Leta: iya, tunggu.

“Hai Dhy” sapa Leta saat memasuki mobil Dhya, dan hanya Dhya balas dengan senyuman.

Di perjalanan Dhya sibuk dengan pikirannya sendiri tentang apa yang akan terjadi pada acara pensi SMA-nya nanti. Salah satu alasan mengapa Dhya menghadiri acara pensi adalah Dhya ingin bertemu dengan lelaki yang Dhya sukai dari kelas X hingga sekarang, cukup lama bukan?

Dhya tidak tahu mengapa ia bisa menyukai lelaki yang tidak mengenalnya sampai selama ini. Mereka tidak sekelas, itulah alasan mengapa lelaki itu tidak mengenali Dhya.

Dhya sudah berusaha melupakannya tapi ia tidak bisa, yang hanya Dhya lakukan sejak dulu adalah melihatnya dari jauh. Dhya tidak pernah memulai untuk mendekatinya karena, ia takut diabaikan.

“Eh Dhy, diem aja lo dari tadi” ujar Leta yang aneh melihat temannya yang sedaritadi hanya diam. “Mikirin apa sih lo?”

“Hah? Enggak mikirin apa – apa kok” jawab Dhya tenang.

“Serius? Lo gak meninggalkan acara penting demi pensi ini kan?” tanya Leta penasaran.

“Enggak kok Let, tenang aja” jawab Dhya sambil melihat kea rah Leta dan memberikan senyumannya.

Setelah 20 menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai di SMA tempat sekolahnya dulu. Dhya pun memakirkan mobilnya tepat di bawah pohon mangga, itu memang tempat parkir Dhya sejak sekolah dulu, beruntung belum ada yang menempatinya.

“Waduh, rame juga ya Dhy” ujar Leta ketika mereka telah keluar mobil.

“Ya iyalah Let kalo sepi namanya kuburan” kata Dhya sambil tertawa.

“Eh Dhy itu Jeya bukan sih?” katanya sambil menunjuk ke arah jam satu dari tempat dimana Dhya dan Leta berada.

“Iya kayaknya Let, yuk deh kesana” mereka pun menghampiri Jeya dengan sesekali menyapa teman sekelas maupun tidak sekelasnya dulu.

“Hai, Je” sapa Leta dan Dhya berbarengan.

“Hai Let, Dhy ya ampun apa kabar?” ucap Jeya sambil memeluk Dhya dan Leta bergantian.

“seperti yang lo liat, Je gue baik – baik aja” jawab Dhya sambil tersenyum.

“gue juga baik – baik aja, Je” Jawab Leta. “Lo dateng sama siapa Je? Kok sendirian aja”

 “gue dateng sama pacar gue” jawab Jeya sambil tertawa pelan “eh itu dia” tambah  Jeya dengan menunjuk lelaki tegap yang berjalan mendekati mereka.

Dhya dan Leta pun menoleh.

Deg! Wajah Dhya berubah pucat, ia tidak mungkin salah lihat karena ia tidak memiliki masalah apapun dengan penglihatannya.  Dunia Dhya seakan kosong dan Dhya hanya berharap bahwa seseorang dapat membawanya pergi dari tempat ini sekarang juga.

Lelaki itu, lelaki yang disukai dan ingin dilihatnya pada pensi hari ini itu dia. Dia yang dulu selalu Dhya lihat secara diam – diam, dia yang selalu menjadi alasan Dhya untuk keluar kelas pada saat pelajaran kosong, dia yang sekarang berpacaran dengan teman sekelasnya sendiri.

“hi” sapa lelaki itu pada mereka.

Pikiran Dhya tentang apa yang terjadi pada pensi yang diadakan di minggu ketiga bulan Januari ini pun terjawab sudah. Dhya kira ia akan senang jika ia bisa melihat lagi lelaki yang disukainya tetapi perkiraan itu salah. Dhya tidak merasa senang, tepatnya Dhya merasa terluka.

Komentar

share!