Di Januari, Kau Pergi dan Kembali

Karya: Ochan




Cukup Januari kemarin kutinggalkan,kelamku.
Tentangku dan masa lalu yang membuatku tiada berarti.
***
            Bulan Januari, bulan transformasi, banyak orang bertekad untuk merubah dirinya maupun rencana hidupnya di gerbang tahun baru ini. Sudah menjadi hal yang biasa jika para pembawa acara talkshow mengajukan pertanyaan “Resolusi anda tahun ini apa?” kepada tamunya, membosankan. Ada yang menjawab dengan jawaban yang umum seperti “Saya ingin menjadi manusia lebih baik, bermanfaat bagi orang banyak, dan lebih hati-hati dalam bertindak.”, ada juga yang menjawabnya dengan sangat terencana misalnya “Di tahun ini saya akan membuat sebuah bisnis unik, pertama yang akan saya lakukan adalah...” dan seterusnya. Mungkin bagi kebanyakan orang pertanyaan tersebut sangat memotivasi, tapi tidak bagiku. Bukanlah suatu hal yang berguna jika kita terlalu banyak merencanakan sesuatu, hanya akan menjadi sebuah penyesalan diakhir kalau-kalau rencana itu gagal kita laksanakan. Bergerak sesuai dengan alur dan manfaatkan kesempatan yang ditemui di perjalanan nantinya, menurutku itu cukup. Jangan terlalu banyak berekspektasi, hanya akan menyayat hati.


“Loga, temanmu menunggu diluar. Cepat hampiri!” teriakkan Ibuku memutuskan gumam pikiranku.
“Baik bu.” Jawabku sambil menekan tombol merah di remote control televisi.
            Tahun ini menjadi suatu kesibukan yang besar bagi kebanyakan teman-temanku. Ada yang mencari-cari informasi dari kakak kelas, ada yang keliling-keliling toko buku mencari buku cara cepat tepat mengerjakan soal, ada yang les privat baik itu offline maupun online, ada juga yang sibuk mencari kunci jawaban yang paling mutakhir. Tapi semua itu bukan cara yang aku ambil, terlalu berlebihan bagiku. Cukup belajar bersama teman-temanku, membahas soal-soal tahun sebelumnya juga soal-soal prediksi yang banyak dikeluarkan website berbau pendidikan. Selamat datang Ujian Nasional, semoga penyambutan sederhana yang kami lakukan ini bisa membuat soal-soal Anda cukup ramah pada kami nantinya. Sepertinya Ujian Nasional memang sudah melahirkan budaya baru di negeri yang sudah kaya akan budaya ini. Hanya saja yang perlu dipertanyakan adalah, apakah perlu budaya ini dipertahankan?
***
            Aku hampiri kedua sahabatku, Ilyas dan Rizky sambil membawa tiga gelas jus jeruk dan beberapa toples camilan. Hari ini kami berencana untuk belajar bersama. Ketika aku menghampiri mereka, Rizky nampak sedang asik mengotak-atik soal, itu sudah menjadi kebiasaannya bahkan sebelum kami mengenalnya. Sebab itulah kami mempercayai Dia untuk menjadi guru privat kami menjelang Ujian Nasional ini.
            “Sepertinya Bapak Guru kita sudah sangat siap untuk mengajar hari ini.” ucapku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
            “Wah, kau ini, hahaha.” jawab Rizky terkejut sambil kemudian menutup bukunya.
            “Kita belajar disini saja ya.” ajakku.
            “Baiklah, tapi sebelum belajar ada hal lain yang perlu kita lakukan terlebih dahulu.” ucap Rizky sambil mengeluarkan laptopnya.
            “Wah, jangan-jangan kau membawa laptop untuk sekedar menonton film? Hahaha.” rayu Ilyas kepada Rizky.
            “Enak saja kau, Bapak Gurumu ini tidak akan memberi contoh yang tidak baik pada muridnya, hahaha.” jawab Rizky dengan candaannya.
            “Lalu apa, Pak Guru?” tanyaku.
            “Sepertinya kita perlu mencari tahu perguruan tinggi mana saja yang akan kita pilih di SNMPTN maupun SBMPTN nanti. Jangan sampai kita memilih tanpa pertimbangan terlebih dahulu, aku yakin kalian paham maksudku bukan?” jelasnya.
            “Ide yang bagus.” ucap Ilyas.
            “Ah, untuk apa? Hanya buang-buang waktu saja, Rizky. Bukankah jika kita bisa melalui Ujian nasional maupun SBMPTN dengan baik, maka perguruan tinggi manapun bisa kita raih dengan mudah?” jawabku sinis.
            “Iya aku tahu itu, Ga. Tapi yang perlu kita perhatikan dalam memilih perguruan tinggi tidak hanya dari segi akademisnya saja, kita juga perlu memperhatikan bagaimana lingkungannya. Kuliah beda dengan sekolah, Ga. Di sekolah masih banyak Guru yang menuntun alur pendewasaan kita, tapi nanti, kita hanya didewasakan lingkungan kita secara alami, jika kita salah memilih, bagaimana jadinya?” Rizky mencoba menjelaskan.
            “Jalan pikiranmu itu terlalu kaku, cobalah sedikit fleksibel! Kita ini kan sudah didewasakan di SMA, sudah tahu mana baik mana buruk, kita bisa membatasi diri, tidak masalah kapanpun dan dimanapun itu!” aku menjawab dengan nada yang cukup tinggi.
            “Itulah kau, Loga! Dari dulu, selalu beranggapan bahwa segalanya bisa dihadapi secara instan. Kau selalu saja tidak suka pada sesuatu yang berbau rencana, kau masih saja seperti itu. Aku heran, apa kau tidak punya cita-cita?” Rizky terpancing emosi dengan jawabanku.
            “Sudah-sudah, ada apa dengan kalian ini?” Ilyas menenangkan kami berdua. Seketika kami terdiam, tidak lagi saling bicara. Ini memang bukan pertikaian pertama antara aku dan Rizky, tapi ini adalah pertikaian yang paling besar dalam sejarah persahabatan kami. Biasanya, hanya butuh waktu beberapa jam atau menit bagi kami untuk kembali akur. Tapi entah bagaimana dengan pertikaian kali ini, karena pertikaian pendek ini cukup membuat urat kami berdua menegang.
            Tidak ada seorang pun yang mau mengawali pembicaraan, sekalipun itu Ilyas. Kami hanya saling terdiam, berusaha mencari kesibukan masing-masing dengan membuka-buka buku tanpa membacanya, atau mengusap-usap smartphone tanpa adanya kepentingan. Satu jam pun berlalu, aku pikir tidak akan ada yang berubah jika tidak ada yang berani mengawalinya. Hingga akhirnya, Rizky bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk pergi. Ia sodorkan tangannya padaku sebagai isyarat bahwa Dia akan pergi. Melihat Rizky yang pergi dengan dinginnya dan aku yang masih terdiam saja, Ilyas pun menyusul berpamitan pulang. Dia paham benar keadaanku yang tidak mungkin bisa diajak mengobrol.
***
            Aku buka lemari es di sudut dapur untuk mengambil minuman ber-ion agar menggantikan ion-ion tubuhku yang sudah berkurang karena pertikaian tadi. Setelah kuteguk habis minuman itu, aku berjalan menuju kamarku dan menjatuhkan diri keatas kasur sambil memejamkan mata. Pertanyaan Rizky terus terngiang dipikiranku, “...apa kau tidak punya cita-cita?”. Rasanya pertanyaan itu mengingatkanku pada Januari tahun lalu, ketika Ayah menentang keinginanku untuk menjadi teknisi. Aku belum pernah menceritakan kejadian itu kepada Rizky dan Ilyas, jadi wajar saja jika mereka tidak mengerti mengapa sikapku seperti itu. Aku selalu merasa bahwa tak penting bagiku menceritakannya pada kedua mereka, karena kupikir tidak akan menimbulkan kesalah pahaman seperti ini, tapi ternyata.
Sejak SMP aku memang bercita-cita untuk menjadi seorang teknisi, hingga pada awal semester 2 kelas XI aku anggap sebagai waktu yang tepat untuk mendiskusikannya dengan Ayahku. Namun ternyata, tanggapan yang Ayahku berikan tidak sesuai ekspektasiku sebelumnya. Ayahku tetap menginginkan agar aku mengambil jurusan kedokteran saat kuliah nanti. Mendengar keinginan Ayahku dengan penjelasan dan alasannya yang begitu panjang lebar, membuatku tidak berani menentangnya. Saat itu aku hanya bisa berkata ya, baik, setuju, dan terserah. Rasanya semua bayangan masa depan yang sudah kulukis sejak lama luruh seketika oleh hujan di hari itu. aku berusaha untuk kuat dan tidak menangis, tapi itu membuat perasaanku sakit benar hingga sekarang, hingga rasa sakit itu terlampiaskan oleh sikapku yang keras dan dingin. Sungguh, sebenarnya aku ingin menangis.
            Hingga malam tiba, aku hanya terduduk diatas sehelai karpet hijau, masih mengingat setiap pernyataan yang keluar dari mulut Rizky. Pertikaian tadi membuatku berpikir bahwa sikapku selama ini jelaslah sudah salah. Membiarkan mimpiku pergi begitu saja, bertindak tanpa berencana, meremehkan usaha orang lain, sikap macam apa itu? Andai sejak dulu aku berpikir jernih. Bagaimana bisa Ayahku setuju sedangkan aku baru sekali mencoba? Bagaimana bisa Dia percaya pada mimpiku jika tidak ada kesungguhanku untuk meraihnya? Bagaimana bisa aku berjalan tanpa menetapkan jalan mana yang akan aku jalani? Dan, inilah waktunya bagiku untuk menetapkan jalan itu, sebelum terlambat, sebelum akhirnya aku merasa nyaman berjalan di jalan yang tak berarah. Biarkan aku untuk mengejar kembali mimpi yang pergi sebelum ia pergi lebih jauh lagi.
            Tidak terasa air mata menenggelamkanku dalam renungan, dan itu telah meluluhkan sikap kerasku juga menghanyutkan rasa sakitku. Cukup bagiku menjadi manusia yang keras dan dingin, itu melelahkan. Akhirnya malam menyelimutkan hitamnya untuk hilangkan lelahku dalam pejam, menjemput aku yang baru dengan sejuta mimpinya di esok pagi.
***
            Di sekolah, aku segera menghampiri Rizky.

“Teknisi!” ucapku menjawab pertanyaannya kemarin sambil menepuk pundaknya. Seketika Ia pun tersenyum senang dan menepuk kedua pundakku. Seterusnya, kami hidup dengan sejuta mimpi, tanpa ada yang menghalangi.

Komentar

share!