Di Bawah Kelabu

Karya: Mita Romadhoni Eta Wardana




********************o0o********************
At that place, I get to know how I’m slowly changing every day.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Berlarilah, berbaliklah, dan lihat betapa banyak kau telah berubah. Masihkah kau mengenali dirimu sendiri saat melihat ke belakang?
Aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Karena diriku yang tertinggal di belakang adalah tetaplah aku yang mengharapkan kehadirannya. Aku yang tertinggal di masa lalu adalah aku yang berubah demi dirinya, adalah aku yang akan berubah menjadi diriku yang sekarang.
Januari. Kabut yang dipupus oleh hujan. Dan ketika aku membuka mata, dia telah lenyap.


********************o0o********************
We used to shine so bright together, but now we are strangers.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Musim panas adalah inti dari dirinya, dan dia merapuh di musim dingin. Karena itulah aku ada di sisinya. Karena itulah aku menyebut diriku sebagai kekasihnya. Sebab aku adalah hujan yang menghapus kabut, yang melunturkan salju, yang mengingatkannya bahwa kebekuan bisa mencair. Bahwa setelah musim dingin, seusai musim semi, ia bisa hidup lagi, dan bersinar seperti matahari.
Kami baik-baik saja meskipun hanya berdua. Dia tinggal di sebuah gedung berlantai tiga yang menggunakan lantai dasar sebagai café, lantai dua sebagai studio musik, dan lantai teratas sebagai rumah untuk para pegawai café yang tidak memiliki tempat pulang lain, seperti dirinya. Di lantai tiga, ada sepuluh kamar, satu perpustakaan, dan sebuah ruang kosong yang penuh berisi kanvas dan kaleng cat. Ia menempati kamar yang berdekatan dengan ruang melukis sedangkan aku, yang datang dua tahun setelah ia menjadi penghuni tetap di sana, memilih kamar yang lebih dekat dengan perpustakaan. Selain kami, lantai itu kosong.
Ia tidak pernah diam; selalu tertawa, selalu menyanyi keras-keras, selalu menari seperti orang gila. Ia berlari keluar setiap kali shift-nya usai, tanpa pamit, dan kembali dengan sekantong penuh makanan ringan, lalu mengajakku untuk menghabiskan malam dengan menonton film sambil menikmati snack yang dibelinya. Kami akan menonton di ruang melukis, dengan laptopnya yang menyala diletakkan di atas lantai sementara kami menempatkan diri di atas tikar yang digelar. Dia bergelung dalam selimut, aku duduk bersandar pada dinding. Selalu, sebelum film-nya selesai dimainkan, kami akan tertidur, dan fajar akan menyapa kami dengan sinarnya yang lembut dari celah jendela.
Kami baik-baik saja meskipun hanya berdua. Aku puas dengan berada di sisinya. Dia tidak pernah berkata bahwa dia menganggapku membosankan sebagai seorang teman.
********************o0o********************
In your arms, the world was mine.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Aku tidak punya masa kecil yang bahagia. Dia juga tidak. Kami tidak pernah saling bercerita tentang masa lalu kami, tidak pernah punya keinginan untuk menyakiti satu sama lain. Kami cukup puas dengan tahu bahwa kami berdua memiliki sesuatu yang sama menyedihkannya hingga harus kami sembunyikan.
Memikirkannya kembali, mungkin seharusnya aku bertanya. Mungkin paling tidak aku akan bisa memahami alasannya untuk pergi di kemudian hari.
Seperti yang kubilang, dia adalah musim panas. Di musim dingin, jiwanya seolah mati. Dia tidak berlari keluar untuk berbelanja setelah shift-nya berakhir di musin dingin. Dia tidak mengajakku untuk menonton film bersama di musim dingin. Frekuensi tawanya berkurang di musim dingin.
Di hari-hari seperti itu, aku akan memberinya kopi dalam gelas plastik di ujung hari. Aku akan memutarkan lagu-lagu penghangat musim dingin di malam hari. Aku akan menggandeng tangannya untuk menikmati langit yang kelabu ketika pagi hadir.
Aku adalah hujan, dan aku menyembunyikan setiap lukanya yang tak nampak oleh mata.
********************o0o********************
I don’t know if living in this world is just about always looking for another person.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Ketika ia menghilang, Januari baru saja menjejaki awal bulan. Tiba-tiba aku bangun, dan kamarnya telah kosong. Ia meninggalkan laptopnya, yang penuh berisi lagu-lagu dan film-film favoritnya. Ia meninggalkan buku-bukunya, yang dulu pernah ia rekomendasikan padaku dengan semangat berapi-api. Ia meninggalkan lukisan yang ia kerjakan selama hampir setahun di ruang melukis, masih belum terselesaikan. Ia meninggalkan banyak hal, tapi tak ada ucapan perpisahan. Dia menghilang, bagai kabut seusai turunnya hujan. Dia menghilang, dan aku kehilangan alasan untuk menjadi lebih kuat di musim dingin.
Pemilik café tempat kami bekerja tidak mengetahui apapun. Ada sepucuk surat pengunduran diri di atas mejanya di pagi hari, dan kunci kamar yang dikembalikan. Tulisan tangannya kaku dan rapuh, kemudian ambruk di akhir, seolah ia tak lagi memiliki kekuatan untuk mengakhiri surat pengunduran dirinya. Seolah sesungguhnya ia tidak ingin pergi.
Ketika ia menghilang, aku kehilangan seorang kekasih. Seorang teman. Seorang rekan. Aku kehilangan seseorang yang pernah membuatku hidupku memiliki tujuan.
********************o0o********************
Today, like a fool, I am standing at that spot. Getting wet in the rain, waiting for you who won’t come.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Aku tetap tinggal. Aku tidak pergi. Aku masih di sini.
Jadi, bersediakah dia kembali? Aku masih menanti.
Bulan berlalu, tapi benakku masih terkurung dalam Januari. Lantai tiga tak lagi sepi; ada beberapa pegawai baru yang memilih tinggal di sana. Mereka semuanya memiliki alasannya tersendiri, tapi tak ada yang sama seperti dia dan aku. Aku berusaha berteman, aku berusaha melupakannya.
Namun benakku masih terkurung dalam Januari, dan aku masihlah hujan. Satu-satunya yang ingin kulakukan adalah melindunginya; aku masihlah hujan.
Aku adalah hujan, yang menangis karena aku telah begitu lelah bertahan sendirian.
********************o0o********************
In the far days ahead, just smile for me.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Berlarilah, berbaliklah, dan lihat betapa banyak kau telah berubah. Masihkah kau mengenali dirimu sendiri saat melihat ke belakang?
Aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Aku mengingat diriku, seperti aku mengingat dirinya. Aku tahu saat kami bertemu lagi nanti, mungkin tak ada lagi yang masih sama. Mungkin caranya tertawa telah berubah. Mungkin ia tidak lagi menari seperti orang gila. Mungkin lagu-lagu favoritnya telah berganti genre. Mungkin ia tidak lagi pernah melukis atau membaca buku. Mungkin ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai kekasihku. Namun aku masih. Akan selalu. Tak akan mampu melupakan. Meski begitu, aku berharap ia baik-baik saja di masa depan.
********************o0o********************
I look back, in case you are standing there.
—Kyuhyun, “At Gwanghwamun”
********************o0o********************
Namun jika ia masih bersedia kembali, aku masih di sini.

Aku masihlah hujan. Aku masih ingin menjadi kekasihnya. Aku masih ingin menyembunyikan lukanya—mungkin dengan lebih baik lagi, kali lain.

Komentar

share!