BINTANG DENGAN CAHAYANYA

Karya: Liza


Judul lagu: : 1. JANUARI – GLENN FREDLY ; 2. PANAH ASMARA – AFGAN ; 3. KU TAK MAU TERGESA-GESA – SHANDY SANDORO ; 4. MALAIKAT JUGA TAHU – GLENN FREDLY.



Sebelas januari bertemu..
Menjalani kisah cinta ini.. Naluri berkata engkaulah milikku..

Seorang wanita berusia 18 tahun memasuki toko buku langganannya. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore tepat. Ia berjalan menuju stand di mana novel-novel dipajang. Tangannya menyusuri setiap novel yang ada. Lalu berhenti pada sebuah novel yang menarik perhatiannya. Gadis dengan mata bulat nan tajam itu menarik novel tersebut dari rak. Dia membaca sinopsis yang berada di bagian belakang novel tersebut. Bukan sebuah kutipan percakapan yang dia temukan, melainkan sebuah potongan kutipan puisi dari penulis terkenal yaitu Kahlil Gibran.

Ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yang nipis kainnya dan mengalirkan sayang, namun bukan menyentuh bibirku.

Seperti itulah puisi yang tertulis pada novel yang sedang di pegang oleh gadis itu. Tanpa pikir panjang dia segera berjalan ke kasir untuk membayar novel yang akan dibelinya. Baru saja ia berbalik, badannya menabrak punggung seseorang. Wanita itu terduduk dan novelnya terlempar tak jauh darinya.


Dia meringis pelan, “Aduh”. Bukannya memeriksa anggota tubuhnya, gadis itu malah mencari novelnya yang terlepas. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, sampai ditemukannya novel yang ia cari. Dia menggapai novel itu dan menggenggamnya. Tiba-tiba sebuah tangan sudah berada dihadapannya. Dia menatap sebentar tangan itu lalu mendongakkan kepalanya melihat sang pemilik tangan. Ternyata seorang pria dengan mata sipit yang tajam, hidung mancung, alis mata tebal dan bulu mata yang melentik sedang menatapnya datar. Kening wanita itu berkerut bingung. Sedangkan lelaki dihadapannya tampak menaikkan alis kanannya.

“Berapa lama lagi Anda akan menatap Saya dan membiarkan tangan Saya ini pegal?” ujar lelaki itu masih dengan raut datarnya. Wanita itu tersadar lalu segera bangkit tanpa menerima uluran tangan lelaki itu.

“Maaf, Saya tidak sengaja menabrak. Saya tidak melihat ada orang di belakang,” ujar wanita itu membungkukkan badannya sekilas. Lelaki itu menatap lama wanita dihadapannya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Beberapa detik kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya, lagi. Masih dilanda bingung, wanita itu membalas uluran tangan lelaki dihadapannya.

“Saya Bintang,” ujar lelaki itu menyebutkan namanya.

“Cahaya,” sahut wanita itu menyebutkan namanya juga.

Setelah perkenalan yang singkat itu, mereka mencari tempat untuk berbincang setelah sebelumnya Cahaya membayar novel yang dipegangnya. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Yang jelas, seperti ada magnet yang menarik mereka untuk mengenal lebih dalam kepribadian masing-masing. Saat Cahaya menceritakan tentang kegiatannya, Bintang diam-diam mengagumi sosok wanita yang baru ditemuinya itu. Mata bulat nan tajam, alis asli tertata indah, bulu mata lurus serta bibir tipis yang menambah kecantikan wajahnya. Begitu pula dengan Cahaya yang juga mengagumi Bintang. Karakternya yang menyenangkan jika diajak berbincang apa saja membuat Cahaya nyaman bersama Bintang. Ditambah dengan matanya yang sipit. Tipe Cahaya sekali. Perbincangan mereka berlanjut di hari-hari berikutnya. Mereka menyempatkan untuk bertemu dan berbicara apa saja. Seakan tak ada habisnya pembahasan mereka. Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Tak terasa sudah setahun mereka mengenal satu sama lain. Waktu yang berlalu pun menumbuhkan suatu perasaan berbeda di hati mereka.

Sudah katakan cinta sudah kubilang sayang
Namun kau hanya diam tersenyum kepadaku

Hari ini tepat satu tahun mereka mengenal sejak pertemuan pertama mereka di toko buku itu. Saat Cahaya tak sengaja menabrak punggung Bintang. Tanggal 11 Januari 2015. Sekarang, mereka sedang berada di sebuah Rumah Baca milik temannya Bintang. Sepasang pemuda pemudi itu duduk berhadapan di sebuah kursi dan meja yang terbuat dari kayu.

“Aya,” panggil Bintang pada Cahaya yang sedang membaca salah satu biografi tokoh terkenal.

Merasa dipanggil, Cahaya menoleh, “Iya?”

“Aku mau ngomong bentar,” ujar Bintang menatap lurus gadis di depannya.

Cahaya mengangguk mempersilahkan Bintang menyampaikan sesuatu.

“Udah tepat setahun kita kenal, banyak waktu yang kita habiskan bersama. Aku gak nyangka bisa deket banget sama cewek. Biasanya aku paling males kalo terlalu dekat dengan cewek. Tapi aku ngerasain hal yang berbeda semenjak pertama kali aku ketemu kamu. Aku juga enggak nyangka ngulurin tangan gitu aja untuk kenalan sama cewek. Aneh. Sejak itu, aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Setiap kita ketemu aku selalu memastikan perasaan aku ini. Baru aku nyadar kalo selama ini aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu,” jelas Bintang panjang lebar menatap tepat di manik mata Cahaya. “Be mine, Please?

Cahaya terdiam mendengar penjelasan Bintang. Dia mencerna apa yang Bintang sampaikan. Jantungnya berdetak sangat kencang, tangannya tiba-tiba saja menjadi sangat dingin. Dia gugup. Namun, Cahaya hanya bisa tersenyum menanggapi Bintang. Dia bingung. Jujur, dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Bintang. Dia juga mencintai Bintang. Gadis itu bangkit tanpa mengucapkan sepatah katapun lalu berjalan meninggalkan Bintang dengan sejuta kalimat yang menguap begitu saja.

Ku tak mau kau tergesa-gesa untuk katakan cinta
Ku tak mau kau terlalu cepat tuk beri aku semua

Cahaya termenung di kamarnya. Dia baru saja pulang menemui Bintang. Semua perkataan Bintang terngiang-ngiang di telinganya. Raut keseriusan lelaki itu tak hilang dari bayangannya.
Ini terlalu cepat, pikirnya.

Cahaya tidak menyangka Bintang akan secepat ini menyatakan perasaannya. Memang, satu tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi, dia belum siap. Dia takut itu hanya perasaan sebentar Bintang. Dia belum terlalu yakin. Dia takut jika menerima Bintang, semuanya berubah jika mereka berpisah suatu hari nanti. Cahaya tidak ingin berpisah dengan Bintang, dia sangat nyaman berada di samping lelaki itu.

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari..

Setelah kejadian Cahaya meninggalkannya di Rumah Baca itu, Bintang semakin gencar menghubungi Cahaya. Dia berusaha untuk menanyakan jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan tempo hari. Setiap hari juga dia berusaha meyakinkan Cahaya bahwa perasaannya adalah nyata. Cahaya menerima Es Krim yang tadi dia pesan lalu mengajak Bintang menuju toko baju. Di perjalanan, seseorang tak sengaja menyenggol Cahaya yang menyebabkan Es Krim yang dipegangnya jatuh mengenai baju dan wajahnya. Beberapa orang memerhatikan Cahaya dan orang yang menyenggolnya meminta maaf. Wajah Cahaya sekarang belepotan Es Krim, dia merasa malu penampilannya rusak. Saat dia menoleh ke samping kirinya, Bintang sudah tidak ada lagi. Pada saat itu juga dia merasakan hatinya sakit karena ditinggal Bintang dalam keadaan memalukan seperti ini. Dia mengira lelaki itu malu berada didekatnya sekarang. Wajah Cahaya sudah merah menahan malu dan tangis. Dia menyembunyikan wajahnya di balik lekukan lututnya. Sampai akhirnya seseorang mengangkat kepalanya, lalu tanpa malu membersihkan sisa Es Krim yang mengotori wajahnya dan menghapus sedikit cairan bening di sudut matanya dengan tisu yang entah darimana dia dapatkan. Cahaya terpana. Ternyata lelaki itu Bintang, yang dicarinya tadi. Dengan masih ditatap oleh Cahaya, Bintang memberikan satu cup Es Krim serupa seperti yang tadi dimakan Cahaya dan membantunya berdiri.

“Cuma ini yang bisa aku buktiin kalo aku cinta sama kamu. Aku enggak tau lagi apa yang harus aku lakuin untuk meyakinkan kamu, aku pasrah apapun jawaban kamu setelah ini,” ujar Bintang lalu memberikan sebuket bunga mawar merah yang disembunyikan di tangan kirinya. Semua orang mengelilingi mereka. Penasaran apa yang terjadi pada sepasang muda-mudi itu.

Bintang kembali berkata sambil menatap mata gadis dihadapannya, “Cahaya, be mine, Please?
Sebutir cairan bening kembali terjatuh di sudut mata Cahaya. Tanpa pikir panjang, dia mengangguk lalu menghambur ke pelukan Bintang.

“Terima kasih,” bisik Bintang membalas pelukan Cahaya. Semua orang yang menyaksikan memberikan tepuk tangan melihat sepasang muda-mudi yang sedang berpelukan dengan aura kebahagiaan yang terlihat jelas. Bagi mereka, bulan januari merupakan sumber kebahagiaan.


Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya..

Komentar

share!