Sinar

Karya: Shonia11

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Lukisan  awan terkadang memberikan bentuk yang teratur, kadang pula hanya membentuk goresan abstrak, namun tetap saja menggores langit dengan karakternya. Arah hidup juga seperti itu kadang terlihat teratur seperti yang kita rencanakan, kadang pula berbelok dari apa yang kita rencanakan, namun tetap saja selalu ada hikmah yang tersembunyi didalamnya, asal kita pandai mengambil celahnya untuk tetap sabar dan

“Begitulah hidup...”, desah wanita berparas jawa dengan karakter  pakaian yang sederhana dan wajah yang sederhana. Masih teringat kabar gembira yang membuat jantungnya berdebar ketika terdengar ada orang tua dari lelaki yang mencoba dijodohkan dengannya. Aisyah begitulah teman-teman memanggilnya. Ia lahir dari keluarga yang sederhana dan didikan yang cukup membuatnya menjadi mandiri. Aisyah ternyata tinggal satu desa dengan lelaki yang hendak dijodohkan dengannya. Iy.. maklum aisyah memang jarang berada di rumah karena ia harus belajar dipesantren sejak SMP sampai dengan SMA. Usai lulus SMA ia juga harus merantau ke Samarinda, untuk bekerja dan melanjutkan belajar. Sehingga tidak begitu banyak mengenal masyarakat didesanya.

Ketika aisyah tahu bahwa ia akan dijodohkan dengan lelaki yang bernama Handika, ia merasa bersyukur kepada Allah, karena ia merasa jodohnya telah dekat. Aisyah menargetkan usai lulus kuliah jika jodohnya sudah datang maka ia akan menikah tanpa menunda. Ia bersyukur kepada Allah sembari berdoa, “ Ya Robbi jika memang ia jodohku limpahkanlah segala keridhoan engkau kepada hamba Ya Allah”.


Bulan demi bulan sejak kedatangan ibu Handika kerumah pada bulan Februari lalu, sampai di akhir juli sudah tidak pernah ada kabar lagi, Aisyah dan Handika pun tidak pernah sekalipun bertemu secara langsung. Sekali lagi Aisyah hanya pasrah karena dia sadar benar di perkuliahan semester 5 ini ia harus lebih fokus belajar untuk mengejar target lulus cepat. Masuk pada bulan Agustus ia mulai melaksanakan KKN (kuliah Kerja Nyata) yang merupakan program wajib dari kampus yang ia tempuh selama 2 bulan. Ia melaksanakan KKN diluar kota disalah satu perusahaan BUMN. Usai KKN ia mendapat kabar bahwa orang tua Handika Kembali datang kerumah saat ia KKN dan menitipkan uang kepadanya. Sekali lagi hati Aisyah yang sempat pudar tentang perjodohan itu mencoba menepis keraguan yang selama berbulan-bulan menginap dihatinya. “Alhamdulillah” desirnya dalam hati.  Kedatangan ibu Handika kerumahnya membuat ia yakin kembali.

Bulan Januari pun tiba, ia semakin bersemangat mengejar kelulusan yang ia targetkan dibulan tiga, namun setelah melihat kondisi dan berbagai hal ia merasa tak mungkin bisa mengejar kelulusan dibulan tiga dan ia menargetkan akan lulus pada bulan Juni.  Bulan Januari merupakan bulan yang sibuk baginya karena harus mempersiapkan skripsi dan administrasinya. Saat sedang sibuk-sibuknya mengurus administrasi pengajuan judul, ia mendapat kabar, dari seseorang melalui telefon, saat itu hatinya terasa di sambar oleh petir. Kilatan petir begitu mengiris hatinya, sedih, lemas, pasrah dan tak bisa dipungkiri air mata keluar dari kedua bola matanya. “Sekali lagi inilah hidup”, desirnya dalam hati sembari menangis disudut kamar kos temannya. Seusai mengurus adminstrasi dikampus ia sengaja ke kos temannya untuk beristirahat sejenak, karena seusai magrib ia harus mengajar privat.

Aisyah sejauh ini sangat yakin dengan Handika, ia merasa Handika adalah orang baik dan taat beribadah, meski ia tak pernah bertemu langsung, tapi ia sempat mencari-cari sedikt informasi tentang Handika. Setiap wanita tentu mengidamkan pasangan hidup yang taat pada sang pencipta begitu pula Aisyah. Saat ia ditelfon oleh seseorang yang memberikan kabar bahwa Handika akan menikah dengan wanita lain, saat itu ia hanya bisa menangis. Memang selama ini Aisyah terlalu takabur bahwa ia akan mendapatkan jodoh yang baik, sejak kedatangan ibu handika Aisyah menjadi terlalu takabur sehingga ia lupa untuk meningkatkan perbaikan dirinya, ibadahnya semakin meredup dan agak bermalas-malasan. Ia sangat percaya bahwa orang baik pasti akan mendapatkan pasangan ang baik pula, ia berfikir bahwa Handika adalah orang baik sedangkan aku ini siapa???, ya Allah selama ini aku terlalu takabur bahwa aku akan mendapatkan pasangan yang baik sehingga membuatku mengacuhkan engkau dan membuat keimananku semakin luntur,

Ia sadar pasti ada hikmah dari Allah atas kisah perjodohan ini, kini Aisyah ingin fokus memperbaiki diri, karena ia juga ingin mendapat jodoh yang baik pula, meskipun tidak sekarang... Dan di bulan Januari ini, ia kembali kepada kasih yang benar-benar tulus menghiasi hari-harinya, kasih yang tak sekalipun menyakitinya, harapan yang tak sekalipun membuatnya kecewa... kasih itu adalah kasih sayang sany pencipta.... melalui kisah ini Allah berikan SINAR... yang menerangi hatinya....melalui kisah ini Aisyah sudah mendapatkan kepastian tentang perjodohan itu... iy... kepastian yang datang di bulan Januari... kini ia ingin fokus di target kelulusannya dulu. Dan kisah ini berakhir di januari......

Komentar

share!