Januari Saksi Mimpi

Karya: Daura Umai


Judul lagu : Mimpi – Anggun, Bintang Kecil, Love You Kamu – BLINK, 11 Januari – GIGI, Pelangi dan Mimpi – CJR, OST Power Ranger, Angka Satu, Cinta – Krisdayanti feat Melly G, Kisah Kasih di Sekolah – Crisye, Dia Milku – Yovie n Nuno, Ngaca Dulu Deh – CJR, Dia Dia Dia – Fatin S, Menghitung Hari, OMG – BLINK, Sakitnya tuh disini – Cita-citata, Laskar Pelangi – Nidji, Lebih Baik – CJR.


            Detik baru, hari baru,bulan baru dan tahun baru 2016. Menjadi saksi kita untuk memulai hidup lebih berarti. Lantas bagaimana ditahun sebelumnya? Apakah hidup kita tidak berarti? Hujatan orang, cacian orang, apakah itu membuat kita semakin kecil? Kita bersama-sama ingin melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi. Membuat tekad untuk menggenggam cita-cita yang berada bersama bintang kecil dilangit yang biru.

            Ya, inilah kita. Lima remaja kelas 2 aliyah/SMA ini yang mempunyai cita-cita diatas langit. Aku, Dian, Kia, Dila, dan Sida kami sekolah dilingkungan pesantren. Di pesantren kami, hanya ada satu jurusan yakni jurusan IPS. Tanpa disadari, kita sama-sama suka love you kamu ilmu Astronomi. Beda jurusan ini bukan menjadi tembok yang menghalangi kami untuk melangkah jauh dan menjadi sang astronom. “Walau tidak mudah, tapi kita bisa pasti ada jalan tuk para pemimpi kayak kita gini” ujar Dila menyemangati.


            
Dibulan ini, ya bulan apalagi kalau bukan bulan Januari yang menciptakan diriku memiliki jiwa semangat untuk berubah dari tahun sebelumnya. Bukan berubah kayak Power Rangers lho.. go..go.. Power Rangers. Pekerjaan anak pesantren emang apaansih? Masak-masak sendiri, makan-makan sendiri, cuci baju sendiri. Yang lebih jelasnya kita banyak kegiatan seperti mengaji, bimbingan baca kitab dan lainnya.

            Menatap jalan yang menjauh, tentukan arah yang kumau terhadap lingkungan yang super ketat. Pada 15 Januari 2016 pukul 13:00 WIB, kami mendapat kesempatan untuk memasuki ruangan perpustakaan sekolah. Disana banyak kitab-kitab yang berbaris didinding menatapku curiga seakan penuh tanya, mau baca yang mana? Kitab ilmu Falak jawabku.


            Kitab ini menjadi favorit kita, karena berisi ilmu astronomi dalam segi Islam. Hampir terjadi perebutan antara Kia dan Dian.

“ Udahlah Di.. aku duluan ya?” tanya Kia.

“Dia miliku bukan milikmu dia untukku bukan untukmu” jawab Dian sambil mengambil kitab.

“Hadeuh.. plis deh ya, bisa ga sih kalian tuh ga usah ngeributin kitab itu! Ngaca dulu deh, kalian anak pesantren ga mungkin bisa jadi astronom” celetuk Karisa, anak yang paling banyak gaya.

“Udah deh dari pada panjang urusannya, mending kita baca kitabnya bersama-sama” bijak Dila.

            Lembar-lembar indah akan ilmu yang tertata rapih didalamnya. Keterkejutan kita setiap kali menyentuhnya untuk membuka tiap lembarannya. Pada saat aku membuka lembaran yang ketiga, didalamnya terdapat gambar lingkaran besar seperti planet dengan bacaan Asy’ur. “Asy’ur?” spontan bersama-sama kita ucapkan. Tiba-tiba penglihatan kita berwana hitam kemudian putih menjadi hitam putih hidup ini.

            Tak perlu panjang waktu, nampak jelas kembali penglihatan kita. Kita berada disebuah gedung yang sangat tinggi yang semua orang didalamnya tampak sibuk sekali. Ini terlihat bukan seperti di Indonesia, melainkan di… “NASA, yaa itu lambang NASA kita berada di Amerika?” kaget Kia yang melihat lambang NASA didepan gedung tinggi itu. NASA adalah lembaga milik pemerintah AS yang bertanggungjawab atas program luar angkasa. Terpesona ku pada pandangan pertama melihat banyak komputer canggih yang berada didinding setiap ruangan gedungnya.

            Datanglah satu orang yang menghampiri kita. Sepertinya ia adalah pekerja ditempat itu. Ia menanyakan perjalanan kita untuk sampai digedung NASA. Tampak seolah-olah mereka sangat menghormati kita. Kemudian kita disuruh mengganti pakaian kita dengan baju seragam NASA. Lalu kita digiring menuju sebuah ruangan yang dimana tempat itu seperti ruang kerja para astronot.

            Orang yang menemui kita pada saat itu bernama Thomas. Lalu Thomas menemui kerabat kerjannya yang bernama Squat. Tak sengaja Sida mendengar apa yang mereka perbincangkan. Ternyata mereka berfikir kalau kita adalah tamu astronot yang diundang oleh pimpinan NASA untuk melakukan misi luar angkasa besok lusa.

            Menghitung hari, detik demi detik, menunggu itukan menjenuhkan. Tiba saatnya pemberangkatan untuk menjalankan misi luar angkasa setelah kami memperoleh banyak rencana yang diberikan oleh pimpinan NASA. Misi yang kita jalankan ialah untuk merakit alat/sistem pendeteksi pergerakan bumi di luar angkasa.

            3…2…1… GO! Roket pun sudah mengeluarkan apinya. Kita yang memakai lengkap baju astronot dan lainnya harus siap memulai penjelajahan dilangit sana. Yang kita rasakan adalah deg-degan jantung ini. Perjalanan menuju Stasiun Luar Angkasa cukup jauh dan dengan waktu yang lama bagi kita sang pemula. Tetapi kita harus percaya diri untuk menjalankan misi ini.

            Telah tiba kami di Stasiun Luar Angkasa. Badan terasa melayang-layang. Tanpa bicara karena tidak mungkin bicara menggunakan helm maka kami menggunakan isyarat untuk memulai misinya. Langsung kita menjalankannya. Dila memasang bagian belakang sistemnya. Sida memasang bagian kanan dan kiri sistemnya. Dian memasang bagian depan sistemnya. Kia memasang bagian bawah sistemnya. Dan pada saat aku ingin memasang bagian kepala sistemnya, tiba-tiba ada benda langit yang menghantamku dan bagian kepala sistem tersebut. Sehingga aku terpental jauh dari Stasiun Luar Angkasa.

            Sakitnya tuh disini, dibagian wajah. Karena benda itu menghantam helmku sehingga hidungku patah dan banyak darah. Semua temanku mencari dan membantuku. Untung saja, ada pengaman yang terikat dibagian belakang Stasiun Luar Angkasa ke bajuku. Sehingga aku masih bisa terselamatkan. Karena helmku pecah aku kehabisan oxygen yang mengakibatkan aku tidak bisa bernafas. Lalu aku dibawa kedalam Stasiun Luar Angkasa untuk diobati kemudian diperban dibagian hidung.

“Teman-teman maafkan aku, gara-gara aku kita ga bisa sempurna menjalankan misi ini” ucapku.

“Ini bukan salahmu, ini memang ujian bagi kita” ujar Dian.

“Kita harus menjalankan misi ini setelah Ayfi sudah lebih baik” ajak Kia.

“Aku bisa disini, tinggalkan aku saja kalian harus tetap memasang kepala sistem itu” ucapku.

            Mereka meninggalkanku diruang Stasiun Luar Angkasa. Kemudian mereka melanjutkan misi untuk merakit kembali kepala sistem yang rusak itu sehingga dapat dipasang kembali. Setelah beberapa menit, ada suara terdengar dibajuku memanggil namaku dan aku mendapat kabar dari Dila bahwa mereka telah berhasil memasang seluruh bagian sistem pendeteksi  pergerakan bumi. Sehingga sistem tersebut dapat tersambung ke Stasiun Luar Angkasa.

            Tiba-tiba terdengar bunyi tanda sirene dari roket kita. Dengan segera aku datang ke roket walau aku sedang merasakan sakit dihidungku. Ternyata roket kita kehabisan bahan bakar. Lantas jika ini terjadi pertanda bahwa kita tidak bisa kembali kebumi. Langsung aku kabarkan kepada teman-temanku untuk kembali ke roket. “Bahan bakar ini bisa terisi kembali jika kita tunggu beberapa jam lagi” ucap Dian.

            Suara-suara hantaman keras terdengar dari sebelah utara roket kami. Pertanda buruk bahwasannya akan terjadi hujan meteor. Tidak mungkin kami pergi menuju bumi sedang bahan bakar roket baru terisi 20%. Namun mau bagaimana lagi, kita nekat kembali kebumi. Perjalanan menuju bumi pun dimulai.

            Pada saat roket berada diketinggian 50.000 kaki diatas laut, tiba-tiba roket kami oleng. Karena habisnya bahan bakar. Kita semua berusaha kembali mengendalikan roket. Tetapi, roket kita pun terjatuh kedalam laut. Seluruh badan roket pun hancur dan baju kita pun basah terkena air. Pada saat kita membukakan mata, ternyata kami didalam perpustakaan sekolah. Ketua pengurus pesantren mengguyur kita dengan air. Sehingga baju kita basah dan terbangun dari tidur. Kita langsung disuruh mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Ashar berjama’ah. “Ayfi, hidungmu tidak apa?” tanya Sida. Kita semua pun tertawa dan mengatakan “ini baru mimpi”.


            Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia. Semuanya berawal dari mimpi. Bulan Januari pun menjadi saksi awal perjalanan mimpi kita. Tidak ada kata yang dapat ku ucap saat kau pergi bulan Januari. You’re Our Best Friend.

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!