Elegi Rindu

Karya: Zhee




“...Aku rindu setengah mati kepadamu, sungguh Ku ingin Kau tahu...”
[Rindu Setengah Mati – D’Masiv]
***
            Hujan. Lagi-lagi. Untuk kesekian kalinya Aku disini. Di tempat dan suasana yang sama. Pula, dengan lagu yang sama. Ah, semenjak Kau pergi hati ini semakin tak karuan jadinya. Tak perlu Kau bayangkan Aku akan menikmatinya, Aku sudah jenuh bila kesekian kalinya Kau tak disampingku. Jangankan Kau, bahkan bayangmu sepertinya enggan untuk singgah dalam khayalku.
            Kau tahu? Hari-hari hanya kuhabiskan untuk mematuk jari, menghitung detik kapan Kau kembali. Jari mungilku ini rutin memainkan deretan nada dalam partitur yang Kau hadiahkan. Setiap pagi, bibir ini selalu mengucap doa agar Kau datang menghampiri walau setidaknya hanya bayangmu yang hadir dalam mimpi.
            Hei, Rangga! Apakah Kau tidak ingat? Ini adalah Januari kita. Dimana kita selalu merayakannya setiap tahun. Sudahkah Kau menghitung, berapa Januari yang kita lewati?
            Apa? Kau tidak tahu? Kau tidak menghitungnya, Rangga?
            Baiklah, Rangga. Aku akan memberi tahumu. Terhitung sejak pertama kali kita bertemu, sudah delapan Januari telah kita lewati hingga saat ini. Dan tiga Januari terakhir Kau biarkan Aku bersusah payah menunggu untuk hal yang sama, yaitu kehadiranmu.
            Aku tetap ingat kebersamaan kita di setiap Januari, Rangga. Jangan bilang Kau telah melupakannya. 
            Di Januari pertama, kita bertemu. Masih sama-sama memakai seragam abu-abu kita. Di perpustakaan, Kau datang dan mencoba untuk mendekatiku. Aku menerima Kau, Rangga.
Karena kedekatan kita, teman-teman menjuluki kita ‘sejoli perpustakaan’. Ingatkah apa yang dikatakan teman-teman tentang kita, Rangga?. Mereka berkata, kita adalah dua manusia yang serasi dan kita hanya bisa tersenyum geli mendengarnya.
Kita habiskan tahun pertama kita dengan persahabatan yang penuh suka cita.
            Rangga, bagaimana perasaanmu bila mengetahui bahwa kini Aku tertatih berjalan menyusuri jalan kenangan kita?
Pada Januari kedua, Kau bertanya padaku, “sudikah kiranya bila Kau menjadi pengisi hatiku? Bahkan sampai nanti, sampai maut menjemputku?”
Kau tahu, Rangga? Hatiku sangat bahagia saat Kau utarakan hal ini. Bak terbang diatas pelangi, hatiku tak karuan senangnya. Aku menerimamu, Rangga!
Kemudian Kau berjanji akan selalu bersamaku. Selalu ada saat suka maupun duka, Kaulah yang pertama kali memelukku saat Aku tersungkur menghadapi kerasnya terpaan hidup. Kau juga telah berjanji, Kau akan berdiri di belakangku dan memegang pundakku saat Aku berdiri menghadapi cercaan dunia.
Januari kedua yang manis kan, Rangga?


Memasuki Januari ketiga, banyak konflik yang terjadi. Bahkan sempat membuat cinta kita goyah. Aku mempercayai apa yang mereka katakan dan mengabaikan semua penjelasanmu. Kau tak menyerah, Rangga. Kau bahkan rela menembus derasnya hujan hanya untuk bertemu dan menjelaskan semuanya padaku.
Tapi apa yang kulakukan, Rangga? Aku mencaci dan mengusirmu. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanmu kala itu. Setelah beberapa lama, ku ketahui bahwa mereka yang salah. Aku teringat dirimu dan menangis sejadi-jadinya. Aku menyesali perbuatanku, Rangga. Sungguh.
“Aku percaya, Kau akan kembali kepadaku. Aku tetap mencoba berdiri di sisimu meski ombak beriak memisahkan kita.” Ucapmu yakin.
Aku semakin mengagumimu, Rangga. Tak pelak lagi Kau sangat mencintaiku. Bagaimana bisa kepercayaanmu kepadaku begitu besar kala Aku sudah membuat hatimu sangat terluka?
Pernahkah Kau berfikir, Rangga. Bagaimana jadinya jika Kau sudah tak lagi mempercayaiku?
Mungkin, Januari selanjutnya akan kuhabiskan waktu untuk menyesalinya. Tetapi pada kenyataannya, Kau dengan besar hati menerimaku kembali. Memaafkan semua kesalahanku.
Di Januari ke-empat ini, cinta kita semakin erat, Rangga. Berbagai ujian telah kita lewati, berkat kepercayaan kita yang semakin kuat. Cinta kita bak batu karang yang tak rapuh diterjang ombak.
Rangga, Januari kita berwarna. Kecuali di Januari ke-lima kita dan seterusnya.
Di Januari ke-lima ini, semua warna cinta kita menjadi kelabu. Kau pergi, Rangga. Kau meninggalkanku! Betapa teganya dirimu!
Yang membuatku lebih sakit, Kau tersenyum saat berpamitan denganku. Kau tahu? Senyum itu yang sangat Aku rindukan, Rangga!
Senyum itu membuat Aku semakin tak ingin melepasmu.
Kala itu Kau berkata, “Aku akan tetap bersamamu, Aku berjanji! Meski kelak Januari kita akan terganti, cinta kita tetap putih suci. Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Kita pasti akan bertemu lagi.”
Bohong! Semua yang Kau ucapkan itu bohong, Rangga!
Bila Kau benar, mengapa Aku melewati Januari kita dengan kesendirian? Mengapa Aku harus melewati Januari kita dengan rindu yang tiada berujung? Aku jenuh, Rangga. Menunggu kapan kita akan bertemu kembali. Menunggu semua janji yang Kau utarakan padaku.
Pernahkah Kau membayangkan, bagaimana sakit ku berdiri di tempat yang sama untuk  menanti hal yang tak kunjung datang?
 Rangga, rinduku bak belati yang menusuk seluruh sukma. Rinduku bagaikan duri yang menyayat seluruh tubuhku tanpa ampun. Sakit bila kusadari aku hanya berjalan sendiri tanpa dirimu mengikuti.
            Mengapa aku harus merasakan sakitnya merindumu?           
Tidakkah Kau juga merindukanku?
            Mengapa Aku harus menunggu terlalu lama, Rangga?
            Ah, Rangga. Maafkan Aku.
Aku sering mengusikmu lewat lagu rindu.

Terkadang, seperti saat ini. Aku terlewat merindumu. Aku terlewat mencintaimu, Rangga.  Aku lupa bahwa Kau mungkin sudah bahagia di alam sana. Lalu, bolehkah Aku mengirim alunan melodi rindu ini ke surga?

Komentar

share!