FALLING SLOWLY

Karya: Day Wiraditha




“Karena aku ingin mengenalmu. Untuk satu hari saja atau mungkin dua hari. Atau untuk selamanya,” Dia melihat raut wajah Ama berubah, tangannya berhenti mengaduk teh di cangkir.
            Gadis itu tersipu. Ia memandang si pemilik kafe. “Apa yang membuatmu berpikir kalau kamu mau mengenalku?”
            “Mungkin karena kita sudah pernah bertemu sebelumnya,” jawab si pemilik kafe.


            “Wirga, kan ?” Ama bertanya. Pemilik kafe mengangguk. Ama melanjutkan. “Apa ini karena aku rutin ke kafe ini setiap hari?”
            Wirga tertawa, ia bertopang dagu. Pandangannya belum teralih dari gadis di sisinya. “Aku lebih berpikir karena ini Januari, tahun baru, kenapa tidak mencoba peruntungan seperti di film ?”
            “Kurasa hal-hal seperti itu tidak ada,” Ama mengendikkan bahu, ia tidak habis pikir.
            “Oh, ya ? Dulu di bulan Januari, aku menyatakan cinta pada temanku. Hubungan kami tergolong aneh, semua orang tahu kami jatuh cinta kecuali kami. Bertengkar terus, sungguh klise, lalu berubah begitu saja. Aku ini pembuat onar, selalu terjebak dalam masalah. Tapi waktu kuminta dia jadi pacarku, dia setuju,”
            “Terdengar se-klise cerita novel,” Ama tertawa hambar. “Oh, sekarang bulan Januari, pastinya ini bulan spesial untukmu dan pacarmu itu,”
            “Nah, itu kamu tahu. Terdengar seperti kita sudah pernah bertemu sebelumnya, kan?” celetuk Wirga. “Lagipula kita semua pernah menjadi anak-anak, kita pernah mengkhayal. Pasti ada khayalan yang kita harap jadi nyata,”
            “Kalau begitu aku pasti sudah melupakan khayalannya,”  
            Wirga tersenyum samar. Ia tahu semua hanya saja tidak mengatakan apapun. “Kalau begitu bagaimana kamu tahu soal kafe ini dan datang setiap hari?”
            “Kakakku bilang, aku suka sekali kemari dan dia juga bilang aku mengenal seseorang disini. Tapi pastinya aku sudah tidak ingat,” Ama tertawa.“Aku penasaran dengan gadis yang kamu ceritakan. Apa kalian masih pacaran sampai sekarang?”
 “Mungkin kamu bisa membantuku mencari tahu,”
Tangan Ama berhenti bergerak, ia mungkin melupakan banyak hal namun ia bukan orang bodoh.
***
            Perlu jeda cukup lama sampai Wirga bisa mengucapkan siapa dia pada gadis dihadapannya. Bagaimana caramu menerjemahkan rasa rindu pada orang yang kamu temui setiap hari? Yang duduk di tempat yang sama, memesan makanan yang sama dan kamu ajak ngobrol basa-basi selama lima belas menit? Orang itu ada dihadapanmu tapi tidak benar-benar ada. Dia ada di jangkauanmu tapi kamu tidak bisa menyentuhnya.
            “Karena aku pacarmu,” kata Wirga akhirnya. “Kamu tidak mengingatnya. Aku tahu,”
            Setiap hari hanya mengawasinya dari jauh, membicarakan topik ringan seperti cuaca dan ombak pantai. Ama mengenalnya hanya sebagai pemilik kafe bukan Wirga Wiragitha kekasihnya selama setahun, bukan pula Wirga yang berlari ke rumah sakit saat subuh setelah mendengar berita kecelakaan Ama. Selama ini mereka berteman tanpa Ama tahu siapa dia sebenarnya.
            “Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang ? Kenapa tidak sejak kali pertama aku kemari ?” Ama bertanya, air mukanya kaku, Wirga tahu Ama siap kabur kapan saja.
            “Apa kamu akan kembali kemari kalau tahu aku bilang di hari pertama kamu kemari ?”
            Ama terdiam, Wirga tersenyum rikuh. “Tidak. Kamu justru akan pulang dan menolak kemari. Kamu akan takut.  Tapi sudah tiga bulan kamu selalu berkunjung, bisa melihatmu setiap hari walau kamu tidak mengingatku sudah cukup. Bukan hal mudah melihatmu melupakanku gara-gara Amnesia bodoh itu,”
            “Kalau semua tidak mudah untukmu. Kenapa tidak berhenti melihat dan mengawasi ?”
            “Karena aku mencintaimu. Karena kamu tidak meninggalkan orang kamu cintai begitu saja,”.
            “Aku mungkin bukan orang yang sama seperti dulu. Apa kamu mencintaiku atau kamu mencintai kenangan lama yang kita punya sebelumnya ?”
            “Karena itu aku bilang di awal, aku ingin mengenalmu untuk satu hari saja atu mungkin dua hari atau untuk selamanya. Aku ingin mengenalmu lagi. Dan aku tidak jatuh cinta pada kenangan lama, aku mencintaimu. ”
            “Bagaimana kalau aku tidak bisa mencintaimu seperti dulu ?” Ama bertanya pelan.
            Lama sekali Wirga terdiam. Akhirnya ia menjawab. “Kalau begitu kamu bisa tidak mencintaiku atau kamu bisa mencintaiku. Tapi apapun yang kamu pilih, bagiku akhirnya selalu sama. Aku mencintaimu. Kamu bisa memilih apapun yang kamu mau, Ama. Walau artinya kita tidak bisa kembali jadi seperti dulu,”
            Ama menatap Wirga lekat-lekat, ia memelajari fitur wajah Wirga dan merekamnya dalam pikiran.” Apa kamu pikir ini semacam cerita dongeng ? Apa karena sekarang bulan Januari aku mau kembali padamu walau aku tidak mengenalmu lagi ?”
Wirga menggeleng. “Memang sekarang bulan Januari. Tapi aku mengakui semua bukan hanya karena itu. Karena aku sangat merindukanmu dan tidak mau berpura-pura lagi,”
            Ama tidak berkata-kata lagi. Justru ia beranjak lalu menyingkir dari kursi. “Sudah terlalu malam. Aku harus pulang,”
            Wirga tahu ini respon Ama dari semua pengakuannya namun ia tidak menghentikan Ama, ia mengawasi punggung Ama menjauh hingga hilang sama sekali. Di hari berikutnya Ama tidak muncul dan begitu pula di hari sesudahnya. Bagus, Wirga baru saja menjadikan Januari sebagai awal perpisahannya. Sejak kapan mencintai seseorang bisa menjadi suatu kesalahan ? Dan sejak kapan mencintai seseorang menjadi salah satu cara kehilangan ? 
            Pada suatu siang Wirga melihat sesosok yang akrab di mata mendekat. Berlindung di bawah rindang pohon kelapa. Wirga tidak tahu apa artinya ini, ia terlalu takut untuk berharap tapi apapun jadinya ini nanti, ia tahu semua akan berakhir sama baginya. Ia mencintai Ama.
            Ama tidak bergerak di posisinya, ia hanya menatap Wirga yang melangkah mendekat. Baru sekarang ia membaca kerinduan di mata Wirga, entah kenapa ia melewatinya sebelumnya.
 “Let’s do it slowly, day by day, let’s fall in love in our own way. Gitu caramu nembak aku, kan ?”
“Aku nulis itu jurnalmu dulu. Kamu sudah melihatnya lagi?” tanya Wirga, Ama mengangguk.
Sekali lagi, Ama mungkin melupakan banyak hal tapi ia tidak bodoh. Ia merasakan kehangatannya, rasa familiar aneh yang muncul kala Wirga berdiri dihadapannya. Ia tidak mengenal Wirga lagi tapi dia menginginkannya. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh wajah Wirga yang hangat.
            Maka setelah Wirga bertanya. “So what happens now ?

            Dia membalas, diikuti senyuman. “Whatever we want,” 

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!