Akhir Tak Berujung Januari

Karya: Tania Stewart




Hari itu adalah hari senin di awal Januari 2015. Tidak ada yang Jennifer lakukan selain menyapukan pandangannya ke sungai Seine, seraya mengenang kembali kenangan selama satu tahun yang telah dilaluinya.

Ribuan kenangan ia coba untuk ia ingat, meskipun hal itu terasa pahit untuknya. Dan ia coba juga untuk ia lupakan, sekalipun itu adalah kenangan indah baginya. Layaknya ribuan butiran salju yang menyelimuti Kota Paris dengan kedinginannya, agar tercipta sesuatu yang menghangatkan.

            
Sungai Seine tak pernah membuatnya ingin datang, sekalipun ia adalah tempat di mana dirinya bertemu dengan John Brian untuk pertama kalinya, 5 Januari 2014, 365 hari yang lalu.

            Saat itu Jennifer hanya memandangi gembok-gembok yang memenuhi setiap ruas tempat layaknya pagar setinggi perut itu. Hingga tiba-tiba laki-laki berambut hitam pendek itu datang.

            “Kau hanya perlu mencantumkan gembokmu di deretan ribuan gembok yang lain. Kau tak perlu khawatir apabila gembokmu tak akan terlihat di sana. Pasti akan terlihat jelas walaupun gembok yang kau berikan tertutupi oleh gembok yang lain, sekalipun gembok yang kau berikan berukuran sangat kecil. Dan seperti itulah cinta. Sebesar apapun usaha yang kau lakukan untuk menutupinya, ia pasti akan terlihat dan tetaplah disebut cinta, meski sekecil apapun perasaan cinta yang kau rasakan.”

            John Brian tak terlihat seperti orang yang tak menyenangkan bagi Jennifer. Orang yang ramah, bukanlah sifat orang yang ia benci, dan seperti itulah John Brian di mata Jennifer saat pertama kali mengenalnya.

            Tujuh hari waktu untuk mereka saling kenal, hingga akhirnya perasaan suka di antara keduanya bermuara di sebuah hubungan yang hanya bertahan selama empat bulan.

            Cinta yang berawal dengan kehangatan di akhir musim dingin, berakhir dengan dingin di awal musim panas.

Sifat hangat John Brian yang ia kenal, seketika berubah, bertepatan dengan bergantinya musim dingin ke musim semi.

“Sudah kubilang ! lepaskan hak tinggi itu ! Kau seolah seperti memamerkan kepada orang lain bahwa tinggi badanmu lebih tinggi dari pacarmu ketika kau memakainya !”

“Tapi aku menyukainya, John !” Jennifer memandang dirinya kembali di depan cermin, seraya menarik nafas dalam-dalam. Tak terasa matanya berkaca-kaca.

“Hapus lagu itu ! Kau sudah tahu bahwa aku tidak menyukainya !”

“Tapi aku suka !” Jennifer segera pasang headphone dan ia kunci pintu.

            “Kau tak pernah tampak menyenangkan bagiku !”

            “Kau tak pernah…” Jennifer segera berjalan, sembari menghapus air matanya dengan punggung tangan kirinya. Ia memutuskan untuk pergi menuju Parisian Café, tempat favoritnya untuk menyeruput segelas cappuccino hangat. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan dirinya sementara waktu.

Ia segera mencari tempat duduk dan memesan segelas cappuccino setelah pelayan menghampiri mejanya. Kemudian ia ambil buku catatan kecil yang ia taruh di saku depan jaket tebalnya, dan meneruskan tulisannya tentang James Taylor di dalamnya.

            Ia segera menyeruput cappuccino, setelah yang ia pesan itu datang. Dan tiba-tiba pandangannya mengarah kepada laki-laki yang tengah bersendau gurau bersama dua rekannya di sana, di depan pandangannya.

            Dan Jennifer tidak tahu, bahwa laki-laki itu juga menatapnya ketika dirinya sedang menulis. Laki-laki itu segera menghampirinya, setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari percakapannya dengan kedua temannya.

“Bolehkah aku duduk di sini, Nona?” Jennifer mendongak, dan mengiyakan permintaan laki-laki itu. Laki-laki itu segera duduk, dan meminta kepada Jennifer bahwa ia ingin mengambil gambar Jennifer menggunakan Kamera Leica M miliknya.

Kemudian mereka saling bertukar nama, dan membicarakan masa lalu mereka masing-masing hingga mereka saling tertawa dan saling terkekeh.

You said you never met one girl who had as many James Taylor records as you
But I do
We tell stories and you don't know why, I'm coming off a little shy
But I do
And you throw your head back laughing like a little kid
I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did

            Dan yang Jennifer tahu, bahwa dirinya tak lagi mendapati luka di dalam hatinya selepas putus dengan John Brian, setelah ia bertemu dengan laki-laki bernama Kendrick Bornet itu.

Esoknya, 6 Januari 2015, Jennifer pergi ke suatu tempat mengendarai sepedanya melewati jalan dengan batu besar di pinggirnya. Mengingatkannya yang berhasil melewati sebuah hubungan tak mengenakkan dengan John Brian, yang tak pernah sependapat dengannya.

Took a deep breath in the mirror, He didn't like it when I wore high heels, but I do
Turn the lock and put my headphones on, He always said he didn't get this song but I do, I do

Jennifer memasuki salah satu toko baju, dan mencoba baju tebal yang akan ia kenakan besok. Kendrick Bornet mengajaknya kencan kemarin.

Rabu, 7 Januari 2015.

Walked in expecting you'd be late, But you got here early And you stand and wait
I walk to you
You pulled my chair out and helped me, And you don't know how nice that is
But I do

And we walk down the block, to my car, And I almost brought him up
But you start to talk about the movies, That’s your family watches every single Christmas
And
I won't talk about that
For the first time, what's past is past

Cause you throw your head back laughing like a little kid

I think it's strange that you think I'm funny 'cause he never did
I've been spending the last eight months thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a café I watched it
begin again
But on a Wednesday in a café I watched it begin again

Komentar

share!