Melodi dalam Sunyi

Karya: Mel

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


“Nananananana…” Oh, hai, aku suka sekali menyanyi. Kehidupan bagiku adalah sebuah musik. Dimana akord adalah suatu kebersamaan dan nada menggambarkan  perasaan. Kita mengulangi hal-hal yang baik layaknya ritme. Menyusun masa depan seperti halnya melodi. Selalu semangat dan juga terkadang lelah ialah cerminan dari tempo. Jika kau selalu tepat dalam melakukannya bak intonasi, hidupmu  akan tersusun rapi dalam suatu keselarasan yang disebut harmoni. Lika-liku dalam hidup akan terjadi jika kau tak memperhatikan lantunan musikmu yang akan membuat iramanya tak layak untuk didengar. Namun jika kau adalah pemusik sejati, kau tak kan pernah putus asa sebelum kau puas meluruskan lika-liku itu. Ya, inilah hidup. Kau harus terus bangkit untuk mencapai keselarasan dalam hidupmu apapun cita mu. 

Musim hujan datang lebih lambat tahun ini. Tak biasanya angin berhembus kencang di pagi hari. Hawa dingin ini telah mengoyak tubuhku, mencabik-cabik urat sarafku dan telah membuat tubuh ini mati rasa. Untung saja hari ini tak ada kelas. Jadi aku bisa bersantai menjelang matahari dengan segelas teh panas dan masih dengan piyama berwarna jingga. 

Sepasang manik hitamku tengah memandangi setiap sudut yang ada di kamar. Ruangan ini terlalu luas untuk tubuh mungilku. Membersihkannya pun mebutuhkan tenaga ekstra. Menjadi mahasiswi yang aktif membuatku tak sempat menjamah ruang-ruang sempit dalam kamarku.  Letih, lelah, lambat-lambat terkuras.

Kutenggak habis teh yang telah mulai mendingin untuk memuaskan kerongkonganku. Kuraih pena berwarna hitam dan kutuliskan semua kehidupan di atas kertas. Tentang hari-hari yang keras, kisah cita yang pedas, perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas. Tinta yang keluar dari dalam pena berirama dengan apa yang sedang kurasakan. Dalam hati ini ingin ku ubah semua kehidupan monoton penuh luka putus asa. 

Bermodal suatu keberanian kini aku telah menjadi primadona di seantero kampus raya. Suaraku yang menurut mereka mampu menggetarkan jiwa ini telah dikenal di telinga setiap orang yang mendengarnya. Wilayah kekuasaanku telah mencapai hampir seluruh kota di sunda kelapa. Wow, namaku sedang naik daun ternyata. Band yang beranggotakan Nicky (aku), Beni, Reno, dan Chandra ini telah tertanam di hati para penggemarnya. Sungguh takdir 

Dunia memang luas, tak hanya selebar daun kelor. Akal dan fikiranku pun tak selamanya kotor. Mata hatiku selalu terbuka untuk cita-cita yang sebentar lagi akan menjadi nyata. Catatan ini menjadi saksi perjalanan hidupku. Melangkah pasti, biarkan pena dan tinta yang berbicara. Menetapkan sebuah pilihan untuk satu kemungkinan, yaitu sebagai bintang hiburan, dan terus melayang. Janganlah heran jika raga ini selalu terbalut dengan label mewah, cerminan seorang raja dan puteri dalam kisah Cinderella. 

Hari yang indah diawali dengan senyuman sang mentari. Bahkan kurasa Dewi Fortuna sedang berpihak padaku. Dering telephone bergema di atas meja kayu tua berwarna cokelat klasik. Sudah sebelas kali Beni menelfonku dalam kurun waktu satu miggu ini. 

“Ya, baiklah, akan kuambil job yang akan membuat nama kita dikenal oleh dunia. Aku akan berangkat latihan pukul tujuh. Sampai ketemu malam nanti.” 

Untuk kesekian kalinya aku memutuskan tuk menerima tawaran dari Beni. Namun job kali inilah yang akan membawa namaku dan band-ku dikenal di jagad internasional. Benarkah? Ini bukanlah mimpi ataupun halusinasi. Sebuah anugerah yang kan kunikmati nanti. Hasil kerja kerasku terbayar lunas,tuntas, melakoni jati diri sampai puas. 

Hujan tak setetespun membasahi impian kami di bulan Januari ini. Semangat yang menggebu-gebu tak menjadikan hujan dan badai di bulan Januari menghalangi kami tuk terus berlatih. Chandra terus menasehatiku tentang hal-hal yang tidak penting saat kami berada di 

“Petir sedang bersahut-sahutan, Nick! Apa kah kau tak bisa meletakkan ponselmu itu?” 

“Baiklah, Chandra! Untuk yang kesekian kalinya kukatakan padamu, aku menggunakan mode penerbangan, dan aku hanya sedang mendengarkan sebuah lagu! Apa kau tak bisa diam? Suara cerewetmu itu telah mengganggu konsentrasi Beni yang sedang menyetir!!”

“Apakah kalian bisa diaaaamm?” Teriak Beni yang sepertinya terlihat frustasi. Ia memejamkan matanya, padahal ia sedang menyetir. 

*Bruuuaaakkk* Aku tak tahu apa yang baru saja terjadi. Yang aku ingat hanya ada sorotan cahaya lampu mengarah pada kami, kemudian aku tak mengingat apapun. Hingga akhirnya aku tersadar dan aku telah berada di suatu tempat dimana semua ruangan itu berwarna putih. Ya, semuanya putih. Seseorang yang asing sedang menghampiriku dengan pakaian yang putih pula. Ah, tidak, paranoid menyerangku dengan ganas. “Apa kau baik-baik saja?”. Tidak, ini hanya mimpi. Dimana aku? Siapa dia? Bahkan aku tak dapat mendengar apa yang orang itu katakana padaku. Telingaku masih berdenging. Semakin kencang. “Tidaaaaaaaaaakkkk…,” teriakku dengan keras. Orang berbalut pakaian putih itu mencoba tuk menenangkanku. Ini mimpi. Tidak, ini nyata. AKU TULI. Kurasa tujuan hidupku harus berhenti sampai disini. Harmoni itu takkan pernah bisa kudapatkan. 

Batinku menuntun raga ini sampai di depan ruangan berpintu silver dan sangat dingin. Disana kulihat orang yang sangat kukenali terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai peralatan medis menempel di sekujur tubuhnya. “Beni,” aku terjatuh berlutut di depan pintu. Chandra dan Reno tampak cemas. Mereka menghampiriku dan membantuku untuk berdiri. Aku berteriak histeris, namun semua sia-sia saja, karena aku telah tuli. 

Aku terduduk di ruang tunggu dengan menekuk kedua lututku. Mencoba menyanyikan sebuah lagu penghibur kalbu.

Snow glows white on the mountain tonight not a footprint to be seen. a kingdom of isolation and its looks like I’m the queen. The wind is howling like this swirling storm inside, couldn’t keep it in haven’t knows I’ve tried. Don’t let them in, don’t let them see, be the good girl you always have to be. Conceal, don’t feel, don’t let them know. Well, now they know. Let it go. Let it go. Can’t hold it back anymore. Let it go. Let it go. Turn away and slam the door.. 

“Aku mengerti apa yang kau rasakan. Tetapi kau harus berusaha tuk menerima keadaan ini,” Reno terlihat berbicara padaku.

“Apa? Apa yang kau katakan, Reno? Aku tak bisa mendengarmu,” jawabku. 

Reno berlari menuju resepsionis tuk mengambil secarik kertas dan pulpen. Ia menuliskan sesuatu untukku. 

Tenanglah. Jangan terlarut dalam kesedihanmu, semua tak ada gunanya. Kita akan melanjutkan semuanya tanpa Beni. Ia akan bangga jika kita dapat melanjutkan perjalanan ini sampai akhir.”

Bagaimana aku tak sedih? Dan bagaimana aku bisa melakukannya? Sedangkan saraf pendengaranku telah rusak.

“Bagaimana aku bisa melakukannya, Reno!! Aku takkan bisa mendengar sekarang. Dan mungkin untuk selamanya. Selamanya, Reno.. Selamanya!!!” 

Aku pun menangis terisak. Reno kembali menuliskan sesuatu untukku.

“Kedua telingamu memang tak lagi dapat mendengar. Tapi kau masih punya hati yang dapat mendengarkan setiap melodi dari instrument-instrumen lagu. Bangunkanlah hatimu, Nick!” 

Tiga hari berlalu semenjak insiden itu. Dokter mengatakan bahwa aku mengalami tuli permanen, dan jika dapat disembuhkan, itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan Beni, ia koma dan belum juga tersadarkan. Terpuruk, tapi mungkin Reno benar, bahwa kesedihanku tak ada artinya. Aku mulai belajar tuk mendengarkan melodi dengan hatiku. Event besar itu pasti akan kulalui. Aku akan membanggakan Beni,  mencapai sebuah 

Jalan sedikit, tersungkur, terjungkir, terbalik. Aku akan terus berusaha melangkah menuju titik, melakukan yang terbaik. Kuketatkan tekad dan niat agar melesat, seperti rudal squad, mimpiku kan kudapat. Menjadi seorang tuna rungu semakin memotivasi dan memacu semangatku. Mencari tepuk tangan atas karya keringatku, bukan satu yang ingin aku tuju. Naik keatas pentas, agar orang puas, dapat applause, cek, ataupun uang kertas. 

Mencari sensasi ataupun kontroversi bukanlah caraku agar hidupku rekonstruksi. Dari mimpi semua hal dapat terjadi. Maka dari itu, lebarkanlah sayapmu, dan terbanglah setinggi mungkin. Jika kau jatuh, kau harus bangkit lagi, terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Harmoni takkan pernah kau dapatkan jika kau putus asa. Ayolah, dunia ada dalam 

Jika nanti aku berhasil dalam kontes besar di tanggal 26 Januari, orang pasti takkan tah jika aku adalah orang yang tuna rungu. Aku tidak tuli, aku masih bisa mendengar instrumen – instrumen itu melalui hatiku. Telinga boleh saja tuli, tapi hati akan selalu mendengar segalanya. Dan ketika Beni membuka matanya, ia pasti akan bangga. 

Jika kau memiliki suatu kekurangan dalam hal fisikmu, jangan jadikan hal itu sebagai penghalang mimpimu. Jangan malu, karena semua orang pasti mempunyai kekurangan. Dan dibalik kekurangan itu pasti ada kelebihan. Jangan gengsi, tinggalkan itu. Hidup ini memang berawal dari mimpi. Gantungkan mimpimu itu setinggi langit agar semuanya terjadi. Asalkan semua peduli tuk ironi dan tragedy. Senang dan bahagia, semua akan kau rasakan sampai kau tua, dan sampai kau mati.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!