SongFiction: Setengah Hati (Part 2)





 Karya: Ismaa


"Malam minggu besok, mereka bakal kencan."

Aku menoleh ke arahnya.

Dia juga menolah ke arahku, setelah sebelumnya hanya menatap ke bawah sana, tempat di mana Anya dan Vano berada.

"Oke. Jadi kita akan ikutin mereka?"

Dia mengangguk, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya dariku. 

***

Malam minggu tiba. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, malam ini kami akan mengikuti pasangan itu. Dan di sinilah kami berada, di pasar malam yang letaknya tak jauh dari sekolah tempat kami menimba ilmu.

Kami memperhatikan mereka yang kini menuju wahana bianglala. Memang bukan wahana ekstrim, tapi memang cocok untuk pasangan yang sedang berkencan.

Atha menarik tanganku, membeli tiket di loket, kemudian ikut menunggu dalam antrian yang cukup panjang ini.

Sebelumnya, kami telah menggunakan aksesoris yang memungkinkan Anya dan Vano tak mengenali kami.

"Ayo," ajaknya saat tiba giliran kami masuk menaiki wahana itu.

Dua tempat di depan kami, itu adalah tempat Vano dan Anya.

Bianglala mulai berputar, hingga tiba saat di mana kami tepat berada di kedudukan paling atas, aku menghela napas lemah. Entahlah, rencana yang telah kami susun sebelumnya rasanya tak akan berajalan dengan lancar. Karena entah mengapa aku mulai malas melakukannya.

Aku melirik Atha yang ada di sampingku, pandangannya tertuju pada mereka. Aku menghela napas, kemudian melihat ke alam luasnun jauh di sana. Kerlap-kerlip lampu terasa begitu indah, namun hatiku terasa begitu gelap dan suram, entah mengapa.

Mungkin... karena semuanya tak sesuai dengan keinginanku.

***

Aku memeluk boneka yang tadi Atha berikan. Ah, aku senang sekali hingga rasanya senyuman ini tak bisa kutahan-tahan lagi.

"Thanks, Tha," ucapku sepenuh hati.

"Biasa aja kali, nggak usah senyum sampe segitu lebarnya. Sebenernya itu, kan, buat Anya, bukan buat lo."

Aku menggerutu sebal. Dasar Atha, selalu saja seperti itu. Tak pernah bisa bersikap manis sedikit pun padaku.

Ya, memang benar apa yang dikatakan Atha tadi. Boneka ini sebenarnya ingin ia berikan pada Anya, karena tadi kami melihat Vano tak bisa mendapatkan boneka ini untuk Anya di salah satu stand mainan. Jadi, Atha berinisiatif untuk memenangkannya. Tapi menurut Atha, akan terasa janggal jika seandainya dia memberikan boneka ini pada Anya, jadi dia memberikannya padaku.

Aku meringis kecil saat aku menabrak punggung Atha. Sejak kapan Atha ada di depanku? Dan sejak kapan juga dia berhenti? 

" Kenapa berhenti, Tha?" tanyaku sambil melirik ke depan.

Sejak kapan kami keluar dari area pasar malam?

Aku memfokuskan pandanganku setelah berada di samping Atha. Di depan sana, Vano sedang mendekatkan wajahnya ke wajah Anya. Mereka... berciuman?

Belum sempat aku menoleh ke arah Atha, dia sudah terlebih dahulu berlari ke sana dan menerjang Vano kemudian memukulnya membabi buta. Jadi, Atha... masih cemburu? Entah mengapa, aku merasakan ngilu di hatiku. Selalu saja perasaan ini muncul saat melihat Atha memperhatikan Anya ataupun cemburu karena dirinya.

Satu tetes air mata jatuh saat aku mulai berjalan ke arah mereka, disusul dengan tetes yang lain.

"Elo," aku mendorong bahu Anya keras. "Kenapa lo harus menghancurkan semuanya? Kenapa lo harus dicintai oleh mereka berdua? Kenapa harus lo yang dicintai oleh orang yang gue cinta? Kenapa harus lo yang dicintai oleh Atha, hah?!" Aku meninggikan suara di akhir kalimat.

Dia terlihat kaget melihat aku meluapkan kemarahanku padanya, tapi aku tidak peduli. "Gue cemburu, Nya! Gue iri! Lo ngerebut semuanya! Kenapa harus lo, sih?!" 

Tanganku ingin menamparnya, namun tangan itu sudah menahannya.

"Elo nggak berhak nampar dia!" Atha membentakku, dan aku terperangah akan hal itu.

"Atha..." Aku mencoba berbicara, namun hanya namanya yang bisa kuucapkan.

"Lo cuman pacar pura-pura gue, jadi lo nggak ada hak buat ikut campur dalam urusan gue," tekannya.

Ya, aku tahu bahwa aku hanya pacar pura-puranya. Aku juga sadar siapa aku di sini, dan siapa aku untuknya, aku tahu itu. Tapi, apa yang bisa kulakukan sebagai wanita yang memiliki ego tinggi untuk mendapatkan hal yang diinginkannya, terlebih untuk mendapatkan orang yang dicintainya? Apalagi saat ini pikiranku sedang kacau-kacaunya, aku tak bisa berpikir jernih.

Aku melemaskan tanganku yang dicengkramnya dengan kuat, berharap dia melepaskan cengkramannya yang membuat tanganku sakit, dan itu berhasil. Aku menarik napas sebentar dan menghembuskannya. Rasanya sesak, aku tak bisa bernapas dengan baik.

Aku memaksakan seulas senyum kemudian memandangnya dan berkata, "Maaf, harusnya gue sadar diri."

Aku menatap Anya kemudian menyerahkan boneka yang memang seharusnya menjadi miliknya. "Nih, hadiah dari Atha buat lo." Aku tercekat, teramat susah mengatakan hal itu pada Anya.

"Gue duluan, permisi." Dengan itu, aku pergi. Dan aku, aku menyerah atas semua ini.
Dalam hati aku berharap ini mimpi, namun otakku selalu saja mengatakan bahwa ini nyata, dan itu memang benar adanya. 

***


END

Komentar

share!