Pelangi Senja

Karya: April

Dia menyenderkan punggungnya di bangku, tas ransel berwarna coklat tua itu dia letakkan di sampingnya. Gadis ini tak biasanya lupa mengenakan jaket, tapi kali ini dia minus jaket kesayangannya. Ia memeluk tubuhnya sendiri hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak menusuk setiap sel kulit. Cuaca yang mendadak berubah jadi mendung menandakan akan turunnya hujan siang ini.

Mata gadis itu seolah mencari sesuatu yang ditunggunya entah apa. Ponsel yang ada di tangannya tidak ada tanda-tanda pesan masuk ataupun telepon. Ia memutar-mutar ponselnya seperti mainan, kemudian meletakkannya di sampingnya dengan sesekali meliriknya.

“Rea, maaf telah menunggu.” Suara itu memecah keheningan dan kekhawatiran yang membelunggu gadis itu. Rea nama gadis itu, gadis manis yang berkelakuan tomboy. Rea tersenyum pahit.

“Hm, ada apa?,”Rea berdiri dari posisi duduknya. Dia sangat benci jika menunggu apalagi menunggu hampir satu jam lamanya, tapi ini demi seseorang yang untuk pertama kalinya mampu meluluhkan batunya hati Rea dan kerasnya sikap Rea yang berbeda dengan gadis pada umumnya.

Laki-laki itu memandang wajah Rea seakan wajah Rea akan menghilang dengan sekejap. Begitupun juga Rea, ia memandang wajah laki-laki itu seakan menemukan keraguan dan ketakutan di sana.

“Katakan saja, jika kamu ragu sebaiknya jangan katakan sekarang.”kata Rea akhirnya. Laki-laki itu seperti tergagap untuk mengeluarkan suaranya.

“Rea, Rea..aku..aku..Maafin aku.”

“Untuk?,”tanya Rea bingung. Kenapa harus meminta maaf dengan suara gugup seperti itu? Yah Rea tahu jika dia salah karena telah membuat Rea menunggu hingga hampir satu jam di sini.

“Rea..” sedikit jeda dan terdengar helaan nafas di sana. “Hubungan kita harus berakhir sampai di sini, maafin aku minggu kemarin aku sudah bertunangan.”

Serasa petir menggelegar di hati Rea, bukan saat ini memang petir baru saja menyambar dengan kerasnya dan hujan turun dengan deras. Rea mendongak ke langit siang itu, kenapa seolah-olah langit mewakili air matanya yang sulit keluar.

Rea mengangguk-angguk pelan, dia menggigit bibirnya merasakan sakit untuk pertama kalinya.

“Baiklah, its okey. Yeah I’m okey.” Pernyataan Rea terdengar menyedihkan, semua orang pasti tahu 
dia berusaha tegar. Bagaimanapun juga Rea adalah perempuan yang memang ditakdirkan mempunyai perasaan yang mudah tersentuh dan tersakiti.

Laki-laki itu meraih tangan Rea tapi Rea menepisnya dengan cepat. “Pergilah.” Tanpa berbicara lagi laki-laki itu beranjak pergi dengan mudahnya. Rea hanya bisa memandang punggung tubuh tegap itu dari belakang, ingin sekali memeluknya dengan segenap kasih sayang dan cinta. Tapi sekarang sudah hancur.

Gadis itu meremas tangannya kuat. Dia pikir selama ini dia adalah gadis kuat, tapi dengan mudahnya dia dihancurkan laki-laki brengsek seperti itu. Untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana sakitnya patah hati. Satu tetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. Rea tersenyum tipis, ternyata dia masih bisa mengeluarkan air mata.

Rea ingin segera pulang tapi hujan tak kunjung reda malah semakin deras. Suasana siang ini seperti sudah sore, langit semakin gelap, suara hujan mengiringi jeritan tangis Rea yang tertahan.

***

Rea menilik jam dipergelangan tangannya, hampir jam 4 sore.

“Hujannya sudah reda,sepertinya..”ucap seorang laki-laki dengan jaket berwarna merah itu. Seketika Rea menoleh ke arah laki-laki itu.

“Ini cowok ngomong ama siapa sih? Perasaan tidak ada orang selain gue di sini.”gumam Rea. Tiba-tiba laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke Rea dengan sedikit memiringkan kepalanya heran.

“Lo ngomongin gue?,”tanya laki-laki itu.

“Nggak,”

“Ohhh kirain.”

Rea mengambil tas ranselnya yang tergeletak dan segera berdiri untuk pulang karena hujannya sudah benar-benar reda.

“Lo anak jurnalistik juga? Kok baru pulang?,”tanya laki-laki itu.

“Bukan.” Rea melanjutkan jalannya.

“Oh kirain. Klo gue sih anak jurnalistik.”

“Siapa?”

“Gue.”

“Yang nanya.”cibir Rea.

Kenapa harus ada laki-laki aneh yang mendekati Rea dengan gaya yang sok kenal seperti itu. Jujur Rea agak risih.

“Kenapa ngikutin gue?,”Rea berbalik dan mendapati laki-laki tadi berjalan di belakang Rea.

“Gue?? Ngikutin lo? Yaelah, kampus ini pintu gerbangnya cuma satu neng. Iyalah gue jalan di belakang lo. Jangan geer.” Rea hanya mendengus sebal. “Wuihh ada pelangi coy,”celetuk laki-laki itu tiba-tiba.

“Hah pelangi? Homo?,”Rea terlihat bloon.

“Bukan woiii. Pelangi beneran noh.”dia menunjuk langit dan benar di atas sana terlukis indah pelangi sore meski terlihat samar-samar.

Tidak tahu kenapa sekarang langit hanya ada sedikit sisa-sisa mendung dan mendominasi warna kemerahan langit sore. Dan satu yang membuat langit begitu indah yaitu pelangi. Rea juga memandang takjub pemandangan indah itu, tanpa Rea sadari laki-laki yang disampingnya menangkap senyum manis dari bibir Rea.

“Woi, kenalin gue Banyu.”laki-laki yang bernama Banyu itu mengulurkan tangannya berharap gadis di depannya mau membalas uluran tangannya.

Rea lagi-lagi tersenyum,”Gue Rea.”

Sayangnya Rea tidak membalas uluran tangan Banyu dan Banyu malah jadi salah tingkah seraya mengusap tengkuknya sambil cengengesan sendiri. “Sorry, gue cabut duluan.”

“Okey, bye bye Rea.”Banyu melambaikan tangannya ke arah Rea.


Pelangi senja yang memberikan sedikit warna pada hati yang mungkin berubah kelabu. Warna yang indah tanpa tersadar menarik ujung bibir gadis manis yang baru saja patah hati.


Komentar

share!