Kado Sang Januari

Karya: Romlah Safitri



Dari malam kembali ke malam. Berkali-kali bahkan berhari-hari hal itu terus terjadi, bagai roda berputar dari atas kembali ke atas. Kehidupan juga berputar seperti janji-Nya. Jakfar ‘Sang Penatap Langit’ berhasil menangkap kalimat itu dalam kepalanya. Saat melihat sekelompok muda-mudi dalam jumlah yang tak terlalu banyak sedang melintas di depannya, lalu duduk sumringah dengan tangan-tangan penuh permainan. Dalam kehidupannya dulu, ia suka melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Tapi sekarang ia harus berdiri bersama para pelayan kafe mengantar piring dan gelas ke sudut-sudut ruangan.

Sepulangnya bekerja Jakfar melihat ke jendela kamar, tampak seorang wanita keluar dari rumahnya. Meski terasa lelah ia segera bergegas meninggalkan rumah, mengunci gerbang, dan mulai berlari pelan untuk mencari jejak wanita yang baru saja keluar dari rumahnya. Ia menemukan wanita itu sedang berjalan pelan dengan kepala menunduk menepi ke arah Kedai Kopi. Jakfar pun menghentikan langkahnya. Seakan tak ingin mengganggu dan hanya memandang dari kejauhan.
Tubuh Jakfar mulai gemetar karena dinginnya udara malam. Jalanan pun berangsur-angsur sepi dan sunyi. Tak lama wanita itu pergi meninggalkan Kedai Kopi sambil menangis. Jakfar berlari mengejar wanita itu. “Tunggu,” teriaknya. Sementara wanita itu terus berlari menyusuri trotoar sampai akhirnya tiba di sebuah taman yang indah. Wanita itu berbalik arah. “Ibu!” kata Jakfar kaget. “Ibu mau kemana?” Wanita itu hanya menatap dengan tatapan kosong. “Ibu dari mana saja? Malam ini aku tak punya teman. Temani aku jalan-jalan ya bu. Aku ingin ibu selalu ada disampingku. Ibu jangan kemana-mana lagi ya. ” Wanita itu masih menatap diam dirinya. “Atau kita pulang saja yuk! Cuacanya semakin dingin.” ajaknya. Tiba-tiba wanita itu berlari ke tengah jalan raya. Jakfar mengikutinya, sementara dari arah kanan terpancar lampu mobil besar yang melaju kencang. 

“Tidaaaaaaaaaak… “

“Kriiiiiiiiiiiing” Jakfar terbangun dari tidurnya dan mencari jam weker. Ia pikir suara itu raungan si weker, ternyata alarm handpone menunjukkan bahwa pada tanggal 20 Januari 2016 tepat pukul 12.01 adalah hari ulang tahunnya yang ke-17. Ia melihat ke sekitar ruangan dan ke luar jendela kamar, langit diluar masih tampak hitam. “Ternyata Cuma mimpi.” gumamnya. Jakfar bangkit duduk di atas ranjang. Mungkin aku terlalu lelah dan merindukan ibu, pikirnya. Lalu keluar kamar menuju kamar yang lain. Ia tak mendengar suara apapun, juga tak terlihat penghuni lain selain dirinya di rumah itu. Suasana sepi telah menjadi temannya di hari-hari setelah ibunya pergi akibat tak kuat menahan kanker serviks pada tanggal 10 Januari kemarin. Sedang ayahnya sudah lebih dulu pergi akibat gagal ginjal sepuluh tahun lalu. Ia hanya anak tunggal yang jauh dari sanak famili, sehingga membuatnya harus sekolah sambil bekerja untuk membeli beberapa kebutuhan meski terkadang ada yang memberi beras, uang, dan lainnya.


Jakfar mendekat ke sebuah ruangan dan duduk sambil menuang air dari ceret ke gelas yang tersedia di atas meja. Seketika ia diam seraya menyeret bola matanya ke sebelah kiri. Ia teringat ibunya yang selalu menemaninya waktu makan. Seretan bola mata itu berpindah arah ke ruangan televisi. Disanalah letak beribu warna, terkadang ibu menonton ceramah riang Mama Dedeh sambil menyulam ornamen-ornamen manik di pinggiran helai jilbabnya. Terka dang aku rebahan di pundaknya saat bersama-sama menonton acara kesukaan ‘Opera van Java’. Batinnya seolah tak pernah lepas dari ingatan bersama sang ibu.

Kemudian Jakfar meninggalkan ruangan itu. Ia berwudhu dan langsung menjamah sarung dan kopiah. Mengampar sajadah berniat sholat tahajud. Setelah itu mengaji mendo’akan ibu serta ayahnya agar bahagia hidup di alam yang indah pemberian Allah SWT. Ia terus mengaji sampai tiba waktu subuh. Selesai sholat subuh, Jakfar harus mencuci baju secara manual. Setelah ini ia menyapu lantai. Kemudian memasukkan beras ke dalam ricecook agar pulang sekolah nanti ia bisa langsung makan. Baru ia bisa mandi dan menyetrika seragam sekolahnya.

Mendadak, terdengar suara klakson motor dari luar rumah. Pasti itu teman yang akan menjemputku berangkat sekolah. “Ya. Tunggu bentar,” teriaknya. Lima menit Jakfar pun keluar rumah, mengunci pintu dan gerbang, serta naik ke atas motor duduk di belakang temannya sambil mengucapkan salam meninggalkan rumah.

Beberapa meter berjalan, di atas motor Badi (teman Jakfar) berkata, “Sekarang tanggal 20.” “Mungkin,” balas Jakfar. “Aku bukan nanya, tapi ngasi tau.” “Kalo kamu ngasi tau, yang nanya siapa?” tanya Jakfar. Seakan tak mau basa-basi lagi Badi pun mengungkapkan maksud dari perkataannya, “Ulang tahunmu hari ini kan? Wah.. berarti nanti ada yang traktir aku makan ni!” 

“Masa’ sih.. tau dari mana kamu kalo aku ulang tahun?” Jakfar kembali bertanya kebingungan karena Badi hanya teman antar-jemput sekolah, bukan teman satu kelas yang mencatat tanggal lahirnya di kertas data diri siswa. Dengan polos Badi menjawab “Kata Reza anak XI IPA-2, tadi dia bawa tepung.”

Wah… tampaknya teman-teman sekelas merencanakan sesuatu hari ini. Pikirnya saat mendengar jawaban Badi. Dengan senyum Jakfar mengajak Badi untuk makan bersama di kafe tempatnya bekerja. “Ah.. Tadi tuh aku cuma bercanda, bro..” Badi menolak ajakan Jakfar. “Gak apa. Kamu gak pernah mau terima sumbangan dariku sebagai ongkos bensin antar-jemput. Kalo sekarang tolong diterima ya ajakanku!” “Aku tuh ikhlas antar-jemput kamu, lagian rumahmu ke sekolah kan searah” tegas Badi. “Ya aku tau.. Tapi kali ini aku mohon terima ajakanku, sekali-kalilah kita ngumpul sambil makan.” Melihat wajah Jakfar yang serius, Badi meng-iyakan ajakan itu.

“Awaaaaas…!” Tiba-tiba Jakfar melihat seorang wanita (sekitar umur 40-an) dan anak kecil (sekitar umur 5-6 tahun) tersungkur ke tengah jalan raya karena terserempet motor lain. Namun motor itu lari begitu saja. “Woi tanggung jawab dong..” teriak Jakfar, sementara penyerempet itu melaju kencang. Jakfar segera turun dari motor temannya mempercepat langkah  menyeret ibu dan anak, serta motornya menepi ke pinggir jalan. Beruntung saat itu tak ada kendaraan lain yang melintas sehingga ibu dan anak itu selamat. “Far, udah jam 7 kurang 5 menit nih, ntar kita telat,” kata Badi. “Kamu lihat gak ada orang butuh pertolongan?” tanya Jakfar ketus. “Aku cuma ngasi tau, Far. Lagian udah kali bantunya, kan ibu dan anak itu gak kenapa-napa juga,” jawab Badi tetap di atas motornya. “Makanya turun, lihat pake matamu kalo kepala ibu ini berdarah,” kata Jakfar seolah tak terima temannya berkata seperti itu. “Kalo kamu takut telat silahkan berangkat sendiri ke sekolah!” “Terus kamu gimana?” tanya Badi. “Gak usah mikirin aku, pikirin aja supaya kamu gak telat nyampe sekolah.” Badi pun berangkat meninggalkan Jakfar.

“Ibu gak apa-apa?” tanya Jakfar kepada wanita itu yang masih setengah sadar. Tapi wanita itu seakan berat untuk menjawab. Sementara anak wanita itu terus menangis sehingga orang-orang yang melintas ikut berhenti, hanya melihat, dan sekedar bertanya. “Ibu dari mana-mau kemana? Apa ada keluarga yang bisa dihubungi?” tanya sebagian orang yang berhenti. Tapi tetap saja wanita itu tak menjawab. Yang terdengar hanya dengusan nafas seperti sesak. Jakfar mencoba menghentikan beberapa mobil yang melintas karena berharap pertolongan membawa wanita itu ke rumah sakit. Masa’iya pake motor? pikir Jakfar kebingungan. Karena ia rasa ini sudah darurat, tak ada orang yang mau menolong, melihat kesekitar yang ada hanya orang sedang asyik ngobrol sendiri. “Kita ke puskesmas saja bu, biar lebih dekat. Saya yang nyetir motor ibu untuk kesana. Apa ibu masih bisa kuat duduk diatas motor?” tanya Jakfar tergesa-gesa. Wanita itu menganggukkan kepala.
Jakfar pun segera membangunkan wanita itu untuk duduk di atas motor. Lalu Jakfar duduk di depan dan menyeret tangan anak kecil yang menangis tadi untuk ikut duduk di depannya. “Kenapa gak nelpon ambulan saja?” tanya sebagian orang yang hanya melihat itu. “Ah.. kalian cuma ngomong doang,” jawab Jakfar ketus sambil mengikat tangan wanita itu ke depan perutnya dengan tali seadanya yang ia temukan. “Maaf ya bu, saya hanya takut ibu gak kuat. Mudah-mudahan Allah memberikan ibu kekuatan.” Dengan mengucap bismillah Jakfar berangkat menuju puskesmas.
Tiba di puskesmas, Jakfar menjatuhkan diri karena tak kuat menahan beratnya tubuh wanita itu yang sedang pingsan. “Tolong dokter,” kata seseorang yang melihat mereka. Kemudian banyak orang dari dalam berhamburan keluar menolong Jakfar. “Kenapa mas?” tanya sebagian orang. “Mungkin wanita dibelakang saya sedang pingsan. Kepalanya berdarah akibat jatuh diserempet orang, tadi.” jawab Jakfar sambil membuka ikatan tali dari tangan wanita itu. Wanita itu dan anaknya pun segera dibawa ke dalam puskesmas oleh para perawat.

Jakfar menghubungi wali kelasnya untuk meminta izin. Tapi wali kelasnya berkata sudah mengetahui dari Badi tentang apa yang sedang ia lakukan. Jakfar segera menghubungi Badi untuk meminta maaf atas kata-katanya yang kasar. “Aku merasa kamu gak salah apa-apa padaku, justru aku yang salah karena takut dihukum atas keterlambatan sampai sekolah!” kata Badi. “Makasih ya.. Kamu kembali belajar aja, maaf aku dah ganggu.” Badi pun menutup telfonnya.

Jakfar kembali menghampiri wanita yang ia tolong tadi. “Terimakasih banyak nak,  kamu mati-matian nolong ibu,” kata wanita itu dengan air mata basah dipipinya. “Ah.. sudah seharusnya kita saling menolong orang, lagian saya melihat anak ibu. Sungguh berat hidup tanpa seorang ibu, apalagi anak ibu masih terlalu dini untuk merasakan hal itu,” sahut Jakfar. Wanita itu memeluk erat anak gadisnya, tersenyum dengan cucuran air mata.

Ya Allah terima kasih atas kado-Mu. Melihat kebahagiaan mereka itu lebih dari sekedar hadiah. Januari yang kelabu tapi indah yang Kau berikan. Batin Jakfar seakan ikut tersenyum. Namun tak ada kata yang bisa mematikan api rindunya terhadap sang ibu. Memandangi kebahagiaan itu, untuk sesaat rasa sepinya hilang. 

Komentar

  1. Terima kasih ibu, kau sudah membesarkan aku. Dan terima kasih kakak yang sudah merawat aku. 😂

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!