I Love You

Karya: Rifqi



Dia. Dia adalah gadis yang sempurna. Sempurna untuk melengkapi hidupku. Sempurna untuk memberikanku senyuman. Yah hanya gadis itu memang sempurna. Tunggu berapa kali aku menyebutkan kata sempurna? Entahlah yang pasti dia memang sangat sempurna. Dia adalah Shiela. Gadis berambut hitam panjang, berkulit kuning langsat dan bertubuh mungil. Dia juga mempunyai pipi temben. Seakan ingin sekali aku menyubit pipinya.
Shiela. Aku mencintainya. Dia gadis yang membuatku penasaran. Dia gadis yang selalu memainkan emosionalku. Gadis yang mempunyai seribu teka-teki yang membuatku ingin selalu mengetahui tentangnya. Dia juga satu-satunya gadis yang menarik perhatiaanku saat pertama kali bertemunya.


Sekarang aku sedang memandangi foto dihandphoneku. Foto itu adalah foto dimana aku dan dia saat sedang tour keYogyakarta. Dia sangatlah cantik. Bahkan setiap saat aku tak pernah jenuh memandangi wajahnya.
“Andre lagi ngapain lu?” Sontak menutup hpku. Aku terkejut karena Shiela datang tanpa aku ketahui.
Aku pun menatapnya tajam. “Aduh bikin kaget aja lu. Kalau jantung gua copot gimana? Lu mau ganti?” Kesalku. Tapi bukan berarti aku kesal beneran. Sejujurnya aku tidak bisa marah dengan Shiela.
“Ya deh maaf. Lu lagi ngapain sih? Serius amat. Sampe senyum-senyum gak jelas.” Shiela pun langsung duduk disampingku. Entah sekarang suasana kelas sangat sepi. Yah mungkin masih pada dikantin.
“Gak ngapain-ngapain kok. Oh ya jadikan pulang bareng gua ya?”
“Yah gak bisa. Gua pulang bareng kak Daniel. Maaf ya. Besok deh kita pulang barengnya.” Aku pun langsung termenung. Daniel lagi Daniel lagi. Kenapa harus lelaki itu sih. Yah aku akui kalau mereka memang pacaran. Menurut perhitunganku baru 3 bulan mereka pacaran. Itulah sebabnya aku belum menyatakan perasaanku terhadapnya.
Aku pun berusaha tersenyum. Walau senyum itu senyum paksa. “Yaudah gak apa-apa kok. Lain kali kita bisa pulang barenng.” Dia pun tersenyum. Astaga bahkan senyumnya sangat menawan.
“Thanks ya! Lu memang sahabat gua yang paling baik.” Entah saat Shiela menyebutkan kata ‘sahabat’ hatiku sangat sakit. Sejujurnya aku berharap lebih. Lebih dari kata sahabat. Tapi aku hanya bisa tersenyum miris.

***
Sekarang aku termenung dalam kamar. Menyendiri meratapi sebuah foto. Gadis yang sangat aku cinta. Bahkan dia juga cinta pertamaku. Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Hanya dia yang aku cinta. Padahal malam ini adalah malam tahun baru, malam dimana semua orang bersenang-senang. Tetapi berbeda denganku yang mengurung diri dikamar. Tunggu pasti Shiela sedang tertawa bersama Daniel.
Aku pun langsung mengambil hpku. Yah ada telepon masuk. Aku pun langsung menekan tombol hijau.
“Hallo!”
“Hikss… hallo Ndre lu dimana?” Tunggu bukannya suara Shiela. Kenapa dia?
“Shiela ini lu? Hallo, kamu kenapa? Kenapa lu nangis? Lu dimana sekarang?” Tanyaku bertubi-tubi.
“Ya ini gua Shiela. Hikss, gua dirumah. Gua butuh lu Ndre. Lu bisa datang kerumah gua?”
“Ya gua datang kerumah lu. Lu tunggu ya!” Aku pun langsung mematikan panggilan.
Aku pun langsung melajukan motorku kerumah Shiela. Kebetulan rumah Shiela dan rumahku tidak begitu jauh. Aku melajukan motorku diatas rat-rata. Tak peduli suasan ramai saat ini. Yang ada dipikiranku saat ini adalah Shiela. Ya hanya Shiela yang ada dipikiranku. Aku takut dia kenapa-kenapa.
Setelah 10 menit aku melajukan motorku akhirnya kau sampai dirumah Shiela. Aku pun langsung masuk kerumahnya dan kebetulan orang tua Shiela sedang keluar kota. Tanpa mengetok kamar Shiela aku langsung menerobos masuk. Aku terkejut Shiela sekarang sedang ingin menggoreskan sebuah pisau ditangannya. Tanpa banyak bicara aku langsung mengambil pisau itu dan melemparnya menjauh dari Shiela.
Aku melihat Shiela sangat kacau. Mukanya pucat. Apa yang terjadi dengannya? “Shiela lu kenapa?” Sontak Shiela langsung memelukku. Pelukannya sangatlah erat. Suara  tangisannya pun keluar dari mulutnya. Aku pun langsung mempererat pelukannya. Sakit melihat Shiela menangis.
Setelah lama kami berpelukan aku pun langsung melepaskan pelukannya dan langsung memengang pundaknya sekaligus menatapnya. “Sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan lu!”
“Gua udah kotor Ndre. Gua udah kotor. Hikss…” Isaknya sambil mengelengkan kepalanya.
“Maksud lu apa? Gua gak ngerti.”
“Gua udah gak suci. Kak Daniel udah ngambil semua Ndre. Lalu dia ninggalin gua Ndre. Dan sekarang gua kotor Ndre. Gua kotor.” Sekarang aku mengerti maksud Shiela. Dasar brengs*k Daniel. Dia udah mengambil kehormatan gadisnku lalu ditinggalin begitu saja. Awas saja kau Daniel kau akan menyesal telah membuat gadisku menangis. “Gua salah Ndre. Kenapa gua mau aja jika harus ditinggalin seperti ini Ndre.” Shiela langsung memelukku lagi. Amarahku memuncak. Bukan aku marah kepada Shiela. Melainkan aku marah kepada di brengs*k itu.
“Sstt… lu gak salah Shiel. Si brengsek itu yang salah.” Ucapku berharap Shiela bisa tenang.
“Tapi Ndre gua udah suci lagi. Gua takut orang tua marah Ndre.”
“Lu tenang aja Shiel. Gua selalu ada disamping lu. Gua sayang sama lu. Jadi lu tenang aja!” Aku langsung melepaskan pelukannya. Dan langsung menatapnya. “Semuanya akan baik-baik aja selagi gua disamping lu Shiel.” Aku pun tersenyum.
“Terima kasih Ndre. Lu memang sahabat gua.” Senyum diwajahnya pun terukir kembali.

***
Seminggu sudah setelah kejadian itu. Aku sudah memberikan pelajaran buat Daniel. Shiela pun sudah bisa tertawa lagi. Dia sangat cantik. Tuhan aku mencintainya.
Saat ini kami sedang berada disalah satu caffe terkenal dijakarta. Suasana sangat sepi. Yah karena caffe ini sudah ku pesan dari tiga hari yang lalu. Aku melihat dihadapanku sudah ada Shiela yang sangat cantik malam ini. Entah setiap aku tatap matanya, jantungku selalu bedetak kencang. Seperti sehabis maraton.
“Andre kita ngapain disini?” Tanyanya bingung. Aku pun hanya tersenyum. Sudah saatnya aku mengakui perasaanku kepadanya.
“Dari awal kita ketemu gua langsung tertarik sama lu. Gua yang penasaran dengan lu pun langsung berusaha dekat dengan lu. Sampai akhirnya kita jadi sahabat. Tapi sejujurnya gua gak mau jadi sahabat, melainkan gua mau jadi orang yang special dihidup lu. Karena gua cinta sama lu. Gua sayang sama lu. Bukan sayang sebagai sahabat melainkan sayang sebagai teman hidup. Gua pengen, gua selalu ada buat lu. Ngebahagiain lu. Membuat lu tertawa. Dan memperkenalkan kepada dunia bahwa lu lah gadis yang gua cinta selama ini. Jadi mau gak jadi teman hidup gua untuk selama-selamanya?” Shiela hanya terdiam. Seketika air matanya keluar dari matanya. “Gua gak tau gua bisa apa gak ngebahagiain lu. Tapi gua akan berusaha membuat lu selalu tersenyum. Karena gua sayang lu Shiel.”
“Maaf Ndre sejujurnya gua tau kalau lu suka sama gua. Tapi gua belum bisa. Gua masih takut.” Aku hanya terdiam. Aku tau itu. Shiela masih trauma.
“Ya gapapa. Gua tau itu. Tapi gua akan berusaha buat lu cinta sama gua. Gua akan berusaha buat lu tersenyum. Ini janji gua buat lu Shiel.”
Aku pun tersenyum. Walau dia belum bisa menerima ku aku tetap akan berusaha meyakinkan dia bahwa aku lah pria yang membuat dia bahagia.

Tuhan aku mohon jaga dia. Biarkan pula aku yang selalu membuatnya tersennyum. Biarkan aku yang membuat dia tertawa. Dan biarkan aku yang selalu ada disamping. Yakinkan lah dia. Aku sangat mencintainya Tuhan. Dia hidupku. Dia pula nyawaku. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku bersumpah akan menjaganya. Tidak boleh satu pun yang melukai hatinya. 

Komentar

share!