SongFiction: When I Was Your Man (Part 1)




 Karya: Ismaa

"Atha gila!!"
Aku hanya dapat tertawa lepas ketika mendengar teriakan Anya. Iya, Anya, sahabatku sedari kecil. Dia tinggal satu kompleks denganku. Rumahnya hanya berjarak 2 petak rumah dari rumahku.
Aku berhenti tertawa ketika derit suara pintu yang terbuka berbunyi. Dari dalam rumah, Anya keluar membawa kantong yang kuyakini berisi tikus mainan yang kubeli tadi pagi saat menemani Mama ke pasar. Yah, mungkin karena niat usilku untuk mengerjai Anya sedang menggebu-gebu, maka dengan teganya aku menaruh tikus mainan itu di kasur Anya. Kontan saja Anya langsung histeris saat melihat tikus mainan itu. Dan aku, yang aku lakukan hanya bisa tertawa puas melihat wajah Anya yang merah padam menahan kesal.
"Nih," dia melemparkan kantong berisi tikus mainan itu kepadaku, "gue balikin tikus mainan lo!"
Setelah mengucapkan itu, Anya langsung masuk ke dalam rumah, pergi meninggalkanku yang kembali meledakkan tawa.
"Bye-bye, Anya. Gue simpan ya, tikusnya." Akuu melambaikan tangan kemudian segera pergi setelah mengambil tikus mainan itu. Lumayanlah disimpan, jaga-jaga untuk usilin Anya kapan-kapan.
***
Aku hanya bisa menatap Anya bingung. Iya, aku bingung harus berbuat apa. Saat aku tiba di rumah, tahu-tahu Anya sudah berada di ruang tamu sambil menangis tersedu-sedu. Tisu-tisu bekas sudah berserakan di sekelilingnya. Aduh, jika Mama sampai tahu rumahnya berantakan seperti ini, beliau pasti akan murka.
"Anya, please, bisa nggak lo diem sebentar lalu cerita ke gue apa masalahnya, oke?"
Bukannya menuruti perkataanku, Anya masih terus menangis terisak. Tak jarang dia mengusap air mata yang terus mengalir dan membersihkan ingusnya.
"Atha... Va-vano...," dengan terbata-bata dia berkata, "Vano, Tha, dia jalan sama cewek lain."
Rasanya, aku ingin menenggelamkan Anya ke dalam samudra yang paling dalam. Aku kira dia menangis karena ada masalah yang penting. Tapi nyatanya, hanya karena Vano-gebetannya di sekolah-jalan dengan gadis lain, dia bisa menangis selebay ini. Dasar perempuan, selalu baper dan berlebihan!
"Please, Anya. Kenapa juga lo harus nangis sehisteris ini, sih?" kataku sinis. "Anya, Vano itu cuman gebetan lo aja, jadi wajar dong, kalau dia mau jalan sama siapa aja. Enggak harus sama lo, kan?"
Dan Anya hanya menangis semakin histeris setelah aku berkata seperti itu.
"Atha jahat! Lo nggak tahu gimana rasanya jadi gue. Gue tuh serasa dikasih harapan palsu tau nggak sama Vano. Secara, selama dua bulan ini, kan, kita udah deket banget. Masa iya, gue cuman dijadiin selingannya aja?"
Aku bingung harus berkata apa lagi.
***
Karena tak menemukan lagi cara untuk menghibur Anya, akhirnya aku hanya mengajaknya pergi ke taman kota yang tak jauh dari kompleks perumahan kami. Sore hari seperti ini, taman kota terlihat ramai dengan banyaknya orang yang mengisi seluruh penjuru taman. Anak-anak kecil pun berlarian, bermain bersama teman sebayanya. Tak jarang juga kulihat sepasang muda-mudi yang tengah bersantai di bangku taman yang telah disediakan. Ah, tempat ini memang cocok untuk tempat berpacaran.
"Gue udah ngajak lo ke sini, jadi terserah lo masih mau nangis histeris di sini apa enggak," kataku pasrah.
"Atha...," rajuknya, "gue, kan, cuman meluapkan rasa sedih gue," katanya tanpa dosa.
Aku mendengus sebal. Wanita dan alibinya.
"Mending sekarang lo hibur gue deh, Tha."
Aku berpikir sejenak, "lo tunggu di sini sebentar," kemudian pergi meninggalkan dia.
Aku membeli semangkuk besar es krim untuk Anya. Layaknya perempuan lain, Anya juga sangat menukai es krim, terutama rasa cokelat.
"Nih, buat lo." Aku mengulurkan mangkuk es krim itu ke arahnya.
Senyum lebar segera terulas di wajahnya. "Ah, Atha baik banget deh. Thanks, Atha. Love you..."
Aku hanya membeku mendengar kalimat terakhirnya, sedangkan dia, dia segera melahap habis es krim itu.
***
Jika dua hari yang lalu Anya di rumahku menangis histeris, maka hari ini tampaknya dia sedang sangat bahagia. Dari tempatku berdiri saat ini, aku dapat melihat Anya sedang duduk di taman belakang sekolah dengan senyuman lebar yang tercetak jelas di bibirnya. Terlihat bahwa sesekali dia juga tampak bersenandug kecil.
Tak lama berselang, Vano datang membawa dua botol minuman. Satu botol diserahkan kepada Anya yang langsung diterima dengan senang hati. Kemudian, Vano ikut duduk di samping Anya. Mereka tampak terlibat dalam obrolan yang seru, dan aku benci karena tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tiba saat dimana Vano mencondongkan tubuhnya ke arah Anya untuk membersihkan dedaunan dari rambut gadis itu, membuat aku mengepalkan tangan. Aku benci hanya menjadi penonton di sini. Aku benci hanya bisa berdiam diri. Aku benci karena mereka terlihat... mesra, aku benci.
Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, dan sentakan yang kuat di tubuhku membuat diriku berbalik. Hal selanjutnya yang kulihat adalah wajah seorang gadis yang tingginya hanya sampai daguku, sehingga aku harus sedikit menunduk jika ingin melihatnya.
"Hai," sapanya, tak lupa dengan senyum menyebalkannya--menurutku.
"Ngapain lo di sini?"
Dia menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum geli. "Cari angin aja," jawabnya santai. "Males di kelas, sumpek. Lebih enak di sini, kan?"
"Mendingan lo pergi, deh." Aku kembali membalikkan tubuhku, kemudian menatap mereka di bawah sana. Anya terlihat menutupi wajahnya. Kenapa?, satu pertanyaan terlintas di benakku.
Kulihat tangan Vano menarik tangan Anya yang menutupi wajahnya. Meski samar, aku masih bisa melihat semburat merah dipipi Anya. Aku juga benci hal ini, karena bukan aku yang membuat Anya tersipu malu seperti itu.
"Cemburu, huh?" Pertanyaan itu membuat aku sadar jika masih ada orang lain di sini. Rupanya gadis itu belum pergi juga.
"Apa?" tanyaku ketus.
"Elo," dia menunjuk diriku, "cemburu," kemudian menunjuk mereka berdua yang ada di bawah sana.
"Mendingan lo pergi, deh." Sekali lagi aku mencoba bersabar pada dia.
"Ck," decaknya kesal. "Dasar pengecut!"
Aku menggeram, menahan amarah antara perkataannya dan rasa cemburu yang ingin kuluapkan
"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue nggak akan segan-segan--"
"Apa?" potongnya. "Elo mau nampar gue? Mukul gue? Nggak mungkin," katanya meremehkan.
"Jangan coba-coba--"
"Gue punya penawaran buat lo," potongnya lagi.
Aku menarik napas gusar. Jika masih terus berada di sini, bisa-bisa gadis ini menjadi sasaran kekesalan dan amarahku.
"Oke, gue yang pergi."
Dengan kata itu, aku benar-benar pergi dari tempat terkutuk itu.


Bersambung ....

Komentar

share!