Azalea di Januari

Karya: Ifaa Latifa




            Malam tahun baru di Januari 2016 masih sama seperti tahun sebelumnya, ‘sebuah’ alunan hujan dan ‘sebuah’ cerita yang masih sama. Selain Aza, semuanya akan berbahagia menyambut tahun baru dengan menyalakan berbagai jenis kembang api, dinner, atau sekedar bercengkrama dengan keluarga di rumah. Seperti sebuah kebalikan ketika Aza baru sampai di rumahnya setelah pulang dari les tepat pukul 7 malam, Aza mendapati ruang tamu yang berantakan. Vas kesukaan mama, dan lukisan favorit papa pecah dan teronggok begitu saja. Gadis berambut hitam panjang sebahu dengan pipinya yang tirus itu tak lagi heran dengan keadaan rumah yang tak pernah rapi. Aza yang tampak tanpa ekspresi berjalan dengan langkah biasa bahkan dengan menggumamkan sebuah lagu seolah tidak terjadi apa-apa.
            “Aza makan dulu, Nak. Mama sudah buatkan makanan favorit kamu..” Sang mama berseru dari ruang tengah menggandeng tangan Aza menuju tempat makan. 3 piring Spagetti bolognise sudah terhidang di meja, dengan papa yang sudah duduk santai sambil menghisap rokoknya. Aza menuruti perintah mamanya tanpa berkata apapun. Dia menoleh sejenak ke  arah mamanya, wajah penuh dengan lebam, biru, dan bengkak. Sudah seperti kebiasaan sejak 2 tahun silam, ketika orangtua Aza kerap bertengkar bahkan tak jarang sang papa yang menggunakan kekerasan, membanting segala isi dalam rumah hingga semuanya hancur. Dan setelah ‘pertarungan’ fisik itu, mereka akan berpura-pura tidak melakukan apapun, kemudian makan bersama dengan nyaman di meja makan seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Tidak ada komunikasi. Semua hanya memutari meja makan, diam, dan kemudian menghabiskan isi piring masing-masing. Dalam pikiran Aza sering terbesit pertanyaan, kenapa mereka saling bertahan satu sama lain dengan kondisi ini, bertengkar, lalu beberapa menit kemudian melakukan kegiatan seperti biasa seolah-olah tidak ada yang terjadi adi antara mereka. Hal itu terkadang membingungkan Aza, namun dirinya tetap memilih diam.
            Seusai makan, Aza akan segera menuju kamar, mengunci pintu kemudian duduk di meja belajarnya sambil membuka buku dengan santai dan bergumam lirih, menggumamkan melodi yang terdengar tak beraturan. Dan tak lama kemudian, dia akan mendengar kembali teriakan mamanya, bentakan papanya, dan suara-suara bising pertengkaran mereka.
***


            “Hei Azalea, gimana malem tahun baru nya?” Aza tersenyum tipis kepada laki-laki yang menghampirinya di salah satu meja perpustakaan di sekolah.
            “Nothing special, kamu?”
            “Semalem sih gue jalan sama Elle, cewek yang gue suka itu. Sepertinya sih gue bakal dapettin dia..” Lagi-lagi Aza tersenyum tipis, atau lebih tepatnya senyumnya terlalu tipis sehingga tidak ada yang tahu bahwa Aza sedang tersenyum. Gadis itu menyukai laki-laki di depannya. Rambut pendek yang berantakan, postur tegap, jangkung dan tinggi, matanya yang lebar belum lagi hidung mancung dan lesung pipit yang menghiasi senyum lebarnya.
            Adalah Yora, teman Aza sejak SD. Bisa dibilang mereka sudah berteman sejak SD hingga mereka SMA kelas 2 sekarang. Kemanapun mereka berdua seolah tak terpisahkan. Entah sejak kapan, Aza mulai menyadari bahwa dia mulai menyukai sosok yang ada di sampingnya itu. Dengan segala kekurangan yang dia miliki Yora tetap mau berteman dengannya. Ya, hanya ‘berteman’. Yora tak pernah menilai persahabatan itu lebih dari sekedar hubungan pertemanan karena Yora sendiri punya wanita idaman yang bernama Elle. Mungkin kali ini Aza terjebak dengan situasi yang disebut ‘friendzone’. Menyukai sebelah pihak dan dia tahu itu benar-benar menyakitkan ketika mengetahui Yora dengan senyum lebarnya datang ke hadapannya hanya untuk bercerita tentang Elle. Di sekolah, Aza sendiri anak yang pendiam dan tidak mudah bergaul. Jika ditanya siapa teman Aza, tentu saja hanya Yora. Karena sejak dulu Aza tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
            Sepulang sekolah, Aza berencana akan memberi Yora sebuah tiket konser music dari band favorit Yora. Namun baru saja melangkah ke luar kelas, Aza melihat Yora dan Elle tengah berjalan beriringan sedang keluar dari gerbang sekolah. Yora terlihat begitu bahagia di samping Elle dan senyuman Yora pada Elle itu membuat Aza iri. Aza yang tampak marah namun dengan wajah yang datar hanya menatap kosong kepergian mereka, tangan kanannya yang tengah memegang tiket konser yang urung diberikan pada Yora terkepal kemudian kertas itu dibuangnya sembarangan. Aza kembali melangkahkan kakinya dengan santai, kemudian menggumamkan melodi tak beraturan seperti biasanya.
            Minggu ke dua di bulan Januari, tetap seperti neraka bagi Aza. Entah itu di rumah maupun di sekolah. Di rumah dengan semua kepura-puraan dan di sekolahpun dia juga harus menjadi orang yang berpura-pura di hadapan Yora. Terlebih, akhir-akhir ini Yora sering tersenyum karena Elle dan itu begitu memuakkan. Baginya, melihat Yora bahagia dan dirinya sengsara adalah suatu ketidakadilan. Bagaimanapun Aza yang selalu ada di samping Yora apapun yang terjadi, Aza yang selalu tahu apa yang Yora inginkan, sukai dan dia benci. Segala hal tentang Yora, bahkan Aza rajin men-list nya dengan sticky note di kamarnya.
            “Azaleaaaaa!!!” Yora dengan senyum bahagianya berlari menghampiri Aza di sudut perpustakaan.
            “Ini perpustakaan, Yora..” Ucap Aza lirih sambil membalik-balikkan buku bacaannya. Dia tahu, Yora datang hanya untuk memberitahu tentang kelanjutan hubungannya dengan Elle.
            “Gue gak peduli, Za. Gue lagi bahagia. Guess what??” Aza menatap laki-laki di hadapannya itu namun sedetik kemudian kembali beralih ke bukunya. “GUE JADIAN SAMA ELLE!!” Aza yang mulanya tak peduli, beralih menatap Yora yang sedang bahagia. Dia bahkan tidak sadar bahwa bukunya terlepas dari genggamannya. “Woy, Za lo kenapa?” Aza tersenyum tipis kemudian menggeleng cepat.
            “Selamat ya, akhirnya salah satu resolusi lo di tahun 2016 ini terkabul..” Dusta Aza.
            “Thanks Azalea, emang lo bestfriend gue banget lah ya.” Yora spontan memeluk Aza. Tanpa disadari airmata Aza mengalir. Sebelum Yora menyadari itu, dengan cepat Aza menyapu airmatanya yang sudah terlanjur turun membasahi kedua pipinya.
            Hujan kembali mengguyur dan Aza memilih bertahan berjalan di bawah hujan. Seperti biasa dengan langkah santai dan gumaman melodi yang tak bernada. Bahkan dia tak merasakan pipinya yang menghangat karena airtmata, mungkin karena tertutupi oleh derasnya air hujan. Sesampainya di rumah, Aza sudah basah kuyup. Ketika membuka pintu, dilihatnya kedua orangtuanya tengah bertengkar hebat. Aza berjalan melewati mama dan papanya yang sedang beradu mulut, bahkan mereka tak menghentikan perdebatan saat mengetahui Aza pulang dengan basah kuyup dan berjalan melewati mereka.
            PRANG!!!!
            Mama dan papa Aza terdiam dan menoleh ke asal suara. Dilihatnya Aza telah menghancurkan aquarium. Kemudian, Aza berlari ke dalam rumah menghancurkan semua piring-piring dan gelas yang ada di dapur. Mama dan papa yang terkejut segera mengikuti anak semata wayangnya yang tengah mengobrak abrik seluruh isi rumah bahkan lebih dari yang dilakukan ketika orangtuanya bertengkar.
            “AZA!! APA YANG KAMU LAKUKAN!! HENTIKAN!!” Papa meraih tangan Aza mencoba menghentikan, namun Aza mendorong papanya dengan kasar hingga terjatuh. Tak tahan melihat itu, sang mama juga mencoba mendekati Aza yang tangannya sudah mengeluarkan banyak darah akibat terkena pecahan kaca.
            “Nak, hentikan! Jangan lakukan ini pada kami!!”
            “Apa? Kami?! Kalian merasa masih ada di dunia ini? Sejak kapan kalian ada? Kalian biasa ngelakuin ini sama Aza, bertengkar setiap hari, merusak semuanya, sekarang Aza lagi bantuin kalian. Gak salah kan? Kenapa kalian betah hidup dengan kepura-puraaan seperti itu? Makan di meja makan dengan muka lebam?”  Aza menoleh ke  arah mamanya. “Dengan beberapa box rokok?” Aza kemudian menoleh ke  arah papanya. Aza jatuh terduduk sambil berlinang air mata dengan tatapan kosong tanpa suara, kemudian menggumamkan melodi seperti biasa
***
            Aku melihat Aza tengah duduk menatap langit-langit sambil memeluk lututnya. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, dan wajahnya datar lebih datar daripada biasanya. Aku duduk di sampingnya dan mencoba mengajaknya berbicara, meskipun kemungkinan dia tidak lagi mengenaliku sebagai Yora yang selalu dikaguminya. Melihat Aza yang lemah seperti itu membuatku seperti ingin menangis, dan seolah memberitahuku bahwa selama ini aku tidak berguna membiarkan Aza terpuruk dalam kesedihannya sendiri sedangkan aku hanya berbahagia di sampingnya tanpa mengetahui apapun tentang lukanya. Setelah membaca semua sticky note yang tersusun rapi di kamarnya, aku tersadar bahwa selama ini dia merasa terabaikan dengan keadaan keluarganya ditambah aku juga tidak pernah memperdulikan apapun tentangnya dan apapun yang ingin dia ceritakan padaku. Jika ada kesempatan kedua, aku hanya ingin kembali disampingnya seperti dulu. Bukan dalam keadaan seperti ini, ruangan ini, tempat yang pengap, yang dijaga 24 jam, yang tiap hari harus dipaksa minum obat. Ruangan yang hanya penuh dengan jeritan-jeritan orang pesakitan.
            “Gue pulang dulu ya, Cepet sembuh Azalea…” Aza hanya terdiam tanpa menoleh ke arahku saat aku keluar dari ruangannya.

Sementara alunan musik santai milik Billy Bragg – January Song mengalun penuh emosi. Seolah – olah tengah menggambarkan apa yang terjadi selama bulan Januari kemarin. Dari kejauhan lirih sayup-sayup suara gumaman Aza mendesir pelan mengikuti irama January Song. Hanya Aza yang tahu, dan tidak ada satupun yang dapat mendengarnya….

Komentar

share!