Tiga Patah Kata

Karya: Eni Ristiani

          AKU berlari setelah turun dari taksi sekitar lima meter. Seolah mengejar waktu, napasku nyaris habis karena tubuhku kupaksakan untuk segera sampai ke gedung tempat di mana aku dan dia dipertemukan lagi. Iya, dipertemukan lagi setelah sekian tahun kami berpisah.
            Pisah. Satu kata itu tiba-tiba saja menghentikan langkahku.
            Mataku berpendar ke segala sudut. Di lobi ini, sudah tidak ada orang. Kecuali aku, dengan gelapnya malam serta lampu yang sinarnya sudah mulai redup. Tanpa kata, aku tahu kalau aku sudah putus harapan.


            Kakiku yang nyeri akibat terkena batu kerikil, rambutku yang berantakan dan sepasang sepatu berhak lima senti yang ada digenggamanku seolah sia-sia. Pupus sudah harapanku untuk bisa mengobrol lama dengan dia. Setidaknya, kesempatan untukku mengatakan kerinduan yang selama ini kukubur sendirian telah hilang.
            “Mbak nyari siapa?” Suara bariton dari seorang laki-laki berseragam satpam itu menginterupsi kekacauan pikiranku. Dengan wajah sembab akibat menangis sepanjang jalan menuju ke sini, aku menatap dia.
            “Kantor sudah sepi, Mbak. Karyawan sudah bubar setengah jam lalu.”
            Aku menghela napas. Sudah benar-benar pupus harapanku.
            Aku tersenyum kecut, kemudian menjawab, “Iya, Pak. Nggak kenapa-kenapa. Saya pikir tadi saya bisa menemui seseorang. Tapi kayaknya saya terlambat.”
            Satpam itu menatapku. Kutahu, banyak tanda tanya yang ada di kepalanya mengingat penampilanku yang kacau. Aku, yang baru saja lari dari acara tunangan yang cukup meriah kabur begitu bertemu lagi dengan Imam—seorang pria yang kucinta, namun dengan segala kerumitan, kami berpisah.
            “Ya sudah, Pak. Saya pergi dulu,” kataku lesu.
            Baru beberapa langkah kaki telanjangku melenggang, Pak Satpam itu memanggilku. Dengan nada hati-hati dia bertanya, “Mbak yang namanya Risti bukan, ya?”
            Terkejut dengan dugaan yang cukup tepat dari Bapak Satpam itu, tubuhku memutar. Kutatap laki-laki paruh baya itu dengan kening berlipat. Berbagai pertanyaan tentang dari mana dia tahu namaku melayang-layang. Belum sempat pertanyaan besar itu terlempar, Bapak itu kembali berkata, “Kalau iya, sepertinya ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Ada seseorang yang menitipkan saya surat atas nama Ristiani Putri. Dia juga bercerita mengenai ciri-ciri sang penerima. Dan… sepertinya, Mbak cocok dengan ciri-ciri yang orang itu katakan.”
***

            “Sialan!” tukasku begitu kulihat punggung yang kukenali berdiri tepat di hadapanku. Aku yang berantakan dan semakin berantakan berkata di sela napasku yang putus-putus. Setalah membaca surat pemberiannya, kini aku mati-matian berlari, menembus keramaian kota demi melihat dia. Setidaknya, untuk terakhir kali.
            “Sialan kamu, Mam. Kenapa kamu baru muncul kemudian pergi cuma ninggalin surat?!” kataku. “Kamu bodoh atau memang sudah tidak sudi melihatku?”
            Dia, yang kini tengah menggendong tas besar beserta satu buah koper berwarna hitam di sebelah tempat ia berdiri, kini menoleh ke arahku.
            Sejak tadi aku menangis. Namun begitu mataku bersitatap dengan ia, air mataku seolah hilang. Aku berlari, kemudian memeluknya. “Jangan pergi-pergi lagi. Aku benci pertengkaran kita yang rumit. Aku benci konsep rindu yang tidak ada habisnya. Aku benci jauhan sama kamu!”
            Beberapa saat dia masih bergeming, namun setelah kueratkan lagi pelukanku, dia mulai membalasnya dengan mengusap rambutku yang berantakan. “Mauku begitu,” katanya. “Tapi….”
            Mendengar kata tapi yang menggantung, aku langsung mendongak menatap wajahnya. Tatapanku tajam seolah berkata, “Tapi apa?!”
            “Sesuai isi suratku. Aku tetap akan pergi, Ris. Kamu udah jadi milik orang. Nggak baik kalo aku nahan-nahan terus.”
            Jangan rindu aku, Ris. Kita udah ada dalam zona yang berbeda. Jangan cari-cari aku lagi.
            Pelukanku begitu saja terlepas.
            “Jangan egois, Ris. Mas Damar lebih butuh kamu daripada aku. Aku bakal balik lagi ke Jerman. Kamu tolong jagain Abang aku yang paling aku sayang itu ya,” katanya. Kemudian, satu tetes air mataku pecah.
            “Tolong jangan persulit aku, Ris. Kita ada di zona yang berbeda. Jangan rindu aku.”
            Imam kemudian membalikkan tubuhnya seiring panggilan pesawatnya yang akan segera berangkat.
            Jangan rindu aku.
            Jangan rindu aku.       
            Jangan rindu aku.

            Tiga patah kata itu, sudah cukup membuat ulu hatiku sakit. Sudah kubilang kan, kalau perjuanganku untuk bertemu dengan dia ujung-ujungnya bakalan sia-sia. Dia tetap pergi.

Komentar

share!