Januari : Kumohon, Jangan Pergi

Karya: H A Ayuningtyas

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari



Hujan sehari-hari. Itu yang sering kudengar tentang Januari. Pada dasarnya, hujan hanyalah peristiwa jatuhnya titik-titik air ke permukaan bumi. Benar, aku tidak bisa memungkiri. Tapi bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan, makna hujan tidak pernah se-sederhana yang mereka bayangkan. -R.L

All I want is nothing more,
To hear you knocking at my door
But if I could see your face once more
I could die a happy, man, I'm sure (Kodaline, All I Want)



Pertengahan Januari, 2016.
Cuaca begitu kelam pagi ini. Rintik hujan terus menjatuhi atap gedung sementara orang-orang berlalu-lalang dibalik genggaman payung.
Seorang wanita paruh baya terlihat tengah memasuki lobby sebuah rumah sakit dengan sedikit tergesa-gesa. Penampilannya tidak seberapa dibandingkan dengan beberapa karyawan di tempat itu. Bahkan, lebih dari ala kadarnya. Wanita itu memakai daster (atau mungkin ia menganggap itu gamis), memakai jilbab sebagai penutup kepala, dan tas jinjing kecil warna ungu -yang sama sekali tidak match dengan warna bajunya. Satu lagi yang sedikit menarik perhatian, dia memakai sandal jepit merk swallow yang warna jepitnya sudah agak pudar, lebih pantas digunakan di kamar mandi daripada di rumah sakit sebesar ini. Mungkin wanita itu sadar sepenuhnya akan penampilannya, terlihat jelas dari gerak-geriknya yang sedikit ragu dan agak malu-malu. Meskipunbegitu ia terus berjalan sampai ia menemukan sebuah ruangan dengan pintu ber-cat hijau toska, berpalang kecil dengan tulisan : “Spesialis Kejiwaan, Rayya Lim Sp.KJ”.
Diketuknya pintu itu perlahan.
“Masuk.”, sahut seseorang di dalam ruangan. Dengan agak ragu, wanita itu membuka pintu. Ia mendapati seorang wanita muda sedang duduk di kursi, -bukan di kursinya yang seharusnya, tapi di kursi yang (mungkin) sengaja ia letakkan di sudut ruangan, menghadap jendela. Wanita muda itu, Dr. Rayya Lim, sedang terdiam menatap orang-orang yang tengah berlalu-lalang di balik ruangannya. Wanita paruh baya yang baru saja masuk langsung menempatkan diri di kursi pasien.
“Dok, em- maksud saya.. Nak Rayya, gimana keadaan Davin?”
Hening sejenak. “Ibu..sudah..datang..?”
Wanita yang dipanggil 'Ibu' itu mengerjap. Bagaimana bisa Dokter Rayya tidak menyadari kehadirannya sejak tadi? Ibu Davin beranjak bangun dari kursinya..lalu, dengan awalan yang sedikit ragu, ia mengelus perlahan pundak Rayya.
“Nak, ceritakan saja apa yang terjadi. Ibu siap mendengar hal terburuk sekalipun.”, ucapnya, perlahan. Dia merasakan bahu Rayya sedikit gemetar, dan meski tak ada isak tangis, Ia tahu, Rayya sedang sangat terluka. Akhirnya wanita dengan jas putih itu membalikkan badannya. Air matanya berlinang, membasahi seluruh bagian wajahnya. Kedua matanya merah, dan ada sedikit darah di dahinya. Ibu Davin menatapnya dengan sedih. Diambilnya obat merah di rak obat, dan dibalutnya luka itu dengan lembut.
Sudah. Ibu tahu. Ini perbuatan Davin, kan?” Rayya hanya terisak.
“Jika iya, maafkan ibu. Biar ibu yang-”
Ibu..masalahnya bukan ini.”, Rayya menunjuk dahinya yang terluka. “Tapi ini.” Kemudian, ia memukul dadanya -menangis lagi. “Saya sangat menyayangi putra ibu. Saya sudah berjanji padanya untuk tidak menyerah. Tapi-”
“Tapi kenapa, nak.”
“Euthanasia. Dia akan disuntik mati. S-secepatnya.”
Rayya mengerang di akhir kalimatnya. Dadanya sesak, sampai-sampai ia harus menggenggam ujung kursi dengan eratnya. Seluruh dunia di hadapannya telah hancur, tidak ada yang tersisa. Sementara wanita paruh baya di hadapannya diam seribu bahasa.
***
When you said your last goodbye.
I died a little bit inside.
I cried in tears in bed all night.
Alone, without you by my side.

Rayya Lim membenahi jas putihnya. Dengan satu kali helaan nafas, ia memasuki ruangan di hadapannya dengan sedikit rileks. Ia menemukan seorang laki-laki muda sedang duduk diatas bed : diam, menatap lurus kedepan.
“H-hai. Davin..”
Laki-laki itu benar-benar tampan. Wajahnya manis berkharisma, kulitnya putih bersih dan agak pucat, kedua matanya hitam...sangat mengagumkan (meski kini terlihat redup). Dia melihat sekilas kearah Rayya, lalu kembali mengosongkan pandangannya.
“Davin, ini aku.”, “Siapa?”
“A-aku-”
Ingin sekali rasanya Rayya berteriak, aku ini kekasihmu. Aku ini seseorang yang selama delapan tahun terakhir menjadi seseorang yang mendampingi hidupmu, meski kau sudah tak lagi mengingatnya. Akulah seseorang yang kau cintai sebelum kamu mengalami tragedi dan melupakan segalanya. Aku, satu-satunya orang yang sangat menyayangimu dan mati-matian berjuang untukmu. Aku-
“Aku dokter. Kamu pasienku”, ucapnya, disertai seulas senyuman. Pada akhirnya tidak ada yang bisa ia ucapkan untuk membuktikan bahwa laki-laki inilah yang dulunya mengisi bagian dari hidup dan mimpi-mimpinya. Tak ada lagi.
“Ada perlu apa denganku?”, tanya Davin. Datar. Tanpa ekspresi.
“Ayo kita main ayam-ayaman”, ucap Rayya sambil menyodorkan tangan kanannya. Davin menatapnya dengan wajah lesu. “Tidak mau.”, jawabnya.
“Ayolah. Kamu dulu suka main ini. Ayo, sini tangan kamu.” Rayya meraih tangan kanan Davin, -yang akhirnya menurutinya dengan pasrah.
“Sekarang genggam tanganku seperti ini. Sisakan jempolmu..yaa begitu..”
Genggaman tangan itu. Rayya menangis dalam hati. Ia sangat merindukan genggaman tangan itu.. Ia sangat merindukan bagaimana tangan itu berakhir di puncak kepalanya, mengusapnya perlahan ketika ia ketakutan. Dari semua hal yang begitu dia rindukan, hanya satu yang kini ia bisa dapatkan : senyuman Davin. Manisnya, melebihi apapun yang pernah ada. Dia tertawa sedikit demi sedikit ketika jempol tangannya terjebak dan tak bisa lari dari tekanan jempol Rayya. Dia terlihat sangat menyukainya.
Rayya tersenyum. Sayangnya, itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Davin terdiam, tubuhnya berubah kaku. Laki-laki malang itu memegangi erat dadanya sambil mengerang kesakitan.
Sedetik kemudian pintu diketuk. Seorang perawat masuk dan memberi Rayya aba-aba untuk keluar dari ruangan itu, segera.
***
But if you love me
Why'd you leave me..
Take my body, take my body.

“Tolong..beri dia kesempatan satu kali lagi. Lihat, perawat. Kamu lihat dia kan? Dia sudah mulai bisa tertawa.” Rayya menggamit lengan perawat, memohon padanya untuk sekedar memberikan kesaksian. Tapi yang dilakukannya hanyalah diam. Rayya tidak menyerah. Dia beringsut ke arah dokter Jo, memegangi lengannya dengan wajah memelas.
“Dok, saya mohon. Beri dia kesempatan. Saya berjanji akan membuatnya pulih seperti dulu. Saya berjanji. Saya akan-”
“Rayya. Cukup.” Perlahan,Dokter Jo melepaskan pegangan tangan Rayya. Ditatapnya Rayya dengan sorot mata 'tolonglah mengerti'. “Sudah hampir delapan tahun dia seperti ini. Jangan bersikap egois, Rayya. Dia sangat tersiksa dengan sakitnya. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain ini.”
“Selalu ada jalan, dok. Selalu. Saya bukan egois. Saya hanya tidak mau menyerah begitu saja. Euthanasia bukanlah jalan keluar.. dia-”
“Kenyataannya, dia tersiksa jika terus hidup. Lagipula sekeras apapun kita berusaha menyembuhkannya, jika dia sendiri tidak memiliki keinginan untuk itu, sampai kapanpun kita tidak akan pernah berhasil, Rayya. Terimalah. Saya tahu dia sangat berarti untuk anda. Tapi jika anda benar-benar menyayanginya, biarkanlah dia terbebas dari rasa sakitnya. Itu yang terbaik untuk saat ini.”
“Saya tidak akan menyerah, dok. Saya akan menghalangi anda.” Rayya menggenggam lengan Dokter Jo lagi. Kali ini ia menangis histeris..membuat sedikit kegaduhan di ruangan dokter. Orang-orang akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang ahli jiwa tidak bisa mengontrol kondisi kejiwaannya sendiri. 'Persetan dengan semua ini. Aku hanya ingin Davin tetap hidup.', pikir Rayya.
“Dokter Rayya, dengar. Saya sudah mendapat izin dari orangtua kandung Davin.”
Ibu Davin datang ke tengah-tengah perkumpulan. Wajahnya yang lugu tidak menampakkan sedikitpun kesedihan. Barulah saat Rayya berlari kearahnya dan memeluknya erat, beliau mulai mengeluarkan air matanya.
“Ibu, katakan pada Dokter Jo, ibu tidak mengizinkannya. Iya, kan?
“Nak Rayya, saya hanya tidak mau melihat Davin menderita. Itu saja.”
“Ibu. Dengar. Ibu, ibu harus lihat. Dia sudah bisa tertawa bersama saya tadi, ibu. Saya tidak bohong. Ibu harus melihatnya. Ayo, saya tunjukkan lagi bagaimana dia tertawa.” Rayya menggeret paksa tangan Ibu Davin, tapi beliau hanya terdiam..menutupi mulutnya dengan tangan kirinya, menahan tangis.
“Rayya, biarkan dia pergi ke surga.”
“ADA APA DENGAN KALIAN, HAH?”
“Dokter Rayya Lim, saya peringati sekali lagi. Anda bisa kehilangan hak anda sebagai dokter jika anda terus mempertahankan ego-”
“Saya tidak peduli. Cabut saja. Cabut gelar dokter saya! SILAHKAN! SAYA AKAN BERHENTI DARI PEKERJAAN INI JIKA SAYA TIDAK BISA MEMBUATNYA TETAP HIDUP!”
Kemudian, seperti gerakan yang diperlambat, dokter-dokter di ruangan itu mulai keluar. Mereka menatap Rayya dengan wajah prihatin..namun tidak ada yang bisa dilakukan. Dua orang perawat memegangi lengan Rayya yang mulai mengamuk, menangis histeris, menggapai-gapaikan tangannya kearah Ibu Davin dan Dokter Jo. Dia mulai kelelahan dan akhirnya hanya duduk diam, menunduk. Sesekali hanya terdengar isakan tangis, sementara bahunya terus bergetar hebat.
***
All I want is, All I need is
To find somebody
Find somebody.. like you

Akhir Januari, 2016.
Untuk : Davin
Sebelum ini aku tidak pernah memikirkan kemanakah seseorang setelah ia tiada. Surga-kah? Kamu adalah laki-laki paling baik yang pernah kutemui sepanjang hidupku, jadi, kurasa aku tidak akan salah jika meng-alamat-kan surat ini ke surga. Aku tidak pernah menyangka akhir kisah kita akan jadi seperti ini.
Kamu ingat? Delapan tahun lalu di bulan Januari, kamu berjanji akan menikahiku. Tapi ternyata, yang terjadi di setiap Januariku adalah kelabu. Takdir tak pernah seindah apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Tapi, aku tidak menyalahkan Tuhan. Aku percaya Dia menjagamu dengan baik disana. Sementara aku disini, aku masih akan menanti musim semiku di Januari. Aku tidak bisa membayangkan betapa indahnya, tapi yang aku tahu, dia akan datang, -segera.
--
“Ada yang bisa kami bantu, mbak?”
“Tolong kirim surat ini ke surga.”
“Surga?”
“Benar.”
“Tapi kami tidak-”
“Tolong....”
“B-baik, mbak.”
“Terimakasih.”
Terdengar sedikit kasak-kusuk setelah wanita muda -yang ingi mengirimkan suratnya ke surga- itu keluar dari kantor pos. Beberapa orang yang sudah sering melihatnya hanya bisa mengelus dada, sementara yang lain menatapnya dengan bertanya-tanya.
“Cantik cantik kok ya gila,” bisik seorang karyawan pengantar surat kepada temannya. Satu hentakan keras langsung mendarat di wajahnya.
“Hush! Dijaga ngomongnya. Denger-denger dia itu dulunya psikiater lho, Rip.”
“Oh begitu toh. Kok bisa jadi geser gitu ya otaknya?”
“Kamu ini. Tekanan batin. Stress, depresi, apapun itulah. Dia masih waras kok, cuma nganggep surga itu bisa kita jangkau. Itu aja.”
“Yasudah, kamu aja yang kirim surat dia. Pergi sana ke akhirat
“Sialan kamu ya.”

***selesai***

Komentar

share!