JANUARI PENGHABISAN

Karya: Derry Saba




Di depan rumahnya kau masih menunggu hujan yang dijatuhkan langit Januari reda. Sesungguhnya kau sudah mulai gelisah sejak senja mulai merosot, ketika langit masih mendung, dan hujan masih seperti butir-butir embun. Kau dihantui pikiran-pikiranmu yang kau sendiri belum yakin kebenarannya. Lalu kau belajar memaki diri sendiri, entah untuk alasan apa. Kau tahu, ini semua tak pernah kau inginkan untuk terjadi. Dan ketika semuanya sudah sungguh-sungguh terjadi, kau tak tahu harus menyalahkan siapa. Kesetiaan yang kau pelajari dari setiap kesakitan, kini hampir tak ada bedanya dengan sebuah kebodohan. Maka kau bingung; kau terlalu bodoh untuk menjadi lelaki setia, ataukah kesetiaan menjadikanmu bodoh. Dan tak seorangpun peduli pada kebingunganmu itu. Kau lalu memilih untuk diam, seperti Januari yang membunuh Desember dalam diam.
Kau terdiam sementara hujan sudah berhenti menjatuhkan dirinya. Dan kau masih di depan rumahnya. Ini adalah untuk yang kesekian kalinya kau ditemani sepi. Dan malam yang pekat menyublim ke dalam hatimu. Gelisah di hatimu meninggi. Sementara itu, dari dalam rumah, angin membawa ke telingamu suara desah nafas yang sedang beradu. Sesekali bunyi derit ranjang tertangkap kupingmu juga. Dan sesaat kemudian kau bisa mendengar erangan kenikmatan yang gagal mereka tahan dari mulut mereka. Di saat-saat seperti inilah, kau selalu merasa luka di hatimu yang gelisah, kembali berdarah. Dan selalu kau akan kembali ke ritual rutinmu: diam!


Lalu tiba-tiba diammu terusik ketika pintu di sebelahmu berderit sedikit akibat sebuah tangan mendorongnya. Seorang pria keluar. Dahinya basah oleh keringat. Pakaiannya sedikit berantakan, bahkan beberapa kancing di kamejanya belum terpasang sehingga dadanya terlihat jelas. Ia memberimu sebuah senyum. Dan kau sulit membahasakan senyuman itu. Kemudian ia pun berlalu ditelan gelap sebelum kau balas tersenyum padanya. Selepas perginya, Sophie muncul dari dalam rumah. Tak bedanya dari lelaki tadi, rambut Sophie pun berantakan. Ada beberapa noda merah di lehernya, seperti bekas gigitan. Ini bukan hal asing bagimu. Sudah terlalu sering kau mendapatinya seperti ini. Bahkan sudah beberapa kali kau pergoki dia sedang dalam pelukan lelaki tanpa busana di atas ranjang kamarnya. Dan setiap kali seperti itu, hatimu terasa amat sakit. Sakit sekali. Namun kau takluk pada matanya. Matanya selalu melemahkanmu sebab bagimu, sejak awal kau benar-benar menemukan cinta di dalam matanya itu. Juga seperti saat ini, cinta itu belum hilang dari matanya.
“Sudah lama di sini?” ia bertanya padamu.
Kau mengangguk. Hanya itu satu-satunya gestikulasi yang mampu dihasilkan tubuhmu. Bibirmu seakan ditinggalkan kata-kata. Kau membisu.
“Kau lihat semuanya?” sekali lagi ia bertanya.
Tak ada jawaban darimu. Kau tahu, menjawab pertanyaan itu sama seperti mencungkil lagi luka di hatimu. Maka kalian membisu. Entah kapan kalian sepakat untuk suka pada kesepian. Dan saat-saat seperti inilah kau selalu ingin memaki dirimu sendiri. Kau akan dihujani pikiran-pikiran yang aneh, yang selalu saja tak dapat kau jawab. Lalu lagi-lagi kau akan kembali pada ritual lamamu: diam!
Tapi tidak untuk hari ini. Kau merasa sudah saatnya kau harus bicara. Kau sudah terlalu lama diam, dan ternyata diammu tak menjawabi persoalan. Kau pikir diammu adalah jawaban. Namun tidak pernah ada. Kalaupun ada jawaban, selalu jawabannya adalah TIDAK ADA JAWABAN. 
“Kau hamil?” tanyamu dengan nada rendah.
“Tidak!”
“Yakin?”
Ia mengangguk.
“Benih yang dibuang di luar tidak bisa membuahi ‘kan?” ia balas bertanya.
“Tidak takut hamil?” sekali lagi kau bertanya. Kali ini nada bicaramu melemah.
“Takut!”
“Lalu?”
“Entahlah! Aku selalu ingin melakukannya dengan Louise,” jawabnya tenang.
Kalian diam lagi. Matanya menatapmu amat tajam namun kau berusaha menghindarinya. Sebenarnya kau sudah bosan pada keadaan seperti ini. Setelah sekian lama bertahan dengan keadaan ini, kini kau merasa sudah sungguh-sungguh lelah. Kau tahu, cinta selalu harus dikejar, tapi kau sadar bahwa inilah saat di mana kau telah lelah mengejar cinta itu. Kesetiaan yang kau bangun hari demi hari entah mengapa terasa amat rapuh saat itu. Kau menyerah.
Dan ajaib, kesakitan yang kau rasakan kali ini bisa ia rasakan juga. Tatapan matamu yang lemah mampu ia baca. Kata-katamu yang dingin ia serap. Dan ia tersadar; kau sudah lelah. Kau sudah tak lagi berharap. Ia menyadari kesalahannya. Ia sadar bahwa ia akan kehilangan dirimu. Maka tiba-tiba saja kau mampu mendengar deru nafas yang ia tahan di dadanya; terasa amat sesak. Lalu kau merasakan tangan lembutnya menggenggam tanganmu. Seperti bongkahan es yang patah, kau dapat merasakan semua perasaan di hatimu luruh. Seperti hujan.
“Marah?” ia bertanya. Ada isak yang tersangkut pada kata yang diucapkannya. Sementara itu, ia mempererat genggamannya. Dan kau memberanikan dirimu untuk mengangkat kepala dan menatap matanya yang sayu. Di kelopak matanya, gundah telah menjelma air mata yang menggenang. Perasaanmu semakin luruh. Lidahmu terasa amat keluh sehingga tak ada kata yang berhasil kau ucap. Namun kau memaksakan diri untuk bicara.
“Kini aku sulit membedakan mana yang amarah dan mana yang cinta. Aku selalu berharap kau bisa membedakannya untukku, tapi kau sendiri tak peduli. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri sehingga kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan. Aku kau abaikan, seakan aku tak punya rasa. Kau tahu betapa aku mencintaimu, namun sampai sekarang aku belum tahu pasti kau mencintaiku atau tidak. Aku berusaha untuk tetap bertahan, tetapi aku sadar aku sudah sangat lelah. Lelah sekali. Dan sekarang aku…….  ” bicaramu terhenti. Kau melihat air matanya luruh membentuk satu garis lurus di pipinya. Kau selalu tak kuat melihat ia menangis. Maka kau merasa begitu hampa. Hatimu tersesat di antara perasaan-perasaanmu sendiri. Lalu entah kenapa, malam terasa lebih pekat dari biasanya, dan kedinginan menjalar di tembok-tembok malam. Tapi kau sadar, pada akhirnya harus ada yang kau lepas. Bagimu, cinta juga berarti berani melepaskan. Maka, ketika semuanya terasa semakin rumit, kau meninggalkan matanya yang menatapmu penuh harap.. Sudah tak ada alasan bagimu untuk tetap di hadapannya. Kau pergi dari sisinya sementara ia terpaku di situ. Dan kau menguatkan dirimu untuk tidak berpaling. Kau menembusi malam dan… berlalu.
Kau tahu, kau baru saja meninggalkan cinta yang telah sekian lama kau pertahankan. Namun kau tetap pergi, sebab kau yakin, pada saatnya nanti, luka pasti akan sembuh meski ia akan membekas. Dan sampai saat ini, ketika kau datang di hadapanku, aku tahu, luka itu masih lembab dan ia masih belum bisa mati dalam memorimu. Dia adalah kenangan di hatimu yang kau biarkan luruh ke dalam mataku.
Dan aku memahamimu. Bukankah cinta juga berarti belajar ‘memahami’?

Komentar

  1. Brillian. Aku suka cara berceritanya.

    BalasHapus
  2. Membuat saya terdiam... Berusaha mencari jawaban... Menutup Januari dengan menakjubkan.... Sangat suka caranya bercerita...

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!