Akhir Januari

Karya: Meta



Apa kau pernah merasa kecewa? Apa kau pernah disakiti? Apa kau pernah menyakiti?  Apa kau pernah berjuang? Apa kau pernah di sia-siakan? Apakah kau pernah merasakan suatu penyesalan? Pernahkah kau terjebak dalam hal itu? Penyesalan yang bagaimana? Apa penyebabnya? Siapa dalangnya? 

Ya. Aku pernah mengalami itu bahkan sampai saat ini aku tidak bisa keluar dari jebakan itu. Aku bingung akan hal ini. Bukankah biasanya orang menyesal karena telah menyia-nyiakan seseorang yang mencintainya? Tapi tidak dengan diriku aku justru sangat menyesal pernah memberi kesempatan berulang kali kepada seorang Lelaki, aku menyesal pernah memperjuangkan hubungan kami. Dio namanya. Ini kisah cinta yang rumit untuk perempuan seusia ku. Aku seorang remaja yang belum mengerti tentang cinta. 

Sesuatu yang membuatmu pergi, pada saatnya akan menjadi sesuatu yang membawamu pulang kembali. Sesuatu itu berwujud satu, tetapi memiliki dua nama, “luka” dan “kenangan”. Yang satu membuatmu ingin melangkah jauh dan yang satunya lagi memaksamu untuk mendekat kembali. Tarik menarik antara mereka, biasa di sebut : CINTA. 



Cinta? Apa itu cinta? Hanya bisa menyakiti dan disakiti. Lelah rasanya jika terus seperti ini, lebih baik aku tidak usah melanjutkan cinta. Lama-lama hati yang lembut ini bisa menjadi keras lalu berbuat kejam kepada yang menyakitinya. Aku tidak mau seperti itu. 

Oh iya, aku masih tetap terbayang-bayang oleh rasa kecewa ini. Sesal ku yang tak kunjung hilang, kecewa ku yang tetap ada, amarah yang tak kunjung reda, hingga perih yang tak kunjung pulih. Ini semua karena kamu, Dio! Kamu yang berkata manis, kamu yang berjanji, kamu yang memulai, kamu yang mendekat, kamu yang meyakinkan aku, dan kamu juga yang merusak semuanya. Tapi memang benar bahwa akulah yang mengakhirinya, karena dirimu. Ini semua salah mu. 

Kita yang dulu baik-baik saja. Kita yang dulu bahagia. Kita yang dulu saling pengertian. Kita yang dulu saling menyayangi. Kita yang dulu saling mencintai. Tapi itu dulu Dio, semua udah berubah dan ini karena kamu. Tetap salah kamu. 

Di bulan ke-4 kita bersama, semua mulai berubah. Kita selalu bertengkar, kita hanya mementingkan ego. Aku mulai muak dengan sifat posesifmu, karena sifat itu apa yang aku lakukan selalu salah dimatamu seolah cuma kamu yang paling benar. Aku tertekan denganmu, jarang sekali aku merasakan bahagia seperti dulu karena kamu. Kita berubah. 

Saat itu di bulan Januari kamu sedang berulang tahun. Aku ingin sekali memperbaiki hubungan kita. Aku berencana untuk merayakan ulang tahunmu. Aku dan teman-teman telah sepakat untuk merakannya di sawah milik Ray. Kue ulang tahun dan properti lainnya sudah siap, aku bingung gimana caranya biar Dio mau main kesini karena waktu itu kita lagi berantem. Akhirnya Ray dan teman-teman yang ngajakin dia kesini, untungnya dia tidak curiga. Kita mulai membaik saat itu, aku dan kamu terlihat bahagia. Aku sempat pinjam handphone Dio, dan ternyata mengejutkan. Dio ada chating sama perempuan lain dan itu temen aku. Perempuan itu Wina. Aku merasakan ada yang berbeda diantara kalian dengan membaca chat itu, tapi aku berusaha memendamnya. Aku yang begitu kesal hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa. Aku buang jauh-jauh pikiran buruk tentang kalian karena aku percaya Wina dan Dio tidak mungkin mengkhianati aku. Dan akhirnya aku mulai tidak peduli dengan masalah itu, aku sudah melupakannya. Kita bahagia di hari perayaan itu, kita membaik tanpa ada basa-basi dan kata maaf. 

Setelah acara itu aku mulai ada firasat buruk tentang Wina dan Dio, tapi aku berusaha buang jauh-jauh firasat itu. Dio mulai berubah, kamu tidak seperti biasanya. Aku cuma bisa diam, aku tidak mau lagi ada pertengkaran di antara kita. Sudah beberapa hari berlalu kita mulai sering bertengkar lagi. Aku bingung apa maunya Dio, karena masalah sepele saja pertengkaran kita bisa sehebat ini. 

Cinta itu hitam dan putih. Ada gelap dan juga terang. Cinta tidak selamanya penuh keindahan dan kejelasan, tapi juga punya bagian gelap yang selalu bikin kita tersesat. Tidak semua cinta berjalan dan berakhir dengan indah. Banyak yang terperangkap dan terkurung dalam berbagai masalah. Ya contohnya seperti kisah cinta ku. 

Aku berusaha mempertahankan hubungan kita. Aku berusaha berbicara dengan mu tapi kamu malah sibuk dengan game di handphone mu, kesabaran ku mulai melewati batas. Di tambah lagi dengan ucapan mu yang ini “kalo udah gak tahan lagi ya udah putusin aja” “putus aja kalo emang mau putus” Aku masih berusaha untuk bertahan tapi kamu berulang kali mengatakan hal yang sama, aku sudah tidak kuat lagi mendengarnya. Akhirnya aku memutuskan hubungan kita. Benar, kamu sudah berubah, biasanya kamu menolak jika aku minta putus tapi kali ini kamu menerimanya. Aku tau memang secara tidak langsung kamu ingin putus. Keinginan mu sudah terjadi, kita sudah putus. Kamu senang? Pasti kan haha. 

Sampainya aku di rumah kamu bbm aku, memohon untuk balikan. Jelas aku tidak mau, toh kamu kan yang ingin putus. Tiba-tiba firasat yang dulu datang lagi, aku benar-benar merasa bahwa kamu ada perempuan lain. Aku cuma bisa cerita sama sahabat-sahabat ku. Lima hari setelah kita putus kamu jadian sama Wina, teman yang cukup dekat dengan ku. Oh, aku biasa saja mendengar kabar itu, karena memang firasat ini sudah mengatakannya lebih dulu. Aku tau apa sebabnya sekarang, karena perhatianmu sudah terbagi. Firasat ini benar. 

Berapa hari setelah kalian jadian aku tidak menyangka bisa dekat dengan temanmu. Mike, teman dekatmu. Kamu yang tau hal itu ternyata benar-benar cemburu. Hah?? Ga mungkin kan? Kamu udah jadi milik orang lain tapi kamu masih saja cemburu sama aku, yang lebih mengejutkan lagi kalo kamu malah berusaha untuk balikan lagi sama aku tanpa mengakhiri hubungan kalian. Aku dan Mike saling menjauh. 

Bagaimana bisa Dio masih mencintaiku? Dio aku jutekin, karena aku tak ingin Wina salah paham. Dio benar-benar gila.  Dia berani ninggalin Wina demi aku. Dia maksa aku, dia minta aku menghargai usahanya, aku terpaksa untuk balikan sama dia. Aku selalu bilang sama dia jangan sakitin Wina cukup aku aja yang udah kamu sakitin. 

Dari awal sampai akhir bulan Januari, kesempatan yang aku kasih ini ternyata kamu sia-siain begitu aja, kamu jalan berdua sama Wina di depan aku. Aku benar-benar marah. Aku langsung minta putus. Tapi kamu bisa nenangin aku, dan bodohnya aku bisa luluh dengan kata-kata manismu. Tapi tidak berlangsung lama. Aku tetap saja minta putus sama kamu karena aku benar-benar nggak nyaman lagi sama kamu. Aku gak mau kamu bohongin lagi Dio. Aku dan Dio akhirnya putus untuk kesekian kalinya. Dan aku nggak akan mau lagi balikan sama Dio. 

Selama 4 bulan kami pacaran, di bulan Januari ini adalah bulan terakhir. Di akhir bulan Januari ini kisah aku dengan Dio cukup sampai disini.

“Kasihku, sampai disini kisah kita. Jangan tangisi keadaannya.”

Komentar

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!