SongFiction: When I Was Your Man (Part 2)





 Karya: Ismaa

Baca Part sebelumnya, klik di sini
"Sial!" Aku mengumpat pelan. Aku terlambat untuk datang ke acara ulang tahun Anya. Dengan langkah tergesa-gesa, aku masuk ke halaman belakang rumah Anya, tempat di mana pesta ulang tahun Anya berlangsung. Mungkin karena aku kurang hati-hati, aku menabrak seseorang, yang membuat langkahku otomatis terhenti.
"Elo!" Aku berdecak sebal. Gadis ini lagi, gadis ini lagi. Tak bisakah dunia berpihak padaku agar aku tak lagi bertemu dengan gadis ini lagi?
"Hai," sapanya seperti biasa.
Aku ingin memarahi dan membentaknya, namun riuh suara pesta tergantikan dengan alunan lagu yang merdu. Aku menatap ke arah panggung kecil di tengah sana. Tanpa bisa kutahan, langkah kakiku membuat diriku semakin mendekat ke arah panggung itu berada. Di sana, ada Anya yang sedang berdiri di tengah panggung dengan Vano yang berlutut di hadapannya. Aku tahu ini cepat atau lambat akan terjadi, tapi aku benci hal ini.
"Anya, will you be my girl?"
Meski samar, aku masih dapat melihat semburat merah yang muncul di pipi Anya selepas Vano mengucapkan kata-kata terkutuk itu. Dan sekali lagi, aku benci ini.
Meski pelan dan malu-malu, namun Anya tetap menganggukkan kepalanya, mengiyakan penyataan cinta Vano. Selanjutnya, Vano merengkuh Anya dalam pelukannya seiring dengan tepuk tangan yang menyertai mereka.
***
"Cemburu, huh?"
Aku melirik sebal ke arah gadis itu.
"Gue udah bilang, kan, kalau lo itu pengecut."
Aku benci kata-kata sinis itu, tapi apa yang dikatakannya memang benar adanya.
"Apa mau lo?"
"Gue mau lo terima penawaran gue."
"Elo gila atau apa, sih? Udah gue bilang berkali-kali, gue nggak mau terima penawaran dari lo, karena gue tahu, penawaran lo itu sama gilanya dengan diri lo."
Dia tertawa kecil. "Ah, dasar cowok cemen. Lo itu--"
"Atha! Rachel!"
Panggilan itu membuat gadis itu menghentikan kata-katanya.
"Hai," sapa Anya. Di sampingnya, Vano hanya tersenyum kecil pada kami seraya menggandeng tangan Anya.
"Hai, An. Sorry, gue cabut duluan ya, ada yang panggil gue tuh." Lalu gadis itu pergi entah kemana, meninggalkan kami bertiga.
"Atha...," Aku benci nada suara ini, karena kau tahu, saat Anya merajuk seperti itu, itu artinya dia ingin sesuatu dariku.
"What?" tanyaku malas.
"Nggak ada niat buat ngasih gue kado, gitu?"
"Gue udah ngasih lo kado, Anya."
"Ih, Atha. Kado yang ini beda. Gue mau lo ngasih kado buat gue sebagai ucapan selamat jadian baut gue dan Vano, oke?" katanya dengan memelas.
Aku benci ini. "So, apa yang lo mau?"
"Nyanyi buat gue? Piano juga udah gue siapin, tuh." Dia menunjuk piano yang memang sudah ada di atas panggung.
"Oke," putusku akhirnya.
Aku menaiki panggung kemudian duduk di hadapan piano itu. Dapat kulihat Anya dan Vano yang mengambil posisi untuk berdansa sebelum aku mulai menekan tuts piano dan bernyanyi.



* END *

Komentar

share!