Masih

Karya: Wir



Ponselku berdering panjang, menandakan ada seseorang yang mencoba menghubungiku. Tapi, siapa yang mau menghubungiku pada malam Minggu seperti ini? Bahkan sepertinya operator saja malas mengirim SMS untukku.
Tetapi aktivitasku berhenti ketika melihat nama yang tertera di layar ponselku. Rani. Nama itu sudah tidak asing lagi di memoriku, apalagi kenanganku. Namun, buat apa dia meneleponku? Apakah dia ingin kembali… ah, rasanya tidak mungkin.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku mengusap layar ponsel ke mode mengangkat telepon. Kemudian aku mendekatkan ponsel ke telingaku sambil berdeham untuk mengatur suaraku agar terdengar normal.


“Gino?” Entah kenapa darahku berdesir ketika Rani memanggilku. Tapi jujur saja, aku sangat rindu dengan suara itu.
“Ya, ini aku.” Akhirnya hanya itu yang bisa kujawab. Tak mungkin ‘kan jika aku berpura-pura tidak mengenalnya?
Hai, Gino. Kamu apa kabar?
Oke. Tenang, Gino. Dia hanya menanyakan kabarmu saja, tidak ada maksud lain.
“Aku baik. Kamu?”
Itu jawaban yang normal-normal saja, ‘kan?
Entah kenapa aku bisa memvisualkan Rani sedang tersenyum sekarang. Dan… aku rindu dengan senyumannya itu, ditambah dengan satu lesung pipi yang terletak di pipi bagian kanannya. Manis sekali, seingatku.
Aku juga baik. Gimana keadaan Ibu sama Ayah? Mereka baik-baik aja, ‘kan?
Dan… apa maksud dari pertanyaan itu? Apakah memang dari awal Rani memiliki maksud yang terselubung sebelum dia menuju intinya?
“Ibu dan Ayah sehat kok. Mereka kadang-kadang nanyain kabar kamu, kenapa nggak pernah main ke rumah lagi.”
Sebenarnya… aku berbohong. Ibu dan Ayah tidak pernah lagi bertanya tentangnya semenjak aku dan Rani putus. Tunggu… sebentar. Aku langsung menatap kalender yang terletak di atas meja. Hari ini tepat tanggal 16 Januari 2016.
Aku bahkan baru ingat bahwa… hari ini adalah hari jadiku dengan Rani. Dan di bulan yang sama namun setahun yang lalu, aku memutuskannya hanya karena aku lebih memilih egoku dibandingkan dirinya. Aku tahu, aku egois. Tapi… sudahlah.
Gitu, ya? Kapan-kapan aku main deh.” Rani nggak mungkin ingin… “Dari kemarin aku lihat isi blog kamu, sekarang kamu jadi fotografer ya?
Hanya itu? Tidak ada yang lain?
“Eh? Iya. Cuma pekerjaan sampingan, tapi hasilnya lumayan.”
Padahal aku berharap sesuatu yang lebih darinya. Tetapi, apakah aku masih pantas untuk memilikinya?
Banyak orang bilang, kesempatan kedua memang selalu ada. Apakah ini saatnya aku menggunakan kesempatan kedua tersebut untuk kembali bisa merengkuhnya?
Oh gitu ya. Gini, No. Aku—
“Ran—”
Ya? Ada apa, No?
Ayo! Bilang sekarang!
“Ah, enggak. Kamu aja dulu, kayaknya kamu mau ngomong penting.”
Dasar pengecut!
Iya nih, penting banget soalnya, hehe. Kamu ‘kan temen lama aku, aku lagi butuh banget jasa kamu nih, soalnya aku tertarik banget sama hasil foto-foto kamu. Gimana, No? Kamu bisa?
“Gitu ya?” Jujur saja aku sedikit kecewa dengan ucapan Rani barusan. Kupikir, ‘hal penting’ yang dimaksud olehnya adalah tentang… kita berdua. “Memangnya ada acara apa, Ran? Kok butuh jasaku?”
“Prewedding-ku, No. hehe.
Dan sepertinya di dalam kamus Rani, kata ‘kita’ yang pernah tercipta di antara aku dengan dia, sudah terhapus dan terbuang jauh. Kini, harapanku sudah setipis kulit ari. Sekalinya tertiup angin, dia terbang dan menghilang.
***
Dan di sinilah aku, memotret kenangan seseorang yang masih kucinta dengan seorang pria yang dicintainya. Dengan perasaan hampa, aku menciptakan kenangan dalam bentuk lembar foto, hanya untuk mereka.
“Jangan cuma senyum-senyum aja dong daritadi.” Aku mencoba protes sebisaku. Padahal banyak hal yang ingin sekali kuteriakkan di depan mereka berdua. “Yang romantis, oke?”
Itu hanya mulutku yang berkata, bukan hatiku.
“Kalau pegangan tangan gimana, No?”
Hatiku sedikit tergores begitu melihat adegan tersebut. Tangan indah yang pernah menjadi milikku, kini telah dirampas oleh seseorang yang mungkin memang lebih pantas untuk memilikinya.
“Ya, ya. Boleh. Lebih deket lagi dong, kalian ‘kan mau nikah, masa masih kaku gitu sih?” Apa perlu aku yang menggantikannya, Ran?
Setelah melihat adegan yang mengubah dunia ini menjadi neraka sementara di hatiku, mereka memilih untuk beristirahat sebentar dan melihat hasil potretku. Aku mengambil beberapa jarak dari mereka dan berpura-pura sibuk membenarkan tripod atau pun benda lainnya, asalkan aku tidak melihat pria itu mampu membuat senyum yang lebih menawan di bibir Rani.
“Kok kayaknya kita kaku banget ya, Yang?” Aku melirik ke arah Rani yang mulai berkomentar tentang potretnya sendiri.
“Iya, nih.” Pria itu menyahut. “Mungkin karena aku jarang dipotret kali, ya? Jadinya masih kaku gini.”
Dengan berani, aku mendekati mereka berdua. Tapi pandanganku lebih fokus pada Rani. Aku ingin memastikan sesuatu. Apakah ‘hal itu’ masih ada di dalam matanya, atau sudah hilang tak berbekas.
“Mungkin tema romantis memang nggak cocok buat kalian. Coba kalian ngobrol kayak biasanya dan nggak usah pedulikan ada kamera di dekat kalian. Gimana?”
Aku masih menatap Rani. Namun sepertinya dia sengaja mengalihkan pandangannya dariku.
“Oke. Kita coba.”
Aku menghela napas sejenak, kemudian mengambil kamera yang berada di tangan Rani. Bahkan dia sama sekali tidak mau berkontak mata denganku. Tapi sebelum dia menuju tempat yang baru untuk pemotretan, Rani mengatakan sesuatu yang langsung membuat oksigen di paru-paruku berubah menjadi karbon dioksida. Sesak.
“Gino, tolong yang profesional, ya? Demi aku? Aku nggak mau lihat kamu masih menatapku seperti itu. Tolong banget, ya?”
Aku tersenyum tipis. “Tenang aja. Aku profesional kok, Ran. Lihat aja nanti dengan hasilnya. Kamu pasti ketagihan.”
Rani ikut tersenyum. Kemudian dia berjalan menjauhiku, menuju tempat pemotretan yang baru.
Aku menatap punggungnya yang semakin lama semakin mengecil. Dan hal itu kujadikan parameter kesempatanku untuk bisa kembali merengkuhnya pada pelukanku. Sangat kecil. Bahkan sekarang aku baru sadar bahwa aku memang benar-benar egois; yaitu menginginkannya kembali.
Aku memang tidak mengerti kekuatan apa yang dimiliki oleh si Januari. Dalam 31 hari yang dimilikinya, salah satu hari yang dimiliki Januari merupakan hari yang tidak akan pernah kulupakan sampai sekarang, yaitu hari jadiku dengan dirinya.
Namun di lain hari dan masih di bulan yang sama, egois menyelimutiku, dan menjadikan hari itu adalah hari terburuk yang membuatku menyesal hingga sekarang.
Dan penyesalanku bertambah ketika dia sudah memiliki seseorang yang akan mendampingi tidurnya, dan hidupnya. Semuanya terjadi di Januari.

Namun, biarlah Januari yang menyimpan kenangan pahitku tentangnya. Dan biarlah hanya Januari yang tahu bahwa aku masih menyimpan rasa yang sama, di hati yang sudah runtuh karena ego menggemuruh.

Komentar

share!