Coffee Date

Karya: TO

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Hari ini sangat cerah, matahari bersinar dengan penuh semangat. Aku bersiap-siap untuk bertemu dengan teman SMA ku di sebuah kafe. Kali ini aku memilih dress putih dengan tas selempang kulit berwarna hitam dan flat shoes hadiah ulang tahun dari Ibu. Aku pergi menggunakan bus umum.

Aku sampai lebih awal, yaitu pukul 10.45. Jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang dan terasa sakit. Aku merasakan sesuatu akan terjadi, namun aku tidak tahu apakah itu sesuatu yang baik atau buruk. Aku berdiri sejenak didepan kafe dan melihat nama kafe yang begitu besar dan desain klasik dari kafe “Kofee Shop” ini. Ternyata temanku bisa menemukan teman yang menarik. Aku merasa gugup, tidak hanya karena akan bertemu dengan temanku, tetapi ini adalah pertama kalinya aku datang ke sebuah kafe. Jantungku berdebar semakin kencang, pasti akan sangat memalukan kalau aku melakukan hal-hal yang tidak biasa. Aku memantapkan langkahku untuk memasuki kafe.

Aku membuka pintu masuk. Suara lonceng kecil yang tergantung dipintu membuatku terkejut dan bingung. Ting ting ting ting….


“Selamat Datang.” Sambutan dari pelayang pria yang tiba-tiba muncul dari bawah meja. Sontak aku semakin terkejut dan wajahku seketika berubah menjadi merah semua. Aku hanya berdiri mematung.

“Ah, maafkan saya.”  Pelayang tersebut merasa bersalah dan meminta maaf beberapa kali. Aku hanya diam dan berjalan menuju tempat duduk yang masih kosong, karena masih terasa tegang akupun menabrak meja. Aku semakin menjadi pusat perhatian, semua pelanggan yang sedang menikmati kopinya melihat kearahku. Aku hanya tersenyum dan duduk di kursi terdekat.

Teman saya sepertinya datang terlambat. Karena masih malu, sambil menunggu aku membaca buku yang tadi aku bawa dan juga mendengarkan music dari Handphone ku. Saat sedang menikmati bacaan dan juga music tiba-tiba seorang pelayan meletakkan secangkir kopi diatas mejaku. Aku belum memesan apapun, aku meletakan buku yang sedang ku baca. Saat mengetahui pelayan yang memberikan kopi tersebut, aku hanya terdiam. Kami saling menatap untuk beberapa saat.

Teng… Teng… Teng … Teng… (suara jam dinding).


….. Kau bawa diriku ke dalam hidupmu



Kau basuh diriku dengan rasa sayang



Senyummu juga sedihmu



Adalah hidupku



Kau sentuh cintaku



Dengan lembut dengan sejuta warna… 


Suara music MP3 yang aku dengarkan menhiasi seluruh kafe. Aku merasa sangat malu. Aku menjadi salah tingkah, tanganku bergerak kesana kemari  mencari hanphone. Saat akan mengambil handphone, kepala kami saling bentur. Kami saling menatap dan tersenyum.

“Terima kasih, tapi saya belum memesan minuman. Mungkin kamu salah meja.”

Pelayan tersebut hanya tersenyum. Dia mengulurkan tangannya. “Nama saya Dimas.”

Aku terdiam dengan apa yang dia lakukan. Namun secara spontan aku juga mengulurkan tanganku. “Namaku Dian.”

Saat itu juga temanku datang. Aku melepaskan tanganku darinya. Dan menyapa temanku. Aku berada di kafe cukup lama. Aku bercerita banyak dengan temanku yang hampir 5 tahun ini belum bertemu. Sesekali saat melihat meja kasir, dia sedang memperhatikanku. Tanpa terasa hari sudah sore. Aku sudah berjanji dengan Ibu untuk tidak pulang malam. Temanku keluar duluan karena di sudah dijemput oleh orangtuanya. Saat didepan kasir, kami saling menatap. Dia tersenyum.

Keesokan harinya, aku mendatangi kafe itu tiap pukul 11.00. Aku selalu berdiri sejenak didepan kafe dan selalu merasakan detak jantungku yang berdebar kencang. Karena merasa tidak nyaman, aku melangkah memasuki kafe. Aku memesan kopi yang sama seperti yang diberikan Dimas. Kali ini kami hanya saling menatap dan tersenyum. Tidak ada yang terjadi, bahkan kami tidak menyapa dengan kata-kata.

Selama seminggu belakangan ini, aku selalu datang ke kafe tiap pukul 11.00 dan memesan kopi yang sama. Kami akhirnya saling sapa. Diwaktu istirahat, Dimas menghampiriku ditempat duduk. Belum banyak yang kami bicarakan. Seperti awal bertemu, hanya saling menatap dan tersenyum. Kami selalu mendengarkan lagu yang sama setiap hari, “11 Januari”. Seperti pertemuan pertama kali kami dan juga tepat pukul 11.

Di hari kedelapan, tanggal 19 Januari. Aku tidak melihat Dimas di kafe. Pasti dia sedang keluar atau mungkin istirahat di ruang karyawan. Hampir 2 jam aku menunggunya. Seharusnya dia sudah kembali bekerja setelah waktu istirahatnya. Aku melihat kesekeliling kafe, namun tak melihat ada tanda-tanda dari Dimas. Aku memutuskan untuk pulang.

“Anda Dian, kan?” Tanya kasir tersebut.

“Iya.”

“Ada surat untuk anda.”

“Dari siapa?”

“Saya tidak tahu, tadi ada seseorang yang datang dan menitipkan surat tersebut.”

Sesampainya dirumah aku membuka surat tersebut.

Maafkan aku, Dian. Sesuatu terjadi. Aku tidak bisa menemuimu untuk sementara waktu. Kita bisa saling berhubungan dengan 
email dimashardian@gmail.com. Dimas.

“Sesuatu terjadi?” Malam itu juga aku mengirim email dialamat yang Dimas berikan. Namun taka da balasan hingga tengah malam. Aku semakin khawatir.

Seminggu kemudian Dimas membalas emailku. Aku merasa lega. Saat aku menanyakan apa yang terjadi dengannya. Dia hanya menjawab, “itu bukan apa-apa”. Kami saling kirim pesan setiap hari dan bercerita banyak hal. Hampir satu tahun aku tidak bertemu dengannya. Dan sudah 3 bulan ini dia tidak membalas emailku.

Tanggal 31 Desember, Dimas membalas emailku. Kami menghabiskan malam tahun baru bersama melalui dunia maya. Saat menghitung mundur, kami membuat perjanjian untuk bertemu pada tanggal 11 Januari di Kafee Shop pukul 11. Sama seperti saat pertama kali bertemu.

Selamat Tahun Baru Dian ….


Selamat Tahun Baru Dimas… (5 menit berlalu)



Dimas, ada yang ingin aku tanyakan. Sekarang kamu dimana? 



Selama ini kamu tidak memberitahuku kamu tinggal dimana dan sedang melakukan apa. (5 menit berlalu)



(Dimas sedang mengetik pesan….)


“Dia pasti akan memberitahuku dimana dia sekarang.” Aku sangat mengantuk. Sesekali aku hampir terjatuh karena rasa kantukku. Aku mencoba menyadarkan diriku dari kantukku dan kembali melihat layar monitor.


(Dimas sedang offline)



Komentar

share!