Akhir Rasa Ini - Part 1

Karya: Eni Ristiani


RUANGAN ini cukup besar, interiornya yang khas dan menyenangkan selalu membuat pengunjung betah berada lama di sini. Meja bundar dengan kelima kursi yang mengelilinginya bertebaran sejauh satu meter ditata rapih. Jendela kaca yang terbuka membuat sinar matahari yang redup sedikit membantu penerangan.

Beberapa kali pelayan memintaku untuk membuatkan minuman hangat penuh filosofi ini. Apalagi, ini adalah musim hujan. Pasti lebih banyak pengunjung yang akan memintaku membuat kopi panas berkadar kepahitan yang bervariasi. Aku menyukai pekerjaan ini tapi andai saja ada pekerjaan yang lebih baik lagi. Aku akan melepaskan pekerjaan ini. Lagipula, gaji yang tak seberapa membuatku berpikir tentang kerja tambahan. Entahlah, aku sedang butuh banyak uang untuk biaya kuliahku di sini. Di kota yang besar ini, tidak mungkin aku meminta Ibu di kampung untuk menambah jumlah uang kirimannya sementara aku tahu beliau juga sedang kesusahan.



“Mia, ini pesenan meja delapan. Buruan ya.” Rasti menyodorkan kertas kecil berisi pesanan pelanggan untuk kukerjakan.

“Oh ya, satu cappucino dengan sentuhan karya ajaib dari tanganmu untuknya ya,sambungnya sembari tersenyum, lalu kembali melakukan aktivitasnya lagi.

            Aku mengangguk.

Pintu yang berjarak sepuluh meter dariku kemudian terbuka, menimbulkan suara lonceng yang sengaja di pasang di pintu. Seorang pria bermata sayu dengan sedikit gontai berjalan pelan. Tak lama, sosok itu mendekati mejaku dan tersenyum. “Aku sudah tahu kamu pasti di sini. Kamu tahu, aku sudah mencarimu ke mana-mana.” Matanya yang teduh terlihat sayu. Tubuhnya yang dulu tegap kini tak terlihat menyenangkan seperti dulu. Sepertinya, dia banyak mengalami perubahan.

Aku mendesah. Masih sibuk dengan pekerjaanku.

“Beri aku caffe latte.”

Setelah menyelesaikan beberapa cangkir pesanan, kutaruh di atas nampan dan segera kusingkirkan untuk kemudian diambil oleh karyawan lain. Kemudian, kuseduh kopi dalam cangkir baru untuk diberikan kepada pria itu.

Ia menghirup dalam-dalam aroma dari kepulan asap cangkir kopi itu sebelum dengan cepat meneguknya.

Kamu tidak pernah berubah Mia,komentarnya dengan senyum yang sulit kuartikan. Kini dia telah duduk di bangku tinggi di depan meja panjangku. Coffe Shop dengan gaya arsitektur Eropa kuno, rasa Italia dan pemilik seorang mualaf dari Fillipina ini adalah tempat kerjaku selama tiga tahun terakhir.
“Mia, bisa kita bicara?”

Aku masih diam, masih menyeduh beberapa cangkir kopi. Masih sibuk dengan grinder, tamper, portafiler dan mesin espresso untuk meracik kopi pesanan. Kertas pesanan itu sudah bertumpuk di jepitan kecil yang sengaja ku pasang tak jauh dari lemari meja.

“Mia,” panggilnya sekali lagi.

Aku memutar kepalaku, memandang ke arah pria itu. “Apa yang mau kamu bicarakan? kita sudah berakhir, Rama,kataku sedikit kesal. Benar, aku mengenal pria bermata sendu itu.

Mendengar jawabanku, dia tersenyum kecut. Kemudian tangannya merogoh saku celana jeans-nya untuk kemudian mengambil satu batang rokok dan membakarnya dengan korek api. Melihatnya yang terlihat frustasi, aku menghela napas. Kutahu Rama masih ingat bahwa aku benci asap rokok. Dulu, ia tak pernah terang-terangan menghisap benda mematikan itu di hadapanku.

Asap mengepul dari hisapan bibir menghitam Rama secara kurang ajar ia semburkan tepat di wajahku. Kutahu ia kesal karena aku malah diam mengacuhkannya.

Aku masih diam. Diembusan asap mematikan yang ketiga, barulah bola mataku kuarahkan tepat di bola matanya. Dia tersenyum, kali ini mata sendunya menatapku. Entah mengapa aku merasa ada kerinduan yang belum tersampaikan di sana.

Apakah… dia merindukanku?

 Biarkan aku mengusirmu karena telah lancang mengganggu karyawan yang sedang bekerja,kataku mengancam.

Rama menyeringai. Dengan gerakan kesal, ia buang putung rokok yang ada di tangannya kemudian ia injak dengan penuh penekanan dengan sepatunya.

Kenapa setelah sekian lama tak bertemu, nada bicaramu ketus, Mia?” katanya. “Tidakkah kamu merindukan aku?”

Sorot matanya seolah menghujamku, namun aku yang takut terjebak mengalihkan tatapan kepada sembarang arah.

Apa kamu yakin tidak mau memperbaiki semua? Hubungan kita… kenapa tandas disaat aku sedang cinta-cintanya?”

Jantungku berdebar, takut tak bisa bertahan dengan keangkuhan perasaanku, kuminta seorang karyawan yang kebetulan lewat untuk menggantikanku.

“Jangan pergi dulu, masih ada yang ingin aku bicarakan padamu. Kumohon dengarkan aku.” Ia membujukku ketika karyawan yang menyetujui menggantikan posisiku beranjak masuk ke tempatku. Aku terpaku di tempat, begitu juga dengan karyawan yang adalah teman karibku itu.

“Sekali ini saja, kumohon!”

Nadanya membuat telingaku perih, sekaligus perasaanku yang tiba-tiba terasa teriris. Bisa kurasakan, tubuhku melemah. Aku rindu, Rama. Kamu tahu? aku sangat rindu. Bahkan saking rindunya, air mataku kering.

Aku diam. Tetap melakukan pekerjaan seperti biasa. Seorang barista, tidak berhak ngobrol lama dengan seorang pelanggan. Meskipun pelanggan itu memohon. Aku hanya bisa mendengarkan. Dia hanya tidak ingin aku pergi kan? Hanya ingin aku mendengarnya?

Dua minggu lagi, aku akan menikah, Mia. Apakah… apakah kamu akan mencegahku?

Dia kini menatapku, berharap penuh atas jawaban yang sesungguhnya sudah ia ketahui. Aku mengedikkan bahu, tak bermaksud memberi kepastian apapun.

“Benarkah tidak ada harapan lagi? Benarkah kita tidak akan bersama lagi?” Kini kepalanya tertunduk. “Aku pasti akan gila karena ini semuanya. Bagaimana aku bisa menjalani ini jika aku masih mengharapkanmu. Bagaimana jika semuanya akan berubah dan aku tak pernah akan mendapatimu tersenyum padaku. Bagaimana jika aku....” Nada frustasinya membuatku ingin meledakan rasa sedih yang kusimpan sejak lama. Namun aku tidak bisa.

“Rama,” panggilku dengan lirih. Aku meletakkan cangkir. Beralih menatap pria malang itu. “Aku sudah melepasmu. Jangan khawatir… aku pasti akan datang ke pesta pernikahanmu. Kamu pasti akan baik-baik saja.” Kukatakan pernyataan bohong itu supaya Rama bisa segera berhenti membuat perasaanku hancur.

“Sudah kubilang bahwa aku takut Mia. Apa kamu tidak merasakannya?”

Aku diam berusaha tidak menatapnya. Lalu, pelan-pelan kembali mengaduk gula yang sudah kutambahkan ke dalam cangkir.

“Benar kamu tidak merasakan ketakutanku?”

Meski tak mendengarku merespon, dia terus berceloteh. “Aku benar-benar takut Mia. Bagaimana mungkin aku tidak boleh mencintai orang yang aku cintai. Bagaimana mungkin aku harus menjauhi orang yang aku sayangi. Aku tidak bisa, bahkan kamu pasti lebih tahu daripada aku. Aku sudah lelah merasa kalah dengan perasaanku.” Ia mendesah, untuk kali pertama dia menangis di depanku. “Bisakah kita mengubah takdir ini, Mia? Ayo kita rubah kebahagiaan kita. Ayo kita menikah.”

Tawaran itu telah selesai diucapkan.

Beberapa detik aku sempat terkejut. Meski aku tak merespon, aku tahu dia menatap detail gerakanku. Bahkan aku tahu, dia merasakan perasaanku yang serba salah saat ini.
Rama menunggu.

Satu menit, dua menit. Hingga tak terhitung berapa menit telah kuhabiskan untuk tidak merespon tawaran Rama. Dia tetap menatapku dengan penuh pengharapan.

Di menit kepuluhan. Entah berapa tepatnya, pertahanan Rama goyah. Mungkin, dia telah menyimpulkan tatapan acuhku. Mungkin dia akan menyerah dengan tidak adanya respon dariku.
Kini Rama berdiri dan menatapku lagi. “Seandainya aku bisa mempertahankanmu, aku tidak akan merasa setakut ini Mia. Kamu harus tahu, aku tidak pernah merasa takut jika bersamamu.”

Dia melenggang pergi.

Kemudian sosoknya lenyap dibalik pintu keluar. Tepat ketika aku menyelesaikan cangkir kopi ke empat belas. Dengan bunyi lonceng yang terdengar sama ketika ia datang.


***
Baca Lanjutannya,klik di sini

Komentar

share!