NEW YEAR’S GHOST

Karya: Day Wiraditha




you make me a ghost, i'm an invisible disaster
i keep trying to walk but my feet don't find the solid ground
-Ghost (Ingrid Michaelson)

            Ciumannya menuntut. Mereka mengambil ruang bernafas satu sama lain, hiruk pikuk di dalam bar tidak memisahkan keduanya. Suara terompet tahun baru, derai tawa, denting botol minuman beralkohol dan kembang api melebur jadi satu. Dua orang berciuman bukan untuk meredam kebisingan di sekitar tapi ingatan akan kebodohan sendiri-sendiri, keputusan yang dilabeli kesalahan, rasa bersalah yang dibebankan pada mereka tanpa alasan.
            “Ridley nama aslimu atau bukan?”
            “Apa itu penting?”
            Sesaat mereka bertatapan lalu keduanya sepakat. “Tidak,”


            Ethan meraih minuman lalu menghabiskannya dengan sekali teguk. Di sekeliling orang-orang berdansa mengikuti dentuman musik, jarum jam bertengger di angka tiga. Suasana khas dini hari pertama bulan Januari, pesta dan kesenangan. Di seluruh penjuru bar, semua orang merayakan datangnya Januari, menyerukan ucapan selamat tahun baru kepada siapapun yang dilihat.
            “Membicarakan kebodohan dengan orang asing bukan bagaimana aku ingin memulai bulan Januari,” ia mendengar Ridley mengoceh.  
            “You make the most pathetic brokenhearted girl,” komentar Ethan, Ridley hanya tertawa hambar. “Telepon saja dia. Lagipula ini tahun baru, Ridley. Segalanya mungkin,”
            “Dan nampak mengemis? No, thanks,” Ridley menaikkan lengan mini-dress kembali ke pundak. 
             “Biar saja waktu yang menghampiri, aku nggak mau mendahului. I did that once and I screwed it up,” gadis berambut cokelat itu mengendikkan bahu. “Dan kamu? Kamu jatuh hati sama mantan pacar sahabat sendiri dan kamu mesti memilih, persahabatanmu atau gadis itu,”
            Ethan tertawa. “Itu cerita lama, ya. Aku sudah nggak ada rasa lagi sama gadis itu. Aku pikir daripada aku menyakiti semua orang, aku lebih baik mundur dan diam,”
            “Kamu nggak pernah pacaran dengan siapapun setelahnya karena takut disakiti?
            “Aku nggak mau pacaran bukan karena takut disakiti tapi karena aku takut menyakiti orang lain. It’s in my blood, I think, tiap kali aku jatuh cinta maka aku bakal merusaknya dan menyakiti gadis itu,” Ethan melipat tangan.
“Setidaknya aku nggak meninggalkan pasanganku yang terang-terangan masih mencintaiku lalu menyesalinya selama empat ratus lima puluh hari,” ia menambahkan.
Ridley memukul bahu Ethan. “Ada hari dimana aku nggak mikirin dia tapi tiap malam, aku justru berakhir dengan dia di dalam pikiran. Tiap kali aku melukis pasti ada dia di atas kanvas. It’s like he’s my muse,”  
            Ethan segera melanjutkan. “Biar kutebak. Kamu nggak melakukan apa-apa selain diam disini, menyalahkan diri sendiri karena meninggalkannya tapi kamu juga nggak berani kembali karena kamu takut. Kamu takut pada apa yang akan orang katakan kalau kamu kembali seenaknya setelah meninggalkannya seenaknya. Begitu ?”
            Ridley mengangguk. “Mungkin dia membenciku. Aku diberitahu oleh teman-temannya, dia nggak membicarakan tentangku lagi. Dan mereka juga bilang, mungkin lebih baik begitu dan karmaku adalah tidak bisa berhenti memikirkannya dan terus menyesalinya,”
            “Well, respon pertama manusia pada rasa sakit adalah berlari atau sembunyi tapi yang membedakan adalah apa mereka akan kembali atau tidak. Karena kekuatan manusia dinilai bukan dari berlari tapi dikala diam,”
“Kuharap aku mendengar hal itu lebih awal,” Ridley mengangkat gelas, menawarkan toast. “To the most pathetic brokenhearted man and woman in the room,”
Ethan tertawa sembari menyambut tawaran Ridley. Gadis itu menghela nafas dalam-dalam, asap rokok ikut terhirup olehnya membuatnya segera batuk-batuk. “Ayo, keluar dari sini,”
            “I could totally sleep with you,” celetuk Ethan dalam langkah mereka melewati kerumunan yang meracaukan berbagai hal di bawah pengaruh alkohol dalam bar.
            “Kamu nggak bakal melakukannya,” balas Ridley dengan percaya diri. Seketika Ethan mengubah arah langkah menuju tangga. Bar berlokasi di lantai dasar terpisah dengan hotel yang berlokasi di lantai atas. Mereka melewati lobi, menuju lift, tidak ada yang bicara namun semua tahu kemana ini mengarah.
            Ethan menciumnya di depan pintu kamar, tangannya memutar kunci lalu mendorong Ridley masuk perlahan. Sejauh ini Ridley mengikuti dengan kalem. Ciuman kali ini jauh berbeda, mereka sama-sama ingin menenggelamkan sesuatu. Ridley tentu menenggelamkan rasa bersalahnya dan Ethan lelah menunggu. Di bibirnya, Ridley merasakan jelas rasa putus asa sementara jemari Ethan menyadari kekakuan dari bahasa tubuh Ridley. Keduanya rebah di kasur lalu ciuman mereka terputus.
            Mau tak mau Ethan mengakuinya, ia berguling ke kanan dan berbaring di sebelah Ridley. Ridley memutar tubuh, menopang kepala dengan tangan kiri dan memerhatikan tampang bego Ethan. “Gadis itu masih di pikiranmu. Makanya aku berani bilang kamu nggak bakal melakukannya. Dan aku benar,”
            “Jangan move on dari gadis masa lalu dengan memacari gadis lain. Itu nggak selalu berhasil dan nanti kamu bakal jadi ketergantungan. Jangan mengencani orang sebagai pelarian.” Ridley melanjutkan. “Tapi kuhargai usahamu, kamu sudah mencoba. Aku tahu dari caramu menciumku dan kurasa itu tindakan yang  berani. Tapi bukan begitu caranya,”
            “Aku bukan pemberani. Letting go is something that brave and strong people do, aku nggak bisa melakukannya. Jadi aku bukan pemberani,” Ethan menghela nafas. “Aku merasa seperti hantu yang tersesat,”
            “Aku juga merasa seperti hantu gentayangan. Mencari-cari tanpa tujuan, ingin kembali tapi tidak bisa, ingin pergi tapi takut dan tidak yakin,” Ridley mengaku.
            “We’re a coward in our own way,” sambung Ethan. Mereka berdua tertawa, mentertawai diri sendiri. Ia berpaling pada Ridley. “Dan kamu. Pergilah semaumu, jadi brengsek sepuasmu. Tapi suatu hari nanti kamu harus sadar untuk tumbuh kamu nggak harus selalu pergi. Lalu pulanglah untuk sesuatu atau seseorang,”  
Diam-diam Ridley menyentuh punggungnya, teringat saat Ethan berusaha meloloskannya dari gaun yang dikenakan. Ia tidak pernah merasa sesendirian itu ketika bersama seseorang. Di sebelahnya, Ethan tidak bisa melepas bayangan gadis yang tidak bisa ia miliki bahkan saat ia mencium Ridley, gadis itu masih ada di pikiran. Suara kembang api yang melesat menemani mereka dan samar suara musik pesta mengantar keduanya terlelap.
            Ethan terbangun dengan pemandangan sosok Ridley tidak berbaring di sebelah. Ridley tidak ada lagi di kamar. Ia tidak terkejut, hubungan semalam memang tanpa komitmen lebih. Waktu menunjukkan pukul lima pagi,  Ethan memutuskan keluar kamar.
            Di lobi, ia dihentikan oleh petugas resepsionis. Si resepsionis menyerahkan selembar kertas gambar pada Ethan. Ethan tahu dari siapa kertas ini dan entah kenapa ia lega karena setidaknya ia punya kenang-kenangan dari gadis yang menyadarkannya.
Ridley meninggalkan sebuah lukisan seseorang yang berdiri di ambang pintu, kaki kanannya sudah melewati pintu sementara kaki kiri masih di dalam ruangan. Ethan paham. Ia menemukan pesan dibawah gambar, ia tersenyum pada nama gadis pelukis itu.
            Terima kasih, Ethan.
Mari berhenti menjadi hantu kemudian pulang untuk sesuatu atau seseorang.

Daisy.

Komentar

share!