Like You

Karya:  Yangechan

Suara hairdryer memenuhi kamar Nara, tangan kirinya dengan cekatan mengulung rambutnya dengan sisir sementara tangan kanannya mengiring hairdryer menyusuri rambut yang ada di sisir. Setelah beberapa menit rambut lurus Nara sudah tampak lebih bergelombang, ia merapihkan rambutnya sedikit lagi dengan jemari-jemarinya yang lentik berbalut warna dan motif-motif indah pada kukunya. Kemudian ia memperbaiki makeup di wajahnya yang menurut dia sudah menipis. Beberapa sapuan bedak dan polesan lipstik dilakukannya dengan luwes sampai ia merasa cukup. Nara kemudian berdiri dan mengeser kursi yang sedari tadi di dudukinya selama mempercantik diri. Kini ia menatap dirinya secara utuh di cermin, ia tersenyum pada pantulan dirinya dalam gaun malam berwarna hitam dari bahan brokat paris yang membentuk tubuhnya dengan sempurna hasil kerja keras diet dan olahraga selama setahun ini. Nara tampak sexy sekaligus anggun, gaunnya serasi dengan sepatu high heels sepuluh senti bertabur gliter dan clutch yang senada.
"perfect." Gumamnya seraya mengagumi dirinya sendiri selama beberapa menit.


Bertahun-tahun lalu menatap cermin seperti ini adalah momok yang menakutkan bagi dirinya. Nara tidak pernah sanggup melihat dirinya yang tidak akan pernah cukup dalam satu ukuran cermin rias normal, tubuhnya terlalu besar untuk dapat di tangkap dalam cermin ukuran lima puluh kali satu meter dihadapannya. Nara memperhatikan lehernya yang kini tampak jenjang dengan pipi tirus dan rahang menawan, bukan lagi kumpulan lemak yang hampir membuatnya seperti hewan tanpa leher yang namanya sering dipakai sebagai umpatan penghinaan. Dielusnya perut yang rata dan bukan lagi berisikan lipatan-lipatan menjijikan. Sekali lagi ia tersenyum menikmati hasil jerih payahnya selama setahun ini menyingkirkan empat puluh kilogram keburukan pada dirinya. Nara tidak akan lelah memandangi dirinya seharian sekarang, ia tidak perlu takut dan malu lagi pada benda yang disebut cermin.

Ponselnya menari-nari diatas nakas diiringi lagu beat milik salah satu boyband. Diraihnya ponsel tersebut dalam gengaman kemudian mengeser tanda hijau pada layar.
"Halo baby …" jawab Nara dengan nada yang dibuat secentil mungkin.
"Kita sudah diluar Ra, cepatlah!" suara Cecil yang nyaring membuat Nara menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Ok baby! I'll be there. Wait a minute." Nara langsung menutup sambungan telefonnya dengan Cecil, beriringan dengan langkah panjang menuju depan kos-kosannya.
"Wow! Kamu cantik banget sayang … semua pria-pria tampan di club nanti pasti akan rela berlutut buat menghabiskan malam tahun baru ini bersama kamu." Cecil memujinya dengan wajah ceria dan penuh antusias. Basa-basi. Nara sadar betul bahwa Cecil jauh lebih cantik dan mempesona daripada dirinya. Satu catatan penting, Cecil seperti itu sudah sedari lahir sementara dirinya harus berjuang mati-matian selama setahun untuk bisa seperti ini.
"Jangan berlebihan." Nara mengibaskan tangannya ketika ia sudah duduk disebelah Cecil. "Aku kesana bukan untuk mencari pria, tapi mencari kesenangan dibawah sinar kembang api." Nara tersenyum sinis.
Cecil tertawa seperti seorang ratu jahat. "Kamu masih saja terperangkap sama dia Ra. Please baby … move on dong! Dia sudah mau jadi suami orang juga."
Nara mendengus melirik sinis kearah Cecil yang masih tertawa. Haruskah dia kembali disebut dalam hidupnya kini? Lalu kenapa juga Cecil harus kembali mengingatkan Nara bahwa pria itu akan menjadi suami orang lain. So sialan.
***
Teriakan tidak jelas dan dentuman musik beradu menjadi satu kesatuan yang memekakan telinga, meskipun club yang Nara dan Cecil datangi adalah club out door yang berada di atap salah satu hotel tapi tidak mengurangi kebisingan yang ada. DJ yang diatas panggung mulai menghentikan musik dan menghitung mudur. Semua orang yang berada di lantai dansa seperti Cecil maupun yang duduk di bar seperti Nara beramai-ramai mengikuti sang DJ dengan mulai berhitung mundur.
10
Nara menghela nafas panjang, melihat Cecil yang sudah setengah teler mengibaskan tangannya ke udara bebas.
9
Tiba-tiba ada seorang pria yang begitu dikenalnya menembus keramaian dan menarik Cecil. Dia yang setengah sadar langsung menunjuk tepat kearah Nara setelah terlibat percakapan singkat.
8
Nara mengumpat dengan berbagai macam sumpah serapah. Kenapa juga Rama, sahabat masa kecilnya bisa ada disini sekarang. Seharusnya pria menyebalkan itu sedang bermain kejar-kejaran bersama gajah Afrika!
7
Rama melangkah dengan cepat. Nara langsung meraih clutchnya, melempar beberapa lembar uang keatas meja lalu beranjak pergi. Ia tidak siap menghadapi Rama sekarang, selama setahun  ini hubungan mereka sedang dalam masa kritis. Sejak Nara dicampakan oleh Yoga yang membenci wanita jelek dan gendut lalu Nara memutuskan berubah menjadi seperti sekarang, Rama marah besar. Rama bilang Nara bodoh. Tapi menurut Nara, sahabatnya itu lah yang bodoh.
6
"Nara!" Rama membentak dengan suara cukup keras, mengalahkan suara-suara lain yang tiba-tiba hilang begitu saja. Seketika dunia Nara menjadi senyap, hanya ada suara pria itu yang menjadi satu-satunya suara yang dapat didengar.
5
"Lepas!" Nara menghentakan tangannya yang dijegal Rama dalam cengkraman kuat. Rama bergeming, tenaga Nara tidak akan mampu mengalahkannya.
4
"Apa yang kamu lakukan disini?!" Nara bisa melihat wajah Rama lebih jelas sekarang, ada gurat kemarahan yang menyala dikedua bola matanya.
"Bukan urusanmu!" Didorongnya dada Rama yang kini semakin rapat kearahnya hendak memeluk.
3
"This is not you Ra! Wake up!" tangan Rama beralih dari lengan ke bahu Nara. Bahu Nara di guncang dengan cara paling kasar. Rama memang tidak pernah bisa bersikap lembut.
"Yeah ... This is me! New me!" Nara menyalak menatap mata coklat keemasan milik Rama. Pria itu mendengus lelah. Dia baru tiba hari ini dan tidak ingin bertengkar dengan Nara, tujuannya pulang untuk memperbaiki hubungan mereka. Hubungan tali persahabatan atau ... sesuatu yang Rama pendam dan tahan.
2
"You don't have to change a single thing." Lagi-lagi Rama mengulang kalimat itu pada Nara.
"Don't be a liar! Kamu pria normal dan kamu enggak akan suka aku yang dulu. Dulu aku mengerikan!! Jujur!! Do you like me before huh?" telunjuk Nara mengacung di depan dada Rama, kukunya yang tajam mulai menancap.
1
Rama mengucapkan sesuatu ketika suara kembang api bersahut-sahutan dan teriakan ratusan orang bersuka cita atas pergantian tahun. Mata Nara membuka lebar dan mulutnya sedikit terbuka, ini sulit diperccaya namun tetap saja pipinya merona. Ditengah kebisingan malam ini ia masih merasa dunianya sunyi dan suara Rama adalah satu-satunya bunyi yang bernyanyi di indra pendengrannya. Rama mengalunkan melodi dan syair paling indah diawal tahun.
"Look at this Ra." Rama menarik dompetnya dan membukanya di depan wajah Nara. Ditunjuknya sebuah foto yang terselip disana, foto beberapa tahun lalu yang sudah tampak sangat lusuh karena terlalu lama berada di dalam lapisan plastik dompet.
Nara menutup mulutnya, ia tidak percaya pada apa yang Rama katakan dan pada bukti foto yang pria itu tunjukan. Tapi senyuman tulus Rama yang semakin bersinar namun tampak sedih dibawah binar kembang api membuat Nara menatap pria itu.
"Kenapa ... Kenapa baru sekarang Ram." Pandangan mata mereka saling terkunci, Rama hendak menjawab pertanyaan Nara ketika tiba-tiba ledakan besar kembang api kembali terdengar. Mereka sontak menatap langit.

Kembang api seperti lambang kecantikan, keindahannya hanyalah sementara. Semuanya akan terbakar bara waktu dan hanya menyisakan kenangan saja. Tapi sebuah pribadi seperti langit, selalu luas dan bisa berubah-ubah kondisinya, namun tetap saja kita mencintai langit apapun keadaannya. Entah langit ketika senja atau langit ketika fajar. Entah langit ketika berawan dan berwarna cerah atau ketika langit gelap bertabur bintang. Like you. Langit itu seperti kamu dan kamu.

Komentar

share!