Coffee Death

Karya: TO

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Sepuluh hari telah berlalu. Aku hanya menyibukkan diriku dengan kegiatan kampus dan pergi jalan-jalan dengan teman-temanku. Sesekali aku handphone berharap Dimas membalas pesanku. Namun tidak ada kabar darinya setelah malam pergantian tahun. Besok adalah waktu untuk penjanjian kami. Aku tidak bisa tidur pulas malam ini. Beribu-ribu pertanyaan berputar dikepalaku. Aku merasa frutasi. Aku keluar dan duduk di balkon kamarku. Kutatap langit malam yang gelap gulita itu. Apakah kita sedang menatap bintang yang sama? Apakah kita sedang memikirkan hal yang sama? Apakah kita akan bertemu?

“Arghhh… Kenapa aku ini? Menepuk kedua pipiku. “Sadarlah Dian! Sadar! Pasti sesuatu yang baik akan terjadi. Percayalah!” Aku kembali memasuki kamarku dan tidur dengan menutup seluruh badanku dengan selimut.




Sudah pukul 10.00. Aku semakin gugup. Apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mondar-mandir dikamarku. Aku tidak keluar sejak tadi pagi. BahkanAyah dan Ibu menyerah memanggilku untuk keluar kamar dan sarapan. Aku kembali membuka isi percakapan emailku dengan Dimas. Kubaca berulang kali secara seksama.

Aku baik-baik saja. Bisakah kamu mempercayaiku?

Iya, aku sangat yakin. Kamu pasti baik-baik saja. Kamu pasti akan menepati janjimu untuk bertemu denganku hari ini di kafe “Kofe Shop” tempatmu bekerja. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menemuinya. Aku mengenakan baju, sepatu dan tas sama seperti saat pertama kali bertemu denganya. Aku berputar-putar didepan cermin. Tanpa kusadari ternyata sudah pukul 10.30. Aku berlari menuruni tangga.

“Ibu aku keluar sebentar menemui temanku!” Aku berteriak dan berlari sambil mengenakan flat shoesku.

Hampir satu tahun aku tidak datang ke kafe ini. Seperti biasanya aku selalu berdiri sejenak didepan kafe ini. Kali ini aku merasa ada yang aneh. Tidak seperti biasanya aku merasakan jantungku berdebar sangat kencang, namun hari ini aku tidak merasakan apa-apa. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan pikiranku. Bahkan hari pun tidak terlihat baik, matahari mulai bersembunyi dibalik awan yang hitam pekat. Segera ku langkahkan kakiku untuk memasuki kafe.

Ting… ting… ting… Sudah lama aku tidak mendengar suara lonceng kecil ini. Kafe ini bahkan tidak berubah sama sekali. Hanya saja hari ini sedikit pelanggan yang datang. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela dan agar bisa melihat halaman depan kafe sehingga aku bisa melihat saat Dimas datang. Aku memesan kopi yang sama seperti yang Dimas berikan kepadaku. Sudah hampir satu jam aku menunggunya. Namun dia belum juga datang. aku terus menerus melihat kearah jam dinding dan memegang erat handphone. Mungkin saja Dimas akan mengirim pesan saat dia sudah akan sampai di kafe.

Tepat pukul 12.00 hujan lebat turun. Kafe yang awalnya sepi kini banyak pelanggan yang datang. mungkin karena hujan yang tiba-tiba dan juga kafe ini bisa dijadikan tempat berteduh sambil menunggu hujan reda. Pintu kafe terus terbuka dan suara lonceng kecilnya tak berhenti berbunyi. Aku terus menatap kearah pintu masuk. Mungkin diantara pelanggan yang datang Dimas ada diantara mereka. Kopiku mulai dingin. Aku mulai merasa kecewa dan menyerah. Aku duduk dan menundukan kepalaku sambil mengenggam erat handphone ku.

Ting… ting… ting… suara lonceng itu kembali terdengar. Aku sudah putus asa. Itu pasti hanya seorang pelanggan kafe ini. Pikirku dalam hati. Tiba-tiba ada seorang pelanggan yang duduk didepanku. Aku mengangkat kepalaku.

“Dian?” Tanya pelanggan itu. Dia seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahun. Dia masih masih terlihat muda dan cantik. Bahkan pakaiannya sangat modis yang terkini.

Aku hanya mengangukan kepalaku. Dia duduk dengan sangat sopan. Bahkan dia tidak berhenti tersenyum. Aku merasa tidak asing saat melihat senyuman itu. Seseorang pernah tersenyum seperti itu kepadaku. Aku berusaha untuk mengingat senyuman itu.

“Saya Ibunya Dimas. Kami memiliki senyum yang sama.”

“Benarkah? Tante pasti tahu keberadaan Dimas. Dimana dia sekarang?” tanyaku penuh dengan rasa ingin tahu.

“Seperti yang dia katakana. Kamu pasti sudah menunggu lama disini, kan? Kamu bahkan mengenakan pakaian yang sama seperti yang Dimas ceritakan kepadaku.”

“Apa sesuatu terjadi dengan Dimas? Jawab aku tante!” Ibu Dimas hanya terdiam dan menatap kearah luar kafe.

“Sesuatu terjadi dengan Dimas. Kamu nanti akan mengetahuinya. Itulah kenapa dia tidak bisa datang hari ini. Dia benar-benar minta maaf karena itu dan juga tidak bisa menepati janjinya.” Mata Ibu Dimas mulai berkaca-kaca. Belum sempat aku ingin mengeluarkan kata-kata, Ibu Dimas kembali melanjutkan permbicaraannya.

“Jangan menunggu Dimas. Dia takkan datang kesini. Saya sangat berterima kasih karena telah menjadi teman Dimas selama ini. Dia selama ini sangat kesepian karena sejak kecil berada di rumah sakit. Saat itu dia melarikan diri dari rumah sakit karena merasa bosan. Saya bahkan tidak mengetahui kalau Dimas bekerja disini. Saya mengetahuinya ketika salah satu karyawan kafe ini menghubungi saya dan mengatakan bahwa Dimas tidak sadarkan diri.” Air mata mulai jatuh ke pipinya.

Beribu-ribu pertanyaan kembali muncul dikepalaku. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dimas? Apakah selama ini dia sedang sakit parah? Sakit apakah dia? Apakah dia selama ini menjadi seorang pasien? Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tak mampu menahannya. Air mata ku akhirnya jatuh, karena malu selama ini ternyata aku tidak mengenal Dimas dengan baik. Aku menundukan kepalaku.

“Dimas melarangku untuk menceritakan ini kepadamu. Namun saya rasa kamu harus mengetahuinya. Aku yakin Dimas pasti sudah menjelaskannya dalam surat ini.” Ibu Dimas meletakkan sebuah kertas didepanku. Dia berdiri dan meninggalkan kafe.

Aku hanya terdiam dan menangis terseduh. Aku bahkan tidak melihat kepergian Ibu Dimas. Aku memberanikan diriku untuk mengambil kertas tersebut. Pelan-pelan aku membuka lipatan kertas tersebut. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan mulai menenangkan pikiranku.

Dian, apa kabar? Maafkan aku karena tidak memberimu kabar akhir-akhir ini dan maafkan aku karena saat itu pergi tanpa memberitahumu. Sesuatu telah terjadi. Jika surat ini sudah berada padamu, itu berarti aku telah pergi. Jangan pernah menungguku lagi. Terima kasih telah menjadi teman spesialku selama ini. Kamu adalah yang pertama dan terakhir untukku.

Maafkan aku karena tidak bisa menepati janji kita. Hiduplah dengan baik dan berbahagialah. Dimas

Aku benar-benar merasakan sesak yang luar biasa. Aku tak bisa bernafas. Aku berlari keluar dari kafe. Ku genggam kertas itu dengan erat. Aku berlari tanpa arah. Jalanan benar-benar ramai. Aku tidak dapat melihat jalan dengan jelas, pikiranku yang sedang kacau dan juga hujan lebat. Tanpa kusadari aku berdiri ditengah jalan raya.

Tiiiinnnnn… tiiinnnn… tiiiinnnnn… Suara klakson semakin terdengar jelas. Namun aku tidak dapat melihat dari arah sebelah mana.

Brakkkk…. Aku terlempar beberapa meter. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Terdengar suara orang-orang berteriak dan berlari kearahku. Sesakit inikah yang kamu rasakan, Dimas? Aku mengerti sekarang. Terima kasih, Dimas.

Komentar

share!