SEKEDAR UNTUK MENGINGATKANMU

Karya: Derry Saba



(Atambua, 11 Januari 2016)

Akulah duri pada tubuh mawarmu. Sejak kau masih dikenal bumi sebagai tunas yang rapuh, sebelum kau tumbuh dengan kelopak dan bunga yang indah, aku sudah ada di tubuhmu ini. Dipersatukan oleh sepi, aku dan waktu berdiskusi banyak tentang masa depanmu. Dan sepi… diam-diam merapalkan doa-doanya yang tak terdengar. Ku rasa itu jugalah yang menjadi doa yang kau ucapkan tiap pagi setiap kali pagi mematahkan embun di pucukmu. Maka bagiku ketika kau tumbuh dewasa, kau adalah tumpukan doa-doa yang pernah kalian ucapkan sebelum tidur, sebab setelah tidur kalian lebih banyak hanya mengucap harap.


Sama seperti dulu, sekarangpun ketika rupamu sudah sungguh-sungguh bunga, aku tetaplah duri pada tubuhmu. Kau tumbuh menjadi sosok yang dikagumi banyak mata, sementara aku selalu jadi sasaran caci maki setiap jemari yang berhasil ku lukai. “Apa salahnya kau berubah jadi bunga sepertiku supaya tak lagi kau dibenci”, begitulah katamu di suatu senja usai aku dimaki habis-habisan oleh jemari yang pulang dengan darah berlumur. Aku senang kau mengkhawatirkan keadaanku. Tapi kita tidak diciptakan untuk itu. Aku harus tetap menjadi duri supaya hanya kaulah bunga yang indah. Aku harus tetap melukai jemari-jemari jahil, supaya kau tak pernah merasa sakit. Aku harus tetap menjadi duri dan kau tetap menjadi bunga, supaya kita jadi pelajaran bagi dunia, bahwa kemanisan itu harus diperjuangkan, bila perlu sampai berdarah-darah. Dan kau tak perlu khawatir, sebab aku adalah duri di tubuhmu, yang bisa merasakan semua yang kau alami termasuk kebahagiaanmu. Aku tak perlu menjadi sama sepertimu untuk bisa merasakan semua perasaanmu. Bukankah untuk merasakan kehangatan, kita tak perlu harus menyatu dengan api?
Kau tak perlu khawatir lagi, sebab sejak kau masih dalam rupa doa dan harap, aku sudah bisa merasakan kehadiranmu. Dan ketika kau tumbuh dan malu-malu menunjukkan wujud barumu yang hijau-kecil di pucuk, aku sudah bisa membahasakan keraguan dan kerinduan yang berperang di dalam hatimu. Hingga akhirnya sekarang, ketika kau adalah bunga mawar tercantik sejagad, aku telah terbiasa menghirup kegelisahan dan kebahagiaan yang selalu sulit kau porsikan secara merata di otakmu. Namun ketahuilah ini, kita telah ditakdirkan untuk saling menjaga. Aku menjaga matamu untuk tak menangis oleh luka yang ditempelkan tangan-tangan jahil, sementara aku kau jaga agar tetap tahu diri sebagai duri di tubuhmu. (Ini adil menurutku.)

****

Akulah langit yang mengencingi hujan ke dalam rahim bumimu. Sebelum nanti matahari memaksa hujanku kembali ke genggamanku, selalu sempat ku bekaskan kesuburan di rahimmu yang mandul. Lalu kau akan kebanjiran benih-benih yang berlomba-lomba muncul di permukaan. Aku heran, berulang kali ku latih anak-anak hujan berjalan di sepanjang tubuhku tanpa harus tersungkur, namun tetap saja ia selalu jatuh_jatuh ke atas tubuhmu. Dan kau… kau selalu ketagihan aku tikam dengan hujanku. Katamu, kau menikmatinya. Tentu saja kau menikmatinya, sebab hanya dengan cara itulah kita bersetubuh. Tak ada cara lain. Berpelukkan? Saling cium? Bibir beradu dalam pagutan? Berhimpitan? Lalu gemetar? Ah… itu bukan cara kita bersenggama. Sebab selamanya aku tak akan pernah berhasil meruntuhkan diriku dan merunduk memelukmu. Begitu pun dirimu yang selalu tak punya kuasa untuk melompat dan meraih tanganku. Cara kita bersetubuh yang paling lazim adalah hanya dengan tatapan. Kalau rindu kita berhasil dibakar oleh kenekatan, kau akan ku hujam dengan hujan; itulah persetubuhan kita yang paling jauh. Hanya sejauh itu. Tidak lebih! Dan semesta melihat kita seakan rapuh dipisahkan oleh jarak, tetapi kita selalu kuat karena disatukan oleh kerinduan. Itulah satu-satunya alasan kita tetap bertahan sampai saat ini. 

*****

Akulah rambut bagi mata pisau cukurmu yang lapar. Dalam kelimpahanku, kau ku beri makan dengan membiarkanmu mencabik sebanyak mungkin bagian tubuhku yang selalu kau ajak bicara tentang arti penantian dan ketabahan. Aku selalu lebih paham tentang penantian dan ketabahan, sebab aku tidak tumbuh panjang hanya dalam sedetik. Seperti detik yang membagi dirinya lapis demi lapis hingga akhirnya membentuk selembar tahun yang lebar, aku pun membelah diriku detik demi detik hingga kini terurai begitu indah. Dan ketika tiba pada tahap yang ku anggap tepat, seluruh diriku akan ku serahkan kepada rasa laparmu yang amat tajam. Lalu sekali lagi penantian dan ketabahan akan menjadi api yang membakar rinduku untuk membelah lagi tubuhku dari waktu ke waktu. Tenang saja, aku tak pernah lelah untuk mati bagi rasa laparmu.  Luka untuk rasa laparmu adalah sebuah kemanisan, itulah prinsipku.

*****


Akulah huruf-huruf kecil yang diburu retina matamu yang basah, baris demi baris. Pada tanda-tanda baca aku tersangkut, dan aku kau petik sebagai kesimpulan. Kita dipertemukan dalam buku yang bisu, maka kita selalu tertarik pada kesunyian. Lalu entah kapan waktunya, kita sepakat bahwa sunyi adalah bahasa yang selalu menjelaskan dua kali lipat lebih banyak dari yang ingin kita ucapkan. Sunyi selalu membuat kita saling mengerti. Sebab air matamu tidak pernah ku bahasakan dalam keramaian kota. Aku memahaminya dalam kesepian. Dan juga partikel-partikel cahaya yang tersesat di pupilmu itu selalu tak pernah berhasil ku ajak bicara. Baru ketika aku ikut diam, ia berhasil ku pahami. Begitu juga aku. Aku selalu berusaha kau pahami dalam sunyi. Katamu, aku tidak begitu sulit untuk dipahami sebab bagimu, memahamiku adalah memahami dirimu sendiri. Kau adalah aku, demikian katamu.


Sepenuhnya diriku adalah milikmu. Sampai kapanpun!

Komentar

  1. Oke, saya juga suka penggunaan diksi di karya ini. Cuma alurnya...terlalu lambat. Ini seperti prosa, bukan cerpen.
    Tapi saya suka :)

    ~zaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!