Januari oh Januari

Karya: Bella Aulia Lesmana




“Maaf kita harus putus beib,” ucap Ken di telepon. “Kenapa?, kamu tahu kah betapa susahnya mencintaimu?. Kamu tahu sulitnya mendapatkanmu beib?, harus bertentangan dengan mantanmu dan sahabatku yang juga menyukaimu,” paparku panjang lebar pada dia. “Tolong beib?, biarkan aku sembuh dari kesakitan ini,” pungkasnya. “Beib?, aku gak bisa berpisah darimu, kumohon?,” pintaku pada Ken untuk tidak mengakhiri hubungan kami. Klik, komunikasi terputus. Airmata turun begitu deras, hingga terduduk lemas di lantai. Sebuah sajadah menjadi tempat pengaduan, meminta kesembuhan kepada Yang Maha Kuasa untuk Ken.
“Ayo kita ketemu?,” ajak Ken. “Benar kah?,” jawabku dengan girang bukan main. Setelah dua bulan lamanya tidak bertemu, dan sebuah warung makan mie ayam menjadi tempat makan siang kami. Di atas motor memeluk erat tubuhnya dan mencium aroma wangi parfum di bagian punggung Ken, rasanya lama sekali tidak menghirup minyak wangi yang ia kenakan. Serta jarang merasakan hangatnya sebuah pelukan dengan kekasihku. “I love you beib?,” ungkapku kepada Ken. “Ya beib, love you too,” timpal Ken. “Kalau kamu mencintaiku, kenapa kita harus putus?,” gumamku dalam hati dan semakin mengencangkan pelukan kepadanya.

Di warung makan, kami langsung memesan dua porsi mie ayam. Ada raut wajah bingung di diri Ken, hatiku juga dibuat begitu galau. Tapi tak ada kata – kata yang keluar dari mulutnya, hingga ia melahap makanan di mangkok keramik itu dengan santai. Sedangkan aku?, mengunyah saja seperti bayi yang belum memiliki gigi. Pikiran pun entah sudah melayang kemana, rasa cemas berkecamuk dalam dada. Tidak ada selera makan, hanya sebuah keraguan pada pertemuan hari ini. “Aku nggak bisa pisah darimu?,” ucapku memberanikan diri setelah Ken menghabiskan makanannya.
“Beib?, kamu tidak tahu rasa sakit yang ku derita. Sebenarnya hubungan ini sudah tak boleh dilanjutkan,” “Kenapa begitu beib?,” sebuah pertanyaan untuk Ken yang mana mata sudah terbendung oleh airmata. “Aku ingin bebas, sudah berapa dokter yang memeriksa?. Tapi sakitku tak kunjung sembuh, tersiksa sekali,” “Masa hanya alasan itu hubungan kita kandas beib?,” ucapku sedih dan dia menatap begitu dalam. “Sudah jangan nangis,” pungkas Ken. “Bagaimana nggak nangis?. Kalau kita tak pernah ada masalah dan berantem tapi aku harus pisah darimu?. Dimana letak kesalahannya?,” geramku.
“Tidak ada yang salah, tolong mengerti keadaanku?,” pintanya. “Hanya alasan itu kita putus?, nggak masuk logika,” “Yang ku derita bukan penyakit medis, tapi di guna – guna. Itu sebabnya hubungan ini harus bubar. Ada cewek yang ingin memiliku dengan cara begitu,” papar Ken. Dan aku tercengang, menangis karena tidak sangka apa yang sudah terjadi pada dirinya. “Be be benar kah?,” ucapku tergagap. “Iya, setelah di tanyakan kepada orang pintar. Katanya, aku harus melepaskanmu agar perempuan itu berhenti mengganggu,” “Mengapa harus begini sih?,” “Karena dia tak suka aku bersama dengan wanita selain dirinya,” jelas Ken.
“Tapi Ken?,” sanggahku. “Sudah beib, ini demi kebaikan. Kamu mau aku sakit terus?,” “Enggak beib, berharap kamu sembuh,” pengharapan ini terucap sambil menangis tersedu. Dan pertemuan kami menjadi kisah menyakitkan dan menyedihkan pula. Mau tidak mau harus merelakan dia, walau hati terasa berat melepaskannya. Dan aku yang rela mendatangi ia ke kota kelahirannya, kembali pulang ke Ibukota dengan rasa gundah gulana. Perjalanan yang di lalui dengan motor matic, ku lajukan dan mengencangkan gas sebagai ungkapan kekesalan. Untung saja, perjalanan yang hanya di tempuh dua jam berjalan mulus.
Sesampainya di rumah, suara tangis pecah menggelegar. Bagaimana tidak, ia yang bekerja di lokasi tengah laut harus mengurangi pertemuan denganku. Bisa sebulan sekali atau lebih baru kami bertemu, rasa rindu selalu memuncak di hati. Pesan dari dia selalu ku tunggu - tunggu, siap siaga menjaga handphone berdering. Dan jika ada telepon dari Ken, dengan senang luar biasa ku angkat. Sekalipun itu tengah malam atau pagi buta, tidak pernah terlewatkan. Itu adalah momment yang membahagiakan, karena merasa sudah cukup sesak menahan kangen pada laki – laki yang berparas tampan itu.
Namun.setiap kali melihat teman – teman memasang status di media sosial, iri sekali membaca ungkapan isi hati mereka tentang acara malam minggu dengan pacarnya. Sedangkan aku?, hanya berdiam diri di kamar. Ken pun jarang bisa di hubungi, signal menjadi permasalahan. Acapkali mengomel dan menggerutu pada operator selular, bahkan sampai memaki – maki. Dongkol rasanya tak bisa mengobati rasa rindu ingin mendengar suara sang pujangga, terjadilah penumpukkan kerinduan pada Ken. Pacaran jarak jauh yang begitu melelahkan, lelah menunggu telepon dan kehadirannya.
Tapi, bukan hanya itu yang di alami. Seorang senior di kampus, yang tak kalah tampan dan menggoyahkan hati harus ku tolak cintanya. Apalagi kalau bukan kesetiaan yang aku lakukan, demi Ken aku rela kecewa mengabaikan laki – laki itu. Padahal jika menerima Dana sebagai pacar kedua, Ken juga tidak tahu. Tetapi cinta lah yang telah buatku mengambil keputusan tersebut, sebenarnya hati ini sakit sudah melewatkan kesempatan emas. Karena Dana adalah pria yang berprofesi sebagai pemain bola dan anak dari salah satu pejabat terkenal.
Merelakan Dana Fernando, berarti telah pupus jaminan hidup menjadi calon menantu seorang pejabat. Siapa lagi kalau bukan Kenny Giovan, dia menjadi alasan aku menolak cinta pria lain. Menjadi sia – sia pengorbanan Dana yang berbulan – bulan mendekatiku, yang berawal ia sering mencuri – curi pandang setiap kali aku ke warung internet miliknya, lalu meminta orang untuk menyampaikan salam kepadaku, berakting pura – pura pergi padahal alasan dia untuk memerhatikan gerak – gerikku dari kejauhan. Sampai pada hari itu, “Maaf aku sudah punya pacar,” ucapku dengan terpaksa ketika dia mengatakan cinta.
Karena cinta sejati yang ku harapkan dari Ken, ternyata sirna sudah. Sebuah gantungan kunci yang di buat dengan tangan dan berlambang huruf K harus ku buang begitu saja. Begitu semangat ketika membuatnya, berharap Ken akan suka dan senang saat tahu hadiah annivesary kami ku buat dengan penuh cinta. Menutup mata terhadap pria lain ku lakukan, bahkan menjauh dari teman – teman lelaki pun membuat yakin cinta ini hanya untuk Ken. Bahkan aku juga nggak pernah mendapat kado atau pemberian darinya, karena ia tidak pernah sempat pergi membeli. Tapi tak apa, memahami dan pengertian itu yang ku jadikan pedoman di hati.
Sesak bukan main menjalin hubungan dengannya itu, banyak sekali pengorbanan – pengorbanan yang harus ku lakukan. Seribu sabar dan tangisan pun sudah di lalui, tapi apa akhir dari semua ini?. Mengikhlaskan separuh nafas jiwaku pergi, begitu lah cobaannya. “Berat beban ini harus meninggalkanmu, kisah kita berakhir di Januari buat hati ini begitu sakit,” sesalku. Yang mana tiga puluh Januari adalah satu tahunnya hubungan kita, tetapi sudah kandas. Bisa apa?, hanya dapat mengenang Ken dari foto, comment status di Facebook dan berujung mengurung diri di kamar sambil menangis.

Hingga setahun berlalu, yang sangat susah melupakan dia akhirnya bertemu lagi di bulan Januari. Bukan Ken atau Dana buat aku gembira di awal tahun, tapi Alfin telah luluhkan hatiku. Ia mengobati rasa sakit itu, Alfin pula menyadarkanku bahwa laki – laki tak hanya satu. “Aurel?, kamu begitu cantik. Tersenyum lah selalu, aku tak akan menyakitimu,” ucapannya selalu terngiang di telinga. Sampai pada acara wisudaku, setelah usai tidak disangka Alfin melamarku di gedung pertemuan ini. Tangisan bahagia terluapkan dalam pelukannya, begitu juga ayah dan ibu. Mereka turut senang dan meneteskan airmata. END

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!