Lesung Pipi

Karya: Dini Hari

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Saat ini adalah Januari dan di luar sana sedang turun hujan. Rasanya mereka mengerti benar apa yang sedang kurasakan sekarang. Karena entah mengapa, di setiap tetesan hujan yang terdengar dari jendela bus kota mengingatkan aku pada suatu rindu. Aku tak tahu mengapa, aku merasa Januari adalah waktu yang melankolis. Dimana hujan adalah waktu miliyaran orang merasa jatuh cinta. Anehnya hanya aku yang paling tak berdaya pada rintik dan aromanya pada bunyi dan melankolinya. Aku merasa malam ini melihat lampu-lampu jalan itu dengan warna-warna yang baru, gerimis yang menyelinap mengurai cahaya jingga seolah-olah semuanya menjelma menjadi sketsa perasaan yang belum sempat terselesaikan. Sketsa itu kemudian memudar, terhapus oleh hujan yang turun disudut mataku. Semuanya terasa mesra tapi hampa! Seolah-olah aku merasa hanya dirikulah yang terpenjara oleh bayangan-bayangan dijalan-jalan yang menjadi puitis karena hujan.

Mungkin karena kemarin aku bertemu dengannya “Dek Sri”, sama halnya saat ini di hari hujan, kemarin kau masih dengan kedua lesung pipimu yang selalu terbit di pipi langsat yang makin hari makin memikat. Masih dengan kerlingan mata yang sama saat kita duduk berdua di tepi telaga. Kau terus saja menghujaniku dengan senyuman. Padahal kau tau aku paling tidak bisa berdaya jika kau suguhkan senyumu yang manis itu. Dek Sri, namamu selalu ku bisiki dalam tidurku, dalam mimpiku, setiap malam. Bahkan aku tak pernah lupa bagaimana rasanya kau peluk diriku dengan penuh manja. Untuk yang terakhir kalinya. Tidak terasa sudah tiga tahun lamanya kita menjalin cinta. Beribu peluk, beribu cium kita lalui. Tentu saja adik tau Mas bambang kelewat sayang dengan adik.

Tapi Dek sri, ada sesuatu yang menjerat kuat dalam hati ini. Memaksaku untuk mengumpat-umpat dan memaki pada diriku sendiri. Padahal seminggu lalu Mas telah datang kerumahmu bersama Simbok untuk memintamu bukan lagi jadi kekasihku. Tapi lebih dari itu, aku ingin meminangmu Dek Sri. Menepati janjiku untuk menjadikanmu istri sah sehidup semati.

Haha..Ya ya…aku tahu benar jawabnya sekarang. Apa alasanya kau tak menerima lamaranku seminggu lalu. Aku tahu..kau malah kabur dengan duda anak tiga pilihan ibumu! Apa dengan alasan “kaya” kau putuskan cinta kita begitu saja? Segila itukah pikiranmu menggadaikan dirimu dengan setumpuk harta, sebidang tanah dan warisan lain yang siap kau nikmati. Sedang kau mau-maunya duduk diam dalam pelukan si tua bangka itu. asal uang belanja setiap hari dipenuhi, gelang emas bisa rimbun bertengger di lengan kanan dan kiri. Juga bisa shoping setiap hari. atau agar kau bisa naik mobil Mercy saat kau ingin kesana dan kemari? Kau memang setan alas gak punya perasaan! Katakanlah Dek Sri! Kau jangan hanya diam. Apa benar yang kau mau seperti itu? heh? Apa? benar kau sekarang diam! 

Tapi aku tahu benar tentang dirimu. Mustahil jika aku tidak tahu tentang dirimu karena sudah tiga tahun kita bersama. Itu bukan waktu yang singkat untuk menjalin sebuah asmara! Tidak gampang! Aku tahu benar kau tak gila harta. Kau tak penting dengan serimbun warisan yang bisa bikin orang kesetanan. Kau tak seperti itu aku tahu.  Kau adalah wanita yang sederhana, rendah hati, dan teguh imanya. Lembut dan yang paling yang aku tahu adalah kau kekasihku yang menawan yang punya lesung di kedua pipinya dan itu yang paling ku suka. Bukan hanya aku simbok pun juga menyukaimu. Kau gadis lencir kuning yang ayu dan elok paras serta hatinya. Kau sempurna Dek sri. 

Ya sudah pasti, Sudah barang tentu ini muslihat dari ibumu, ibumu yang gila dan tak punya logika menggadaikan putri satu-satunya dengan dengan setumpuk harta! Kau perlu tau dek Sri bahwa ibumu itu sedang kerasukan setan, kerasukan iblis yang semua kenikmatan dunia dia doyan. Aku harus memberitahumu agar kau tahu itu dek. Agar kau bisa dengan segera melepas diri dari belenggu napsu ibumu dan lekas datang padaku.

Dek Sri mafkan mas Bambang yang sudah berburuk sangka. Aku sudah mengira bahwa kau sudah gila meninggalkan cinta kita dan datang ke pelukan tua bangka duda anak tiga demi setumpuk harta. Dek sri, Mas bambang tau itu ulah ibumu. Ibumu yang membuat hatiku hancur berhamburan keluar di jalan-jalan kayak jeroanya binatang!

Ahh sudah terlambat! Semua sudah tak berguna. Terlampau naïf angan-angan yang kurajut. Karena nyatanya lesung pipi itu yang selalu menggetarkan hatiku. Lesung pipi yang tiga tahun lalu itu milikku akan berpindah kuasa ketangan tremor si tua bangka yang bajiulnya sudah punya anak tuga tapi lagak seperti pemuda. Bajul memang si duda tua bangka itu. ingin sekali aku datang ke rumahnya utuk mencekiknya agar 

Ya yasudahlah. Lihat! Aku hanya bisa menangis seadanya sekuat tenaga ya sudahlah. Memang sudah terlanjur. Tak ada yang bisa di perbuat selain berdoa. Yah berdoa. Dengarkan Dek Sri Ayati. Doaku untuk besok di akad nikahmu semoga si duda di racun orang biar terus mampus! Semoga si duda diracun orang biar terus mampus! Ya semoga si duda diracun orang biar terus mampus! Hahaha biar mampuuus! Haha hahah ahaha…

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!