INGATAN TERDALAM DI BULAN JANUARI

Karya: Vennia Aprelia



Januari. Nama yang cantik untuk nama suatu bulan pengawal tahun. Semua orang mengirimkan harapan melalui media sosial mereka setiap awal pergantian tahun. Rena mengeryit melihat beranda twitter-nya berisi harapan teman-temannya yang hampir semuanya sama yaitu mendapatkan pacar baru. Menggelikan sekali bila harapan terbesarmu di tahun baru ini adalah mendapatkan pacar. Sebegitu pentingkah pacar di hidupmu. Walaupun Rena menyadari memiliki pacar memang menyenangkan, tetapi benar-benar tidak bijaksana kalau menjadikan pacar sebagai bagian terpenting dari hidupmu.
Suara petir yang menggelegar tiba-tiba membuyarkan lamunan Rena. Sedetik kemudian hujan turun sangat deras. Rena melamun memikirkan harapan teman-temannya lama sekali sehingga tak sadar anak-anak kecil berlarian sekali di depan rumahnya untuk bermain mandi hujan. Entah mengapa Rena sangat tertarik untuk memperhatikan mereka. Ada delapan anak di sana, dua di antaranya perempuan. Anak-anak itu terlihat senang sekali. Yang lain berlari kesana kemari, tetapi seorang anak laki-laki yang paling tinggi memilih berdiri di bawah gerujukan air yang mengalir dari atap rumah warga. Kemudian anak perempuan terkecil terpeleset jatuh. Lututnya berdarah, dan ia mulai menangis. Dengan sigap, anak yang beridiri di bawah gerujukan air langsung mendekati anak yang terjatuh tadi. Kemudian dengan susah payah ia berusaha menggendongnya. Anak yang terjatuh tadi langsung diam, kemudian tersenyum malu. Melihatnya tersenyum, anak yang paling tinggi tadi tertawa geli menengadahkan kepalanya sambil tetap berusaha menggendong anak yang terjatuh.


Tiba-tiba perut Rena sakit. Bukan sakit, tetapi seperti ada seekor kupu-kupu yang sedang terbang di sana. Anak laki-laki yang paling tinggi tadi mengingatkannya akan sesuatu. Membuat ia ingat akan kenangan yang berusaha ia lupakan dengan susah payah. Tawanya mengingatkan akan seseorang yang sangat ceria. Mengingatkan akan sesosok laki-laki jangkung kurus, dengan kacamata berbingkai hitam bertengger di hidungnya yang bengkok. Mengingatkannya akan kehadiran seorang kekasih. Laki-laki itu bernama Julian.
Ingatannya tentang Julian semakin kuat. Julian mengenakan seragam putih abu dengan lambang osis di saku kiri kemejanya yang putih cemerlang. Secemerlang hatinya. Tangan kanannya memegang dua tangkai mawar merah dan putih yang baru saja dibelinya pagi-pagi. Dia menuju tangga, berlari menghampiri Rena. Rena sedang merapihkan mejanya dan memasukkan isi tasnya kembali. Keringatnya masih tampak di keningnya, wajahnya terlihat lelah sekali. Ingin sekali Julian memeluknya, tetapi takut. Bukan takut dilihat orang, akan tetapi takut pelukannya mengganggu Rena. Diberikannya bunganya dengan malu-malu. Ini adalah mawar pertama Rena. Hari itu adalah hari jadi ke-dua bulan hubungan yang baru mereka bangun. Kemudian Julian berjalan di kiri Rena menggandeng tangan kirinya, dan mereka berlari bersama menuju lahan parkir sekolah. Mereka sangat bahagia.
Perasaan Rena terbawa jauh oleh ingatannya akan Julian. Ia baru berhenti melamun ketika handphone yang digenggamnya jatuh. Ia memungut dan menyatukan bagian-bagian handphone-nya yang berserakan, tetapi pikirannya masih bersama Julian. Hujan kini telah berhenti. Langit tampak cerah kembali. Awan-awan kembali putih dan ditemani matahari di sela-selanya. Anak-anak tadi sudah tak ada. Berapa lama Rena melamunkan Julian? Berapa lama pikiran Rena pergi bersama Julian?
Kemudian hujan datang lagi, tapi kali ini tak bersama awan gelap. Matahari masih terlihat mengawasi setiap bulir air hujan yang mendarat ke bumi. Januari meneruskan Desember menjalani musim hujan ini. Rena selalu menyukai musim hujan, dan selalu membenci musim kemarau. Bukan karena membenci hawanya yang panas ataupun cuacanya yang cerah. Tetapi membenci hari di musim itu. Hari di saat Julian pergi.
Semusim telah berlalu semenjak hari itu. Semenjak Julian memutuskan untuk berpisah dengannya. Memutuskan hubungan yang telah mereka jalin selama tiga tahun. Meninggalkan Rena sendirian, hanya bertemani air mata. Julian pergi tanpa memberikan alasan yang jelas. Julian pergi begitu saja.
Semusim telah berlalu semenjak hari itu. Tetapi Rena tak kunjung tahu alasan Julian pergi meninggalkannya. Apakah karena sifat Rena yang berubah menjadi kekanakkan? Apakah karena Julian sudah bosan dengannya? Tak mungkin. Julian tidak akan meninggalkan kekasihnya hanya karena ia bosan. Bagaimana Rena tahu? Bagaimana Rena yakin? Rena salah. Rena tidak tahu. Rena bodoh.
Semenjak hari itu Rena tak pernah  berhenti mencoba melupakan Julian. Rena tak pernah membenci Julian, karena Julian tak pernah menyakitinya. Julian tak pernah mengkhianatinya. Julian hanya mengecewakannya. Sama seperti Julian, sampai saat ini Rena belum memiliki seorang kekasih. Rena tak bisa membohongi dirinya bahwa hatinya ingin sekali kembali pada Julian. Tapi Julian mengatakan saat ia pergi, ia tak akan kembali meskipun Rena memintanya.

Rena tidak berubah, masih seceria dulu. Masih ceria meskipun tanpa Julian di sisinya. Hanya saja sekarang Rena lebih sering termenung. Termenung memikirkan Julian, Julian yang sampai saat ini masih membekas di hatinya. Bayang wajah Julian selalu tersimpan di benaknya. Tak tahu akan menghabiskan waktu berapa lama untuk melupakannya. Mungkin seumur hidup? Tak ada yang tahu.

Komentar

share!