Kaleidoskop Lima Tahun Silam

Karya: Fatmahira

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Hari ini 16 Januari tahun 2016 aku membuat bulatan merah di kalender kecil yang sengaja aku simpan diatas meja dekat dengan laptopku, membuat bulatan merah adalah kebiasaan ku sejak Lima tahun silam.  Entah untuk apa, mungkin untuk sekedar menghabiskan tinta.

Perkenalkan aku adalah Pevita Dealenova, hari ini sedang di Paris, untuk apa ? untuk melanjutkan seri novel kedua yang berjudul Dealenova, tadinya aku ingin nulis novel ini di indonesia aja, tapi karena ingin mempertegas karakter tokoh, latar, serta alur jadi apa salahnya jika terbang langsung ke negri design ini, fokus utamanya ya ingin bersentuhan langsung dengan orang orang yang akan terlibat di dalam novel ini, enggak hanya orang sih tapi merasakan cuaca juga, aroma makanan khas paris juga , atau sekedar melihat lihat struktur bangunan di paris. Dengan mengamatinya langsung sepertinya aku bisa lebih all out di novel kedua ku ini. Dan novel dealenova aku ambil dari nama akhirku.

Pukul sepuluh malam, saat ini aku sedang duduk di suatu ruangan yang terkunci rapat di lantai 57 apartemen yang aku sewa bersama temanku Diana, di kota paris tentunya,  Diana adalah temanku yang sengaja aku ajak untuk menemaniku sampai seri novel kedua ini selesai, dan sekarang Diana sedang di ruang tivi entah apa yang sedang dia lakukan sepertinya sedang menggambar design baju terbarunya.


“Suasana seperti ini yang kuharapkan ketika menulis, dan Paris memang jagonya“ kataku sembari melanjutkan menulis.

Dealenova…

Paris 16 Januari 2016

“Aku pikir menggambar di paris lebih gampang ternyata rumit juga, aku pikir akan ada banyak inspirasi yang muncul disini, ternyata tidak, tapi pantang bagiku untuk menyerah”  Dealenova melirik jam, “sudah pukul sepuluh, dua jam lagi aku berusia 43 tahun, tidakkah terlalu tua untuk berkarya? tidak ? belum, aku masih harus menyelesaikan design ini karna besok adalah jawaban dari apa yang selama ini aku perjuangkan, malam ini juga harus selesai, jika tidak, biarlah ! akan ku belah otak ini!” gerutunya dalam hati

Tulisku dalam Miscrosoft word lembar ke 27 novel Dealenova

TUK TEK TUK TEK TUK TEK…Suara keyboard yang didominasi oleh tombol delete sangat menggangguku, menulis lalu aku delete menulis lagi, lalu aku delete lagi, padahal sangat ingin menyelesaikan sedikitnya satu lembar, ah tidak setidaknya satu paragraf ah tidak sedikitnya satu kalimat saja untuk mengungkapkan emosi Dealenova di umurnya 43 tahun, tapi naas aku kena writer block tidak bisa menulis satu kalimat pun, dinding pemagar imajinasi datang menyerang daya hayal otak ini dan sepertinya menyuruhku untuk tidak maju sejenak, beristirahat disini menikmati gemerlapnya kota Paris dengan pusat pandangan menara eiffel. Lalu aku merekatkan syal, mengangkat badan yang sejak tadi duduk selama tiga jam, membiarkan musik di laptop menyala dengan lagu photograph dari Ed Sheeran, memasukan tangan ke saku sembari memandang gemerlapnya kota paris.

“Sepertinya inspirasi mulai datang lagi” sembari duduk lagi di atas kursi, saat ingin melanjutkan tulisan mataku malah tertuju pada icon web browser Mozilla firefox aku klik dan mengetik di bagian search engine dengan keyword facebook lalu aku log in, tidak hampir 1 menit lambang loading agaknya enggan berlama lama memutarkan lingkaran kekuasaanya, langsung menampilkan display facebook, aku melihat angka merah di notifikasi ada sekitar 57 notifikasi  40 massage dan 80 permintaan pertemanan, maklum karna dua bulan tidak sempat kubuka ini facebook jadi notifikasinya sangat banyak. Lalu aku geser scroll down barangkali ada teman teman  yang dari masa lalu numpang lewat di branda, setelah memutar 2 kali mouse aku melihat Foto yang di unggah Riska Nadya Atmajaya dia adalah temanku, dia terlihat bahagia bersama suami dan anaknya. Syukurlah.

Aku geser lagi scroll down ada sebuah unggahan foto yang menandai Abyan Reynand, sepertinya aku kenal siapa dia ? Tapi siapa? Aku berusaha mengingatnya aku merasa begitu dekat dengannya menggerak gerakan pemutar mouse di foto itu, sembari mengkerutkan kening, tertulis Arsyila Taged with Abyan Reynand 3 days ago,  foto mereka yang disatukan menggunakan collage ada yang sedang memasangkan cincin di masing-masing  jari, lalu di collage terakhir mereka memamerkan tangan yang sudah terlingkari cincin perak sembari senyum manis melihat kamera. Terlihat kebahagaiaan terpancar dar foto ini meskipun tak ada caption yang menjelaskannya.

Abyan reynand aku terus mengingat ngingat namanya barangkali ada hubungan dengan dia di masa lalu, tapi hubungan seperti apa? Lalu aku klik profil facebook ku dan melihat kiriman yang dulu dengan scroll down barangkali ini bisa membantu untuk mengingat siapa dia dan apa hubunganku dengan dia, sampai sampai aku penasaran. “Aku menemukannya”  aku kaget ada foto dan video aku dengan dia, tangan dia memeluk pundakku, kami tersenyum dengan baju yang penuh coretan tanda tangan dan pilox, sekarang aku tahu setelah melihat video hari kelulusan, Dia adalah kekasihku lima tahun silam, di akhir video dia sempat berkata “Janjiku pada mu Pev, lima tahun dari sekarang” “Abyaaaaaaan” aku teriak begitu keras, sekarang aku betul betul ingat dia, tapi aku tidak ingat apa makna dari ucapannya itu? “Apa aku benar benar amnesia akan Abyan?”  kataku, tubuhku gemetar, badanku terasa panas, semakin berusaha mengingatnya, semakin kepala ku terasa sakit, aku pun menyerah dan membiarkan air mata yang selanjutnya bekerja.

Tangisanku ternyata membangunkan Diana yang sejak dari jam sepuluh tadi di ruang tivi, dan aku tidak sadar ini sudah jam tiga subuh, Diana menggedor gedor pintu mungkin dia khawatir mendengar tangisanku,

“Pev, buka pintunya Pev, kamu kenapa ? apa yang terjadi?” Aku malah menangis menjadi jadi, suara musik dari Ed Sheeran yang berjudul photograph pun aku naikan volumenya agar tangisanku melebur dengan irama musik, tapi aku tau Diana, dia akan melakukan berbagai macam cara untuk menghapus air mataku Diana memang teman yang selalu memperhatikanku melebihi dirinya sendiri.

“Pev? BUKA PINTUNYA!” teriakan dia lebih keras dari musik, dan tak lama kemudia pintu berhasil ia buka entah dengan apa, padahal pintu sejak dari tadi aku kunci, mungkin dia membukanya dengan obeng.

Ketika dia berhasil membuka pintu, Diana kaget melihat aku sedang menangis menunduk di kursi menghadap layar monitor, Diana agaknya semakin kebingungan mencari alasan kenapa aku bisa menangis, padahal tidak ada tanda tanda yang menyeramkan di ruanganku ini, lalu dia mendekati mejaku dan melihat foto Abyan Reynand yang sudah bertunangan dengan Arsyilla, “Biyan?” tanpa aku jelaskan Diana pasti mengerti, bagaimana hubunganku bersama Biyan Lima tahun silam.

Hello from the outside at least I can say that I’ve tried to tell you I’m sorry for breaking your heart but it don’t matter it clearly doesn’t tear you apart anymore

Hello can you hear me ? I’m in California dreaming about who we used to be, when we were younger and free, I’ve forgotten how it felt before the world fell at our feet, mendengar suara adele dari laptop, tangisanku malah mencapai puncaknya, buku d iatas meja aku lempar, dan

Diana hanya bisa tertegun melihat sikapku, Diana tahu persis bagaimana kecelakaan lima tahun silam menghilangkan daya ingatanku, dan malam ini ada kenangan yang tidak ingin aku tinggalkan dari masa lalu. Abyan Reynand

Diana tak bicara sepatah katapun, dia hanya memelukku dengan erat, membiarkanku menangis sejadi jadinya.

Kaleidoskop Lima Tahun Silam

Terimkasih telah mengingatkanku

Maaf aku tidak berusaha keras mengingatmu lebih awal

Tapi ku tahu

Kau selalu punya cara untuk mengingatkanku padamu..

Abyan Reynand..

Komentar

share!