Oh Hati, Bersabarlah!

Karya: ndehyaminari




Mungkin malam perayaan tahun baru ini adalah malam yang paling menyenangkan. Langit berhias bintang memancarkan cinta di awal tahun ini. Aku tak menyangka bisa merayakan awal kehidupan baru bersamamu, bersama dia, bersama kalian berdua. Tepat satu tahun, aku memendam perasaan ini. Bagai pungguk merindukan bulan, rasa yang kusimpan lama adalah hal yang sangat tidak mungkin untuk kuwujudkan. Rasa yang bagiku adalah suatu kesalahan. Tapi, apa mau dikata, cinta tak bisa disalahkan. Tanggal satu Januari, segala harap kurajut hari ini.
”Riza, kok kamu bisa betah sih jalin hubungan sama Rani?” Aku bertanya pada Riza, pacar Rani, sahabatku yang baru enam bulan menjalin hubungan. “Kok nanya kayak gitu?” Tanya Riza heran. Aku sedikit gugup, bingung harus menjawab apa. Tapi belum aku menjawab pertanyaan Riza, Rani tiba-tiba datang. Dia membawa kotak yang entah berisi apa. Aku langsung bergeser tempat duduk, agar Rani bisa duduk diantara aku dan Riza. “Maaf ya lama. Aku habis beli kue nih buat kalian. Kan kalau belajar pasti lapar. Hehe.” Katanya sambil menyodorkan kotak yang berisi kue itu kepadaku. Kulihat Riza dan Rani saling berdiam diri, tak seperti biasanya.


Langit cerah berlukis awan menemani kegiatan kami. Aku, Riza dan Rani sejak kelas 1 SMA selalu bersama, hingga kini kami kelas 3 SMA. Berawal dari pembagian kelompok berdasarkan nama, kami jadi sering memilih untuk terus bersama, menjalin persahabatan yang kukira akan abadi tanpa adanya benih cinta diantara kami. Tapi, semua itu hanya angan ketika Rani menceritakan bahwa Rani tengah berpacaran dengan Riza. Rasanya seperti petir yang datang ketika cuaca cerah, perasaanku pun meledak saat mendengar ceritanya. Aku hanya bisa menahan apa yang selama ini aku pendam. Apakah hati ini harus tetap merahasiakannya?
“Riza, Rani, kok pada diem gitu sih? Ini tugasnya mau didiemin aja?!” Tanyaku kesal, karena mereka belum juga melirik pada lembar soal. Lima menit berlalu tanpa ada suara diantara kami bertiga. Daripada aku ikut diam, aku memilih untuk memakan kue yang barusan Rani berikan, sambil membaca materi yang mungkin akan muncul di soal.
“Rara!” Panggil Rani padaku begitu mengejutkan. Aku yang sedang nikmat menyantap kue langsung tersedak. “Hah, ada apa Ran?” Jawabku sambil batuk-batuk, mencari minuman. “Kok ada nama Riza sih dibuku milikmu?!” Rani menatapku geram. Riza pun menatapku heran. Aku yang ditatap kedua insan itu hanya diam dan mencari-cari jawaban.
“Ekhem, oohhh iya itu, aku kan mau menuliskan nama-nama kita, tapi belum selesai. Kita kan kelompok, jadi ya aku iseng aja mau nulis nama-namanya. Sini, sini, aku mau tulis nama Rani, lalu Rara namaku. Selesai kan!” Jawaban yang mungkin terdengar memaksakan itu ternyata membuat Rani percaya. Ya Tuhan, aku lupa karena aku sering menulis nama Riza. Untungnya tak kubuat gambar hati di situ. Apa yang akan aku katakana jika hal itu terjadi? Oh Hati, maafkan aku, perasaanmu selalu aku rahasiakan. Setelah itu, kami langsung mengerjakan soal-soal. Walau Riza dan Rani yang entah mengapa hanya diam, mungkin sedang marahan, tapi tugas selesai dikerjakan.
Seusai mengerjakan tugas kelompok, aku langsung pulang. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Aku ingin berteriak, aku ingin menangis, aku ingin memukul siapa saja yang lewat, tapi semua itu tak bisa kulakukan, karena posisiku masih di jalan yang ramai. Oh Rara, mengapa kau begitu terlihat bodoh barusan?! Kalau sampai perasaanmu ketahuan, matilah kau! Batinku terus menggerutu.
Sepanjang jalan, aku mengingat kembali malam perayaaan tahun baru di rumahku itu. Aku mengajak Rani dan Riza untuk datang ke rumahku. Malam itu, kumenatap mata indah Riza di bawah langit yang penuh dengan bintang. Cahaya kembang api yang dinyalakan menambah indahnya mata Riza yang berkilauan. Jantungku berdegup kencang ketika Riza menoleh kepadaku, mungkin dia merasa ada yang memperhatikan. Aku langsung kalap. Kubalas tatapan Riza dengan senyuman. Oh Hati, maafkan aku yang selalu merahasiakanmu.
Gerbang rumah tepat ada dihadapanku. Namun tiba-tiba ponselku berdering, itu tanda ada pesan yang masuk. Aku segera membuka dan membacanya. Berlanjut dengan saling berbalas pesan.
Riza: Ra, tadi maksud kamu apa? Nanya bisa betah jalanin hubungan sama Rani?
Aku: Oh, hehe, enggak kok, cuma nanya aja. Jangan dipikirkan!
Riza: Aku ke rumah kamu ya, sebentar saja. Aku otw sekarang.
Percakapan kita berakhir sampai Riza mengatakan akan ke rumahku. Aku tidak membalasnya karena bingung harus kubalas apa. Apakah aku harus bahagia atau takut? Ah sudahlah, mungkin Riza ada keperluan tentang pelajaran.
            Sepuluh menit berlalu, Riza datang sendirian tanpa ada Rani yang biasanya selalu berboncengan. Oh Rani, maafkan aku! Bukan maksudku mengkhianatimu, tapi biarkan sekali ini saja perasaanku yang selalu bersembunyi, bisa merasakan kebahagiaan walau semu.
“Eh, Riza, ayo masuk!” Kataku.
“Di teras saja, Ra. Aku Cuma sebentar.” Respon yang menciutkan hati kecilku. Ternyata dari dulu Riza memang tak memiliki perasaan padaku. Riza memang lebih memilih Rani. Jantungku terasa sesak dan tak bisa berkata apa-apa.
“Oh. Baiklah!” Jawabku singkat.
            Angin sepoi melintasi kami yang sempat terdiam sampai Riza mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya. “Ra, ini milikmu? Aku menemukan kertas ini di buku paket perpustakaan setahun lalu. Maaf aku baru memberikannya padamu, setelah setahun berlalu.” Riza memberikan selembar kertas itu padaku. Aku lupa, kertas apa itu. Lalu kubaca dan entah apa yang kini aku pikirkan, perasaanku campur aduk tak karuan. Tiba-tiba, air mata menetes perlahan dari kedua mataku. Kertas itu bertuliskan curhatanku yang mengatakan bahwa aku sangat mencintai Riza. Tapi apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Riza itu sangat dekat dengan sahabatku, Rani. Aku dilema saat itu. Aku berharap aku bisa mengatakan yang sejujurnya pada Riza, tapi tetap aku tak kuasa.
            “Maafkan aku.” Kataku yang menahan malu sekaligus sedih karena akhirnya apa yang aku sembunyikan kini telah terbongkar. Jika Riza sudah tahu, harusnya aku bahagia, bukan? Entahlah, aku hanya bingung.
“Kenapa kamu nangis, Ra?” Tanya Riza, dan aku hanya bisa menunduk. “Harusnya, aku yang meminta maaf. Maafkan aku, Ra.” Katanya sambil mengusap air mataku. Aku canggung setengah mati. Maksudnya apa ini?!
“Kenapa kamu minta maaf?” Tanyaku yang masih terisak. Aku melihat mata Riza pun sedikit berkaca-kaca.
“Maafkan aku karena aku telah membohongi perasaanku. Rani yang memintaku untuk jadi pacarnya. Rani sakit. Aku hanya ingin menguatkannya.” Kini Riza yang nampaknya akan menangis, tapi secepat kilat dia menarik nafas agar tak sampai air matanya keluar. “Dulu, setahun lalu, sebelum aku jadian dengan Rani, aku menyimpan perasaan ini hanya untukmu. Tapi aku tak mau merusak persahabatan kalian berdua.” Lanjutnya.
“Aku tahu Rani sakit. Tapi kenapa kamu lebih memilih Rani?! Jika kamu takut persahabatan kami rusak, mengapa kamu berpacaran dengannya? Tidak kah kamu memikirkan perasaanku juga?!” Tiba-tiba mulut ini tak henti-hentinya berucap kata. “Jika kamu sudah membaca itu, mengapa kau tidak bicara padaku? Aku yang jelas lebih mencintaimu, kamu acuhkan, kamu membohongi perasaanmu sendiri!” Lanjutku, sambil menangis terisak, aku merobek-robek kertas yang telah usang dimakan waktu itu. Januari tahun lalu aku menuliskan surat itu.
“Maafkan aku, Ra.” Kata Riza menunduk lesu.
“Aku tidak bermaksud merebutmu dari sahabatku sendiri, Za. Tapi sampai kapan kamu membohongi perasaanmu? Sampai kapan aku harus terus merahasiakan cinta ini, Za, sampai kapan?!” Kini tangisanku semakin membuncah. Bercampur emosi yang terpendam lama sekali kukeluarkan segalanya.
“Maafkan aku, Ra. Jika memang kamu jodohku. Tuhan pasti menyatukan kita. Aku yakin itu.” Kata Riza yang entah harus kuyakini atau kuragukan.
Pertemuan kami berakhir ketika Riza mendapat pesan dari Rani. Riza langsung pulang tanpa mengatakan apapun lagi. Apakah benar yang Riza katakana, jika kami berjodoh, pasti akan dipersatukan? Oh Hati, maafkan aku, karena aku belum bisa membuatmu bahagia. Apakah di bulan Januari ini, kau, hati, akan bahagia?
            Kini aku terjebak dalam cinta dan rahasia. Aku cinta pada Riza yang lebih memilih Rani, sahabatku. Dan aku masih merahasiakan perasaanku terhadap Riza pada Rani. Maafkan aku Rani, sungguh aku tak berniat merebut kekasihmu, dan sungguh aku takan pernah melakukan itu. Tapi, apakah cinta yang kurasakan patut disalahkan? Aku hanya menunggu waktu hingga kau mau melepaskan Riza yang tak pernah menyimpan namamu di dalam hatinya.

            Senja kian menjelma. Aku menatap langit yang mulai gelap perlahan. Perasaan ini akan terus kusimpan, akan terus kurahasiakan. Walau Riza telah mengetahuinya, tak apa, aku malah merasa bahagia. Sekali lagi, Rani, aku tak pernah bermaksud mengkhianatimu. Tapi aku tidak mau membohongi perasaanku. Kalian yang sering bertengkar membuat hatiku sakit. Karena aku yang lebih mencintai Riza, tak bisa berbuat apa-apa. Kini, di bawah langit senja ini, aku hanya bisa menunggu. Apakah perasaan yang selama ini aku pendam bisa diwujudkan, ataukah tetap menjadi angan yang terus tertutup rapat menjadi sebuah rahasia? Oh Hati, Bersabarlah. Semua akan indah pada waktunya, walau Januari kan berlalu lagi.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Aku bangga pada sahabatku yang satu ini. Nyata tak nyata, ia selalu membuat perasaannya menjadi nyata, demi mencurahkan perasaannya sepenuh hati melalui tulisan. Semoga sesegera mungkin, mimpimu untuk menjadi penulis yang sesungguhnya dapat terlaksana dengan segera. Aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Janeee, makasiih yaaa {} Aamiin Allahumma Aamiin, :') smoga keinginanmupun segera terlaksana {} Ayamiin

      Hapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!