Akhir Rasa Ini - Part 2

Karya: Eni Ristiani
Baca Akhir Rasa Ini - Part 1, klik di sini

Dua tahun kemudian. Di tempat yang sama.

Lonceng di pintu masuk itu kembali berbunyi dan menimbulkan suara yang sama. Aku menoleh ketika kudapati suara yang sama menyuruhku membuatkan secangkir kopi pahit dengan kadar kepahitan yang amat tinggi—Death Wish Coffee. Bahkan dia menyuruhku untuk menyeduhnya dengan air setengah cangkir.

“Itu tidak ada di menu,kataku berbohong.

“Kenapa tidak ada?”


“Aku tidak tahu."

Dia mendesah, tersenyum sembarang.

Sebenarnya, aku bisa saja membuatkan kopi sesuai pesanan. Mengingat Kafe ini adalah kedai khusus kopi yang pada kenyataannya semua jenis kopi tersedia. Tidak masalah jika itu tidak ada di dalam menu sekalipun. Tapi aku tidak ingin membuatnya. Yang kutahu, dia sama sekali tidak menyukai kopi dengan kadar kepahitan yang tinggi. Kecuali, jika seleranya sudah berubah.

Kamu tidak pernah berubah Mia.” Dia mengulangi kalimat itu. Dan membuatku seolah harus mengingat kedatangannya di dua tahun lalu. Aku memahami maksud di balik kalimat itu. Kamu tidak pernah berubah. Masih tetap kucintai seperti dulu.

Matanya masih sayu. Penampilannya masih sama tak menyenangkan. Bahkan, beberapa bulu kasar tumbuh di sekitar bibirnya tak teratur. Apa dia tidak merawat dirinya sendiri selama ini? Bukankah dia pernah bilang padaku bahwa dia tidak suka memiliki brewok di sekitar mulutnya? Ah, mungkin dia sudah benar-benar berubah. Bukankah, tahun juga selalu berubah?

“Mia, bisa kita bicara?”

Aku tertegun, kenapa gaya bicaranya masih sama?

“Mia,” panggilnya lembut ketika aku tidak menjawab satu katapun darinya.

“Mau mengganti pesanan?”

“Kamu melupakanku, Mia? Apa kamu sudah melupakanku?” Nada suaranya sudah mulai bergetar. Sementara itu, aku masih dengan kuat-kuat menahan perasaanku supaya tidak sama seperti dua tahun lalu. Aku tidak akan menangis lagi karena kepergiannya. Aku sudah berjanji akan melupakannya. Aku sendiri yang memutuskan pergi dan tidak ingin kembali lagi. Merelakan, mungkin jauh lebih baik.

“Aku sudah berusaha tidak takut Mia. Tapi, aku masih takut.” Suaranya makin bergetar. Kini air dari kedua sudut matanya mengalir.

“Aku berusaha tidak takut ketika tidak ada dirimu. Tapi, perasaanku tetap sama. Bahkan aku semakin takut. Apakah kamu telah melupakanku, Mia?” Dia menatapku dengan perasaan yang amat terluka. Meski aku tahu beberapa pasang mata pelanggan akan bertanya-tanya menatap seorang barista terlihat terlibat percakapan intens dengan seorang pelanggan pria, sesungguhnya aku hanya peduli dengan keadaan Rama. Aku sebenarnya tidak ingin melihat dia menjadi orang yang hancur. Tapi, hidup harus terus berjalan. Dengan atau tanpa aku disisinya. Dia… harus tahu, takdir bersama memang tak selalu menyertai kami. Takdir adalah jalan cerita dari tangan Tuhan. Seberapa kuat kami menahannya. Jika bukan jalan itu yang harus kami lalui. Tak akan pernah bisa. Setidaknya, ada keajaiban di balik semua tangisan bukan? Ada janji kebahagiaan yang jauh lebih indah. Tuhan selalu lebih tahu.

“Aku sudah melupakanmu, Rama. Jadi, bisakah jangan menemuiku lagi?”

Aku harus melakukannya. Meskipun ini akan melukai dirinya lagi, aku harus tega. Karena memang, kadang berbuat tega adalah cara yang paling baik untuk memulai kehidupan baru. Untuk memulai melupakan.

“Aku akan menikah.”

Mendengar kalimat dariku, Rama terlonjak kaget. Matanya membulat dan bertambah sayu. Bertambah gemetar bibirnya. Beberapa menit percakapan kami terputus. Diam mengudara dalam percakapan yang tak ingin kuikuti ini.

Pertanyaan-pertanyaan mungkin sedang melayang-layang di pikiran Rama. Namun dia harus belajar memahami takdir. Meskipun aku harus mengambil resiko besar dengan membohonginya. Begitu juga, membohongi perasaanku sendiri.

Menit ke tiga puluh tujuh, tepat ketika mata kami bertemu. Melihatnya masih dalam tanda tanya besar tentang perasaanku membuatku iba. Namun aku benar-benar harus tega. Kemudian anggukan kecil telah menjadi akhir percakapan antara dua manusia yang bimbang ini. Dua manusia patah hati yang belajar kata ‘merelakan’. Aku dan dia.

Dia berdiri pelan. Menatapku yang diam yang masih sama acuh dan masih sibuk meracik kopi dengan Portafiler. Rama mengangguk lagi. Kini anggukannya lebih mantap. Entah apa yang ia pahami dan ia simpulkan dengan sikapku kali ini.

Dia tersenyum. Tanpa kata ia melenggang ke arah pintu keluar. Menutup pintu keras-keras menimbulkan bunyi lonceng yang membuat beberapa pelanggan kafe terkejut dan melirik ke arahnya.

Aku menghela napas panjang. Setetes, air mata dari sudut mataku keluar.

            Kali ini aku harus tega. Aku harus tega membunuh perasaanku. Sejak kali pertama Ibu Rama datang dan memintaku untuk menjauhi Rama, aku tahu kehidupan menyakitkan tentang perasaanku pada Rama akan berakhir tragis. Aku tahu, hubungan kami akan berakhir seperti ini.


            Kisah kami tidak akan lebih baik jika kami terus memaksa mempertahankan. Sementara restu untuk kami bukanlah milik kami. Aku tidak mengalah hanya ingin menyadari sesuatu yang sebenarnya bukan milikku.

TAMAT

Komentar

share!