Gantungan Hati Di Awal Januari

Karya: Ardena Akli




Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu..

            Awalnya aku berharap Desember cepat berlalu. Namun setelah ku tahu sesuatu, rasanya aku tak ingin Januari cepat datang. Ini adalah harapanku sebelum ku menyesal dengan kata-kataku sendiri. Yang buatku kecewa setelah mengatakannya. Namun sebaliknya aku malah menginginkan bahwa Januari ini tak pernah ada. Karena kau telah menorehkan luka di dalamnya.
            Sore ini aku membuka pesan dalam Facebookku. “Aku balik dek” kata Reza dalam pesan singkatnya. Betapa bahagianya aku bahwa ia telah pulang. Terasa ingin berteriak ketika ia mengabariku tentang kepulangannya. Setelah enam bulan pergi dan tanpa kabar. Ini membuatku menunggu dan menahan rasa rindu karena ia tak ada disini yang biasa menghibur dan tertawa bersamaku.
            “Bagaimana Kabarmu?” satu pertanyaan yang buatku heran karena ia menanyakan kabarku. Seorang Reza yang dikenal cuek ternyata masih punya simpati untuk sempat bertanya keadaanku. “Alhamdulillah baik Mas” itulah yang ku katakan. Tapi tidak pada kabar hatiku yang terasa “Sakit”jika menahan rindu berbulan-bulan dan menunggu Reza pulang. Namun semua  terobati ketika ia kembali dan mengatakan bahwa hubungan ini tak berakhir meski jarak dan waktu terasa terbentang antara aku dan Reza.


            Namun setelah beberapa hari sejak kepulangan Reza, ia kembali pada sifat dinginnya yang buatku ingin terus memukulnya layaknya es batu yang begitu keras dan dingin. Ingin ku memukulnya hingga hancur dan  memasukkannya pada minuman. Agar kerasnya mulai ikut mencair dan dinginnya tak lagi terasa. Namun membuat es batu itu mencair membutuhkan waktu. Memang tak kan lama dan aku mendiamkannya tanpa ingin mengganggunya berproses. Ini sama halnya yang kulakukan pada Reza. Aku mendiamkannya selama dua hari. Entah ia akan mencair atau tetap keras seperti es batu pada suhu dinginnya
            Dering nada BBM ku berbunyi. Ku buka dengan malas. “Titip apa mumpung aku di Surabaya?” kata Reza yang menawarkan oleh-oleh apa yang akan dia  bawakan saat ia kembali. Aku benar-benar tak percaya mendengar apa yang ia katakan. Bagaimana tidak ? Reza si cowok eksklusif tiba-tiba berubah setelah aku datang dalam hidupnya. Bahkan ia menawariku sesuatu.
“Gantungan kunci saja yanga ada tulisan kaligrafinya” ide itulah yang tiba-tiba muncul dari benakku serta mengetik dan mengirimnya pada Reza.”Okke nanti aku carikan” balas Reza setelah satu menit pesanku terkirim.“Mas Reza balik kapan?”tanyaku dalam pesan. “Kamis”jawabnya singkat.
Ku tatap kalender pada dinding kamarku. “Sebentar lagi Desember akan berakhir. Tahun dua ribu lima belas akan menjadi masa lalu” kataku pelan. Sebentar lagi Januari akan datang. Rasanya aku ingin menghentikan waktuku dan berhenti disini saja. Agar Reza tak pergi lagi untuk meninggalkanku. Kataku dalam hati. Itulah doa mustahil yang ku titipkan pada sang waktu. Namun apa yang mampu kulakukan agar sang waktu dapat mengabulkan permintaanku? Jawabannya adalah tak ada yang mampu tuk hentikan egoisnya sang waktu.
Sore itu aku terbangun dari tidur siangku dengan mata yang masih remang-remang, aku melihat pesan yang dikirim Reza. “Besok aku balik dek, habis maghrib ke masjid biasanya. Ngambil gantungan kunci”kata Reza.“Mas kalau jam 5 bagaimana? Aku tunggu di depan rumah”pintaku. “Kamu ke alun-alun sekarang bisa? Kita ketemu di batu besar”katanya lagi “Jauh Mas, aku ndak ada kendaraan selain sepeda”tolakku. “Kalau gitu besok shubuhan saja di masjid.”kata Reza. “Kalau Shubuh ke masjid aku gak janji”jawabku. “Tunggu aku di jembatan dekat rumahmu”kata Reza pada akhirnya. Seketika itu pandanganku membulat setelah membaca isi pesan dari Reza yang mengajakku bertemu di sore ini. Buru-buru aku mandi agar tubuhku dan otakku bisa segar dan berfikir wajar. Aku tak sabar untuk bertemu dengan Reza. Ini akan menjadi moment yang tak terlupakan. Karena pertemuan ini adalah pertemuan pertamaku dan Reza. Meski aku lebih sering melihatnya dalam jarak yang cukup jauh. Apalagi terkadang hanya aku yang dapat melihatnya sedangkan Reza tak pernah tahu keberadaanku.
Setelah berpakaian rapi, aku siap untuk menungu Reza  di jembatan dekat rumahku. Namun sebelum menuju jembatan, ku buka Hpku dan terdapat pesan dari Reza. “Maaf dek, aku ndak bisa kesana sekarang. Aku sibuk persiapan buat balik.”jawabnya lagi.“Ya sudah, habis maghrib saja ya?”kata Reza.
Selesai maghrib, aku bersama adik laki-lakiku menuju jembatan dekat rumahku. Aku menunggunya lama bagaikan orang bodoh. Namun Reza tak juga muncul. Kupandang bulan yang tak lagi purnama. Sinarnya mulai meredup seperti suasana hatiku yang tak menentu. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan mengambil Hpku yang tergeletak di meja. Beberapa menit setelah itu, nada BBM ku berbunyi “Aku di jembatan”kata Reza. Segera aku berlari menuju jembatan. “Sorry keburu aku... tak taruh di bunga-bunga deket mobil... depan aura fotocopy”kata Reza dalam pesan berikutnya. Setelah aku membacanya, aku segera berlari menuju fotocopy aura yang letaknya jauh diujung jembatan sana. Aku berharap ia masih menungguku. Dalam separuh perjalananku melewati jembatan yang lumayan panjang. Aku merasakan detak jantungku yang semakin cepat, desah nafasku yang tak karuan dan perutku yang terasa sakit namun aku terus berlari demi untuk bertemu dengan Reza di ujung jembatan sana.
Ketika sampai diujung jembatan, aku tak melihat ada siapapun disana begitu pun juga Reza ia tak ada. Kubuka lagi pesan dari Reza. Dan aku baru mengerti akan maksud pesan itu. “Bunga mana??” tanyaku dalam pesan. Karena ada begitu banyak bunga disini. “Daun-daun atasnya paving” jawab Reza. Segera aku telusuri diantara semak-semak bunga sepatu. “Paving mana?”tanyaku lagi pada Reza karena tak dapat menemukannya. “Dekat mobil putih..daun-daun itu lho..lihat kebawah terus”ku tahan rasa sakit pada perutku akibat berlari, aku menuju fotocopy aura yang tak jauh dari jembatan itu. Aku tetap berusaha mencari gantungan itu dari pot ke pot yang lain tapi aku tak menemukannya Karena suasana agak gelap. Terasa putus asa juga hatiku kecewa, marah, sakit, merasa dihina dan ingin sekali aku menangis. “Reza.. teganya kau gantungkan diriku layaknya gantungan kuncimu” kataku dalam batin. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Tapi kemudian langkahku terhenti. Aku melihat sesuatu yang bercahaya dari balik dedaunan itu. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah gantungan berbentuk love yang bertuliskan kaligrafi. “Udah”pesanku singkat. “Ketemu?”Tanya Reza. “Iya” jawabku.
Sesampainya di rumah, ku rebahkan tubuhku di kasur. Kupandangi gantungan kunci itu. Dan tak terasa berjatuhanlah butiran-butiran air mata dari kedua sudut mataku. Senang namun sakit !! bercampur jadi satu. Bagaikan permen nano-nano yang rasanya asam dan manis.

Keesokan harinya, tepat pukul 08.00 pagi, Hpku berbunyi kembali. Dan muncullah pesan dari Reza yang hendak berpamitan untuk pergi. “Pergilah Mas selama kau mau. Aku sudah tak peduli lagi entah kau akan datang lagi suatu hari nanti atau kau takkan pernah kembali selamanya. Aku capek, aku lelah, aku tak sanggup lagi berlari untuk mengejarmu. Aku tak punya rasa lagi untuk menunggu. Hatiku sakit, terluka, dan sepertinya mati rasa”

Komentar

share!