Ada Apa?

Karya: Raframa Yahya



            Keheningan pagi buta pecah oleh suara decit ban yang beradu dengan aspal yang masih basah dengan hujan semalam. Motor biru meluncur keras, menyingkirkan sampah yang ditinggalkan penikmat pesta tadi malam. Menyapu bersih sisa terompet dan serbuk-serbuk kembang api. Disapu habis dengan genangan darah yang beradu dengan genangan air hujan yang diuraikan oleh gerimis yang turun rintik-rintik. Beradu dengan udara yang mengembun, darah mengering seiring dengan matahari yang mulai naik.
            Aih, Januari yang cerah.
*


            Hening. Padahal tadi aku mendengar suara decit motorku sendiri yang beradu dengan jeritan keras penuh ketakutan. Lalu kudengar suara berat paling menakutkan sebelum aku membisikkan nama Tuhanku, mengucapkan kasih dan syukur atas dua puluh tahun yang paling bahagia. Sebelum kembali hening. Dan aku membuka mata kembali ketika mendengar suara sirine yang saling bersahutan. Siuasana jadi tegang.
Ada apa?
            Sekuat tenaga aku berusaha mengalahkan kantuk dan menghalau sinar putih yang silau di mata. Kudapati diriku terbaring tertutup selimut tipis. Menguatkan diri sendiri, aku duduk dan terbelalak, mendapati tubuhku yang masih terlelap dengan senyum manis. Belum habis rasa heranku, kudengar tangis seiring dengan pembicaraan mengenai pemakaman. Ibu, duduk disampingku sambil menggenggam tanganku erat-erat. Dengan wajah pucat dan hidung merah. Ia tampak berusaha tegar sambil mendengarkan keterangan yang disampaikan lelaki berbaju polisi. Bapak, disampingnya, tampak serius mendengarkan apa yang disampaikan polisi tersebut. Aku mengibaskan tanganku tepat di wajah Ibu dan Bapak, berharap mereka memperhatikanku. Tapi ternyata tidak. Perhatian keduanya benar-benar teralih. Sesekali melihat jasadku yang membuat keduanya langsung meringis, lalu berusaha memfokuskan pikirannya pada apa yang disampaikan polisi.
            Aku berusaha menyibakkan selimut yang mulai memerah. Entah apa yang terjadi pada tubuh dan terutama wajahku, hingga selimut benar-benar basah oleh darah. Tapi sia-sia saja. Tanganku terlalu ringan bahkan tembus pandang. Usahaku belum berhasil ketika sirine mati dan kendaraan berhenti. Pintu terbuka. Seolah jalanku menuju Tuhan terbuka begitu lebar.
            Barisan orang begitu padat seiring dengan pintu yang makin terbuka, dan ranjang beroda yang diturunkan oleh lelaki berpakaian serba putih. Aku mengekor pada Ibu dan Bapak yang ikut mendorong ranjang beroda menuju tenda sederhana berwarna hijau. Warna sederhana, warna kesukaanku. Aku terheran-heran melihat barisan orang yang membentuk pagar betis, membelah begitu saja ketika ranjang beroda melewati mereka menuju rumah. semua temanku berkumpul. Bahkan temanku sejak kecil hingga kuliah, semua berbaris seolah barisan TNI yang memberi penghormatan pada kawannya yang gugur di medan perang. Juga semua sepupu dan saudara, baik dari pihak Ibu dan Bapak, tampak di sekelilingku. Dengan wajah pucat dan mata basah.
            Ada apa?
            Keterkejutanku lagi-lagi tak terjawab ketika Ibu membawa masuk ranjang beroda dengan aku diatasnya ke dalam rumah, dimana ruang tamu sudah dipenuhi orang-orang dengan Al-Quran di tangan. Berkomat-kamit membaca surat Yaasin dan surat-surat pendek. Perhatianku teralihkan oleh aroma lezat dari arah dapur. Aku berjalan setengah berlari menuju dapur, dimana Una, wanita tua yang selalu menemaniku sejak kecil, tampak menahan tangis sambil memasak nasi goreng ekstra mentega. Yang dihidangkanya di piring favoritku ketika kecil. Piring berwarna kuning dengan hiasan bunga matahari di sekelilingnya. Masih menahan tangis, Una menaburkan keju diatasnya. Bukan untuk siapa-siapa. Una meletakkannya begitu saja diatas meja makan. Lalu beralih ke kompor dan menengok panci dengan air yang mulai mendidih. Telur berwarna putih, telur ayam kampung, yang dipecahkannya telur setengah matang itu di mangkuk berwarna biru, lalu Ia menaburkan sedikit garam keatasnya. Aroma telur setengah matang kesukaanku menguar begitu saja. Ia kembali menghidangkannya. Dan beralih ke pantry, membuat susu cokelat hangat. Dihidangkannya. Sambil Ia menahan tangis kembali.
            Aku ingin memeluknya, namun suara petikan gitar dari atas terdengar. Suara paling familiar yang pernah kudengar. Aku berlari dan menaiki tangga dua-dua, tak sabar melihat siapa yang berani masuk ke kamarku. Dan disana, kulihat Adam sedang duduk di pinggir ranjang, memainkan gitar tanpa nada yang jelas, yang biasa dimainkannya untukku seorang. Memainkan lagu kesukaan kami dan tidak pernah lepas dari keseharianku. Rambutnya yang sebahu berantakan. Lalu aku duduk disampingnya dan berusaha merapikan rambutnya yang dibiarkannya panjang. Sayangnya bayanganku bahkan tidak mampu menyentuh helai-helai rambutnya. Hanya mampu membuat rambutnya berdiri karena aliran statis. Wajahnya basah. Ia menunduk dan berlutut, tak mampu menahan rasa sedih. Ia berdiri dengan frustasi, sebelum akhirnya berdiri di depan ranjangku, membaca kertas-kertas yang kutempelkan di dinding. Aku berdiri disampingnya.
            Berbagai agenda dan target yang belum tercapai, dan tidak akan tercapai, tertulis disana. Diantaranya, pergi ke London atau S2 di Al-Azhar. Atau menghapal Alquran dan punya anak kembar. Juga tiket konser yang akan dihelat minggu depan, yang tidak akan pernah bisa kuhadiri bersamanya. Aku mundur selangkah, lalu kakiku menginjak sesuatu yang empuk. Boneka gadis kecil berbaju biru, teman tidurku sejak kecil. Kasihan kamu, harus tidur seorang diri sejak malam ini. Tapi aku tidak bisa meraihnya, jadi aku berjalan kearah tumpukan buku yang menggunung, yang akan berdebu sejak saat ini. Atau berakhir di perpustakaan yang kumuh?
            Adam keluar, aku mengekorinya, kembali melewati meja makan yang masih menguarkan aroma keju yang menggoda. Tangis Fala pecah ketika aku melewatinya, keponakanku, anak Teh Farah, sepupuku. Ia bisa menggantikanku menemani Ibu dan Bapak mulai saat ini. namun lagi-lagi perhatianku teralih oleh tahlilan yang dimulai. Dipimpin oleh wanita berkerudung merah dan berkulit sawo matang, guru mengajiku sejak kecil. Yang juga tak dapat membendung tangisnya. Seolah-olah berada di Makkah, rumah ini diselubungi doa-doa yang bertaburan, dari luar hingga ke dalam rumah. semua khusyu’ membaca doa dan surat, dengan jasadku berbalut kafan di tengah-tengahnya. Aku keluar dari rumah, masih mengikuti Adam. Melihat orang-orang yang pernah membenciku juga datang. Mengenakan pakaian serba gelap dan wajah basah.
            Ada yang terjadi.
            Keceriaan tahun baru sirna sudah. Entah apa yang menggantikannya. Ini masih Januari, waktu dimana semua hal yang dibalut senang-senang sudah seharusnya terjadi. Ini masih Januari, waktu dimana semua rencana dan target dimulai lagi. Ini masih Januari, waktu dimana mempertanyakan lagi esensi satu tahun ke belakang dan menjawab semua kegagalan dengan semangat seperti pagi hari. Ini masih Januari, bukan waktu untuk menyendu apalagi bersedih hati.
            Atau Januari sudah hadir. Membawa kembali semua rahasia yang penuh teka-teki. Tentang hidup atau rencana hidup sampai nanti. Januari sudah hadir. Kembali membawa kabar mengenai biji yang disebar satu tahun ke belakang, yang entah akan disemai sebagai kembang atau sebagai api. Januari sudah hadir. Yang kembali membawa pertanyaan yang tak kunjung terpecahkan. Tentang tujuan hidup dan apa saja yang akan dibawa mati.
            Januari menyapa. Dan akhirnya aku usai juga. Samudera baru menyapa, menghiburku dengan kematian yang menyempurnakan dan lengkaplah sudah. Hanya perpindahan. Hanya awal kekekalan dimana kematian untuk kehidupan tanpa kematian. Aku usai di awal. Di Januari yang cerah.

            Aku usai di Januari yang bersemi.

Komentar

  1. Bagus banget. Feelnya kerasa:'''' tapi pengen tau itu meninggalnya karena kecelakaan ya? Hehe :p

    BalasHapus
  2. Keren banget. Berasa kyk didalem critanya :')

    BalasHapus
  3. Great story. So touching T_T

    BalasHapus
  4. Danke kafkop. Ini dr album sinestesia palig bar

    BalasHapus
  5. Tersentuh banget sama ceritanyaaa , good job Raframa Yahya

    BalasHapus
  6. jelek banget, rumit, terlalu sureal

    ngomoong-ngomong, ada terang bulan enak lho

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan berkomentar :)

share!