Forget You

Karya: April

Ketika aku berusaha melupakanmu justru aku selalu mengingatmu ditiap hembusan napas. Kuingin mengurangi rasa cinta tapi malah semakin penuh. Tersiksa? Pasti.

“Masih punya jam kuliah lagi lo?,”tanya Sifa teman satu SMA-ku dulu. Aku menggeleng pelan sambil meminum es jeruk yang masih setengah gelas.

“Mau pergi? Temenin gue beli sepatu.”

“Kemana?”

“Mall deket situ aja sih.”

“Oke.”

Aku berusaha menghapus jejak pahit dan manismu tapi mengapa? Selalu teringat dan teringat lagi. Aku menyibukkan diriku dengan berbagai tugas dan kegiatan kampus tapi semuanya nihil. Tak ada yang bisa mengalihkanmu dari pikiranku.

Kini aku dan Sifa sudah berada di Mall. Sifa sibuk memilih sepatu vans yang berjejer rapi di rak-rak toko ini. Aku hanya mengitari rak-rak itu tanpa berminat sedikitpun untuk membelinya. Pengeluaran bulan ini lumayan membengkak tidak akan cukup jika aku menghabiskan uang jatah bulananku untuk beli sepatu. Jadi harus super irit.

“Lo gak beli Nat??”

Aku menggeleng keras,”Gue gak punya duit.”

“Hahahaha, jujur amat lo lagi kere.” Sifa ketawa ngejek.

“Tapi, klo dibeliin mau sih.”aku nyengir lebar dan alhasil kena timpuk Sifa.

Setelah hampir satu jam memilih sepatu, coba yang itu coba yang ini akhirnya pilihan Sifa jatuh pada sepatu vans berwarna merah marun dengan corak putih yang keren. Pengen sih tapi nanti Nata. Irit irit dan irit. Ingat itu.

“Kapan-kapan klo lo pengen beli ganti gue yang akan nemenin lo.”Sifa membayar di kasir sedangkan aku mengekor di belakangnya.

“Yehh gue kira kapan-kapan lo mau beliin gue,ck.”

“Enak di lo. Lha gue?”

Aku hanya cengar-cengir tanpa dosa.

Aku bingung Sifa itu bilangnya lapar mau cari makan tapi apa yang dia omongin beda ama kenyataan sekarang, bisa-bisanya dia berbelok di toko tas. Haduh sabar Nata. Dan seperti sebelum-sebelumnya tetep ngekor.

“Kita makan dulu di Cafe.”tutur Sifa sambil menyeretku.

“Harusnya udah dari tadi,”jawabku dongkol.

Wait, please!

Sifa kenapa kamu bawa aku ke tempat ini? Dari sekian Cafe di sini emang tidak ada yang lain? Tidak, aku tidak mau. Aku mohon. Aku seketika berhenti dan Sifa juga berhenti.

“Kenapa Nat?,”tanya Sifa bingung. Sifa tidak tahu tentang semua ini. Aku hanya menggeleng. “Laper kan? Ya ayok makan dulu.” Lagi-lagi Sifa menyeretku paksa.

Aku berusaha mengelak tapi percuma sekarang aku sudah duduk tegang di sini. Aku mendadak kaku. Apa aku terkena sihir?

“Lo mau pesen apa?,”tanya Sifa ketika pelayan cafe yang memakai kemeja putih dipadu dengan  celemek berwarna coklat gelap itu menyodorkan buku menu.

Aku terdiam menatap cowok yang selama ini tak mau keluar dari pikiranku. Bagiku dia terlihat sangat keren dengan seragamnya itu. Pertama kali melihatnya aku terkagum dengan pelayanannya yang ramah dan senyum manisnya yang bikin candu. Please forget him, Nata.

“Sama ama lo, Fa.”jawabku kemudian mengalihkan pandanganku ke handphone.

“Beneran? Oke deh, bang Fandi. Gue pesen Caramel Macchiato dan Waffle masing-masing dua yah.”

“Serius nih? Nat, kamu gak pesen Smoothies Strowberry dan Cheese Pancake?,”tanya kak Fandi. Deg.

Sebegitu dekatkah kita hingga kamu mengingatnya di luar kepala?

“Hah?,”tanyaku balik dengan muka bengong.

“Aku tanya, kamu gak pesen itu? Kenapa harus sama dengan Sifa? Biasanya juga pesen itu-itu trus.”tutur kak Fandi yang membuatku semakin tidak bisa berpikir jernih.

“Seiring waktu yang terus berjalan, semua pasti ada yang berubah kak. Ada kalanya yang manis bisa jadi pahit.”aku mengepalkan tanganku erat. Menahan buliran bening yang sebentar lagi akan luruh.

Kak Fandi hanya mengangguk dan mencatat apa yang Sifa pesan.

“Dua Caramel Machiatto dan dua Waffle segera datang, mohon ditunggu.”

Saat jari terampilnya menulis pesanan, benda yang melingkar di jarinya membuat hatiku silau dan amat sakit. Apa yang aku rasa tak pernah tersampaikan hingga aku terlewat. Apa yang aku rindu tak pernah terungkapkan hingga aku terlempar. Kak, aku suka sama kak Fandi.


Maafkan aku yang telah berani mencintaimu, aku akan melupakan rasa indah yang bernama cinta. Rasa cintaku padamu kak. I’ll forget you.

Komentar

  1. Sakit. :") Keren banget ceritanya euy. Kalimatnya itu loh yang bikin aku jadi sedih-sedih ga jelas.

    Masukan aja, awalnya agak kurang berkesan. Bagian belanja, keliling, dsb. Kelihatan kayak syarat supaya ceritanya panjang. Lain kali coba hapus hal-hal yang tidak berkaitan dengan cerita.

    Itu aja. Terimakasih. Tetap Semangat!! ^^

    BalasHapus
  2. Waah.. ceritanya bikin baperr.. sukses april. :*

    BalasHapus
  3. Apriilll...baguuss...sedikit berbenah eyd yaaa...pada kalimat langsung..hehehe..ky ak udah jago aja yaaa..

    BalasHapus
  4. Apriilll...baguuss...sedikit berbenah eyd yaaa...pada kalimat langsung..hehehe..ky ak udah jago aja yaaa..

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!