Bubur

Karya: Putri Tsalasa



            Kembali ku teguk secangkir kopi di meja kerjaku, berharap kafein yang terkandung di cairan hitam itu mampu mengusir kantukku. Sesekali ku lirik jam di tanganku, jarumnya sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku merutuki kebodohanku yang dengan cerobohnya menghilangkan arsip laporan keuangan yang telah aku revisi kemarin. Sungguh, bekerja di saat rekan kerjamu sedang pergi untuk merayakan pergantian tahun sangat tidak menyenangkan. Berusaha fokus, mataku kembali menatap layar monitor yang menampilkan program pengolah angka dan kembali mengetik.


            “Mbak, bangun mbak, kantor mau saya tutup,” terdengar sayup-sayup suara satpam kantor, pak Jupri di telingaku. Suara itu terdengar berkali-kali dan semakin keras. Aku terbangun dengan mata terbeliak.
 “Astaga! Pak ini jam berapa?  Wah saya ketiduran! Tugas saya belum kelar pak! Ah gimana ini?” aku berteriak kaget, ku lihat dari sudut mataku, Pak Jupri menatapku heran.
“Mbak, ini lo sudah jam sepuluh malam, Mbak apa tidak mau tahun baruan? kok malah lembur di kantor, sendirian lagi.” aku mendengarkan ucapan Pak Jupri sambil mengemasi barang-barangku ke dalam tas jinjing merek Gucci pemberian seseorang di hari ulang tahunku tahun lalu.
“Hehehe, maaf Pak habis saya takut dimarahi Bos, laporan keuangannya belum saya revisi.” sahutku.
“Wah, Mbak ini pasti gak dapat kabar kalau Bos Doni membebaskan lembur pegawainya hari ini, untung saya keliling dulu sebelum menutup kantor. Eh, ketemu Mbak Rina lagi tidur disini.”
“Loh, Masa? saya gak dengar kabar itu, Pak. Tapi terima kasih sudah membangunkan saya” ucapku sembari melangkah beranjak dari bilik kerjaku, mengikuti pak Jupri yang sudah berjalan di depanku. Setidaknya aku bersyukur bisa pulang dan tidur nyenyak di kasur kontrakanku nanti, daripada terjebak di dalam kantor sendirian yang banyak nyamuk dan gelap.
Setelah keluar dari kantor, aku segera menuju satu-satunya skuter matic yang terparkir di tempat parkir roda dua. Langit sudah gelap, tapi masih banyak orang berkeliaran di jalanan. Aku melihat kafe di seberang kantor sangat ramai pengunjung yang didominasi anak muda, pasti untuk merayakan tahun baru, pikirku.
Aku duduk di atas sadel sepeda motorku, lalu mencari kunci motor di dalam tas. Saat merogoh tas, tiba-tiba aku ingat jika seharian ini aku belum mengecek ponselku. Tanganku terus mengoyak isi tas, dan akhirnya aku menemukan kunci motor sekaligus ponsel layar sentuh berwarna hitam milikku. Masih terduduk di atas sadel, aku menekan tombol on  di ponselku. Ku dapati banyak pemberitahun, ada 7 pesan singkat dan 3 panggilan tak terjawab. Aku mengecek pesan terlebih dulu. Ku lihat 2 pesan dari rekanku, Dian menanyakan keberadaanku, lalu 1 pesan dari Asep mengucapkan maaf belum bisa membayar hutang. Lalu 4 pesan yang membuatku tersenyum setelah melihat nama pengirimnya, pesan dari Bos Doni, pesan pertama memberi tahukan jika tidak usah lembur, pesan kedua menyatakan agar aku tidak perlu merevisi laporan keuangan secepatnya, pesan ketiga menanyakan aku dimana, lalu pesan keempat memberitahuku untuk ikut kumpul dengannya dan teman yang lain di restoran bubur di jalan Soekarno Hatta. Selanjutnya aku melihat 3 panggilan tak terjawab, dan semuanya adalah dari Doni, belum sempat aku menelepon kembali, ternyata panggilan masuk dari Doni muncul, dengan wajah sumringah aku menjawabnya.
“Akhirnya dijawab. Rin, kamu di mana? ikut kumpul yuk!”
“Di kantor” jawabku singkat
“Astaga, kamu pasti tidak membaca pesanku, ya sudah cepat berangkat, aku sudah kirim alamatnya tadi. Sampai jumpa!!”
 “Sampai Jumpa.” ucapku mengakhiri obrolan via telepon itu. Setelah mengecek lokasi lewat peta google, aku pun segera menyalakan skuterku dan meluncur ke restoran yang dimaksud.
Pukul 10 lewat 20 menit, aku sampai di restoran yang dimaksud Doni, selepas memakirkan motorku, aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran. Mataku mengamati sekeliling mencari sosok Doni, dan di sanalah dia duduk di depan meja bundar di sebelah kiri meja kasir. Aku menghampiri meja Doni, dan aku melihat sudah ada Dian, Silvi, dan Aldi, duduk melingkari meja itu bersama Doni. Doni yang melihat keberadaanku melambaikan tangannya ke arahku diikuti pandangan mata teman-teman yang lain. Mereka semua adalah rekan kerjaku, dengan keahlian mereka di bidang masing-masing tentunya. Aku duduk di antara Dian dan Doni. Dian satu divisi denganku di divisi keuangan, Silvi di divisi HRD, sedangkan Aldi ada di bidang pemasaran, kami semua bekerja di perusahaan mainan anak-anak dengan Doni sebagai pemimpin kami yang masih muda berumur 24.Kami semua memang pegawai berkisar antara 23 sampai 25 tahun, masih bisa dibilang muda.
“Belum pesan makanan?” tanyaku heran melihat meja masih kosong.
“Menunggu kamu, sayang. Kamu kok tidak peka sih, lagian kenapa malah lembur di malam tahun baru, kamu ini ada-ada saja,” Silvi menyindirku dengan nada yang dibuat menekan kata ‘menunggu kamu’. Aku terkekeh geli, lalu mengambil daftar menu di tengah meja, ternyata restoran ini menawarkan serbaneka masakan bubur, dari mulai bubur ayam, bubur ketan, dan bubur lainnya, selain bubur restoran ini juga menawarkan aneka wedang termasuk ronde. Aku memanggil seorang pelayan yang siap mencatat pesanan kami, aku memesan bubur ayam dan wedang jahe, Doni memesan wedang kopi tubruk dan bubur ketan hitam, Silvi dan Dian memesan bubur sumsum, sedangkan Aldi memesan ronde. Tak lama pesanan kami tiba. Kami makan dalam diam,  belum ada yang mau membuka pembicaraan.
“Ehemm, setelah makannya selesai, kita main truth or truth alias jawab jujur ya! jadi yang terkena ini, nanti harus menjawab pertanyaan dengan jujur.” Aldi memecah keheningan yang sempat terjadi, dia menjelaskan teknis permainan dengan memutar sebuah pensil dengan salah satu ujungnya yang lancip. Silvi dan Dian menyetujui ide Aldi, aku melirik Doni sembari menyendok buburku. Ia mengangguk setuju, aku pun ikut mengangguk tanda menyetujui ide Aldi.
Doni dan aku sudah berteman sejak SMA. Doni lah yang mengajakku bergabung di perusahaannya. Sebelumnya aku tidak memiliki rasa pada Doni, hanya sebatas teman. Namun perasaanku itu berubah semenjak Doni sering curhat denganku, menceritakan keluh kesahnya, dan aku juga melakukan hal yang sama pada Doni, perasaanku padanya masih abu-abu di kala itu, namun aku yakin kalau perasaanku ini adalah rasa cinta saat dia memberiku tas jinjing mahal di hari ulang tahunku tahun lalu, aku merasa diistimewakan oleh Doni, aku juga merasa kalau Doni juga memiliki rasa padaku, namun aku tidak menanyakannya dan hanya memendam rasa ini sendiri, aku sering dibuat galau karena perasaan ini.
“Rina, kok malah bengong. Jadi, apa jawaban kamu?” Dian menyadarkanku dari lamunanku.
“Eh, A-apa?” aku tergagap, lupa apa pertanyaan yang dilontarkan padaku. Permainan jawab jujur sudah dimulai beberapa menit yang lalu, dan aku abaikan dengan melamun sendiri.
            “Yaampun, pertanyaan dari Silvi tadi. Target menikahmu kapan? dan ingin bulan madu di mana?” ucap Doni
            “Oh, mungkin tahun depan, kalau bulan madu mungkin di tempat tidur musim semi, maksudku spring bed” ucapku dengan tertawa garing.
            “Jadi kamu berniat menikah tahun depan, Rin? yaampun dan lelucon macam apa yang barusan kau lontarkan, sungguh garing. Ngomong-ngomong memangnya kau sudah ada calon?” ujar Aldi membabi buta. Sementara Doni hanya tersenyum.
            “Hehehe, belum ada” ucapku jujur. Tidak mungkin memproklamirkan bahwa aku sudah punya calon, jika Doni dan aku belum ada ikatan.
            “Yasudah, sekarang giliranmu yang putar ini.” Doni menyodorkan pensil kepadaku.
            “Tidak perlu. Aku mau pertanyaanku ini untuk kita semua, jadi nanti aku juga menjawab pertanyaanku sendiri, gimana?” aku melihat keempat rekanku sedang menimbang permintaanku, dan akhirnya mereka semua mengangguk.
            “Oke, jadi karena ini jawab jujur, aku minta kalian jujur menceritakan kisah cinta kalian, mulai dari Dian lalu melingkar ke aku”
            Dian menceritakan cinta pertamanya dengan pemain Band yang playboy dan hanya bertahan 3 minggu. Saat giliran Aldi, terdengar suara ledakan kembang api tanda tahun sudah berganti, kami melakukan selebrasi dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang diganti liriknya menjadi selamat tahun baru, sungguh kekanak-kanakan. Aldi melanjutkan bercerita, ia menceritakan para mantannya yang sudah lebih dari 5 jika hitunganku tepat. Silvi menceritakan jika dia belum pernah pacaran sampai sekarang. Kini tiba pada orang yang ingin ku tunggu kisahnya. Aku berharap-harap cemas Doni menceritakan tentang aku. Doni mulai bercerita, menceritakan kalau dia sedang mendekati seseorang, dia menceritakan latar belakang gadis yang ia incar tanpa eksplisit mengungkapkan namanya. Aku tak sanggup mendengar kelanjutan kisah Doni. Aku tahu gadis yang dimaksud bukanlah aku, tapi dia Nisa sahabatku sewaktu SMA dulu. Jadi, Doni mendekatiku untuk mengetahui kabar Nisa saja, aku merasa sakit hati. Aku merasakan kelopak mataku mulai panas, tidak ingin mereka melihat air mataku, aku berdiri dan pamit pulang dengan alasan sakit perut. Meski sempat dicegah karena sebentar lagi giliranku menjawab pertanyaanku sendiri, aku tetap berlalu pergi.
Di perjalanan dengan skuterku, aku menangis. Nyatanya benar jikalau nasi sudah menjadi bubur, seperti bubur yang aku santap tadi, dan kata yang terucap tidak bisa ditarik kembali. Permainan jawab jujur di restoran bubur pada hari pertama bulan Januari ini, menjawab gundah gulana dan dilemaku, menggantungkan hati pada pria yang dengan tanpa bohong membicarakan kisah cintanya. Faktanya, tidak ada aku di sana, di cerita kisah cinta pria itu. Sungguh, kegalauanku terjawab sudah, meski rasanya sakit, setidaknya aku tahu bahwa dirinya tak pernah untukku.

***

Komentar

share!