Jangan Pergi, Januari

Karya: Rhea


Sick and tired you've been hanging on me
You make me sad with your eyes, you're telling me lies
Don't go, don't go
January, don't be cold

Don't be angry to me. You make me sad, come and see.
Oh January, don't go, don't go.
Life gets me higher
I can show, I can go, I can wake up the world.
Little world gotta know you, gotta show you.

Sun, like a fire
Carry on, don't be gone

Bring me out of my home sweet home
Gotta know me, gotta show me
You've been facing the world, you've been chasing the world.

January, sick and tired you've been hanging on me . . .

Time, it's a flyer
Sunny days, fly away
English summers are gone.
So long, gotta go up, gotta grow up.






24 Januari, 2004. Hari itu hujan turun tanpa henti di kota tempat aku lahir dan menetap. Aku tidak berhenti tersenyum sambil memandangi pesan yang tertera didalam telepon genggamku.
Adalah Pitt – seorang pria yang telah membuat kupu-kupu berterbangan didalam perutku nyaris setiap hari. Aku mengenalnya lewat sebuah program di dunia maya, kami berkenalan dan akhirnya ia selalu menyapaku lewat telepon genggam.
“Jenny, kau sudah pulang?”
“Hai Pitt, aku sudah tiba dirumah, apa yang sedang kau lakukan?”
“Hari sudah larut malam disini, aku baru selesai membantu ayahku. Aku mau tidur dulu, selamat malam Jenny, aku mencintaimu.”


Pitt tinggal ribuan mil jaraknya dari tempatku tinggal. Keluarganya adalah misionaris, dan itu membuat Pitt selalu berputar mengelilingi penjuru bumi. Tetapi mereka selalu pulang pada bulan Januari untuk berkumpul bersama keluarga besar.
Aku tidak bisa menjelaskan perasaan ini. Aku tidak pernah melihat wajahnya, tidak pernah menyentuh tubuhnya, ataupun mendengar suaranya. Kami hanya selalu bertukar pesan melalui telepon genggam yang tidak berwarna. Tapi semua hal tentangnya membuatku terbang dan bahagia. Ia seorang yang cerdas, berani, jujur, dan terlebih dari segalanya – ia menerimaku apa adanya.

15 Januari 2004. Aku menangis dan meraih telepon genggamku.
“Jenny, aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku, tolong katakan padaku, sudah 2 hari kau tidak membalas pesanku, ada apa? Jangan membuatku khawatir.”
“Pitt, sudahlah, kau tidak akan menyukaiku kalau aku memberitahu yang sebenarnya.”
“Ada apa?”
“Ada beberapa anak yang melempariku dengan buah-buahan di pasar hari ini, mereka menertawaiku dan menyebutku raksasa.”
“Kenapa mereka berbuat demikian?”
“Pitt, aku seorang wanita berusia 17 tahun, dengan tinggi badan 177 cm, dan berat lebih dari 1 kwintal. Maaf aku tidak seperti yang ada di bayanganmu, lupakan saja aku, aku tidak cantik.” Aku menangis dan mematikan teleponku. Ini sudah berakhir. Pitt takkan mau membalas pesanku.

            16 Januari 2004.
Dengan segala keberanian yang tersisa, aku menyalakan lagi teleponku, dan seketika aku tidak mampu mengendalikan emosi yang meluap. Aku menarik selimut dan rasanya hari itu terasa sangat hangat.
“Jenny, aku tidak peduli seperti apa rupamu, Tuhan sudah memberikan segala keindahan didalam dirimu, dan kau harus bangga pada dirimu. Mereka hanyalah kumpulan pengacau, tidak pantas kau memedulikan mereka. Aku juga hanyalah pria biasa berusia 18 tahun yang punya banyak jerawat di punggung. Aku mencintaimu Jenny, tolong balas pesanku.”

            3 Januari 2005. Aku melompat kegirangan. Penantianku selama setahun sudah berakhir. Aku menangis didepan telepon genggamku. Pitt kembali, setelah setahun.
“Jen! Aku merindukanmu! Apa yang sudah terjadi satu tahun ini? Apa saja yang telah kau capai? Bagaimana keluargamu?”
“Oh Pitt, aku lebih merindukanmu! Sebelas bulan aku menunggumu pulang! Aku dapat peringkat terbaik tahun ini, dan aku rasa aku akan mendaftar untuk kuliah. Bagaimana denganmu?”
“Aku dan ayahku pergi ke 3 kota terpencil sepanjang tahun ini. Kami menetap disana untuk waktu yang lama. Jenny, aku minta maaf untuk sebelas bulan tanpa komunikasi, kau tahu kan aku tidak bisa membawa apapun ke desa terpencil, kami harus melaksanakan misi dengan fokus. Aku sangat merindukanmu.”
“Tak apa, Pitt, aku senang kau pulang dengan selamat! Aku harap misimu cepat selesai dan kita bisa bertemu!”
“Tentu Jenny! Oh ya, aku membawa bibit bunga khas dari daerah misi, warnanya kuning dan putih, seperti rambut dan kulitmu. Aku akan memberikan bunga ini nanti saat kita bertemu ya!”
“Kau sungguh romantis! Tapi kau tidak tahu bagaimana rupaku, Pitt.”
“Aku akan selalu menemukanmu, kau gadis tertinggi di dunia ini! Hehehe…”

            28 Januari 2008. Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun berlalu. Aku mengecek teleponku setiap hari. Tidak ada pesan dari Pitt dalam dua tahun ini. Apa yang terjadi padanya? Aku sangat khawatir. Semua orang disekelilingku mengatakan dia sudah mati didalam misi, ada juga yang berpendapat Pitt sudah memiliki kekasih lain. Aku marah, sedih, kecewa, takut, khawatir, benci, dan sakit hati. Teganya Pitt menggantung perasaanku seperti ini. Kalaupun Pitt mencintai wanita lain, setidaknya berikan aku pesan perpisahan!
Tapi sebenarnya aku pun juga tidak tenang, hatiku kacau berantakan. Aku takut kalau Pitt memang terkena hal buruk. Rasanya perih sekali. Aku akan berhenti mengharapkan Pitt. Tidak punya pilihan lain. Meski sebenarnya aku berjanji dalam hati kalau aku akan selalu mencintainya. Padahal aku selalu berharap pada Januari, jangan pernah pergi dariku…


            17 Januari 2056. Suamiku Thomas meninggal dunia kemarin. Aku dan anak cucuku sekarang sedang mebersihkan rumah dan kami akan pindah ke kota lain untuk melupakan kesedihan didalam rumah ini. Thomas meninggal dengan tenang karena sakit tua. Sarah – cucuku yang paling kecil sudah berusia 13 tahun. Ia duduk dibawah kursi rodaku sambil terus memandangiku dengan takjub.
“Ceritakan lagi, Nenek, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menikahi kakek kalau kau berjanji akan tetap mencintai Pitt?” tanyanya tak sabar. Aku tertawa pelan.
“Nenek berjanji dalam hati. Tetapi Thomas, kakekmu, adalah seorang yang pantang menyerah, dan nenek rasa tidak ada salahnya membangun keluarga bersamanya.”
“Apa itu artinya nenek tidak mencintai kakek Thomas?” Sarah sangat penasaran.
“Aku mengasihi kakek Thomas, tentu saja, dia adalah pasangan hidupku,” jawabku sambil membelai lembut rambut Sarah. Thomas dan Pitt, aku mencintai mereka, dan mereka ada di dalam bilik hatiku yang berbeda.
“Wow! Kakek pasti sangat hebat sehingga dia bisa membuatmu menikahinya! Bagaimana cara kalian bertemu?” tanya Sarah dengan semangat.
“Ya, dia adalah pria yang hebat. Kami bertemu di awal Januari, dalam festival tahun baru. Thomas bernyanyi di acara itu, dan ia memanggil beberapa penonton ke panggung untuk memeriahkan acara, dan aku termasuk dari penonton yang ia panggil naik.”

“Sarah, tolong bantu mama dan papa, kita sudah akan pindah, kemasi bonekamu, nak,” Rachel – putri tunggalku – terlihat sibuk mengepak semua barang kedalam kardus, dibantu dengan robot asistennya. Sarah mengangguk dan beranjak bersama robot itu untuk membenahi barangnya.
“Ma, lihat, aku menemukan sesuatu didalam kamarmu, tersembunyi diatas lemari,” kata Rachel sambil membawakanku sebuah kotak kayu berukir.
“Kuno sekali ya, rasanya tidak ada lagi toko yang menjual barang seperti ini disini,” goda Rachel. Aku terdiam, tidak menyangka sama sekali kalau selama ini Thomas menyembunyikan sesuatu dariku.
“Apa itu, ma?” tanya Rachel bingung. Aku membuka pelan kotak tua itu, dan terasa dentuman lembut di hati yang sudah lama tak kurasakan. Getaran yang mengalir bersama darah dalam pembuluh membuat sekujur tubuhku hangat.

Beberapa kuntum bunga kamboja kuning yang kering, dengan sepucuk surat lusuh didalamnya. Aku menangis, sekerasnya, setulusnya, dan aku sangat bahagia kalau aku tidak menikahi orang yang salah. Kemanapun ia pergi, aku selalu jatuh padanya. Ia tidak pernah jauh dariku, selalu ada setiap pagi aku membuka mata. Ia ayah dan kakek yang setia, sumber tawa dan kekuatanku. Rachel memelukku erat, mungkin ia sangat bingung melihatku tidak bisa mengontrol air mata dan emosi. Ia tidak berhenti bertanya ada apa, tapi aku tidak bisa berkata-kata. Tidak pernah cukup waktuku untuk bersamamu, bahkan selamanya pun tidak akan pernah cukup, Thomas.


Dear istriku, Jennifer.

Kau tahu aku sangat mencintaimu, jauh sebelum kita bertemu. Aku selalu membawamu didalam doa, bahkan ketika aku berada jauh di pedalaman melaksanakan misi bersama ayah. Aku tidak pernah bisa berpindah hati, meskipun banyak wanita yang menarik, tapi hatiku hanya bergetar karenamu.
Aku minta maaf, karena setelah tahun 2006 aku tidak pernah mengirimimu pesan lagi. Aku dan ayah naik kapal pesiar untuk pulang ke rumah, tapi badai besar datang dan menghancurkan kapal. Ayah meninggal didalam badai. Aku berhasil selamat dan tinggal di pantai terdekat, aku bekerja sangat keras dan akhirnya aku bisa pergi untuk mengejar mimpiku – mengejar kamu.
Aku memang tidak pernah tahu rupa dan bentukmu, aku hanya tahu kota dimana kamu tinggal. Aku pikir cinta akan menyatukan kita. Dan aku bersyukur pada Tuhan kalau kita akhirnya bisa bertemu di festival tahun baru. Mungkin kau bertanya bagaimana aku bisa tahu itu adalah kamu, bukan?
Dimana lagi di belahan dunia ini, aku bisa menemukan wanita yang sangat tinggi, dengan wajah yang sangat cantik, berambut kuning terang, dan berhasil membuat hatiku kacau? Itu pasti dirimu, dan aku tahu itu.
Awalnya aku tidak yakin karena aku ingat kau bertubuh besar, tetapi gadis yang kulihat dan kuajak menyanyi di panggung saat itu tidak seperti yang aku bayangkan. Kamu cantik. Seperti apapun rupamu, kamu selalu cantik.

Maafkan aku karena tidak pernah mengatakan hal yang sebenarnya, aku sudah lebih dari puas dan bahagia akan cinta yang kita miliki bersama, tanpa perlu mengenang banyak di masa lalu. Kita telah memulai semuanya lagi dari awal. Lagipula aku takut kalau kau sebenarnya sudah melupakan aku yang dulu. Terima kasih telah menjadi kekasihku. Aku mencintaimu.



Thomas – your Pitt.

Komentar

share!