Lunturnya Pesona Ratu Paraoh

Karya: Sulton Rizman




Betahun-tahun silam terlelap dalam mimpi burukmu. Melakukan hibernasi untuk melampiaskan segala yang pernah kau lakukan dulu. Sebuah ritual penebusan dosa bagimu. Kini kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu. Hari demi hari berlalu dan kau tetap saja seperti itu. Rutinitas yang selalu kau lakukan. Padahal, semua itu tidak akan mengubah keadaanmu.
Di pagi hari, kau menghela napas. Berharap seseorang membangunkanmu dengan ramah dan lembut. Berharap ada seseorang yang mengajakmu untuk berolahraga pagi. Berharap sepiring nasi dan secangkir teh hangat menyambutmu. Melampiaskan dahaga dan rasa lapar yang tersita semalaman. Namun, semua hanyanlah angan-angan belaka. Sekedar harapan. Tidak ada lagi seseorang yang membangunkanmu, tidak ada lagi seseorang yang mengajakmu berolahraga dan tidak ada lagi yang menyiapkan sarapan untukmu.
Di siang hari, kau menghela napas. Berharap ada seseorang yang ditunggu-tunggu kepulangannya. Menyambutmu dengan buah tangan kesukaanmu. Berharap seseorang menemanimu untuk bercanda ria bersama. Berharap ketika orang itu datang dapat menghapus rasa jenuh dan kebosananmu. Namun, semua hanyalah angan-angan belaka. Sekedar harapan. Tidak ada lagi seseorang yang akan kau tunggu, tidak ada lagi seseorang yang membawakanmu buah tangan dan tidak ada lagi seseorang yang menghiburmu.
Di malam hari, kau kembali menghela napas. Tak lagi berandai-andai tentang sosok yang tak lagi disampingmu. Kini kau benar-benar sadar bahwa keberadaannya sangatlah berpengaruh bagi hidupmu. Tanpanya, kau tak mampu berbuat apa-apa. Tak berdaya meratapi nasib yang telah salah kau pilih dulu. Penyesalan memang selalu datang di akhir.


Sesali wajahmu merenta, kisahmu terlupa. Sebelum kisahmu terlupakan olehku, di tempat itu kau berpaling dariku. Kau bersanding dengannya di tengah-tengah aku yang sedang bingung mencari kerja. Mencuri waktu secara diam-diam. Sungguh benar-benar lihai. Beberapa hari aku sempat terkecoh dan tak menyadari akan tingkah laku busukmu. Aku mungkin terlalu mempercayaimu dan kau memanfaatkan itu.
Kau mencari letak masa lalu yang lepasakanmu. Mencari letak di mana sisi-sisi kelemahanku berada, kemudian kau jadikan sebagai bumerang untukku. Kau mengaggap aku kurang memberikan perhatian. Kau mengaggap aku kurang peduli. Kau menganggap aku ini kaku. Kau menganggap aku ini payah. Bahkan, kau menganggap aku tidak memiliki masa depan. Menimpakkan semuanya padaku. Seolah-olah akulah yang menyebabkan semua ini terjadi.
Padahal, dulu aku selalu memperhatikanmu. Menunjukkan rasa peduliku dengan bangun lebih awal di pagi harinya. Aku benar-benar tak tega membangunkanmu. Aku takut mengganggu tidur nyenyakmu. Sebelum aku membangunkamu dengan lembut dan ramah, ada hal yang selalu aku lakukan. Berbelanja bahan-bahan masakan di tetangga sebelah. Aku olah bahan-bahan itu dan membuatkanmu sarapan lezat nan bergizi bersama secangkir teh hangat yang akan menyambut pagimu. Setelah kau terjaga dari tidurmu, aku mengajakmu untuk berolahraga. Meski terkadang kau susah membuka kelopak matamu untuk menyambut sang mentari.
Padahal, dulu aku selalu memperhatikanmu. Menunjukkan rasa peduliku dengan semangat mencari pekerjaan di luar sana. Ke barat dan ke timur akan aku lakukan, meski terkadang banyak ku terima penolakan-penolakan atas kurangnya sertifikat sarjana yang tak ku miliki. Bersusah payah mencari beberapa tumpukkan uang yang kemudian aku persembahkan untukmu. Hanya untukmu. Setelah aku pulang, aku memberikanmu kejutan dengan kue lapis kesukaanmu di tangan. Menghiburmu yang tengah bosan karena menungguku sejak pagi.
Padahal, dulu aku selalu memperhatikanmu. Menunjukkan rasa peduliku dengan menemanimu yang tengah asyik melihat sinetron. Meskipun terkadang kau meninggalkanku dalam tidur lelap demi lelap. Tak kuasa aku untuk menggugah mimpimu, jadi ku habiskan waktu selama kau tidur untuk bekerja. Bekerja dengan segenap komputer usang yang selalu ku buat untuk menerima jasa pengetikan orang-orang malas. Hingga saat lelah pun tiba, aku tertidur dengan sendirinya dihadapan komputerku.
Sungguh indahnya mengenang masa lalu. Kita dapat mengingat segala hal yang membuat kita bahagia. Namun, terkadang apa yang ada di masa lalu berbeda jauh dengan apa yang ada di masa depan. Di masa kini kau tlah melupakan semua yang aku berikan untukmu. Amnesia sementara, lupa akan segala kebaikanku. Kau hanya mengingat tentang segala kekurangan dan keburukanku. Semenjak kau putuskan untuk memilih dia dari pada aku.
Tepat di bulan januari, kau resmi pergi dariku. Kau benar-benar tlah melupakan ikrar yang pernah kita buat. Kau benar-benar tlah melupakan cincin yang pernah kita pasang di jari manis. Kau benar-benar tlah melupakan rumah tangga yang pernah kita bangun. Sungguh kau benar-benar melupakan semuanya hanya karena materi. Materi, materi dan materi.
 Setelah kepergianmu. Kau mulai menunjukkan rasa kebahagiaan itu padaku secara tak langsung. Memakai perhiasan serba mengkilat disekujur tubuhmu. Memakai pakaian serba mewah dengan segala asesorisnya. Memakan makanan lezat nan mahal setiap hari. Pergi ke tempat-tempat indah nan menjubkan di akhir pekan. Bersantai-santai bagai ratu paraoh mesir. Cukup berkata tentang apa yang kau minta, dengan sekejab hal itupun  terwujud. Kali ini kau sudah cukup membuatku takjub.
Semenjak kepergianmu, aku sempat terpuruk. Meratapi nasib yang telah aku alami. Aku bangkit. Hari demi hari, bulan demi bulan berusaha untuk bangkit dari kesendirian, sampai akhirnya hari itupun tiba. Hari di mana roda benar-benar perputar. Tuhan memang adil, punya cara-Nya sendiri untuk menunjukkan rasa cinta padaku. Mungkin waktu itu aku memang ada di bawah dan dia yang pergi dariku tidak sabar untuk berada di atas. Kini telah berbalik, dengan kegigihan dan kesabaranku, aku benar-benar merasakan nikmatnya berada di atas. Bekerja sebagai direktur disebuah perusahan kecil yang kini tlah berkembang maju.
Kita tengok sejenak nasibnya. Bagaimana keadaan dia yang sebelumnya mapan? Apakah tetap bermandikan kenikmatan surga! Oh, ternyata malah sebaliknya. Sepertinya hukum karma telah berlaku. Nasibnya tak seindah di awal. Lelaki yang ia pilih karena materi, kini mendapatkan pasangan baru. Perhatian dan materi yang kini ia dapat mulai terpecah. Malah, hampir-hampir dia sudah mengacuhkanmu. Dia lebih mencintai istri barunya. Kau sering dianggap hanyalah pelengkap dalam keluarga. Tidak ada artinya. Maklumlah, barang lama memang selalu kalah dan ketinggalan dengan barang baru yang lebih menawan.
Selama prosesi kau yang diacuhkan olehnya. Kau banyak menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Berkutat dengan kasur empukmu dan mimpi demi mimpi yang selalu meninabobokanmu. Kau persis seperti beruang, di masa sebelumnya kau menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang, di masa ini adalah masa hibernasimu. Entah kapan kau akan terbangun, namun julukan purtri paraoh yang sebelumnya melekat pada dirimu kini telah luntur. Para dayang dan pelayanmu telah berkhianat meninggalkanmu. Malang pula nasibmu wahai mantan putri paraoh.
Kau sadari semua yang berjalan telah tinggalkanmu dan tak dapat merangkai semua dekat dikhayalmu. Kau mulai menyusuri letak di mana kesalahanmu. Sehingga, saat kau dapati, hanya penyesalanlah yang tersisa. Kau yang di sana hanya tertidur dengan pulasnya sedangkan aku di sini berjalan jauh mengejar asa. Mengajar asa yang sebelumnya tertunda karena kau.
            Eksistensi adanya kebahagiaanku, dapat dilihat dari satu tahun setelah kepergiannya. Selain aku yang sudah mapan karena menjadi direktur, aku yang kini sudah mendapatkan penggantinya. Wanita yang benar-benar berbeda jauh dari dia. Dan lagi, aku dikaruniai buah hati yang melengkapi kebahagianku. Aku sangat bersyukur.
Sebaliknya, kau telah tertinggalkan oleh waktu. Kau harapkan keajaiban datang hadir dipundakmu. Kau harapkan keajaiban melengkapi khayalmu. Kau harapkan semuanya sesuai dengan keinginanmu. Kau terhenyak dan terbangunkan. Kau biarkan mimpi tetap mimpi yang melengkapi penderitaanmu. Hal itu terus berlanjut sampai akhirnya kau pun terbangun.
Kembali, tepat di bulan januari aku mendapatkan sebuah kejutan. Setahun setelah tragedi itu. Tiba-tiba Handphone-ku berdering, sepertinya ada pesan masuk.

“Apakah kau tidak merindukanku?” Dari seseorag yang baru saja terbangun dari tidur lelap demi lelap. 

Komentar

share!