SongFiction: Setengah Hati (Part 1)





 Karya: Ismaa 


Atha, nama yang simpel. Dia laki-laki yang menarik perhatianku sejak pertama kali masuk sekolah ini. Mungkin dia bukan laki-laki yang sangat tampan, dia juga bukan siswa yang sangat pintar, namun entah mengapa, hanya dengan melihatnya, hatiku menjadi lebih tenang.

Sikapnya selalu ramah kepada siapa pun, kecuali aku, entah mengapa. Padahal setahuku, aku tak pernah mempunyai salah apa pun padanya. Setiap kali aku menyapanya, dia pasti selalu memalingkan wajah dan tak membalas sapaan aku, dan aku bingung dibuatnya.

***

Riuh suara di dalam kelas ini membuatku jengah. Wajar saja, jam istirahat tengah berlangsung, jadi semua teman-temanku bebas untuk berbicara sesuka mereka. Apalagi ini di lantai dua, jauh dari ruang guru. Dengan malas, aku melangkah keluar kelas.

Keluar dari kelas, aku melihat silut seseorang yang sedang berada di tepi balkon sana. Dia sedang bersandar menghadap ke taman yang ada di bawah sana. Dengan langkah pelan, aku menuju ke arah orang itu.

Ah, aku ingin mengerjainya. Dengan usil, aku menutup matanya dengan tanganku kemudian membalikkan tubuhnya.

"Hai," sapaku.

"Ngapain lo di sini?" tanyanya jutek, seperti biasa.

"Cari angin aja," jawabku sekenanya. "Males di kelas, sumpek. Lebih enak di sini, kan?"

Iya, memang lebih nyaman di sini. Mungkin karena matahari sedang tersembunyi di balik awan sana, jadi cuaca hari ini tak sepanas dan seterik biasanya.

Aku melirik sekilas ke bawah sana, dan aku mendapati... Anya dan Vano? Sedang apa mereka di sana? Di bangku taman, Anya dan Vano sedang duduk bersama. Saat ini, tangan Vano sedang mengusap pipi Anya. Ah, menyebalkan sekali mereka.

"Mending lo pergi, deh." Dia kemudian membalikkan tubuhnya, dan dapat kulihat bahwa dia sedang memperhatikan dua insan di bawah sana. Untung saja dia tak melihat Vano yang tadi sedang mengusap pipi Anya.

Aku mengambil tempat di sampingnya, ikut memperhatikan kemesraan dua anak manusia di bawah sana. Kali ini, Vano sedang menarik tangan Anya yang sedang menutupi wajahnya.

"Cemburu, huh?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

"Apa?"

Ck, selalu saja begitu.

"Elo," aku menunjuk dirinya, "cemburu," kemudian menunjuk mereka berdua yang ada di bawah sana.

"Mendingan lo pergi, deh." 

Ah, dia mengusirku.

"Dasar pengecut!"

"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue nggak akan segan-segan--"

"Apa?" potongku. "Elo mau nampar gue? Mukul gue? Nggak mungkin."

"Jangan coba-coba--"

"Gue punya penawaran buat lo," potongku lagi.

Dapat kulihat dia menarik napas sebentar kemudian berkata, "Oke, gue yang pergi."

Dan dengan kata itu, dia benar-benar pergi dari tempat ini.

Biarlah, biarlah dia pergi dari tempat ini--karena jika dia tetap di sini, aku yakin dia akan semakin terbakar cemburu melihat kemesraan sepasang anak manusia di bawah sana.

***

"Masih belum bisa move on, huh?"

Wajahnya nampak terkejut saat menoleh ke arahku.

"Elo lagi," gumamnya pelan. "Kapan sih, lo nggak akan ganggu gue lagi?"

Aku tertawa kecil. "Gue, gangguin lo? Gue, kan, cuman mau bantuin lo aja... sebagai pacar gue."

Iya, sekarang dia pacarku. Kalian tak percaya? Baiklah, akan kuceritakan bagaimana dia bisa menjadi pacarku.

Saat di ulang tahun Anya kemarin, tepatnya setelah Atha menyanyikan sebuah lagu untuk pasangan baru itu, aku menghampiri dia yang sedang duduk di salah satu bangku yang disediakan.

"Gimana perasaan lo saat lihat mereka jadian?" tanyaku pelan, tepat setelah aku duduk di hadapannya.

"Biasa aja," jawabnya pelan.

Aku tertawa kecil. " Biasa aja? Apanya yang biasa aja saat hati lo terbakar?"

Dapat kudengar dengusan sebalnya sebelum ia berkata, "Jangan sok tahu, deh."

"Gue? Sok tahu? Emang kenyataannya gitu, kan?"

"Sebenernya apa mau lo?" tanyanya sinis.

"Jadi pacar gue, dan gue akan bantu lo dapetin Anya," kataku santai namun penuh penawaran.

Dia terlihat berpikir sejenak. "Apa motif lo sebenernya?"

"Yah... anggap aja gue juga mau dapetin Vano."

Dan ketika dia mengangguk kecil, aku tak dapat menahan senyumku.

***


Bersambung ....

Komentar

share!