Polaris


Yuk kirimkan karyamu!


Debur ombak membasuh karang, membasahi batuan yang kering, lama tak tersentuh. Gemulai nyiur melambai-lambai, menari, bergoyang seirama angin. Angin malam berhembus, menyapu kristal pasir putih, berdansa bersama ombak dan nyiur hijau.

Namun ia disana, sendiri. Memandang jauh, sangat jauh, seakan jiwanya tak akan pernah dapat digapai lagi. Bulir-bulir air mengalir deras, membasahi pipinya, pipi yang dulu selalu dibelai oleh dia.

Dipeluknya tubuh itu sendiri, dingin.. Tawa sendu bergema di tengah harmoni musik alam. Dingin ini tak sedingin hati yang ditinggal pergi tuannya.

Dirasakannya batu karang menggores lengan, perih.. Lagi, tawa itu terdengar lagi. Perih ini tak seperih hati yang melihat tuannya mendua Luka sayat terkena asinnya air laut, pedih.. Tak sepedih hati yang berpisah dengan tuannya, jauh.

Ia tersesat, kehilangan arah, bagai nelayan yang kehilangan rasinya. Bahkan konstelasi bintang di angkasa tak dapat menuntunnya pulang.

Malam berganti pagi, dingin berganti panas, bulan berganti tahun. Tak ada artinya, ia tetap sama, tetap terjebak seakan ia berada di dimensi lain. Jauh di hati kecilnya ia tahu, ia tahu ia tak akan pernah bisa kembali. Tak akan ada yang bisa menuntunnya pulang, pergi dari ‘jebakan’ dimensi ini. Tak akan ada yang bisa menunjukkan dimana ia berada.

Ia sadar, ia telah kehilangan bintang polarisnya, bintang paling terangnya. Saat ini ia sendiri, seakan berada dinujung lain kutub bumi. Saat ini ia sendiri, meratapi sang polaris yang pergi ‘tuk menuntun lain hati.

Komentar

share!