Continue ...

Karya: silly




Mimpi itu datang dengan sendirinya seperti pencuri yang dengan senang hati untuk mengubah suasana hati dari seseorang yang menjadi korbannya. Ya, mimpi itu datang lagi untuk kesekian kalinya. Mimpi yang benar benar merengut keceriaan dari pemilik nama Dika Santoso untuk memulai paginya. Dika terlihat berusaha untuk kembali ke dunia nyata dengan memanggil seseorang yang sangat dirindukannya beberapa tahun belakangan ini. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. “Ibuuuuu....”, teriakan itu mengakhiri mimpinya. Dika bangun dengan nafas memburu karena kelelahan. Dika memejamkan matanya dan butiran bening dari sudut matanya dengan tidak sopan menunjukkan dirinya. Dengan cepat dia menghapus butiran itu dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Angka yang ada pada jam dinding sudah menyuruhnya untuk segera bergegas karena akan ada perkuliahan pagi ini. Dika bangkit dari tempat tidur untuk bersiap-siap.


Dika berjalan ditemani sebuah headphone putih yang dengan setia melantunkan lagu-lagu favoritnya. “Hei, happy new year guys”, teriak salah seorang mahasiswa sambil memeluk temannya yang lain. Suasana kampus masih hangat dengan hiruk pikuk tahun baru. Semua mahasiswa sibuk menyapa satu dengan yang lain sambil mengucapkan selamat tahun baru, bahkan banyak yang membuat rencana untuk sekedar hangout untuk merayakan suasana yang datangnya sekali setahun ini. Tapi tidak untuk Dika. Dika lewat begitu saja tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya. Baginya hal itu hanya membuang-buang waktunya saja. Sesampainya di kelas, Dika langsung mengambil posisi sudut belakang yang bersebelahan langsung dengan taman kampus. Posisi yang paling tenang untuk melihat taman kampus yang hijau dan cukup menghibur hati. Dika duduk dan melihat ke arah taman. Disana dia melihat seorang gadis yang sangat heboh lari kesana kemari yang tak lain hanya untuk mengucapkan happy new year sambil tertawa dengan girangnya. Karena melihata tawa itu tanpa sadar bibir Dika menyunggingkan sebuah senyuman yang sudah lama tak hadir di kehidupannya. Dengan cepat dia menepis senyuman di wajahnya dan kembali hanyut dalam lantunan lagu yang dikeluarkan oleh headphonenya dengan posisi membenamkan kepalanya dengan kedua tangannya di atas meja.

“Dika...” teriak seorang gadis sambil menepuk pundak Dika dan membuatnya memasang tampang kesal sambil melepaskan benda putihnya.

“Happy new year yaa” gadis itu menjulurkan tangannya ke hadapan Dika. Dika hanya menatapnya dan membuat gadis itu canggung dan menarik kembali tangannya. Dika kembali ke posisinya semula. Gadis itu hanya menatapnya untuk beberapa saat sambil memasang tampang bingung dengan beberapa pertanyaan di kepalanya dan kemudian berlalu pergi kembali ke tempat duduknya. Benda putih yang dimiliki Dika melantunkan sebuah lagu berjudul “Missing You – Steve Perry”.

Still I remember things , I never meant
Memories surround me, Won’t let me forget
......

Here I am missing you

Gadis itu adalah gadis yang sebelumnya dilihat Dika di taman dan sekarang berada di hadapannya. Samar, beberapa ekspresi dari gadis itu mengingatkan Dika pada seseorang yang sangat dirindukannya tetapi juga membuat amarahnya muncul hingga membuat Dika mengepalkan tangannya. Gadis itu bernama January yang akrab dipanggil dengan nama Jane. Jane adalah gadis yang sangat ceria dan suka tersenyum. Dia sangat mudah untuk mengekspresikan perasaannya. Ini pertama kalinya Dika bertemu dengan sesorang yang mengingatkannya pada sosok yang sangat dirindukannya dan sekaligus membuat amarahnya tidak stabil.

Jane duduk dan kembali melihat ke arah Dika, sementara Dika sedang dalam posisi memperhatikan gadis itu dari belakang. Gadis itu kembali merasa canggung dan dengan segera membalikkan badannya.

“Ada apa dengannya? Ekspresi itu? Eish, lupakan saja Jane. Abaikan” Jane sibuk dengan pikirannya.

**

“Kenapa aku harus sekelompok dengan dia sih?” rutuk Jane dalam hatinya. Tugas kuliah kali ini benar benar tugas yang memberikan kontribusi besar di semester ini. Jadi, mau tidak mau Jane harus serius saat berhadapan dengan tugas ini. Sementara pada tugas kali ini dia dipasangkan dengan Dika Santoso. Ya, Dika Santoso, seseorang yang sangat dingin dan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya.

“Bagaimana aku harus mengatasi anak itu? Arghhh, apa yang harus kulakukan?”. Dia mengacak acak rambutnya, menghentakkan kakinya untuk mengekspresikan kekesalannya tanpa peduli dengan beberapa pasang mata yang sedari tadi heran melihat tingkah aneh gadis itu. Dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan tingkah laku Jane. Pemilik sepasang mata itu terus mengikutinya dari kejauhan dan memperhatikan Jane dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

“January? Nama apa itu? Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan January. Tapi gadis ini, kenapa dia selalu menarik perhatianku?” Dika berbicara dengan dirinya sendiri sambil terus menjadikan sepasang matanya sebagai penuntun untuk mengikuti Jane.

Tiba-tiba saja terlintas wajah seseorang yang sangat dibencinya tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat merindukannya.

“Arghhhhh. Sialan. Aku benci dengan wanita itu.” Dika memutuskan untuk berbalik dan menghentikan dirinya untuk mengikuti gadis itu. Kemarahan Dika dirasakan oleh Jane. Jane melihat ke sekeliling dan memegang dadanya seperti ada yang aneh, tetapi dia mengabaikannya dan terus melangkahkan kakiknya.

**

Lagi-lagi Dika tenggelam dalam suasana yang dibentuk oleh setiap kata yang dilantunkan oleh Steve Perry dalam lagunya “Missing you”. Ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu yang membuat dirinya sangat membenci semua hal yang berhubungan dengan January. Dika mencoba untuk masuk lebih jauh lagi ke dalam kenangan itu. Ia mencoba membuka kembali setiap lembaran ingatannya. Angka yang menjadi halaman dari lembaran ingatan itu semakin besar sejalan dengan amarahnya yang semakin lama semakin membesar dan akhirnya membuatnya melepaskan benda putih yang ada dikepalanya dengan kasar. Wajah Dika memerah dan hatinya terasa sesak seolah tubuhnya menolak oksigen yang datang. Dika merebahkan dirinya dan memejamkan matanya untuk sesaat di atas tempat tidurnya.

Ponsel yang dimiliki oleh Dika memberikan tanda ada pesan yang masuk. Dengan malas Dika menggerakkan tubuhnya untuk mengambil benda kecil itu dan membuka pesan dari nomor yang tidak dikenal.

“Dika, kamu dimana? Kamu gak niat buat ngerjain tugas kita?”

Meskipun pesan itu dikirim oleh nomor yang dikenal tapi Dika tahu pasti siapa yang mengirimkan pesan itu.

Dika malas untuk membalasnya, tetapi setelah berpikir panjang dia kembali mengambil ponsel nya.

“Aku yakin kamu bisa ngerjain itu sendiri” Dika menekan tombol send.

“Gak! Buka pintu rumah kamu sekarang. Aku sudah ada di depan rumahmu”

Dika kaget membaca isi dari pesan terakhir, dia langsung melompat dari tempat tidurnya dan dengan segera membuka pintu.

“Aku sudah membawa buku-buku yang bisa kita jadiin referensi. Nih!” Jane memberikan tumpukan buku itu ke tangan Dika.

Mereka mulai mngerjakan tugas mereka dengan amat sangat hening. Suasana ini membuat Jane canggung dan merasa bosan. Jadi dia memutuskan untuk memutar lagu kesukaannya, yaitu January by Pilot. Jane menikmati kata demi kata dari lagu itu. Jane membuka perbincangan.

“Aku suka banget sama lagu ini. Soalnya judulnya sama dengan namaku. Coba deh kamu dengerin liriknya. Si pembuat lagu mau nyampein ke pendengar kalo dia gak pengen January itu pergi dengan cepat apalagi dengan kesan yang gak baik. Gimanapun suasana yang kita hadapi di bulan January harus kita lalui dengan baik. Biarpun kita sedih, senang, marah, lelah kita harus tetap semangat dan melaluinya dengan baik. Tapi aku yakin, January itu selalu ngasih suasana awal yang beda-beda. January di setiap tahunnya pasti akan berbeda” Jelas Jane panjang lebar dengan semangat.

Dika berusaha untuk tidak mendengarkan penjelasan dari Jane, tapi apa daya telinganya berfungsi secara otomatis untuk mendengar suara Jane dan hal itu sangat tidak baik untuk suasana hati Dika.
Dika menghentakkan meja dan berdiri “Kamu bisa diam gak? Kamu bisa tenang gak? Kalo mau cepat selesai ya diam, gak perlu ngoceh terus dari tadi”.

Bola mata Jane serasa ingin keluar karena sangat terkejut dengan ekspresi Dika seperti itu. Jane tidak pernah dibentak seperti ini seumur hidupnya. Jane membereskan barang-barangnya dan segera pergi dengan perasaan sedih dan takut sambil membatin “Pria itu selalu membuatku canggung dan takut”.

**

Dika sadar dan terduduk lemas karena dia benar-benar sangat marah tadinya. “Semua ini karena wanita itu. Wanita sialan!” Dika melemparkan buku yang ada di dekatnya.

“Jane, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu” batin Dika. Dika menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

“Gadis itu. Kenapa wajahnya selalu terlintas di pikiranku. Aku tidak menyukai hal seperti ini.”


Dika kembali teringat dengan penjelasan panjang lebar yang diucapkan Jane tentang lagu favoritnya. “Jane, mungkin tidak denganku, yang kuyakini tentang January adalah hanya akan memberikan kelanjutan yang menyedihkan untuk hari-hariku, tidak akan ada yang berbeda.”  Dika mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan yang tertuju kepada Jane. “Maaf unutk hari ini Jane. Secara tidak disengaja, kamu menarik perhatianku”. Tetapi Dika menekan tombol back dan meletakkan ponselnya kembali.

Komentar

share!